Latest Post

Belajar Fiqih, Kalem Aja, Bro ...

Dalam banyak literasi fiqih, fuqaha sering sekali menyebutkan kaidah yang memang sudah disepakati dalam hal perbedaan pendapat di kalangan madzhab, yakni kaidah:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
"Tidak boleh menginkari perkara yang (keharamannya) masih diperdebatkan, tapi (harus) menginkari perkara yang (keharamannya) sudah disepakati"[1]

Ini dijelaskan oleh banyak fuqaha, di antaranya ada Ibnu Nujaim al-hanafi dan juga Imam Al-Suyuthi dalam kitabnya yang memang ditulis untuk membahas kaidah-kaidah fiqih, Al-Asybah wa Al-Nazhoir, maksudnya bahwa kita tidak bisa seenaknya menyalahkan orang lain yang melakukan sebuah perkara yang haramnya masih diperdebatkan. Mungkin saja, ia berpegang dengan pendapat yang tidak mengharamkan itu, berbeda dengan apa yang kita pegang.

Akan tetapi jika keharaman sesuatu itu sudah disepakati, seperti haramnya zina, mencuri, korupsi, riba, meninggalkan sholat, dan sejenisnya, maka tidak ada kata kompromi lagi. Kalau dia sudah disepakati haram, sudah tidak ada lagi toleransi untuk mereka yang mau melakukannya.

Dengan bahasa yang lebih dekat seperti ini: "kalo masalahnya masih diperselisihkan, masih mukhtalaf fiih, kaga usah kenceng kenceng diskusinya, kaga usah keras keras debatnya, percuma, buang energi aja akhirnya. Kalem aja, nyantai aja, woles aja brai. Karena masalah yang masuk dalam kategori mukhtalaf fiih, mao ditarik kemana juga ngga bakal kemana-mana. Ngga bakal ada yang menang. Yang mao ngambil pendapat A yaa monggo, yang mao ngambil pendapat B juga monggo. Asal jangan pada ribut. Ulama dulu juga berbeda, tapi pada kalem aja tuh."

Di sini ulama fiqih sangat memperhatikan keberlangsungan hidup harmonis antar sesama, dengan tidak menyalahkan siapa yang berbeda dengan apa yang kita yakini, selama memang apa yang diyakininya itu bersandar kepada pendapat ulama lain yang juga muktamad.

Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna 4 rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula [مخالفة الأولى] (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas'ud ditanya: "kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat 4 rokaat?". Ibn Mas'ud menjawab: [الخلاف شر] "berbeda itu buruk!".[2]

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas'ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri.

Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i

Kita juga tahu secara detail bagaimana Imam Syafi'i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah.

Padahal Imam Syafi'i-lah pelopor qunut subuh dan menjadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu.

Imam Ahmad bin Hanbal

Kita juga tahu betul bahwa Imam Ahmad bin Hanbal punya pendapat yang mengatakan bahwa orang mimisan, yang keluar darah dari hidungnya itu batal wudhunya, sama seperti orang yang berbekam.

Akan tetapi ketika ia ditanya: "bagaimana jika imam yang sedang mengimami dan anda dalam barisan makmum, lalu ia keluar darah (luka) dan tidak berwudhu lagi, apakah anda tetap sholat di belakangnya?", Imam Ahmad menjawab:

كَيْفَ لَا أُصَلِّي خَلْفَ الإِمَامِ مَالِك وَسَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيِّبِ
"bagaimana mungkin aku tidak mau sholat di belakang Imam Malik dan Sa'id bin Al-musayyib?"[3]

Indikasinya bahwa Imam Malik dan Imam Sa'id bin Al-Musayyib berbeda pandangan dengan Imam Ahmad dalam Masalah orang yang keluar darah dari tubuh, apakah batal wudhu atau tidak? tapi Imam Ahmad tidak menyalahkan mereka dan justru tetap mengikuti sholat di belakangnya. Hebat bukan?

Imam al-Sudais di Indonesia

Akhir Novermber 2014 kemarin, Imam Abdurrahman al-Sudais diberi kehormatan oleh imam besar masjid Istiqlal untuk menjadi Imam shalat jumat bagi warga Indonesia di masjid tersebut. Karena tahu bahwa orang Indonesia itu kebanyakan al-Syafi'iyyah, beliau rela melepas baju Hanbaliy-nya dengan mengeraskan bacaan "bismillah" ketika memulai al-fatihah.

Padahal itu tidak pernah beliau lakukan selama menjadi Imam masjidil-Haram, karena memang dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal menetapkan "bismillah" itu dibaca sir (lirih) atau tidak dikeraskan, itulah pendapat madzhab. Akan tetapi beliau rela mengeraskan bacaan bismillah-nya, karena beliau mengerti dan faham bagaimana bersikap dalam perbedaan yang non-prinsipil ini.

Nasehat Imam Ibnu Taimiyyah

Imam ibnu Taimiyah rahimahullah terekam dalam majmu; al-Fatawa:
فَمَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ الشَّافِعِيِّ لَمْ يُنْكِرْ عَلَى مَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ مَالِكٍ وَمَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ أَحْمَد لَمْ يُنْكِرْ عَلَى مَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ الشَّافِعِيِّ وَنَحْوُ ذَلِكَ
Siapa yang merasa bahwa mengikuti syafi'i itu lebih baik, maka ia tidak boleh menginkari orang yang mengikuti Malik. Yang lebih memilih mengikuti Ahmad tidak boleh menginkari orang yang mengikuti syafi'i dan begitu juga seterusnya.

Belajar Fiqih, Harus Tahu Konsekuensinya; Perbedaan

Dalam litelatur fiqih, kita pasti akan mendapatkan  perbedaan-perbedaan (Ikhtilaf) pendapat di kalangan ulama, baik itu lintas madzhab atau juga dalam madzhab itu sendiri. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam masalah fiqih yang memang tempatnya ulama berijtihad.

Konsekuensi yang harus muncul ketika adanya ijtihad ialah adanya perbedaan itu sendiri. Jadi memang perbedaan dalam masalah fiqih ialah sesuatu yang ada dan bukan diada-adakan. Jadi sebelum lebih jauh mendalami fiqih, seorang harus siap menghadapi perbedaan itu dan bersikap bijak dalam perbedaan itu.

Imam Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat, meriwayatkan qoul Imam Qatadah yang mana qoul ini sangat masyhur sekali di kalangan para fuqaha dan pembelajar fiqih:

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الِاخْتِلَافَ لَمْ يشمَّ أنفُه الْفِقْهَ
"Siapa yang tidak tahu (Tidak mengakui) Ikhtilaf, ia sama sekali tidak bisa mencium Fiqih"[4]

Keras Dalam Masalah Yang Disepakati

Akan tetapi, kalau masalahnya sudah disepakati oleh ulama sejagad dan tidak ada lagi yang menginkari, maka di situ layak keraskan otot, tegangkan otak untuk merealisasikan itu. Islam menuntut pemeluknya untuk hidup sehat, Islam menntut umatnya untuk hidup bersih, Islam menuntut umatnya untuk bias mandiri; mandiri ekonomi, mandiri mental dst. Islam menuntut umatnya untuk berbuat baik kepada siapapun yang masih berstatus manusia, selama Ia tidak memerangi. Ini yang disepakati oleh ulama sejagad, maka dalam hal-hal ini, layak dan legal kita keraskan otot dan otak untuk mengajak keluarga, sertaorang sekitar untuk hidup sehat, hidup bersih, hidup mandiri, dan hidup damai, dengan siapapun itu.

Wallahu a'lam


[1] Al-Asybah wa Al-Nazhoir li Al-Suyuthi 158
[2] Fathul-Baari 2/564
[3] Abad Al-Ikhtilaf fi Al-Islam 117
[4] Al-Muwafaqat 5/122
 

Kata Ibnu Taimiyyah Tentang Perbedaan Madzhab Fiqih

Imam Ibn Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa-nya (20/293) mengajari kita bagaimana mestinya besikap di tengah perbedaan masalah agama yang sifatnya dzonniy:

تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ : أَيُّهُمَا أَفْضَلُ التَّرْجِيعُ فِي الْأَذَانِ أَوْ تَرْكُهُ ؟ أَوْ إفْرَادُ الْإِقَامَةِ أَوْ تَثْنِيَتُهَا ؟ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ بِغَلَسِ أَوْ الْإِسْفَارُ بِهَا ؟ وَالْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ أَوْ تَرْكُهُ ؟ وَالْجَهْرُ بِالتَّسْمِيَةِ ؛ أَوْ الْمُخَافَتَةُ بِهَا ؛ أَوْ تَرْكُ قِرَاءَتِهَا ؟ وَنَحْوُ ذَلِكَ
Orang-orang Islam berselisih: mana yang afdhal tarji' (melirihkan syahadat) dalam adzan atau tidak perlu tarji'? iqamah disebut satu kali atau diulang 2 kali (seperti adzan)?, shalat subuh di awal waktu (masih gelap) atau menunggu hingga mulai terang (isfar)? Qunut di shalat subuh atau tidak qunut? Menjaherkan bismillah atau melirihkan saja, atau memang tidak perlu dibaca saja? Dan perbedaan sejenisnya …

فَهَذِهِ مَسَائِلُ الِاجْتِهَادِ الَّتِي تَنَازَعَ فِيهَا السَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ فَكُلٌّ مِنْهُمْ أَقَرَّ الْآخَرَ عَلَى اجْتِهَادِهِ مَنْ كَانَ فِيهَا أَصَابَ الْحَقَّ فَلَهُ أَجْرَانِ وَمَنْ كَانَ قَدْ اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَخَطَؤُهُ مَغْفُورٌ لَهُ
Masalah-masalah tersebut adalah masalah yang sifatnya ijtihadiy yang ulama salaf dan para imam sejak dulu memang sudah berselisih. Akan tetapi mereka dengan perselisihan tetap saling mengakui ijtihad yang lain (tidak menyalahkan), siapa yang ijtihadnya benar, ia mendapat 2 pahala, dan yang ijtihadnya salah dia mendapat satu pahala dan kesalahannya diampuni …

فَمَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ الشَّافِعِيِّ لَمْ يُنْكِرْ عَلَى مَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ مَالِكٍ وَمَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ أَحْمَد لَمْ يُنْكِرْ عَلَى مَنْ تَرَجَّحَ عِنْدَهُ تَقْلِيدُ الشَّافِعِيِّ وَنَحْوُ ذَلِكَ
Siapa yang merasa bahwa mengikuti syafi'i itu lebih baik, maka ia tidak boleh menginkari orang yang mengikuti Malik. Yang lebih memilih mengikuti Ahmad tidak boleh menginkari orang yang mengikuti syafi'i dan begitu juga seterusnya.


Yang tadi itu Imam Ibnu Taimiyah, senada dengan apa yang disebutkan oleh Imam al-Syathibiy, ulama salaf pakar bid'ah, yang definisinya dipakai oleh seluruh ulama –yang berintisab- ke salaf. Beliau mengatakan dalam al-I'tisham (1/266):


وَلَيْسَ مِنْ شَأْنِ الْعُلَمَاءِ إِطْلَاقُ لَفْظِ الْبِدْعَةِ عَلَى الْفُرُوعِ الْمُسْتَنْبَطَةِ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِيمَا سَلَفَ
"bukan pekerjaan ulama kalau memutlakkan lafadz bid'ah pada masalah-masalah furu' (cabang) yang diinstinbathkan (dari dalil-dalil) walaupun salaf tidak mefatwakan itu."
 

Antara Bakwan dan Fiqih

Bagi yang mau makan 'bakwan', yang dalam beberapa daerah disebut dengan istilah 'bala-bala', pilihannya ada 2; dia datang ke tukang bakwan dan membelinya, kemudian bisa langsung dinikmati. Atau bisa juga yang agak ribet, dia bikin sendiri, artinya masak sendiri.

Untuk pilihan yang pertama, ini pilihan yang simple, tidak memakan waktu, serta sudah dipastikan nikmat rasa bakwan­nya; karena  memang membeli dari yang sudah ahli dalam dunia per-masak-an bakwan dan bala-bala. Maka untuk rasa, tidak perlu dikomentari.

Untuk cara yang kedua, ini cara yang ribet, memakan waktu panjang, dan tidak dijamin rasanya; nikmat atau tidak.

(1) Ribet,
karena banyak tahapan yang harus dilalui. Pertama dia harus mencari ke pasar langsung bahan-bahan untuk bikin bakwa itu; terigu, kol, wortel, dst; ini bahan mnetahnya. Dia juga harus membeli bumbunya; kunyit, bawang, ketumbar, garam, royko dst, atau bisa juga beli  bumbu jadi seperti bumbu sasa atau bumbu tepung, dan bumbum-bumbu semisalnya dari merek yang berbeda.

(2) Memakan waktu panjang
Karena semua bahan mentah yang tadi disebutkan sama sekali tidak berguna dan tidak bermanfaat serta tidak bisa dinikmati bahkan tidak bisa dijadikan bakwa kecuali harus melalui proses 'masak' yang mana itu tidak mudah. Bahkan sebelum memasaknya pun, ada ilmu 'ngaduk' dan ilmu 'nyampur' bahan-bahan mentah tadi yang keahlian itu tidak bisa didapatkan dengan mudah begitu saja.

Setelah ngaduk serta nyampur bahan mentah itu, bakwan belum jadi, tapi harus dimasak dulu, dan memasaknya juga ada ilmu yang tidak sembarang. Kalau asal saja, bisa-bisa bakwan yang dihasilkan tidak berasa bakwan. Nah proses masak ini yang kemudian menentukan rasa bakwa tersebut, tingkat kelunakan, serta warna yang dihasilkan. Bahkan tingkat besar kecil api yang dipakai untuk menggoreng itu juga ada takarannya, tidak asal nyala. Serta takaran minyak goreng yang dipakai, ada ilmunya juga, tidak sembarang asal 'nyeburin' minyak ke penggorengan. Jelas ini sangat memakan waktu.

(3) Tidak Dijamin Rasanya
Nah, karena memang prosesnya yang tidak mudah tapi kemudian dijalankan sendiri, padahal ia bukan ahlinya, maka produk yang dihasilkan pun tidak jelas rasanya. Bentuknya tidak jelas, warnanya pun aneh, rasanya? Tidak perlu dideskripsikan.  

Ini yang dihasilkan jika tidak punya keahlian, berani-berani masak bala-bala tanpa ilmu, akhirnya bukan bakwan yang dihasilkan, tapi ya sudahlah…

Maka untuk mudahnya, simple caranya, singkat waktunya, dijamin rasanya, tinggal datang saja ke tukang bakwa dan beli lalu nikmati. Tentu datangnya ke tukang bakwan yang memang sudah disepakati oleh para penikmat bakwan bahwa ia adalah tukang bakwan sejati yang ahli dan masakannya bisa dinikmati.

Bukan asal tukang bakwan, karena banyak sekarang tukang bakwan yang jualan tapi ngga punya keahlian bikin bakwan, tapi jadi tukang bakwan hanya untuk menutupi kebutuhan biar hidup masih bisa berjalan.
-----------------
Kaitan semua itu dengan materi fiqih adalah bahwa fiqih itu produk hukum yang untuk memproduknya melalui proses panjang, sebagaimana sang koki itu memasak dan menghasilkan bakwa dari bahan-bahan mnetah yang ada. Fiqih adalah produknya, yakni bakwannya. Ushul-fiqh adalah ilmu mengolah untuk memproses dan menghasilkan hukum dari ayat serta hadits, ini sama seperti ilmu memasak bakwan. Sedangkan ayat serta hadits-hadits Nabi s.a.w. itu adalah barang mnetah.

Ya itu semua adalah barang mentah yang tidak bermanfaat serta tidak berguna bagi orang-orang awam yang memang tidak mengerti hukum syariah. Maka bagi awam seperti ini, baiknya ia langsung saja merujuk koki atau ulama handal untuk bisa menikmati hukum atau bakwan yang diinginkan. Dari pada harus ke pasar sendiri, yang jelas ia tidak punya kehalian itu.

Maka tentukan serta sadarkan diri kita, kita berada pada posisi yang mana, posisi koki yang memang layak dan mampu memasak. Atau kita memang bukan koki yang tidak mampu memasak, kalau sudah seperti itu, tentu jauh lebih baik kita tinggal menikmati saja bakwn yang ada, tidak perlu bersusah payah ke pasar dan memasak sendiri.

Wallahul-musta'an
 

LIPIA Itu ...

LIPIA Jakarta itu Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab Fiqih (Fiqh Muqaran) univ. Imam Muhammad bin Saud, Saudi Kingdom. 


Dari senin sampai jumat, materi fiqih perbandingan memakai kitab Fiqh Perbandingannya Ibn Rusyd (Bidayatul-Mujtahid) itu diajarkan setiap hari. Kitab ushul-Fiqhnya sebagai instrumen penting mahasiswa syariah, memakai Ushul Perbandingan karya Ibnu Qudamah al-Maqdisy itu dipelajari 4 kali dalam 5 hari kuliah tersebut.

Karena memang jurusannya perbandingan madzhab fiqih, tidak ada materi yang jam ajarnya lebih banyak dibanding kedua materi tersebut; Fiqh 5x dalam 5 Hari, Ushul 4x dalam 5 hari.

Tapi sayangnya, kalau lihat toko+toko Kitan sekitaran Lipia yang penjualnya mahasiswa dan juga non mahasiswa Lipia, itu hampir kesemua toko kitab tersebut tidak ada yang menjual kitab-kitab muktamad dari 4 madzhab fiqih masyhur.

Saya juga bingung, di situ kadang saya merasa sedih. Tapi mudah-mudahan Mahasiswa Lipia bisa kenal dan banyak tahu kitab-kitab muktamad dari masing-masing madzhab Fiqh beserta ulama dari madzhab-madzhab fiqih tersebut.

Kalau ada mahasiswa syariah perbandingan madzhab tidak tahu kitab al-Dzakhirah dan siapa pengarangnya? Atau Bada'i al-Shona'i beserta pengarangnya, atau Al-Inshaf juga pengarangnya, itu saya benar-benar sedih.
 

Gugel, Mesin Pencari Bukan Guru!

Banyak kumungkinan negatif yang dihasilkan jika belajar ilmu syariah hanya lewat laman-laman gugel. Karena sebagaimana kita tahu, gugel itu mesin pencari yang sama sekali tidak bisa membedakan mana yang benar atau tidak benar. Mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.

Artinya kemungkinan negatif yang paling nyata adalah tersembunyinya ilmu. Karena memang gugel hanya menampilkan apa yang sudah diupload atau diunggah ke laman dunia maya, yang tidak terunggah ke maya, takkan bisa terakses oleh mesin pencari tersebut.

Jadi, bisa saja babi itu menjadi halal, kalau semua orang mengupload artikel serta catatan yang menegaskan bahwa babi halal. Walaupun yang benar adalah babi haram dimakan, tapi karena tidak di-internet-kan, alhasil babi tetaplah menjadi halal. Itu contoh kecilnya saja.

Pada akhirnya, orang yang hanya belajar lewat laman gugel hanya tahu pendapat yang memang ada di dunia maya, padahal dalam masalah twrsebut, pendapat ulama tidak pada satu suara, ada pandangan lain. Yang hasilnya membuat orang menjadi -terkesan- jumud ketika melihat adanya perbedaan, dan membuatnya menjadi sangat militan dalam mendominasi -yang katanya- kebenaran mutlak, padahal sejatinya itu adalah masalah yang siperselisihkan, ada pendapat berbeda dari kolompok ulama lain yang kebetulan tidak mahir ber-internet dan tidap mempublish pendapatnya.

Berarti memang gugel sama sekali tidak memenuhi hasrat seseorang pelajar yang memang mengaku ingin terus mencari kebenaran, karena tidak bisa dikatakan kebenaran kalau ada ilmu yang ditutupi. Ini yang paling nyata, adanya ilmu yang disembunyikan.

Kemungkinan negatif lain, tentu sumber yang anonim. Itu juga tidak bisa dipandang sebagai hal yang biasa, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn Sirin, ilmu itu bagaikan agama, maka penting sekali kita tahu dari siapa agama itu kita ambil dan pelajari. Bukan barang asing kalau banyak artikel syariah berseliweran di dunia maya ini, akan tetapi, penulisnya tidak ddikenal, atau juga memakai nama aneh sehingga identitas asli tertutupi.

Bagaimana bisa mengambil ilmu dari orang yang tidak jelas identitasnya? Dalam ilmu hadits, jika salah seorang perawinya majhul atau unknown alias tidak diketahui, hadits itu turun levelnya menjadi dhaif. Padahal memuntut ilmu haruslah dari seseorang yang memang benar-benar mumpuni dalam bidangnya.

Di dunia maya, seseorang bisa saja mengupload artikel syariah sesukanya, dan gugel tidak bisa membedakan mana artikel karya ahli agama atau bukan. Siapapun dia, apapun background pendidikannya, semua bisa menulis di dunia maya. Gugel tidak akan bertanya kepada pengunggah "apa latar belakang pendidikan anda?". Tidak akan!

Artinya sagatn besar kemungkinan kita memperoleh ilmu dalam dunia maya yang penuilsnya tidak bisa mempertanggung jawabkan secara ilmiah apa yang ia ssajikan atau kita dihadapkan dengan orang yang hanya punya ilmu copy paste.

Maka, sekarang ini bahkan sejak belasan abad lalu, para pendahulu kita telah merumuskan bahwa dalam menuntut ilmu itu mutlak ada guru yang nyata bukan maya, Agar kita punya sandaran dalam beribadah. Mengarahkan pada yang baik dan menjadi solusi dalam kebuntuan mencari ilmu.

Peran penting lain dalam hal adanya guru bagi kita penuntut ilmu adalah adanya sosok yang kita hormati, itu yang membuat kita semakin tawadhu dan rendah hati serta tidak merendahkan penuntut ilmu lain, serta tidak merasa sebagai orang yang paling cerdas lagi dalam kebenaran.

Status murid membantu kita tetap rendah hati, karena status tersebut selalu membuat kita merasa tidak lebih pintar dari yang lain, terlebih dari guru kita. Namanya saja murid, masih mencari ilmu.

Orang yang menuntut ilmu tanpa guru, hanya lewat buku dan laman internet, dia tidak punya sosok yang harus ia hormati, toh ilmu yang didapat itu memang hasil kerja sendiri. Karena kerja sendiri, berarti ini murni muncul dari kecerdasan diri, tanpa bantuan kanan kiri. Tinggi hati pun akhirnya jadi sikap diri, setiap ada yang menyelisih bawaannya hanya ingin mendebati bukan menghormati. Mudah-mudahan Allah s.w.t. menjauhkan kita dari semua sifat buruk ini.

Wallahul-musta'an
 

Imam Ali r.a., Bapak Semua Madzhab Fiqih

Ternyata memang, Imam Ali r.a. itu sumber dari semua madrasah fiqih yang ada di jagad raya ini, dari mulai ja'fariyah, Zaidiyah, Hanafiyah sampai madhzab Imam Ahmad bin Hanbal. Semua madzhab ini bibitnya muncul dari kecerdasan seorang sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. yang Allah s.w.t. anugerahkan kepada beliau.

Imam Abu Hanifah dan 2 sahabat sekaligus muridnya; Ya'qub Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, belajar fiqih dari tangan ahl Bait, yaitu Imam Ja'far al-Shadiq, dan beliau mendapatkan fiqih dari ayahnya Muhammad al-Baqir. Beliau juga dari ayahnya, yaitu Ali Zainal-'Abidin bin Husain yang merupakan cucu sayyidina Ali r.a. yang sudah barang tentu belajar dari kakeknya.

Imam Malik berguru kepada Rabi'ah al-Ra'yu, yang mana Rabi'ah berguru kepada 'Ikrimah. Dan beliau mendapatkan fiqihnya dari tuannya, yaitu sayyidina Ibn Abbas r.a.yang juga pernah belajar dari sayyidina Ali r.a.. selain jalan itu, ada jalan lain yaitu dari sayyidina Ibn Umar r.a., salah satu Fuqaha' al-madinah yang merupakan bibitnya madzhab Ahl Madinah (Imam Malik).

Imam al-Syafi'i, berguru ke Imam Malik, artinya punya jalan sama kepada Imam Ali r.a.. dan Madzhab al-Hanabilah yang dipimpin oleh Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid langsung Imam al-Syafi'i. semua punya garis keilmuan kepada sayyidina Ali r.a.

Kalau madzhab zaidiyah, ya jelas, toh beliau, Imam Zaid adalah anak dari Ali Zainal-'Abidin, yang merupakan anak dari cucunya Sayyidina Ali r.a., yaitu Husain.

Madzhab Imamiyah apalagi, mereka bukan hanya punya garis keilmuan, bahkan mereka mengaku-ngaku kalau fiqihnya itu adalah fiqih sayyidina Ali r.a., karena sang Imam adalah Imam pertama dari 12 Imam yang mereka agungkan.

Jadi bisa dikatakan bahwa sayyidina Ali r.a. adalah bapak segala madzhab fiqih. Dan memang tidak ada yang mergukan kecerdasan dan keilmuan seorang sang Imam. Bahkan Nabi Muhammad mengakui itu, dan juga para sahabat.

Beberapa contoh telah banyak disebutkan oleh ulama tentang kecerdasan sayyidina Ali r.a. ini, salah satunya ketika beliau memjadi otaku tama dalam fatwa sayyidina Umar bin Khaththab –ketika menjadi khalifah- dalam hal had (hukuman) bagi peminum khamr.

Beliau –Umar bin khathtahb- bermusyawarah dengan para petinggi sahabat terkait peminum khamr. Lalu sayyidina Ali r.a. mengatakan: "Orang mabuk itu kalau mabuk, bisa 'ngaco' bicaranya, kalau sudang nagco, dia akan menuduh tanpa bukti (qazaf) orang lain, maka hukumannya adalah cambuk 80 kali sebagaimana orang yang melakukan qazaf." Dan inilah yang dijadikan regulasi hukum oleh sayyidina Umar bin khaththab.

Ada lagi, yaitu ketika sayyidina Umar meminta pendapat tentang hukuman bagi sekelompok orang yang membunuh, apakah dibunuh semua atau hanya pimpinan kelompok saja. Karena memang dalam al-Qur'an "satu nyawa dibalas satu nyawa!", tidak dijelaskan bagaimana jika yang membunuh itu persekongkolan orang banyak.

Akhirnya Imam Ali r.a. memberi pendapat: "wahai Amirul-Mukminin, bagaiama kau melihat jika ada sekelompok orang yang mencuri unta, satu orang memegang kaki unta yang satu dan yang lainnya juga memgang bagian kaki yang lain, apakah mereka semua dipotong tangannya?" sayyidina Umar r.a. menjawab: "tentu!", Imam Ali r.a. pun meneruskan: "nah, begitu juga dalam hal ini!".

Itulah yang kemudian mendasari fatwa sayyidina Umar r.a. bahwa orang yang mebunuh beramai-ramai, semuanya diqishash.

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger