Latest Post

Pelihara Anjing, Boleh Ngga?

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi ta'ala wa barakaatuh yaa ustadz,

Dulu, saat awal punya rumah. kami rawat untuk jadi penjaga rumah. Anjing itu sepertinya jenis kampung dan labrador retriever (jenis anjing pemburu). Dia kami tempatkan di dalam rumah dg tempat tersendiri sehingga tidak berkeliaran.

Saya mau tanya, bagaimana hukumnya kami membeli anjing tsb dan memeliharanya, yaa ustadz?? Krn sungguh kl kami harus membuatnya keluar dari tempat tinggal kami, pastilah dia sengsara. Kemampuan bertahan hidup beradaptasi anjing jauh lebih rendah drpd kucing. Sudah beberapa kali ia juga mencegah pencuri masuk dan jd alarm kebakaran dirumah tetangga.

Mohon jawaban dan penjelasannya yaa ustadz. Syukron


Alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh.

kalo ngomongin anjing di lingkungan muslim Indonesia memang agak cangung, mau membolehkan pasti ditentang. kalau kita katakan terlarang juga berarti namanya menyembunyikan ilmu, karena memang beberapa ulama membolehkan, walaupun posisinya minoritas.

Jadi hukum asal memelihara anjing itu -menurut jumhur ulama selain madzhab al-Maliki- terlarang alias tidak boleh kecuali dengan 3 syarat; untuk menjaga rumah, menjaga ladang, dan berburu. selain 3 tujuan ini, tidak diperkenankan.

Kalau Imam malik memandang berbeda, bahwa memelihara anjing kalau bukan untuk 3 tujuan di atas hukumnya tidak sampai haram, hanya makruh saja. akan tetapi semua ulama sejagad ini sepakat keharamannya menempatkan anjing di dalam rumah berkeliaran dan bergaul bahkan sampai tidur bareng, nonto tipi bareng dengan pemilik. Jadi bolehnya, dia ditempatkan di tempat yang sekiranya kita terjaga dari najis air liur nya.

Apalagi orang syafiiyah, bukan cuma air lirunya, bulunya pun najis. bahkan najis berat yang kudu dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah. selain itu juga karena memang ada hadits yang menceritakan bahwa Jibril menolak masuk rumah Nabi karena kedapatan ada anjing yang masuk entah dari mana. nah dari sini beberapa orang sangat strick sekali bahwa anjing tidak boleh masuk rumah.

Selain itu juga, -terkait pemeliharaan- karena memang ada beberapa hadits yang secara tegas dan eksplisit mengharamkan memelihara anjing denagn pengecuali beberapa kondisi yang telah disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتُقِصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطٌ .
Dari Abi Hurairah rahiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berjaga, berburu atau bertani, akan dikurangi pahalanya setiap hari satu qirath. (HR. Bukhari dan Muslim)

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW,bersabda"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan bertani, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Jumhur ulama mengharamkan kita memelihara anjing apabila diletakkan di dalam rumah, tanpa udzur yang syar'i. Dan para ulama menyebutkan bahwa hajat atau kebutuhan yang mendasarkan itu adalah untuk kepentingan ash-shaid (الصيد) atau berburu dan untuk kepentingan berjaga atau al-hirasah (الحراسة)

itu soal memeliharanya, dan masalah mas ------- sekeluarga sepertinya tidak termasuk dalam larangan karena memang anjing itu ditempatkan sebagai penjaga. hanya saja kandannya jangan sampe nyampur. Kalau memang bercampur dengan keluarga sebaiknya dipisahkan sampai jarak suci terlihat jelas. artinya area mana yang anjing itu bisa akses sehingg kita mesti hati2.

nah. kemudian soal jual beli itu tadi. jual beli anjing juga menjadi permasalahan. Kalau kita merujuka kepada klasik fiqih syafii, ya jelas sekali itu diharamkan. mutlak haram karena memang ada hadits yang mengharamkan "mahr" (harga) anjing itu.

berbeda dengan pandangan ImamMalik dan Imam Abu Hanifah (jujur, terkait muamalat, jual beli dan sejenisnya saya lebih prefer ke pendapat2nya Imam Abu Hanifah) itu boleh2 aja. kenapa dibolehkan? syarat jual beli itu kan barangnya bermanfaat, dan kemanfaatannya halal. dan ada beberapa manfaat yang dihasilkan anjing dan itu manfaat buat manusia; berjaga dan berburu. jadi jual beli anjign juga halal saja.

jadi memang dalam masalah jual beli, dilihat siapa pembeli dan apa motivasinya? kalau diharamkan secara mutlak tentu itu memberatkan beberapa pihak yang memang membutuhkan anjing seperti petugas keamanan atau memang orang2 seperti mas ------ yang butuh penjagaan.

saya kagum dengan apa yang disebutkan mas ------ tadi, iba dengan anjing. ya. apapun itu, anjing juga makhluk Allah yang kita diperinthakan untuk selalu menyebar sayang buat makhluk selama tidak menimbulkan mudharat.

dulu, Nabi pernah cerita bahwa ada orang yang diampuni dosanya karena melihat anjing yang kehausan lalu beliau mencari air utnuk anjing aitu. bukan cuma itu, ada wanita pezina yang masuk surga gara2 ngasi minum anjing yang kelaparan. jadi yaa bisa disimpulakn sendiri.

hewan najis -kalo kata org2 Indonesia anjing itu kan najis- bukan berarti harus dibasmi.

jadi tetap sayang binatang, hanya mesti jelas batas2 akses sehinggu hukum syariat seperti kenajisan dan kehalalan tetap terjaga.

-wallahu a'lam-
 

Kufu', Apakah Syarat Sah Nikah?

Dulu, ketika Islam belum masuk dan merambah ke dalam struktur tradisi bangsa Arab, mereka terkenal sebagai bangsa yang punya tatanan sosial yang buruk. Bahkan sangat buruk. Beberapa peristiwa sudah banyak direkam sejarah tentang semrawutnya –bahkan bisa dibilang kejam- tatanan sosial yang ada.

 Mereka membuat pemisah antara budak dan orang merdeka, mereka juga punya struktur suku terhormat untuk menbuat klasifikasi kelas suku, mana suku terhormat dan mana suku rendahan. Sehingga terjadi jurang pemisah yang sangat jauh sekali. Orang dengan suku terpandang bergaul dengan yang terpandang pula, sedang mereka yang berasal dari suku pinggiran, amat sangat tidak layak mereka duduk bersama orang-orang dari suku terhormat.

Lebih buruk lagi, mereka juga punya kebiasaan membunuh anak perempuan hidup-hidup; dengan alasan anak wanita tidak berguna. Mereka lebih bangga ketika melahirkan anak laki-laki dibanding melahirkan anak wanita yang akhirnya berujung ejekan serta tekanan sosial dari orang sekitar.

Namun, ketika Islam datang, semua diferensiasi suku serta status sosial itu sedikit demi sedikit dihapus. Nabi Muhammad datang dengan ajaran revolusi sosial yang tidak membedakan orang dari suku terhormat atau tidak. Islam tidak hanya menerima amal dari mereka keturunan raja, tapi justru Islam memutus jurang pemisah itu.

Salah satu buktinya bahwa Islam datang dengan konsep menghapus perbudakan. Langkah nyatanya, banyak beberapa syariat yang pelanggarnya –jika melanggar- disanksi membebaskan budak menjadi manusia yang merdeka. Ini bukti perhatian Islam yang sangat besar. Malah setiap Kafarat, pasti pilihan pertama itu adalah membebaskan budak.

Banyak hadits yang secara eksplisit menyindir bahwa tidak ada utamanya Arab dan non-Arab, atau suka A lebih mulia dari suku B. semuanya sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaan. Makin tinggi tanqwanya, ialah yang mulia di sisi Allah swt.

"sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa" (al-Hujurat: 13)

Kafaah, Antara Zohiriyah dan Jumhur

Lalu yang sering menjadi pertanyaan adalah, kenapa para ulama mensyaratkan adanya Kufu atau Kafa'ah (kesepadanan) dalam pernikahan? Bukankah itu justru membuat Islam kembali seperti Jahiliyah, yang membeda-bedakan orang dengan sisi keduaniaan?

Kafaah [كفاءة] atau kufu' [كفء] secara etimologi adalah persamaan atau bisa diartikan juga dengan makna sepadan. Maksudnya persamaan antara kedua pasangan dalam hal starta dan status. Menurut istilah ulama fiqih-pun tidak berbeda artinya dengan makna bahasa; yaitu "kesepadanan antara kedua pasangan sebagai bentuk pencegahan kecacatan dari beberapa aspek". [1]    

Kemudian, kalau pertanyaan apakah kafa'ah ini harus dan menjadi salah satu perhitungan atau syarat dalam menentukan pasangan atau tidak?

Jumhur ulama 4 madzhab (al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyah dan al-Hanabilah) mengatakan YA, kafaah adalah bagian dari syarat nikah. Berbeda dengan madzhab al-Zohiriyah yang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya syarat kalau menikah harus dengan yang kufu'.

Pendapat Ahl Dzohir ini benpandangan bahwa muslim itu semua sama, tidak ada yang membedakan, sebagaimana ayat di atas. Karena semua sama, maka siapapun boleh menikah dengan yang ia mau. Yang penting dia muslim.

Jadi, wanita "kurang ajar" sah nikahnya dengan pemuda baik, rajin shalat dan sopan. Begitu juga sebaliknya, laki-laki "mata belang" asalkan muslim, sah buat dia menikahi wanita shalehah yang menjaga auratnya dan terjaga pandangannnya. Karena memang yang menjadi patokan ialah muslim atau tidak. kalau muslim, maka tidak ada lagi birokrasi "kafaah" setelahnya.

Kenapa Harus Ada Kafaah?

Jumhur ulama tidak mengamini pendapatnya Imam Daud al-Zohiri itu dan melihat bahwa kafaah itu menjadi salah satu syarat dalam pernikahan. Karena memang ada beberapa dalil yang menunjukkan itu. Di antaranya:

"tiga Hal yang tidak boleh ditunda; Shalat kalau sudah datang waktunya, mayat -kalau sudah siap dikuburkan-, dan anak perawan kalau sudah ada yang kufu (Sepadan) dengannya".[2]

"janganlah kalian menikahkan wanita-wanita (anak-anak kalian) kecuali dengan yang sepadan (kufu) dengannya."[3]

"jika datang kepada kalian seseorang (untuk melamar anak-anak kalian) yang kau ridhai agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia …"[4]

Nabi saw dengan tegas memerintahkan para orang tua untuk "memeriksa" dan "meneliti" dulu agama serta akhlak orang yang berniat melamar anak perawannya. Itu bukti kalau memang harus ada kafaah dalam pernikahan. Kalau itu tidak ada, pasti Nabi juga tidak memerintahkan itu, pokoknya Islam, ya menikah. Tapi tidak seperti itu.

Selain hadits-hadits di atas, Dr. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan bahwa secara akal pun, yang namanya kufu itu sangat diterima. Karena sudah menjadi pengetahuan umum (semua orang tahu), bahwa yang kesamaan status, dan kesepadanan starata antara kedua pasangan pasutri itu menjadi salah satu faktor keharmonisan keluarga. Karena bagaimana pun kafaah itu punya pengaruh besar atas lancara tidaknya sebuah hubungan keluarga. Syariat ini menginginkan adanya maslahat dari hubungan pernikahan itu, maka kafaah sebagai factor yang mewujudkan itu menjadi perhitungan juga.[5]

Kafaah, Hak Wanita

Karena itu jumhur ulama mengatakan bahwa kafaah menjadi tuntutan pihak laki-laki, bukan pihak wanita; artinya laki-laki yang harus menyepadankan dirinya kepada wanita, bukan sebaliknya. Karena memang laki-laki tidak pernah mempermasalahkan status rendah istrinya, berbeda dengan wanita dan keluarga yang mempermasalahkan status pria kalau ia lebih rendah.[6]

Dr. Wahbah menambahkan bahwa yang namanya wanita terhormat sulit untuk hidup bersama laki-laki yang rendah derajat sosialnya. Berbeda dengan lelaki yang bisa hidup dengan wanita mana saja tanpa tahu rendah atau tinggi derajatnya. Disamping itu upaya ini adalah bentuk proteksi syariah guna menjaga kemulian wanita agar tidak terkotori dengan dipasangkan laki-laki tanpa kualifikasi yang jelas.

Aspek-Aspek Kafaah

Namun, ulama yang mensyaratkan kafaah ini juga berselisih pendapat tentang aspek-aspek apa saja yang menjadi perhitungan dalam konsep kafaah ini?

Madzhab Imam Malik hanya mensyaratkan aspek al-Diin saja dalam konsep kafaah-nya. al-Diin itu berarti agama, namun bukan asal Islam. Tapi yang dimaksud dalam madzhab ini ialah Islam yang berstatus Adil atau tidak fasiq. Fasiq –dalam pandangan ulama fiqih- ialah mereka yang melakukan dosa besar sekali, atau ditambahkan –dalam pendapat minoritas- mengerjakan dosa kecil tapi berkali-kali.

Artinya dalam madzhab ini, seorang wanita baik-baik, yang tertutup auratnya, rajin shalatnya, baik akhlaknya, mestinya mendapat laki-laki yang baik Islamnya, bisa dikatakan seorang Ustadz atau orang yang terkenal shalih. Atau minimal orang yang sama keshalihannya dengan si wanita, apapun profesinya yang penting Islamnya baik. Jadi, laki-laki "nakal" tidak boleh dipasangkan dengan santriwati yang shalehah dan terjaga.[7]

Madzhab al-Hanafiyah, al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah, selain aspek agama, mereka menambahkan beberapa aspek lainnya, yaitu:

1.   al-Diin [الدين] (agama)
2.   al-Hurriyah [الحرية] (bebas/budak)
3.   al-Nasab [النسب] (Keturunan)
4.   al-Hirfah [الحرفة] (Profesi/strata sosial)

al-Hurriyah [الحرية] (bebas/budak)

Aspek agama sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Malik, dan aspek hurriyah sudah tidak menjadi permasalahan karena memang perbudakan sudah tidak ada, setidaknya di negeri kita Indonesia, semua orangnya adalah orang merdeka.

al-Nasab [النسب] (Keturunan)

Sedangkan aspek nasab memang dalam struktur sosial Indonesia agak rancu, berbeda dengan bangsa Arab ketika yang punya struktur kehormatan, mana suku yang terhormat dan mana yang rendahan. Di Indonesia, tidak ada suku yang lebih baik dari suku lainnya karena memang semuanya dalam satu strata yang sama.

Suku Sunda tidak lebih baik dari Betawi, Batak tidak lebih buruk dari Jawa, semuanya sama, tidak ada yang saling mengungguli. Semua orang bangga dengan sukunya masing-masing, itu pasti. Tidak ada orang Betawi yang kemudian menyesal karena angan-angannya menjadi Sunda, dengan asumsi bahwa Sunda lebih baik. Tidak ada.

Lalu kalau ukuran itu tidak ada, bagaimana cara mengukur nasab ini? Imam Ghozali punya penjelasannya. Dikutip oleh Imam al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj, beliau (al-Ghazali) mengatakan bahwa kemuliaan nasab itu dilihat dari tiga hal[8]:

1.   Keturunan (nasab) yang sampai pada Nabi Muhammad saw; keluarga Nabi dan keturunan, itulah nasab nomor satu yang paling tinggi.
2.   Keturunan para ulama, itu strata kedua setelah keturunan Nabi saw; karena ulama adalah ahli waris para Nabi.
3.   Keturunan para orang shalih (ahli hikmah)

al-Hirfah [الحرفة] (Profesi/strata sosial)

Hirfah disebut juga dengan istilah lain, yaitu Shina'ah [صناعة] yang artinya sama, profesi. Artinya memang dalam tatanan sosial profesi menjadi instrument yang membentuk status sosial seseorang. Seorang pegawai Negeri tentu lebih terhormat dalam masyarakat dibanding petugas kemanan kompleks. Begitu juga juragan jauh lebih terpandang dibanding pedagang pasar biasa.

Jadi, dalam aspek ini, wanita yang berprofesi menengah mestinya dipinang oleh laki-laki yang berprofesi lebih tinggi, atau minimal sama. Bagaimana kalau mereka tidak berprofesi, maka profesi orang tuanya yang dilihat. Anak juragan mengambil posisi terhormat ayahnya dalam hal kafaah ini, yang datang pun mestinya anak pejabat atau minimal sama-sama anak juragan.

Salah satu aspek yang menjadi perhitungan juga adalah al-Yasar / al-Ghina' [اليسار / الغناء] (kekayaan), akan tetapi ini hanya milik madzhab al-hanafiyah saja. Tidak yang lain.[9]

Kafaah, Syarat Sah Nikah?

Lalu yang menjadi permasalahan, apakah jenis syarat dalam kafaah ini. apakah ia syarat sah nikah? Dimana pernikahan menjadi batal kalau tidak adanya kesepadanan antara kedua mempelai? Atau syarat apa?

Ulama yang mensyaratkan kafaah ternyata tidak mengkategorikan kafaah itu sebagai syarat sah nikah. Tapi kafaah ini masuk dalam kategori Syarat Luzum [شرط اللزوم]. Yaitu syarat yang membolehkan pihak wanita atau walinya mengajukan pembatalan nikah kalau memang pasangan pria ternyata tidak kufu dan si wanita tidak meridhai.[10]

Sama seperti cacat fisik atau aib badan yang mana aspek tersebut menjadi salah satu factor bolehnya pernikahan itu di-faskh jika memang salah satunya tidak meridhai adanya aib itu.

Jadi pernikahan yang tidak ada kafaah di dalamnya tetap dinyatakan sah, tidak batal. Hanya saja si wanita punya hak untuk mengajukannya ke hakim guna mem-faskh (membatalkan) akad nikahnya. Kalau memang ia tidak meridhai kekurangan yang ada pada pihak laki tersebut.

Kalau memang si wanita yang terhormat dan dari keluarga terpandang itu rela dan ridha dinikahi laki-laki yang lebih rendah derajatnya dari dia dan keluarga, ya pernikahan sah-sah saja. Dan alahkah bijaknya jika para wanita serta para wali wanita tidak memberatkan para calon pelamar anak-anak mereka.  

Wallahu a'lam


[1] Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, 9/216
[2] Hadits riwayat Imam Turmudzi dalam Sunan-nya, Kitab Nikah, bab "maa jaa' fi al-waqti al-awwal min al-fadhl, no. 156
[3] Hadits riwayat al-Daroquthniy, Kitab NIkah, Bab al-Mahr, no. 11. Hadits ini dinilai sebagai hadits matruk oleh para ulama hadits karena ada Mubasyir bin Ubaid yang dinilai cacat.
[4] Hadits riwayat Turmudzi, Kitab Nikah, Bab "idza jaa'a mantardhauna dinahu wa khuluqahu fazawwijuuh", no. 1004
[5] Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/220
[6] Raudhah al-Thalibin, 7/84, Kasysyaf al-Qina' 5/67
[7] Al-Fawakih al-Diwani, 2/9
[8] Mughni al-Muhtaj 4/276
[9] Bada'i al-Shana'i, 2/319
[10] Hasyiyah Ibn Abdin, 3/84, Raudhah al-Thalibin, 7/84, Kasysyaf al-Qina' 5/67
Ulama al-Hanafiyah punya penjelasan khusus bahwa kafaah ini bisa menjadi syarat sah nikah, yaitu ketika si wanita menikahkan sendiri dirinya –dalam madzhab ini wanita boleh menikah tanpa wali- namun tidak dengan yang sepadan. Atau bisa jadi ia dinikahkan oleh wali cabang (bukan ayah kandung) tapi ayah kandungnya tidak melihat si lelaki itu sebagai pasangan yang sepadan bagi anak wanita kandungnya. (al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu 9/222)
 

Ilmua Agama apa Ilmu Umum, Pilih Mana?

Assalamu'alaykum, ustadz. Saya mau bertanya tentang hadith yg menyebutkan bhwa Tidak boleh iri kecuali kepada dua jenis orang, yg satu org yg diberi harta dan membelanjakan di jalan yg benar dan org yg dbri ilmu dan mengamalkannya jg mngajarkannya.

Nah, ilmu di sini terbatas pada ilmu agama atau juga ilmu dunia (ilmu alam, teknik, sosial, ekonomi, dll)? Termasuk berkaitan dg ayat di surat Al-Mujadalah bahwa Allah meninggikan org beriman dan berilmu beberapa derajat. Ilmu di sini apakah terbatas hanya ilmu agama?

Mohon penjelasannya ustadz Jazakallahu khairan katsira


Alaikumsalam warohmatullah

dalam beberapa riwayat redaksi haditsnya berbeda, satu riwayat mengatakn al-quran dan harta. jadi mestinya iri kepada mereka yang bisa mambaca al-quran dan melantunkannya dengan indah, begitu juga iri kepada mereka yang diberikan harta melimpah sehingga banyak amalnya.

kalau al-quran, tentu akan (secara mafhum muwafaqah-nya) jauh lebih mulia yang mengamalkan isi al-quran tersebut. Nah, isi al-Quran tidak hanya saja berisi ilmu akhirat akan tetapi ilmu keduniaan pun banyak dijelaskan oleh Allah swt.

Riwayat lain mengatakan bukan al-quran tapi hikmah dan harta. hikmah = kebijakan dalam menyikapi masalah. bisa juga berarti ilmu, bisa juga berarti khsus ilmu agama. Maksudnya ini punya arti yang bersayap
dan tidak dijelaskan secara eksplisit oleh ulama tentang apakah itu khusus untuk ilmu agama atau bukan.

Imam al-Bukhari justru mengunggah hadits ini dalam bab "Fadhlu al-'Ilmi" (keutamaan ilmu) tanpa menyebutkan embel-embel syariah.

Imam Ibnu Bathal dalam syarahnya lil-Bukhari mengatakan kalau perkara kebaikan yang dilakukan itu perkara dunia, maka iri kepadanya menjadi mubah saja, akan tetapi jika kebaikannya itu bersifat ukhrawi maka iri kepadanya menjadi mustahabb (sunnah).

Terkait tafsir surat al-Mujadilah tersebut, saya -dgn kurangnya referensi- tidak menemukan ada mufassir yang menafsirkan ilmu di situ sebagai ilmu yang khusu masalah keagamaan. Semua sepakat bahwa Allah mengangkat derajatnya baik di dunia dan di akhirat bagi siapa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu. karena Ilmunya tersebut, Allah tinggikan derjatnya dibanding yang lain, dan ini sudah kita lihat di dunia. kebanyakan orang terhormat dan terpandang di antara kita iala orang yang berilmu, apapun ilmunya.

Kalau pertanyaan mana yang lebih afdhal, banyak yang mengatakn ilmu agama lebih afdhal. bagaimanapun ilmu agama yang menuntunt seorang muslim jauh lebih dekat dengan tuhan. Tapi tidak berarti ilmu keduniaan malah menjauhkan. justru malah bisa sebaliknya.

karena berapa banyak pekerjaan akhirat itu jadi tidak bernilai apa-apa karena niatnya, dan banyak pekerjaan dunia tapi berarti ukhrawi yang sangat tinggi karena niatnya.

maka niat menjadi penting dalam mencari ilmu. apapun ilmunya ketika motivasi utnuk mencari dan menuntut ilmu tersebut adalah ibadah kepada Allah, InsyaAllah akan Allah swt bimbinng ke koridor yang semakin mendekatkan dia kepada Allah. Pasti! itu janji-Nya.

Yang penting ialah seberapa pintar kita memanfaatkan ilmu ini untuk maslahat orang banyak. Bukan apa ilmunya.

-wallahu a'lam-
 

Kawin Paksa Boleh?

Dalam Islam memang orang tua mendapat kedudukan yang tinggi dibanding orang lain dalam hal kewajiban seorang muslim berbuat baik. Bahkan dalam surat al-Isra' ayat 23, Allah swt menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua itu di nomor 2 setelah kewajiban taat kepada-Nya.

Dalam beberapa hadits, Rasul saw berpesan untuk tidak menyakiti hati orang tua atau menyinggungnya sedikitpun, karena Allah swt menggantungkan ridha-Nya kepada Ridha orang tua, begitu juga murka-Nya yang bergantung pada ridha orang tua.

Toh memang sudah digariskan, bahwa cintanya orang tua kepada anak sangat dalam dan luas, tidak berbatas. Tidak ada orang yang mampu mengalahkan cintanya orang tua kepada anaknya. Firman Allah swt: "dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak." (Ali Imran 14)

Saking cintanya kepada sang anak, tidak sedikit orang tua yang berani mengorbankan nyawa demi kebahagian sang anak. Jadi memang kewajiban berbuat baik kepada orang tua –selain karena wahyu- sangat beralasan melihat cintanya yang sangat besar kepada si anak. Apapun pasti akan orang tua lakukan demi menciptakan kehidupan yang bahagia bagi sang anak.

Termasuk dalam hal jodoh bagi si buah hati. Menjadi dilema akhirnya bagi si anak ketika sang ayah atau orang tua menjodohkan dirinya –dalam hal ini wanita- dengan lelaki yang sama sekali ia tidak cinta. Jangankan cinta, kenal pun tidak.

Apapun itu, pastinya yang dilakukan orang tua –jika keduanya ditanya- itu tidak lain karena cinta mereka kepada sang anak sehingga merasa perlu untuk mencarika jodoh yang –menurut mereka- baik buat si anak. Yang akhirnya memaksa sang anak menerima, lalu muncul kemudian istilah "kawin paksa".

Dan fenomena ini, di zaman modern seperti saat ini pun masih ada, kita tidak bisa menutup mata akan hal ini. lalu apakah yang seperti ini harus ditaati? Toh yang menjalani hidup kemudian nanti itu kan si anak dengan pasangannya bukan orang tua. Dan yang paling mengerti mana yang baik untuk si anak pun anak itu sendiri?

Apakah kalau nantinya menolak kawin paksa ini dinilai sebagai anak yang durhaka kepada orang tua? Lalu bagaimana para ulama melihat ini?

Wilayah Ijbar (Otoritas Paksa)

Dalam pembahasan nikah di kitab-kitab madzhab fiqih, kita akan dapati adanya istilah "Wilayah al-Ijbaar"(otoritas paksa) yang dimiliki oleh sang wali, atau orang tua kandung. Dimana sang ayah boleh menikahkan anak perawannya dengan siapapun itu tanpa ridha sang anak. Dengan kata lain memaksakan anaknya menikah dengan pilihannya walaupun si anak perawan tidak suka.

Wilayah Ijbar ini memang sangat lekat sekali penisbatannya kepada madzhab al-Syafi'iyyah. Mungkin karena memang orang Indonesia sejak kecil terdidik dengan wawasan syafiiyah. Padahal sejatinya wilayah Ijbar itu ada di setiap madzhab fiqih, hanya saja kriterianya berbeda.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2546):
الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا
"janda itu lebih berkah atas dirinya dibanding walinya, sedangkan perawan itu diminta izin, dan izinnya itu adalah ketika –ia ditanya- ia diam"

Madzhab al-Syafiiyah dan al-Hanabilah lewat hadits ini berkesimpulan bahwa yang punya hak atas dirinya sendiri adalah janda. Ketika Rasul saw menyebutkan 2 jenis wanita; janda dan perawan, lalu menetapkan hak itu hanya ada pada janda, berarti hak tidak ada pada perawan. Nah, kalimat "tusta'maru" di situ pun diartikan sebagai anujuran saja, bukan kewajiban.

Karena itu, 2 madzhab ini menetapkan adanya wilayah Ijbar bagi wali atas anaknya yang perawan walaupun sudah besar/baligh. Kalau yang perawan baligh saja masih ada wilayah Ijbar apalagi yang kecil. Tapi tidak ada paksaan untuk janda, walaupun ia masih kecil.

Tujuannya untuk melindungi si wanita agar tidak salah pilih, terlebih lagi para wanita memang banyak tidak bergaul dan mengenal laki-laki, yang akhirnya dikhawatirkan salah pilih, maka paksaan ini menjadi terlihat penting bagi si wanita. (al-Majmu' 16/169, Kasysyaf al-Qina' 5/43)

Madzhab al-Hanafiyah punya logika yang berbeda yang lebih terbuka. Bagi madzhab ini, akad pernikahan termasuk akad muamalah, dan maqshad (tujuan) syariah dari muamalah adalah menciptakan maslahah bagi pelaku akad tersebut. Maka wilayah Ijbar tidak ada dalam madzhab ini, karena yang tahu baik-buruknya hidup seseorang ya orang itu sendiri, termasuk bagi wanita perawan.

Maslahat hidupnya diserahkan pada dirinya sendiri. Seorang ayah/wali tidak punya hak memaksakan laki-laki pilihannya kepada si anak perawan tersebut. Wilayah Ijbar dalam madzhab Imam Abu Hanifah hanya ada bagi anak perawan yang masih kecil dan belum baligh. Itu saja!

Sedangkan ketika seorang perawan sudah baligh, ia sudah mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk untuknya tanpa bimbingan sang wali. Jadi untuk pasangan hidupnya pun diserahkan pada dirinya. Itu alasannya. (Bada'i al-Shana'i 2/242)

Madzhab Imam Malik punya pendapat yang lebih demokratis dibanding madzhab-madzhab lainnya dalam hal ini. kalau madzhab al-Syafiiyah dan al-Hanabilah berpatokan pada perawan atau janda. Dan Madzhab Imam Abu Hanifah berpatokan pada Mengerti atau tidak mengerti perawan tersebut akan maslahat hidupnya. Imam Malik justru menimbang kedua aspke tersebut; Janda atau tidak dan mengerti maslahat hidupnya atau tidak.

Jadi, wanita perawan dalam madzhab ini diperlakukan berbeda. Yang mendapat Wilayah Ijbar itu perawan yang memang kurang cerdas dalam bersikap, tidak bergaul, tidak mengenal laki-laki sehingga harus ada yang memaksanya untuk pilihan pasangan.

Sedangkan wanita rasyidah; yaitu wanita cerdas yang mandiri dan bisa serta mengerti mana yang baik dan buruk juga mana maslahat untuk dirinya, ia dibebaskan untuk memilih sendiri calon pendampingnya.   

Yang janda pun –dalam madzhab ini- kalau ia masih kecil, dan tidak mengerti perihal kemaslahatan hidupnya, orang tuanya boleh melakukan ijbar nikah untuknya. (Hasyiyah al-Dusuqi 2/244)

Syarat Ijbar

Memang semua punya maqashid yang sama, hanya saja interpretasi dan metode yang berbeda. Tapi kalau dilihat dari pemaparan pendangan masing-masing madzhab, rasanya madzhab al-Syafi'iyyah itu terkesan otoriter dan tidak mengerti keadaan zaman; melegalkan kawin paksa yang –disadari atau tidak- itu punya nilai yang negative sekali bagi wanita.

Sudah bukan rahasia lagi, pernikahan yang tidak didasari rasa saling cinta akan berdampak buruk bagi hubungan tersebut, apalagi ada bumbu-bumbu pemaksaan di situ. Pernikahan yang tadinya bertujuan untuk kemaslahatan, malah menjadi mafsadah (keburukan) bagi wanita.

Tapi, kalau diteliti, ternyata Ijbar (otoritas paksa) yang dimiliki oelh seorang wali atas anak perawannya itu diakui secara mutlak dalam madzhab Imam Syafi'i ini. Artinya seorang wali tidak bisa memaksakan pernikahan anak perawannya kecuali telah memenuhi syarat ijbar itu sendiri.

Ada 7 syarat ijbar yang ditetapkan dalam madzhab ini bagi wali yang mau menikahkan anak perawan tanpa izin perawan tersebut. Kalau salah satu syaratnya tidak terpenuhi, wilayah Ijbar yang dimilikinya pun gugur sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Syiribini dalam kitabnya al-Iqna' (2/415);

  1. Tidak ada permusuhan antara ayah/wali (pemaksa) dan anak perawannya
  2.  Calon lelakinya haruslah yang se-kufu' (sederajat)
  3. Mahar yang diberikan harus dengan al-Mahr al-Mitsl (nilainya sama seperti kakak atau adik si wanita atau wanita yang punya starta sosial yang sama)
  4. Mahar harus dengan mata uang setempat
  5. Calon laki harus yang mampu bayar mahar
  6. Tidak boleh menikahkannya dengan laki-laki yang justru bisa merugikannya, seperti laki-laki yang punya penyakit, sudah berumur tua, atau cacat fisik/mental
  7. Calon lelaki tidak sedang dalam kewajiban nusuk Haji
Jadi, sejatinya madzhab al-Syafi'iyyah pun sang wali tidak bisa main asal paksa, tidak bisa juga asal menikahkan anak perawannya tanpa ridhonya kecuali jika syarat Ijbar tersebut terpenuhi. Jadi boleh paksa asal syaratnya harus terpenuhi.

Kalau begitu jelas memang bahwa sang wanita perawan pun punya hak untuk menentuka siapa yang akan menjadi pendampingnya, dan sang wali tidak bisa main asal paksa menikahkah tanpa seizing dan ridhanya.

Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha meriwayatkan sebuah hadits yang ini direkam dalam beberapa kitab sunan (Ibnu Majah, al-Nasa'i, al-Daroquthni) termasuk musnadnya Imam Ahmad; Ada seorang wanita yang mengadu kepada Nabi perihal ayahnya yang menikahkannya secara paksa dengan lelaki yang ia benci.

Rasul pun kemudian memanggil sang ayah dan memberikan pilihan kepada si wanita tersebut untuk membatalkan dan memilih siapa yang ia sukai. Lalu wanita tersebut menjawab:

فَإِنِّي قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ لِلْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ
"Aku telah membolehkan apa yang dilakukan oleh ayahku, hanya -kedatanganku ke mari- aku ingin memberitahukan kepada wanita lain bahwa wanita juga punya hak!"

Wallahu a'lam
 

Relativisme Kebenaran dalam Pandangan Madzhab Fiqih

Ketika menyajiikan beberap pandangan yang berbeda dari kalangan madzhab-madzhab fiqih yang ada, satu pertanyaan yang sering sekali muncul dari para pendengar atau pembaca ialah: "lalu yang benar yang mana?".

Jawaban yang sering saya sampaikan adalah: "semuanya benar! Sesuai dari sisi mana kita melihatnya." Tentu saja jawaban seperti ini jelas tidak memuaskan pihak penanya. Tapi memang jawaban yang paling fair ya seperti itu.

Jawabannya tentu semuanya benar, dan ini adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan seperti itu. Ya! Semuanya benar menurut empunya pandangan tersebut. Pandangan kalangan syafi'iyyah adalah yang benar menurut ulama madzhab tersebut. Dan begitu juga bagi ulama madzhab lain. 

Ketika mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat A, itu berarti kita menyalahkan pendapat B, C, atau mungkin juga pendapat D. loh bagaimana bisa seorang yang dengan kapasitas keilmuan jauh di bawah para ulama tersebut menyalahkan para sang Imam? Tentu tidak bisa seperti itu.

Yang harus diketahui bahwa dalam masalah fiqih, terlebih kekita dalil yang ada itu bersifat multi tafsir atau bersayap yang kemudian menjadikannya zdonniy al-Dilalah (Punya beberapa kemungkinan) bukan qath'iy al-Dilalah (arti/petunjuk pasti yang tunggal), maka perbedaan sudah tidak bisa dihindari lagi, karena memang ada peluang di situ.

Yang akhirnya membuat para imam Mujtahid itu ber-ijtihad, dan hasilnya pun tidak bisa kita harapkan sama. Karena itu mujtahid A benar dengan ijtihadnya, karena memang analisis-nya menuntun kepada pendapat A. begitu juga pendapat B. dari hasil ijtihad itulah kemudian kebenaran menjadi relative dalam masa'il fiqhiyah ini.

Kebenaran itu Satu atau Berbilang?

Mungkin akan muncul pertanyaan selanjutnya, "kalau begitu kebenaran itu ganda, tidak tunggal?". Ini pertanyaan yang memang sejak dulu menjadi bahan diskusi oleh para ulama Ushul-Fiqh dalam kitab-kitab mereka.

Ulama ahl Sunnah wal-Jama'ah sepakat bahwa kebenaran itu tunggal tidak berganda [wahid wa Laa Yata'adad]. Namun pendapat ini diselisih oleh kalangan al-Mu'tazilah yang mengatakan bahwa kebenaran itu sifatnya berganda sesuai siapa yang meneliti kebenaran tersebut. Jadi kebenaran –menurut mu'tazilah- sifatnya standar tergantung kepada standar kebenaran siapa yang memakainya.

Pembahasan ini muncul terkait dengan usaha seorang mujtahid dalam ijtihadnya, "apakah semua mujtahid itu benar?", kalau benar berarti kebenaran itu jumlahnya banyak padahal dalam satu masalah. ini pendapat yang dipegang mu'tazilah dan juga beberapa kalangan Mutakalimun (ahli Kalam) dari kalangan ahl Sunnah wal-Jama'ah diantaranya ialah Ubaidillah bin al-Hasan al-'Anbari (168 H).

Sedangkan jumhur Ahl sunnah wal-Jama'ah mengatakan bahwa kebenaran itu hanya satu di antara para mujtahid tersebut. Artinya dalam ranah ijtihad yang digelar oleh para mujtahid tersebut, tidak mungkin semuanya benar, akan tetapi yang benar itu hanya ada satu di antara merkea. karena tidak mungkin kebenaran itu berbilang, ia hanya satu. Ini yang banyak dijelaskan oleh para ulama ushul termasuk Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Raudha al-Nadzir (2/351)

Pendapat ini berdasarkan dalil,
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

"jika seorang hakim berijtihad kemudian ia benar dalam ijtihadnya, maka ia mendapatkan 2 pahala. Sedangkan mereka yang salah, mereka dapat satu pahala (ijtihad)". (muttafaq 'alaiyh)

Secara eksplisit hadits ini menjelaskan bahwa mujtahid pun bisa salah, namun kesalahan yang dilakukan oleh mujtahid tidak membuatnya berdosa, justru mereka mendapat pahala tersebut. Ini adalah pendapat jumhur.

Kebenaran Tidak Berbilang, Tapi Tidak Tertentu

Kemudian apa korelasinya, di awal tertulis bahwa kebenaran dalam masail fiqhiyah itu relative, tapi jumhur justru bilang kebenaran itu hanya satu, tidak pada semua mujtahid. Bagaimana sinkronisasi masalah ini?

Ya. Kebenaran –dalam satu masalah- itu hanya satu, tidak mungkin berbilang, karena secara akal pun itu tidak bisa diterima. Bagaimana bisa satu masalah punya hukum lebih dari satu, karena mujtahid A mengatakan itu haram sedang mujrahid B mengatakan itu Halal.

Jadi jawabannya adalah, kebenaran itu hanya satu tidak berbilang, hanya saja kebenaran itu tidak tertentu [Laa Yata'yyan] di ijtihad siapa ia berada? Ini yang dijelaskan oleh Imam al-Syafi'i sebagaimana dikutip oleh Imam al-Zarkasyi dalam kitabnya al-Bahr al-Muhith (8/283):

فَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْمُصِيبَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ، وَأَنَّ جَمِيعَهُمْ مُخْطِئٌ إلَّا ذَلِكَ الْوَاحِدُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَغَيْرُهُ.
"menurut Imam al-Syafi'i yang benar itu hanya satu dari sekian banyak mujtahid akan tetapi tidak tertentu (di ijtihas siapa), dan selain dari yang satu itu semuanya salah. Pendapat ini juga dikatakan oleh Imam Malik juga selainnya."

Jadi jelas bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak mungkin berbilang. Hanya saja kebenaran yang satu itu tidak bisa terlihat, dan tidak tertentu pada ijtihad siapa. Karena memang seorang mujtahid itu tugasnya berijtihad, nah dari masing-masing ijtihad tersebut tidak bisa ditentukan kebenaran yang Allah inginkan itu ada di ijtihad siapa? Mereka hanya menjalankan tugas ijtihad sebagai orang yang Allah swt berikan pemahaman konprehensif terhadap al-Qur'an dan sunnah.

Ini juga sejalan dengan substansi perkataan Imam Abu Hanifah, yang dikutip oleh Imam al-Bazdawi dalam kitabnya Kanzul-Wushul ila Ma'rifatil-Ushul (278):

كل مجتهد مصيب و الحق عند الله تعالى واحد
"semua mujtahid itu benar akan tetapi kebanaran di sisi Allah itu hanya satu".

Dijelaskan oleh Imam al-Bazdawi bahwa maksud perkataan imam Abu Hanifah itu sama seperti substansi yang dikatakan oleh Imam al-Syafi'i; kebenaran hanya satu yaitu di sisi Allah swt dan di kalangan mujtahid itu tidak tertentu di ijtihad siapa kebenaran itu ada. Mereka hanya menjalankan tugas ijtihad.

Sedangkan perkataannya semua mujtahid benar, maksudnya ialah mereka tidak berdosa jika hasil ijtihadnya itu salah, karena memang yang diminta ialah menjalankan tugas ijtihad, dengan begitu ia mendapat pahala atas ijtihadnya tersebut.

Jadi kebenaran itu satu hanya saja tidak tertentu, atau dalam istilah yang ulama pakai adalah [الحق لا يتعدد ولا يتعين] "al-Haqq Laa Yata'addadu wa Laa Yata'ayyanu".

Kalau Benar itu Pasti dari Allah!

Nah, karena memang para mujtahid itu tidak tahu di mana kebenaran itu berada, apakah pada ijtihadnya atau pada ijtihad selainnya, kebiasaan para mujtahid tersebut ialah menyatakan bahwa ijtihadnya itu adalah apa yang telah mereka usahakan dan kalau benar itu adalah dari Allah. Dan kalau salah itu adalah dari dirinya sendiri.

Kalimat yang masyhur seperti ini:
"ini adalah pendapatku, kalau ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari aku sendiri dan dari setan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini."

Sebagaimana dicontohkan oleh Amirul-Mukminin Sayyidina Umar bin Khaththab, ketika katib (sekretaris) beliau menuliskan fatwa yang beliau ijtihadkan bahwa itu adalah perkara yang Allah swt perlihatkan untuk Umar, tapi beliau malah marah lalu mengatakan:

لاَ بَلْ اكْتُبْ هَذَا مَا رَأَى عُمَرُ فَإِنْ كَانَ صَوَابًا فَمِنَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ خَطَأً فَمِنْ عُمَرَ
"tidak begitu! akan tetapi tulislah 'ini adalah pendapat Umar, kalau ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari Umar sendiri'." (Sunan al-Kubra lil-Baihaqi, Kitab Adab al-Qadha' no. 20346 jil. 10 hal. 197)

Kehati-hatian mereka membuat mereka menjadi sangat tawadhu' sekali. Perkataan sahabat yang seperti ini banyak ditulis oleh ulama dalam kitab-kitab mereka, termasuk sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah (728 H), dalam banyak halaman di kitab beliau Majmu' al-Fatawa, salah satunya di Bab 10, hal. 450:

وقد قال أبو بكر وابن مسعود وغيرهما من الصحابة فيما يفتون فيه باجتهادهم: إن يكن صوابا فمن الله وإن يكن خطأ فهو مني ومن الشيطان والله ورسوله بريئان منه
"dan Abu Bakr serta Ibnu Mas'ud serta sahabat lainnya telah berkata dalam setiap fatwa yang merekaijtihadkan: ini adalah pendapatku, kalau ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari aku sendiri dan dari setan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini."

Jadi, tidak langsung mengatakan: "ini yang benar sesuai quran dan sunnah!", Karena bisa saja ijtihadnya itu salah, akhirnya ia menisbatkan pendapat yang salah kepada Allah dan Nabi saw.

Wallahu A'lam

Begitu juga apa yang kita temukan dalam kitab-kitab fiqih ulama dari kalangan madzahib Fiqih. Dan yang paling sering dikatakan atau ditulis ialah kalimat Wallahu a'lam dalam setiap menutup baba tau pembahasan suatu hukum masalah dalam kitab mereka.

Karena memang kalimat wallahu a'lam itu adalah bentuk penyerahan kebanarana kepada Allah swt dan apa yang mereka ijtihadkan itu semua adalah usaha mereka, kalau benar itu dari Allah dan kalau salah itu adalah hasil kecerobohan mereka sendiri.

Jadi kalimat wallahu a'lam adalah bukan hanya sebagai penghias akhir tulisan, akan tetapi di dalamnya terdapat nilai luhur ketawdhuan seorang ulama yang tidak sombong akan kecerdasan yang dimilikinya. Sedemikain cerdasnya beliau, beliau masih tetap mengakui kekurangannya yang bisa saja salah, karena itu beliau serahkan itu semua kepada Allah swt.

Karena memang tidak ada ilmu yang mereka miliki kecuali itu milik Allah swt.

Wallahu a'lam
 

Boikot Pemikiran Sempit bukan Produknya!

Terkait infasi militer yang dilakukan oleh Zionis Israel ke Nageri mulia Ghaza, Palestina, belakangan muncul gerakan untuk mengajak memboikot beberapa produk-produk yang disinyalir sebagai produk hasil produsen Zionis yang keuntungannya tersebut digunakan sebagai dukungan terhadap serangan militer biadab itu.

Mulai dari barang-barang rumah tangga, sampai alat telekomukasi dan elektronik. Tapi yang disayangkan, aksi boikot ini terkesan serampangan dan terlalu mudah untuk melarang orang lain guna memakai produk –yang diduga- hasil produk Zionis tersebut, tanpa didukung dengan bukti kuat apakah memang keuntungan dari produk-produk itu dengan nyata digunakan untuk mendukung serangan militer tersebut?

Semua orang –yang masih berpikiran waras- pasti sepakat bahwa infasi militer ke ghaza adalah tindakan di luar naluri kemanusian yang cinta kedamaian dan saling menghormati. Semua sepakat itu! Dan semua juga mau jika diajak untuk mendukung kemerdekaan saudara-saudara di ghaza Palestina tersebut.

Akan tetapi memaksa memboikot atau malah menyegel usaha dan produk orang lain dengan hanya "dugaan" tanpa bukti yang nyata yang jelas bahwa ia benar-benar mendukung serangan Israel ke Ghaza pun tidak bisa disebut perbuatan baik. Justru itu merusak niat baiknya untuk mendukung Ghaza, karena kebaikannya rusak dengan tindakan yang serampangan.

Ada beberapa produk yang masuk daftar list boikot yang nyatanya itu adalah produk dengan status kebutuhan primer bagi banyak orang. Sulit sekali untuk tidak memakai produk tersebut, karena memang kebutuhan yang menuntut itu. Bukan tidak mau tapi tidak ada jalan lain. Dan sayangnya yang selalu berkoar-koar "boikot" tersebut tidak pernah memberikan solusi harus kemana lagi dan produk apa yang dipakai sebagai gantinya? Yang dikerjakan hanya berteriak saja. Sayang sekali.

Semakin aneh lagi, mereka berkoar-koar untuk memboikot justru para ahli agam yang mengerti nilai-nilai luhur keagamaan, tapi justru mereka menghina dan menyindir dan tidak jarang menghina mereka yang menggeluti bidang non-agama, atau kuliah di prodi non-syariah. Mereka terus saja beranggapan bahwa hanya bidang agama yang baik. Sungguh sangat sempit pemikiran seperti itu.

Justru mestinya berterimakasih kepada mereka yang sudah mau meluangkan waktu dan tenaga utnuk menggeluti bidang-bidang umum tersebut. Kenapa? Karena kalau tidak ada orang-orang dalam bidang tersebut, bagaimana muslim bisa bangkit di bidang tersrebut? Apa mau hanya bergelut di masjid dan di majlis taklim?

Kalau semua harus belajar ilmu agama secara terperinci, lalu siapa yang mau bertugas sebagai militer? Siapa yang bertugas sebagai dokter untuk mengobati para muslim dan penuntut ilmu syariah yang sakit? Lalu siapa yang jadi teknokrat untuk membangun bangsa? Lalu siapa yang jadi insiyur agar muslim jaya di bidang arsitektur?

Agar muslim mendapat kemenangan bukan hanya di akhirat, tapi kemenangan di dunia pun harus ditempuh. Seperti sekarang? Semua diboikot, tapi tidak mau dukung muslim untuk jadi pengusaha, kimiawan, fisikawan, biologist agar punya dan bisa memproduksi barang-barang guna mendukung kemajuan muslim juga.

Sekarang, semua bidang hampir dikuasai oleh orang non-muslim, lalu siapa yang mau disalahkan sekarang? Apa terus menyindir mereka yang ingin menggeluti bidang non-agama?

Melarang orang lain untuk memakai produk-produk orang kafir, tapi yang dikerjakan hanya bergelut debat kusir kesana kemari dengan dalil-dalil yang membuat orang lain akhirnya menilai islam sangat sulit dan menjemukan. Lalu kapan bisa Berjaya di ranah keduniaan, kalau yang dikerjakan hanya adu dalil yang sama sekali tidak menambah iman, tapi malah menambah permusuhan!

Agama ini yang memerintahkan kita untuk tidak hanya menang di akhirat, tapi di dunia juga. Jadi, jangan lagi ada orang yang menyindir kalau belajar ilmu umum itu tidak penting!

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (al-Qashash: 77)
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger