Latest Post

Orang Besar Hidup antara Pujian dan Cacian

Hampir tidak ada seorang pun yang tidak ada perbedaan persepsi dari orang-orang sekelilingnya, semua punya persepsi sendiri yang masing-masing berbeda dengan yang lainnya. Siapapun itu, pasti orang akan terpecah pada beberapa pandangan dalam menilai pribadinya. Yang satu katakan bahwa fulan itu baik, tapi tidak bagi yang lain, justru fulan itu orang jahat.

Bahkan Allah swt, manusia pun berbeda pandangan tentang-Nya; dimana Allah swt berada? Di arsy-kah atau dimana? Berbeda apakah Allah swt punya tangan dan kaki atau tidak? dan banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan dalam forum ini.

Musthafa Luthfi al-Manfaluthi (w. 1924 M), seorang sastrawan besar asal Mesir yang pernah kuliah di al-Azhar, punya makalah yang bagus sekali ketika membicarakan tentang seseorang yang dinilai dengan penilaian yang berbeda dari orang-orang sekelilingnya. Dalam kitabnya al-Majmu'ah al-Kamilah (hal. 253), Musthafa mengatakan:

"Kalau kalian melihat ada penyair, orang alim, orang terpandang atau juga dai atau siapapun yang punya kedudukan di kalangan kaumnya, dan orang-orang lain sekelilingnya terpecah dalam penilaian terhadapnya, kedudukan dan apa yang ia lakukan. Dan perbedaan pandangan itu terpecah dengan perpecahan yang sangat tajam, bahkan terlihat nyata jarak antara pembenci dan pecintanya.

Kelompok orang yang satu sangat jelas mencintainya sampai-sampai menaruhnya dalam jajaran malaikat dan kelompok yang lainnya sangat benci sekali sampai-sampai mereka menyemakannya dengan setan di derajat yang paling rendah. Maka ketahuilah bahwa ia adalah orang besar!

Sayyidina Ali r.a
Ada kelompok yang sangat mencintai sayyidina Ali r.a sampai-sampai ia keluar dari iman (kafir) karena cintanya yang berlebihan. Dan kelompok yang lain membencinya sebenci-bencinya sampai-sampai mereka pun menjadi kafir karena saking bencinya.

Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina Umar r.a
Ada kelompok yang menggelari sayyidina Abu Bakr dan Umar dengan gelar 'shaikhoi al-muslimin' karena cinta mereka kepada mereka berdua. Tapi ada kelompok lain yang justru menginkari status 'shuhbah' (sahabat) mereka berdua karena saking bencinya kepada Abu Bakr dan Umar.

Ibnu Arabiy
Muhyidin Ibnu Arabiy hidup di antara orang yang memujanya dan yang membencinya. Saking cintanya, para pemuja tersebut sampai-sampai menjulukinya sebagai 'Quthb al-Auliya''. Dan kelompok yang membencinya justru menjulukinya sebagai 'sheikh al-Mulhidin' (gurunya Atheism).

Ibnu Rusyd al-Qurthubi
Saking cintanya, para pemujanya memberinya gelar kehormatan 'Failasuf al-Islam' (Filosof Muslim). Tetapi para pembencinya justru melempari wajah Ibnu Rusyd dengan ludah kotor di depan masjid jami' di hadapan semua orang, karena saking bencinya.

Imam al-Ghazali
Orang-orang memberikan julukan kepada pengarang kitab Ihya Ulum al-Din dengan gelar 'Hujjatul-Islam' karena kecintaan mereka kepada Imam al-Ghazali. Akan tetapi ada kelompok yang justru merobek-robek kitab al-Ihya dan membuangnya berhamburan bersama angina dan debu karena sakign bencinya.

Al-Ma'arriy (penyair)
Abu al-'Ala al-Ma'arriy (penyair Arab) hidup di antara keridhoan manusia yang memujanya dan kemurkaan manusia yang sangat membencinya. Saking cintanya, mereka mau mencium alas kaki al-Ma'arriy sebagai penghormatan. Dan ia pun diseret-seret badannya ke jalan umum lalu dipukuli di depan orang banyak oleh mereka yang sangat murka kepadanya.

Socrates
Socrates mati dengan meminum racun di antara wajah-wajah yang bergembira dan senang atas kematiannya dan wajah-wajah yang sedih menangisi kepergiannya.

Al-Mutanabbiy (Penyair)
Banyak penulis-penulis lewat penanya yang mengabadikan kecintaan mereka kepada al-Mutanabbiy (penyair Arab) karena cinta dengan syair-syair karangan beliau lalu memujanya sebagai 'sayyid al-Syua'ara' (tuannya para penyair). Tapi di waktu yang sama ia pun mendapat gelar 'Akbarul-Mutakallifin' (Penyair kacangan yang syair-syairnya jelek dan kotor) dari para pembencinya semasa hidup.

Shakespear
Ada satu kelompok yang memuja-muja Shakespear (penyair Ingris) dan mengangkatnya sampai derajat bahwa ia adalah manusia yang sempurna karena saking cintanya, lalu mereka katakan: 'Shakespear adalah orang paling serdas sejagad raya'. Tapi ada juga kelompok yang justru menaruhnya di tempat yang paling hina dan rendah karena kebenciannya, lalu mereka katakan: 'Shakespear adalah pembohong ulung!'.

Napoleon I
Napoleon I diagung-agungkan oleh pecintanya dan menyamakannya setara dengan para Nabi. Tapi justru musuh-musuhnya menghina dan mencacinya sebagai orang bodoh yang tidak waras karena saking bencinya.

Mereka Orang-orang Besar
Dan begitu mereka, Lauthtser, Galileo, Neithca, Torestoi, juga merasakan hal sama. Mereka meminum racun dan madu dari gelas yang sama dalam hidupnya. Mereka dihina dan dipuja dalam waktu yang bersamaan semasa hidupnya sampai nafas terakhir dalam hidupnya. Menghirup di ujung hayatnya udara kebencian dan udara kecintaan dengan sekali nafas. Begitulah kehidupan orang-orang besar!"
 

Kenapa Para Sahabat Melakukan Dosa?

Satu yang harus diketahui bahwa Allah swt menjadikan para sahabar ridhwanullah 'alaihim tidak dalam keadaan yang makshum (terjaga dari kesalahan). Justru Allah swt menjadikan mereka semua manusia yang bisa bersalah sebagai teladan bagi umat setelahnya, serta memperlihatkan kepada kita contoh terbaik dari lingkungan generasi terbaik.

Kesalahan yang ada dan dilakukan oleh para sahabat ridhwanullah 'alaihim adalah bentuk kesempurnaan kebaikan yang Allah swt anugerahkan kepada mereka, dan bukan sebuah aib bagi mereka.

Bagaimana?

Seandainya Allah swt menjadikan para sahabat terjaga dari kesalahan, tidak ada dari mereka yang berbuat pelanggaran syariah, lalu dari mana kita belajar bagaimana caranya ber-muamalah dan berinteraksi dengan pelanggar syariah? Dengan pelaku maksiat?

Kita adalah umat yang bisa salah bahkan sering melakukan kesalahan dan pelanggaran syariah. Lalu Bagaimana kita menyikapi ketika terjadi pelanggaran syariah lingkungan kita kalau lingkungan generasi yang menjadi panutan; lingkungan sahabat tidak ada dari mereka yang berbuat salah?

Itu hikmah kenapa Allah swt tidak menjadikan para sahabat itu makshum, agar kita mengerti dan tahu bagaimana tuntunan yang baik menghadapi seorang pelaku maksiat dan dosa.

Kita sangat tahu dan sangat hapal beberapa riwayat tentang sahabat yang berzina, ada juga sahabat yang berhubungan suami istri di tengah hari Ramadhan, ada sahabat yang meminum khamr, ada juga dari mereka yang melakukan pelanggaran syariah lainnya.

Untuk apa? untuk kita tahu dan belajar bagaimana contoh terbaik dari generasi terbaik dan manusia terbaik untuk mensikapi saudara kita yang melakukan kesalahan.

Jangan Jadi Penolong Setan

Salah satu kisah yang dicontohkan oleh Nabi saw dalam mensikapi orang yang berbuat salah ialah kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dalam shahih al-Bukhari (Bab hudud, No. 6283) tentang salah seorang sahabat yang meminum khamr.

Setelah dicambuk oleh Nabi saw, sang peminum khamr pulang dan ketika melewati para sahabat yang menyaksikan pecambukan, beberapa sahabat mencacinya, menghardiknya dan menghinanya sebagai pendosa, dan melaknatnya, serta mendoakannya jauh dari rahmat Allah swt.

Mendengar hinaan yang diucapkan para sahabat itu, Rasul langsung menegurnya dan mengatakan:

لاَ تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ
"janganlah kalian jadi penolong setan atas saudaramu itu!"

Dalam riwayat yang lain (shahih al-bukhari, No. 6282) dalam pristiwa yang sama. Ketika mendengar cacian, hinaa dan laknat yang dilayangkan para sahabat lain kepada peminum khamr tersebut, Rasul saw mengatakan:

لَا تَلْعَنُوهُ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
"jangan kalian laknat dia!!! Demi Allah! Sungguh aku tidak mengetahuinya kecuali dia memang benar cinta Allah swt dan Rasul-Nya"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Baari (12/67) menjelaskan maksud "jangan jadi penolong setan!", beliau katakan:

"Setan ingin menggoda dan menghiasi manusia dengan kemaksiatan. Ketika sudah bermaksiat, maka akan timbul orang lain yang marah, karena marah ia akan mencacinya, menghinanya serta melaknatnya. Dan itulah tujuan setan, mendoakan keburukan. Jadi orang yang menghina pendosa itu seakan-akan telah mengimplemetasikan tujuan setan, karena itu disebut penolongnya. Dan ini jelas bahwa dilarang mendoakan keburukan bagi mereka para pelaku kesalahan."

Pelajaran

Dari peristiwa sahabat yang meminum khamr, kita bisa ambil pelajaran:
1] Kita belajar tentang bagaimana hukuman minum khamr dan penegakan hukuman bagi mereka yang melanggar hadd (hukum) dengan dicambuknya ia oleh Nabi saw.

2] Kita tahu bagaimana bersikap kepada pelaku dosa, yaitu tetap beramah dan santun. Tidak menghardiknya, melaknatknya dan juga tidak mendoakannya keburukan, tiak juga menjauhkannya dari rahmat Allah swt. sebagaimana larangan Nabi kepada para sahabat yang menghina. Justru kita harus mengajaknya kepada kebenaran dengan santun, karena ia berada di jalan yang salah mestinya diajarkan mana yang benar makin dijatuhkan dengan cacian dan hinaan yang justru malah membuat ia maki enggan bergaul dengan mereka yang 'katanya' rajin ibadah tapi malah mencacinya.

3] Allah swt pun menakdirkan ada sahabat lain yang menghina supaya kita tahu bagaimana caranya bersikap kepada mereka yang menghina pendosa untuk kita tidak menghina balik.

4] –ini yang terpenting- kita tidak diajarkan untuk buta akan kebaikan yang telah lakukan hanya karena ia berbuat kesalahan. Lihat bagaimana Nabi sawt justru memuja peminum khamr tersebut dengan mengatakan: "Ia adalah orang yang cinta Allah san Rasul-Nya!". dengan pujian itu ai jadi malu untuk berdosa lagi dan akhirnya terus makin membaik dan jadi orang shalih. Bukan dihina yang akhirnya malah terus jauh dari ketaatan kepada Allah swt.

Ia jelas-jelas peminum khamr, tapi Rasul saw tidak menutupi kebaikannya bahwa ia adalah orang yang cinta kepada Allah swt dan Nabi-Nya. sehingga ia merasa diterima dan termotivasi untuk terus beribadah dan menutupinya keburukannya dengan ketaatan yang banyak. Dan akhirnya ia benar-benar meninggalkan kebiasaan minum khamr-nya tersebut.  

Kita Juga [Pasti] Pendosa

Ini yang kita pelajari dari Rasul saw dan dari lingkungan generasi muslim terbaik; generasi sahabat bagaimana bersikap kepada mereka yang melakukan kesalahan dan dosa.

Jadi kesalahan yang ia lakukan itu bukan berarti legalitas untuk kita bisa menghina dan mencacinya serta menutup mata bahwa ia punya banyak kebaikan di balik kesalahan yang ia lakukan itu. Akhirnya kita tetap bisa berhusnu-dzon kepada sesama muslim dan terjaga dari su'u-dzon.

Dengan melihat kebaikan satu sama lain, itu yang membuat kita semakin cinta dengan yang lain. Karena adanya cinta ini, kita makin bisa dan mampu mengajak orang lain –walaupun pendosa- kepada jalan kebenaran. Karena tidak mungkin kita mengajak orang lain kepada Allah swt yang maha Cinta namun dengan jiwa yang murka. Bagaimana bisa murka mengajak kepada cinta?

Kita juga harus sadar bahwa kita adalah makhluk biasa yang pasti bersalah dan melakukan dosa. Bayangkan jika kita dala posisi pendosa itu, dihina, dicaci, dilaknat, apakah kita menginginkan itu semua? Ataukah kita ingin kesalahan kita dimaafkan? Begitu juga ia yang melakukan kesalahan. Tidak ada seorang pun yang cuka dicaci dan dihina, semua ingin dimengerti dan dipahami.

Jadi bersikap santun jauh akan lebih baik dan lebih melunakan hati yang keras dibanding dengan sikap kasar dan serampangan. Dan memang begitulah harusnya berdakwa, tetap menjaga kesantunan. Orang yang bersalah itu harus diajarkan bukan terus-terusan disalahkan.

Tetap Santun

Kisah menarik yang terkait masalah di atas ialah sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah (10/217) tentang pemuda yang mendatangi khalifah Harun al-Rasyid yang ketika itu sedang berthawaf di masjidil-haram dan memarahinya dengan suara yang keras.

Mungkin ada salah satu kebijakan khalifah Harun al-Rasyid yang merugikan dia beserta kaumnya atau ada kesalahan lain yang dilakukan oleh Harun al-Rasyid yang ketika itu memang menjabat sebagai Amirul-Mukminin.

Tapi dengan tenang Harun al-Rasyid menjawab luapan amarah pamuda tersebut setelah membuatnya tenang dan tidak marah lagi:

قَدْ بَعَثَ اللَّهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ إِلَى مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنِّي فَأَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا
"Allah swt telah mengutus orang yang jauh lebih baik dari anda untuk memberi peringatan kepada orang yang jauh lebih buruk dari saya. Dan Allah memerintahkan ornag tersebut untuk berkata ramah dan santun."

Maksud kata-kata khalifah tersebtu ialah bahwa Allah swt telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun dan mereka tentu jauh lebih baik dari anak muda itu, untuk memberi peringatan kepada Fir'aun yang mana jauh lebih buruk daripada Harun al-Rasyid. Dan Allah swt tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata yang santun.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaaha: 44)

-wallahu a'lam-
 

Merubah Niat Jumlah Rakaat di Tengah Shalat (Witir/Tarawih)

Satu (lagi) masalah yang sering kali ditanyakan terkait shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan ialah perbedaan antara niat rakaat dan shalat itu sendiri. Kasusnya bahwa ada (bahkan banyak) beberapa masjid yang memang tidak mempunyai bilal dan sang Imam juga tidak bilang berapa rakaat shalat witir atau tarawih yang ia akan laksanakan.

Mungkin bagi mereka penduduk setempat tidak masalah, karena sudah terbiasa. Tapi ada di antara makmum itu orang-orang baru atau orang yang sedang singgah di masjid. Karena tidak tahu, ia berniat shalat tarawih sebagaimana biasa yang ia lakukan.; ia berniat 2 rakaat ternyata imam shalat 4 rakaat.

Begitu juga dalam shalat witir, biasanya ia shalat dengan format 2 rakaat + 1 Rakaat. Akan tetapi setelah berniat 2 rakaat, ternyata imam malah meneruskan shalatnya sampai rakaat ketiga dan tidak salam di rakaat kedua. Ini sering terjadi.

**Lalu bagaimana nasib shalat makmum?

Kasusnya bersumbu pada masalah boleh atau tidak seseorang merubah niatnya ketika shalat dengan menambah atau mengurangi jumlah rokaat yang sudah diniatkan di awal shalat?

Ketika takbiratul-ihram berniat shalat 2 rakaat, tapi di tengah shalat malah nambah jadi 4 rakaat misalnya. Atau dari awal berniat 4 rakaat, tapi di tengah shalat malah dipangkas jadi 2 rakaat. Bolehkah seperti itu?

Kalau itu shalat fardhu yang 5 waktu, semua ulama sepakat tidak membolehkannya. Karena yang namanya shalat fardhu, jumlah rakaatnya sudah paten dan tak mungkin berubah atau berganti-ganti.

Jadi yang memungkinkan adanya perubahan niat dengan tambah atau mengurangi rakaat itu ada pada shalat sunnah, seperti tarawih atau witir (yang kita bicarakan) dan juga sunnah mutlak.

Shalat sunnah mutlak ialah shalat sunnah yang dikerjakan tanpa ditentukan dan tanpa ada sebabnya. Berbeda dengan shalat sunnah non-mutlak yang sudah ditentukan jenisnya dan sebabnya. Seperti qabliyah, jenisnya qabliyah dan sebabnya karena adanya shalatnya fardhu.

**Boleh di Shalat Sunnah Mutlak

Kalau itu shalat sunnah mutlak, ulama membolehkan dengan syarat merubah niat sebelum menambah rakaat atau menguranginya. Karena memang tidak ada ketentuan rakaat maksimal dalam shalat sunnah mutlak, baik sunnah mutlak di malam atau siang hari.

Dalam kitabnya al-Majmu' (4/50), Imam al-Nawawi (676 H) menjelaskan:

ثم إذا نوى عددا فله أن يزيد وله أن ينقص فمن أحرم بركعتين أو ركعة فله جعلها عشرا ومائة ومن أحرم بعشر أو مائة أو ركعتين فله جعلها ركعة ونحو ذلك قال اصحابنا وإنما يجوز الزيادة والنقص بشرط تغيير النية قبل الزيادة والنقص فان زاد أو نقص بلا تغيير النية عمدا بطلت صلاته بلا خلاف.
"kemudian jika salah seorang berniat shalat beberapa rakaat, boleh baginya untuk menambah atau mengurangi rakaatnya tersebut. Seperti orang yang bertakbiratul-ihram dengan 2 rakaat atau 1 rakaat, boleh baginya menjadikannya 10 dan (bahkan) 100 rakaat. Dan jika bertakbiratul-ihram dengan 10 rakaat atau 100 rakaat atau 2 rakaat, boleh baginya menjadikan itu 1 rakaat atau semisalnya.

Para sahabat kami (ulama al-syafi'iyyah) berkata, bolehnya mengurangi dan menambahkan rakaat shalat (sunnah mutlak) dengan syarat ia merubah niatnya sebelum menambah atau mengurangi. Kalau ia menambah atau mengurangi tanpa merubah niat terlebih dahulu, batal shalatnya. Dan ini pendapat yang tidak ada perbedaan di dalamnya."

Redaksi yang sama juga beliau tulis dalam kitabnya yang lain, yaitu Minhaj al-Thalibin (1/16) yang kemudian di-syarah oleh Imam al-Syirbini (977 H) (676 H) dalam Mughni al-Muhtaj (1/462) dan juga Imam al-Ramliy dalam Nihayah al-Muhtaj (1/130) yang menegaskan bahwa itu untuk shalat sunnah mutlak:

(وإذا نوى) قدرا في النفل المطلق (عددا) أو ركعة (فله أن يزيد) على ما نواه (و) أن (ينقص) عنه
"(Kalau ia berniat) shalat sunnat mutlak (sejumlah rakaat) atau 1 rakaat (boleh baginya untuk menambah) dari apa yang dia niatkan (dan mengurangi) rakaatnya tersebut"  

**Tidak Boleh di Shalat Sunnah Biasa

Akan tetapi berbeda hukumnya jika itu adalah shalat sunnah biasa (bukan mutlak) seperti sunnah rawatib (qabliyah/ba'diya) atau juga tarawih serta witir. Di halaman yang sama Imam al-Syirbini dan Imam al-Ramliy menegaskan:

أَمَّا النَّفَلُ غَيْرُ الْمُطْلَقِ كَالْوِتْرِ فَلَيْسَ لَهُ الزِّيَادَةُ وَالنَّقْصُ فِيهِ عَمَّا نَوَاهُ
"sedangkan shalat sunnah non-mutlak seperti witir, maka tidak ada kebolehan untuknya menambah atau mengurangi dari apa yang sudah diniatkan (di awal)."

Lalu apa yang membedakan shalat sunnah mutlak dan tidak mutlak sehingga perubahan niat untuk penambahan dan pengurangan rakaat tidak sama hukumnya?

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (974 H) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (1/193) menjelaskan:

إنَّمَا هو في النَّفْلِ الْمُطْلَقِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ أَنَّ الشَّارِعَ لَمَّا لم يَجْعَلْ له عَدَدًا وَفَوَّضَهُ إلَى خِيرَةِ الْمُتَعَبِّدِ كان أَمْرُهُ أَخَفَّ من غَيْرِهِ فَجَازَ لِمَنْ نَوَى منه عَدَدًا أَنْ يَزِيدَ عليه وَأَنْ يُنْقِصَ عنه بِشَرْطِ تَعْيِينِ النِّيَّةِ قبل الزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ وَأَمَّا غَيْرُ النَّفْلِ الْمُطْلَقِ من الرَّوَاتِبِ وَغَيْرِهَا فَمَتَى نَوَى عَدَدًا منه لَا يَجُوزُ نَقْصُهُ وَلَا الزِّيَادَةُ عليه
"(perubahan niat jumlah rakaat) itu ada pada shalat sunnah mutlak. Yang membedakan antara shalat sunnah mutlak dan tidak mutlak, bahwa ketika pembuat syariat (Allah swt) tidak menentukan jumlah rakaatnya dan menyerahkan kepada pilihan hamba-Nya (dalam shalat sunnah mutlak), perkara ini jadi jauh lebih ringan ketimbang shalat sunnah non-mutlak yang jumlah rakaat itu sudah ditentukan.

Maka boleh bagi siapa yang sudah meniatkan jumlah rakaat dalam shalat sunnah mutlak untuk menambahnya atau menguranginya dengan syarat merubah niatnya (dalam shalat) terlebih dahulu sebelum melakukan penambahan atau pengurangan.

Sedangkan untuk shalat sunnah non-mutlak seperti sunnah rawatib, maka ketika berniat dengan jumlah rakaat tertentu, tidak boleh baginya untuk mengurangi atau menambahnya (di tengah-tengah shalat)".   



**Imam Punya Tanggung Jawab

Sejatinya, masalah seperti ini tidak mesti terjadi. Bagaimanapun sang imam dalah shalat berjamaah tidak hanya bertugas untuk menjadi komandan shalat yang memberi aba-aba kepada para makmum untuk mengikutinya.

Sang Imam dalam shalat berjamaah punya tanggung jawab untuk membrikan informasi tentang shalat yang akan dilaksanakan kepada para makmum sekalian. Mestinya sebelum memulai takbiratul-ihram sang imam memberi tahu kepada para Jemaah tentang rakaat yang akan dilaksanakan, baik itu shalat witir atau tarawih.

Dengan kalimat yang singkat saja: “para Jemaah sekalian, shalat tarawih ini akan dilaksanakan dengan 2 rakaat sekali salam.” Atau: “… dengan 4 rakaat sekali salam!.” Begitu juga dengan witir: “baik, kita akan melaksanakan shalat witir dengan 3 rakaat sekaligus.” Tentu ini akan jauh lebih baik.

Toh mengucapkan informasi-informasi sebelum shalat itu tidak melanggar syariah. Ada maslahat dan kepentingan yang urgent untuk diambil, Apalagi ini hubungannya dengan sah atau tidaknya shalat makmum. Begitu juga informasi lain, seperti akan membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajadah agar para makmum nantinya tidak kaget kalau tiba-tiba sang imam bertakbir dan langsung sujud.

-wallahu a’lam-
 

Yang Sedikit Ilmunya, Banyak Ngambeknya

Dalam kitabnya, I'laam al-Muwaqqi'in (3/13), Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) menceritakan kisah gurunya, yaitu Imam Ibnu Taimiyah (728 H) ketika beliau dan para pengikutnya melihat segerombolan pasukan Mongol yang mabuk-mabuknya minum khamr.

Melihat kejadian itu, para pengikut sang Imam geram dan marah sekali. Dan sebagai bentuk amru bil-ma'ruf wa nahyu 'anil-munkar, salah satu pengikutnya bergegas untuk memberikan peringatan kepada pasukan Mongol itu. Tapi anehnya ia malah ditahan oleh Imam Ibnu Taimiyah sendiri, dan beliau melarang salah satu pengikutnya itu untuk mencegah pasukan Mongol meminum khamr.

Melihat apa yang dilakukan oleh Imam Ibnu Taimiyah, para pengikutnya heran dan kebingungan, kenapa sang Imam membiarkan mereka meminum khamr tanpa mencegahnya? Kenapa juga sang Imam mencegah salah satu pengikutnya yang ingin mencegah kemunkaran tersebut?

Kemudian Imam Ibnu Taimiyah berkata:
إنَّمَا حَرَّمَ اللَّهُ الْخَمْرَ لِأَنَّهَا تَصُدُّ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنْ الصَّلَاةِ، وَهَؤُلَاءِ يَصُدُّهُمْ الْخَمْرُ عَنْ قَتْلِ النُّفُوسِ وَسَبْيِ الذُّرِّيَّةِ وَأَخْذِ الْأَمْوَالِ فَدَعْهُمْ.
"Allah swt mengharamkan khamr karena ia mencegah seseorang dari berdzikir kepada-Nya dan dari shalat juga. Dan mereka ini (pasukan Mongol) khamr mencegah mereka dari membunuh orang-orang dan memenjarakan keturunannya serta merampas harta mereka. Maka biarkan saja mereka seperti itu".

Akhirnya para pengikutnya paham, yang awalnya geram dan marah sekali sejenak mulai merunduk mengerti bahwa sang Imam sedang mengajarkan Fiqh-Da'wah kepada mereka. Sang Imam sedang mempraktekkan bagaimana caranya berdakwah ketika melihat ada kemungkaran terjadi di depan mata.

Mencegah Kemunkaran Dengan Tidak Menimbulkan Kemunkaran Baru

Mereka akhirnya mengerti bahwa sang Imam bukan sedang membiarkan kemunkaran terjadi, justru sang Imam sedang menjaga agar kemunkaran yang lebih besar tidak terjadi. Sang Imam sangat visoner, melihat ke depan akan dampak yang mungkin terjadi.

Pasukan Mongol itu dibiarkan oleh sang Imam meminum khamr, karena keadaan mabuk mereka lebih baik daripada keadaan sadar mereka. Kalau mereka mabuk, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali bersandar menikmati hilangnya akal mereka. Akan tetapi ketika mereka sadar, mereka justru jauh lebih ganas; mereka bisa membunuh, menawan anak-anak dan keluarga serta merampas harta mereka juga. Ada kamunkaran yang jauh lebih besar terjadi.

Sang Imam mengajarkan Fiqh-da'wah yang baik kepada pengikut. Ketika mencegah sebuah kemunkaran, syarat mutlak adalah bahwa cara yang ditempuh itu tidak menimbulkan kemunkaran baru. Kalau mencegah kemunkaran akan tetapi malah menimbulkan kemunkaran yang baru, lalu apa gunanya?

Justru amar ma'ruf nahi munkar itu gunanya untuk mencegah kemunkaran tidak terjadi. Kalau mencegah kemunkaran tapi menimbulkan kemunkaran baru, tujuan dakwah tidak terlaksana.

Ini cerdasnya sang Imam. Mengisyaratkan bahwa yang namanya dakwah, sayarat utamanya adalah ilmu. Mengerti ilmu syariah-nya, menguasai medan dakwahnya, dan paham siapa yang didakwahi.

Syarat Dakwah = Ilmu!

Ini juga yang beliau tulis dalam kitabnya al-Istiqamah (2/233), bahwa syarat mutlak bagi mereka yang ingin ber-amar ma'ruf nahyi munkar yaitu ILMU! Tidak boleh tidak. seseorang yang maju ke medan dakwah, bukan hanya semangat yang dibawa, tapi juga ilmu yang cukup, agar dakwaahnya tidak asal sruduk dan tidak grasak-grusuk.

Maka wajar saja ada beberapa ulama yang mengatakan "man katsura ilmuhu, qalla inkaruhu" (siapa yang banyak ilmunya, ia sedikit menginkari). Maksudnya ialah orang yang punya banyak ilmu, ia sedikit untuk menginkari apa yang dilakukan oleh orang lain. Tidak asal marah ketika melihat –menurut pandangannya- ada yang keliru, dan juga tidak asal vonis bersalah. Tapi beliau teliti dulu. Persis apa yang dilakukan Imam Ibnu Taimiyah tadi.

Begitu juga, makin banyak seorang pendakwah pengetahunnya tentang syariah dan perbedaan fiqih serta pandangan-pandangan ulama dan madzhab dengan dalil-dalilnya, ia akan jauh lebih wise dalam dakwahnya. Ia tidak akan langsung memvonis salah atau sesat ketika melihat ada yang berbeda, karena ia tahu bahwa dalam satu masalah, bukan hanya ada satu pandangan, tapi ada juga pandangan lain dari ulama.

Sedikit Ilmu, Banyak Ngambeknya

Dan sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya, pasti banyak inkarnya. Maksudnya ia justru sering marah dan menginkari apa yang dilakukan oleh saudaranya itu hanya karena mereka melakukan ritual yang ia tidak lakukan. Bahkan tidak jarang –dengan beraninya- mereka memvonis orang lain sesat dan salah serta keliru. Padahal masalahnya adalah masalah yang masih dalam perdebatan ulama.

Akhirnya, karena hanya punya ilmu satu-satunya dari guru yang satu dan tak mau menimba serta memikul ilmu dari yang guru yang berbeda, tertanam dalam diri bahwa kebenaran hanya pada dirinya. Jadilah ia pendakwa yang sering marah dan susah bergaul.

Hari-harinya hanya diisi oleh kemarahan dan menyalahkan. Persis anak kecil yang sedang ngambek. Dari kata ambek/ambek-an yang dalam bahasa Indonesia artinya suka marah.

Anak kecil yang sedang ngambek, tidak ada yang ia lakukan kecuali menyalahkan semua orang yang tidak ikut sejalan dengan dia. Orang tua, kakak, dan adiknya semua dipaksa ikut dengannya karena sedang ngambek. Ngambek-nya tidak akan selesai kecuali semua mengikuti aturannya, pokoknya yang benar itu hanya ia seorang. Begitu anak kecil yang ngambek.

Maka, tidak jauh beda jika ada pendakwah yang kerjaannya hanya marah dan menyalahkan, itu seperti anak kecil yang suka ngambek.

Menyakini bahwa shalat subuh itu pakai qunut, ketika melihat ada yang tidak qunut, ia marah lalu ngambek. Tidak jauh beda dengan yang meyakini tidak ada qunut, melihat ada yang qunut akhirnya ngambek malah bikin masjid baru yang tidak ada qunut-nya.

Yang ia tahu bahwa puasa 6 hari syawal itu sunnah, tapi ketika mendengar ada yang mengatakan itu makruh, ia langsung marah dan mengatakan itu salah, ngambek. Padahal pendapat puasa 6 hari syawal itu pandangan madzhab al-Malikiyah dan al-Hanafiyah.

Sudah paten tertancap dalam jiwanya, bahwa yang namanya shalat jum'at itu mulainya setelah masuk waktu zuhur. Ketika melihat ada yang adzan jumat sebelum masuk waktu zuhur, ia ngambek dan marah sejadi-jadinya serta mengumpat yang berbeda. Padahal dalam madzhab al-Hanabilah tidak disyaratkan shalat jumat harus di waktu zuhur, boleh sebelumnya.

Tahunya bahwa celana itu harus di atas mata kaki. Pas melihat ada ustadz yang celananya di bawah mata kaki, ia bilang ngambek tidak mau lagi mendengar materi dari ustadz tersebut. Padahal seandainya ia mau belajar, perkaranya masih dalam perdebatan. Bahkan pendapat 4 madzhab secara resmi tidak ada yang mewajibka harus di atas mata kaki.

Yang diyakini bahwa muslim itu harus berjenggot. Ketika melihat ada imam shalat/ustadz yang tidak berjenggot atau terlihat mencukur jenggot, dengan mudah ia menyalahkan dan akhirnya ngambek, tidak mau shalat di belakang imam yang mencukur jenggotnya. Padahal kalau mau belajar, ia akan mengerti perkara jenggotnya sendiri.

Jadi, agar dakwahnya tepat dan diterima, syarat mutlak –seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah- adalah Ilmu yang cukup. Makin banyak ilmu, makin banyak tahu, makin banyak tahu, jadi tidak mudah menuduh. Membuka cakrawala syariah serta tidak stag hanya pada satu pandangan.


فَإِن الْقَصْد وَالْعَمَل ان لم يكن بِعلم كَانَ جهلا وضلالا واتباعا للهوى
"sejatinya maksud/tujuan (yang baik) dan pekerjaan yang tidak dibarengi dengan ilmu, itu berarti kebodohan dan kesesatan serta hanya mengikuti hawa nafsu" (Imam Ibnu Taimiyah dalam al-Istiqamah 2/230)

Wallahu a'lam
 

Perbedaan Zakat dan Sedekah

Selain dari segi hukum, zakat dan sedekah juga punya perbedaan yang sangat mendasar.

1] Hukum

Zakat hukumnya wajib, dan sedekah hukumnya sunnah.

2] Waktu

Pembayaran zakat sudah punya pakem waktu yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Zakat harta tidak wajib dikeluarkan kecuali setelah melewati masa haul satu tahun. Dan zakat pertanian hanya dikeluarkan ketika panen, begitu juga zakat fitrah yang hanya bisa dikeluarkan ketika Ramadhan.

Berbeda dengan sedekah yang tidak punya ketentuan waktu. Kapanpun seseorang ingin mengeluarkan sedekah, itu diperbolehkan. Bahkan menjadi sangat besar pahalanya ketika itu dikeluarkan diwaktu si penerima sedekah sedang sangat membutukan.

3] Kriteria

Tidak semua harta wajib dikeluarkan zakatnya. Ulama punya kriteria dimana harta itu terkena wajib zakat, di antaranya bahwa harta tersebut ialah harta yang berkembang sebagaimana kata zakat itu sendiri yang berarti al-Numuw [النمو]. Jadi harta yang dizakati ialah yang berkembang seperti emas, perak, barang dagang, peternakan, pertanian.

Selain itu juga kriteria yang membedakannya dengan sedekah ialah batas nishab. Harta yang tidak melewati batas nishab wajib zakat, tidak ada kewajiban bagi si empunya harta untuk mengeluarkan zakat tersebut.

Dalam bersedekah, kita tidak perlu memenuhi kriteria nishab itu. Kapan mau kita bersedekah, berapapun harta yang kita punya, sedekah sangat dianjurkan.

4] Kotak Penerima

Zakat punya kotak-kotak penerima yang sudah paten termaktub dalam al-Quran surat al-Taubah ayat 60. Yang disebut dengan mustahiq zakat yang jumlahnya 8 golongan.

Maka selain 8 golongan ini, seseorang tidak berhak menerima zakat dan pembayar zakat pun tidak punya kuasa untuk asal bayar zakat kecuali kepada 8 golongan ini. dan ketentuan ini tidak ada dalam sedekah.

Sedekah tidak punya kotak khusus, kepada siapapun kita ingin bersedekah itu dibolehkan saja. Namun akan jauh lebih bermanfaat dan besar pahalanya jika sedekah itu ditempatkan di kotak yang pas; seperti orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan.

5] Kadar Yang Dikeluarkan

Zakat punya aturan terkait besaran harta yang wajib dikeluarkan tergantung jenis zakat itu sendiri. Dari mulai 2,5 % atau 1/40 dari harta, ini kadar harta yang dikeluakan dalam zakat emas, perak, uang simpanan dan juga barang dagangan.

1/20 atau 5 %, ini kadar yang wajib dikeluarkan dalam zakat pertanian, kalau hasil panennya itu diairi sendiri. Kalau lahan tersebut mendapat pengairan secara gratis dari air hujan atau sungai, zakatnya menjadi 1/10 atau 10%. Dan ada juga kadar zakat 1/5 atau 20%, yaitu kadar zakat Rikaz, barang temuan.

Dalam sedekah, kita tidak akan menemukan aturan seperti ini. si empunya harta dengan bebas bisa menyedekahkan hartanya berapapun dengan catatan bahwa dia juga harus mempehatika kewajibannya untuk menafkahi diri dan juga keluarganya.

6] Perantara Amil

Ini juga yang membuat zakat menjadi sangat berbeda dari sedekah, yaitu adanya Amil sebagai perantara antara muzakki (pemberi zakat) dan mustahiq (penerima zakat). Dan amil pun mendapat jatah dari zakat itu sendiri. Sedangkan sedekah, itu ibadah yang sejatinya tidak memerlukan amil atau perantara.

Wallahu a'lam
 

Beda Infaq, Sedekah dan Zakat

**Infaq

Kalau mengacu kepada kamus bahasa, kita akan dapati bahwa kata infaq adalah induk dari zakat dan sedekah itu sendiri, artinya zakat dan sedekah itu bagian dari infaq juga.  Karena memang kata infaq [إنفاق] dalam bahasa Arab itu adalah bentuk masdar (hasil kerja) dari fi'il (kata kerja) Anfaqa-yunfiqu [أنفق - ينفق] yang berarti membelanjakan harta.

Jadi, kata infaq itu sifatnya masih umum, bisa berarti positif dan bisa berarti negative. Orang yang membelanjakan hartanya berarti ia telah mengeluarkan hartanya untuk kepentingan tertentu. bisa untuk kepentingan duniawi yang sama sekali tidak pahalanya atau bahkan menuai dosa. Dan bisa juga untuk kepentingan ukhrawi yang berbuah pahala.

Dalam al-Qur'an, Allah swt menggunakan kata Infaq untuk beberapa makna yang dimensinya masih umum, di antaranya; memberlanjakan harta secara umum, memberikan nafkah kepada istri atau keluarga, dan ketika infaq itu bermakna positif, selalu digandeng dengan klause "Fi sabilillah", dan bisa juga berarti zakat;

لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ
"Walaupun kamu membelanjakan semua  yang berada di bumi, niscaya  kamu  tidak dapat mempersatukan hati mereka." (Al-Anfal : 63)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain, dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (An-Nisa' : 34)

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir  (Al-Baqarah : 261)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ
Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah zakat sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (Al-Baqarah : 267)

Jadi, ketika ada seseorang yang membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan; judi atau sejenisnya, bisa dikatakan bahwa dia telah menginfaq-kan hartanya, tapi di jalan keburukan.

Nah, ketika infaq itu ditujukan untuk kebaikan di jalan Allah swt sebagai nilai ibadah, namanya disempitkan menjadi Sedekah.

**Sedekah

Secara bahasa sedekah berarti segala pemberian dalam bentuk bertaqarrub kepada Allah swt:

مَا يُعْطَى عَلَى وَجْهِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
"segala pemberian dalam bentuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt" (al-Mu'jam al-Wasith, "shadaq")

Secara istlah arti sedekah tidak jauh berbeda dengan arti bahasanya; yaitu pemberian manusian kepada Allah swt melalui fakir miskin dan orang yang membutuhkan sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt.

Namun dimensi sedekah lebih luas, bukan hanya pada ranah membelanjakan harta di jalan Allah swt. Akan tetapi segala kebaikan, dalam syariah ini disebut sebagai sedekah. Dalam hadits disebutkan:

Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah, amar makruf dan nahi munkar adalah sedekah, penunjuki orang yang tersesat adalah sedekah, matamu untuk menunjuki orang buta adalah sedekah, membuang batu, duri atau tulang dari jalanan adalah sedekah (HR. At-Tirmizy)

Namun, lazimnya sedekah itu digunakan untuk arti infaq dalam nilai ibadah, yaitu membelanjakan harta dan mengeluarkannya untuk jalan taqarrub dan mengharap pahala kepada Allah swt.

Dan sedekah dalam arti mengeluarkan harta sebagai jalan ibadah ada 2 jenisnya; ada Sedekah Tathawwu' /Sunnah dan ada sedekah Wajib.

1] Sedekah Tathawwu'

Sedekah tathawwu' atau dalam bahasa lain disebut dengan sedekah sunnah, yaitu membelanjakan dan mengeluarkan harta untuk jalan ibadah yang sifatnya sunnah, bukan kewajiban.

Contoh sedekah sunnah itu ialah sumbangan masjid, santunan anak yatim, sedekah karpet mushalla, sedekah buka puasa ramadhan, sedekah pembangunan pesantren atau sekolah.

Dalam al-Qur'an sedekah sunnah sering diistilahkan dengan kata iqradh [إقراض] kepada Allah swt, yang artinya memberikan pinjaman atau menghutangkan kepada Allah swt.

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
"Siapa yang memberikan pinjaman kepada Allah swt dengan pinjaman yang baik, maka Allah swt akan melipatgandakan pembayaran kepadanya" (al-Baqarah: 235)  

Disebut demikian, bukan berarti bahwa Allah swt butuh pinjaman manusia, akan tetapi digunakannya kata "meminjamkan" ini sebagai bukti bahwa apa yang manusia belanjakan di jalan Allah swt, pasti akan dibalas dan diganti oleh Allah swt. Layaknya orang yang meminjam, pasti akan dikembalikan lagi. Ini sebagai motivasi kepada manusia agar tidak segan-segan bersedekah.

Salah seorang ulama mengatakan kenapa sedekah disebut sebagai sedekah? Asal kata sedekah itu ialah kata shadaqa [صدق] yang berarti benar. Nah sedekah dinamakan demikian sebagai bukti kebenaran iman seorang muslim. Jadi yang benar-benar iman, niscaya banyak sedekah.

2] Sedekah Wajib

Seperti namanya, wajib, maka hukum sedekah jenis ini adalah sebuah keharusan yang tidak boleh tidak dilakukan, harus dilakukan karena hukumnya wajib. Sedekah wajib adalah zakat yang merupakan salah satu rukun Islam.

**Zakat

Dalam al-Qur'an, Allah swt menyebut zakat dengan kata zakat itu sendiri, terkadang dengan kata shadaqah dan juga dengan kata infaq.

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
"dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat" (an-Nur 56)

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
"ambilah hari harta-harta mereka itu sedekah (Wajib) sebagai pensucian jiwa-jiwa mereka dengan harta yang mereka keluarkan itu" (at-Taubah 103)

وَاَلَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيل اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
"dan mereka yang menimbun emas dan perak mereka tanpa mau mengeluarkannya di jalan Allah, maka berikanlah berita kepada mereka tentang adzab Allah yang pedih" (at-Taubah 34)

Jadi kalau kita buat runutan ketiga istilah tersebut menjadi seperti ini:
-à Infaq = membelanjakan harta; di jalan Allah swt dan di Jalan setan
-à Infaq di Jalan Allah swt = Sedekah
-à Sedekah = Sunnah dan wajib
-à Sedekah wajib = Zakat

wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger