Latest Post

LIPIA Itu ...

LIPIA Jakarta itu Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab Fiqih (Fiqh Muqaran) univ. Imam Muhammad bin Saud, Saudi Kingdom. 


Dari senin sampai jumat, materi fiqih perbandingan memakai kitab Fiqh Perbandingannya Ibn Rusyd (Bidayatul-Mujtahid) itu diajarkan setiap hari. Kitab ushul-Fiqhnya sebagai instrumen penting mahasiswa syariah, memakai Ushul Perbandingan karya Ibnu Qudamah al-Maqdisy itu dipelajari 4 kali dalam 5 hari kuliah tersebut.

Karena memang jurusannya perbandingan madzhab fiqih, tidak ada materi yang jam ajarnya lebih banyak dibanding kedua materi tersebut; Fiqh 5x dalam 5 Hari, Ushul 4x dalam 5 hari.

Tapi sayangnya, kalau lihat toko+toko Kitan sekitaran Lipia yang penjualnya mahasiswa dan juga non mahasiswa Lipia, itu hampir kesemua toko kitab tersebut tidak ada yang menjual kitab-kitab muktamad dari 4 madzhab fiqih masyhur.

Saya juga bingung, di situ kadang saya merasa sedih. Tapi mudah-mudahan Mahasiswa Lipia bisa kenal dan banyak tahu kitab-kitab muktamad dari masing-masing madzhab Fiqh beserta ulama dari madzhab-madzhab fiqih tersebut.

Kalau ada mahasiswa syariah perbandingan madzhab tidak tahu kitab al-Dzakhirah dan siapa pengarangnya? Atau Bada'i al-Shona'i beserta pengarangnya, atau Al-Inshaf juga pengarangnya, itu saya benar-benar sedih.
 

Gugel, Mesin Pencari Bukan Guru!

Banyak kumungkinan negatif yang dihasilkan jika belajar ilmu syariah hanya lewat laman-laman gugel. Karena sebagaimana kita tahu, gugel itu mesin pencari yang sama sekali tidak bisa membedakan mana yang benar atau tidak benar. Mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.

Artinya kemungkinan negatif yang paling nyata adalah tersembunyinya ilmu. Karena memang gugel hanya menampilkan apa yang sudah diupload atau diunggah ke laman dunia maya, yang tidak terunggah ke maya, takkan bisa terakses oleh mesin pencari tersebut.

Jadi, bisa saja babi itu menjadi halal, kalau semua orang mengupload artikel serta catatan yang menegaskan bahwa babi halal. Walaupun yang benar adalah babi haram dimakan, tapi karena tidak di-internet-kan, alhasil babi tetaplah menjadi halal. Itu contoh kecilnya saja.

Pada akhirnya, orang yang hanya belajar lewat laman gugel hanya tahu pendapat yang memang ada di dunia maya, padahal dalam masalah twrsebut, pendapat ulama tidak pada satu suara, ada pandangan lain. Yang hasilnya membuat orang menjadi -terkesan- jumud ketika melihat adanya perbedaan, dan membuatnya menjadi sangat militan dalam mendominasi -yang katanya- kebenaran mutlak, padahal sejatinya itu adalah masalah yang siperselisihkan, ada pendapat berbeda dari kolompok ulama lain yang kebetulan tidak mahir ber-internet dan tidap mempublish pendapatnya.

Berarti memang gugel sama sekali tidak memenuhi hasrat seseorang pelajar yang memang mengaku ingin terus mencari kebenaran, karena tidak bisa dikatakan kebenaran kalau ada ilmu yang ditutupi. Ini yang paling nyata, adanya ilmu yang disembunyikan.

Kemungkinan negatif lain, tentu sumber yang anonim. Itu juga tidak bisa dipandang sebagai hal yang biasa, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn Sirin, ilmu itu bagaikan agama, maka penting sekali kita tahu dari siapa agama itu kita ambil dan pelajari. Bukan barang asing kalau banyak artikel syariah berseliweran di dunia maya ini, akan tetapi, penulisnya tidak ddikenal, atau juga memakai nama aneh sehingga identitas asli tertutupi.

Bagaimana bisa mengambil ilmu dari orang yang tidak jelas identitasnya? Dalam ilmu hadits, jika salah seorang perawinya majhul atau unknown alias tidak diketahui, hadits itu turun levelnya menjadi dhaif. Padahal memuntut ilmu haruslah dari seseorang yang memang benar-benar mumpuni dalam bidangnya.

Di dunia maya, seseorang bisa saja mengupload artikel syariah sesukanya, dan gugel tidak bisa membedakan mana artikel karya ahli agama atau bukan. Siapapun dia, apapun background pendidikannya, semua bisa menulis di dunia maya. Gugel tidak akan bertanya kepada pengunggah "apa latar belakang pendidikan anda?". Tidak akan!

Artinya sagatn besar kemungkinan kita memperoleh ilmu dalam dunia maya yang penuilsnya tidak bisa mempertanggung jawabkan secara ilmiah apa yang ia ssajikan atau kita dihadapkan dengan orang yang hanya punya ilmu copy paste.

Maka, sekarang ini bahkan sejak belasan abad lalu, para pendahulu kita telah merumuskan bahwa dalam menuntut ilmu itu mutlak ada guru yang nyata bukan maya, Agar kita punya sandaran dalam beribadah. Mengarahkan pada yang baik dan menjadi solusi dalam kebuntuan mencari ilmu.

Peran penting lain dalam hal adanya guru bagi kita penuntut ilmu adalah adanya sosok yang kita hormati, itu yang membuat kita semakin tawadhu dan rendah hati serta tidak merendahkan penuntut ilmu lain, serta tidak merasa sebagai orang yang paling cerdas lagi dalam kebenaran.

Status murid membantu kita tetap rendah hati, karena status tersebut selalu membuat kita merasa tidak lebih pintar dari yang lain, terlebih dari guru kita. Namanya saja murid, masih mencari ilmu.

Orang yang menuntut ilmu tanpa guru, hanya lewat buku dan laman internet, dia tidak punya sosok yang harus ia hormati, toh ilmu yang didapat itu memang hasil kerja sendiri. Karena kerja sendiri, berarti ini murni muncul dari kecerdasan diri, tanpa bantuan kanan kiri. Tinggi hati pun akhirnya jadi sikap diri, setiap ada yang menyelisih bawaannya hanya ingin mendebati bukan menghormati. Mudah-mudahan Allah s.w.t. menjauhkan kita dari semua sifat buruk ini.

Wallahul-musta'an
 

Imam Ali r.a., Bapak Semua Madzhab Fiqih

Ternyata memang, Imam Ali r.a. itu sumber dari semua madrasah fiqih yang ada di jagad raya ini, dari mulai ja'fariyah, Zaidiyah, Hanafiyah sampai madhzab Imam Ahmad bin Hanbal. Semua madzhab ini bibitnya muncul dari kecerdasan seorang sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. yang Allah s.w.t. anugerahkan kepada beliau.

Imam Abu Hanifah dan 2 sahabat sekaligus muridnya; Ya'qub Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, belajar fiqih dari tangan ahl Bait, yaitu Imam Ja'far al-Shadiq, dan beliau mendapatkan fiqih dari ayahnya Muhammad al-Baqir. Beliau juga dari ayahnya, yaitu Ali Zainal-'Abidin bin Husain yang merupakan cucu sayyidina Ali r.a. yang sudah barang tentu belajar dari kakeknya.

Imam Malik berguru kepada Rabi'ah al-Ra'yu, yang mana Rabi'ah berguru kepada 'Ikrimah. Dan beliau mendapatkan fiqihnya dari tuannya, yaitu sayyidina Ibn Abbas r.a.yang juga pernah belajar dari sayyidina Ali r.a.. selain jalan itu, ada jalan lain yaitu dari sayyidina Ibn Umar r.a., salah satu Fuqaha' al-madinah yang merupakan bibitnya madzhab Ahl Madinah (Imam Malik).

Imam al-Syafi'i, berguru ke Imam Malik, artinya punya jalan sama kepada Imam Ali r.a.. dan Madzhab al-Hanabilah yang dipimpin oleh Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid langsung Imam al-Syafi'i. semua punya garis keilmuan kepada sayyidina Ali r.a.

Kalau madzhab zaidiyah, ya jelas, toh beliau, Imam Zaid adalah anak dari Ali Zainal-'Abidin, yang merupakan anak dari cucunya Sayyidina Ali r.a., yaitu Husain.

Madzhab Imamiyah apalagi, mereka bukan hanya punya garis keilmuan, bahkan mereka mengaku-ngaku kalau fiqihnya itu adalah fiqih sayyidina Ali r.a., karena sang Imam adalah Imam pertama dari 12 Imam yang mereka agungkan.

Jadi bisa dikatakan bahwa sayyidina Ali r.a. adalah bapak segala madzhab fiqih. Dan memang tidak ada yang mergukan kecerdasan dan keilmuan seorang sang Imam. Bahkan Nabi Muhammad mengakui itu, dan juga para sahabat.

Beberapa contoh telah banyak disebutkan oleh ulama tentang kecerdasan sayyidina Ali r.a. ini, salah satunya ketika beliau memjadi otaku tama dalam fatwa sayyidina Umar bin Khaththab –ketika menjadi khalifah- dalam hal had (hukuman) bagi peminum khamr.

Beliau –Umar bin khathtahb- bermusyawarah dengan para petinggi sahabat terkait peminum khamr. Lalu sayyidina Ali r.a. mengatakan: "Orang mabuk itu kalau mabuk, bisa 'ngaco' bicaranya, kalau sudang nagco, dia akan menuduh tanpa bukti (qazaf) orang lain, maka hukumannya adalah cambuk 80 kali sebagaimana orang yang melakukan qazaf." Dan inilah yang dijadikan regulasi hukum oleh sayyidina Umar bin khaththab.

Ada lagi, yaitu ketika sayyidina Umar meminta pendapat tentang hukuman bagi sekelompok orang yang membunuh, apakah dibunuh semua atau hanya pimpinan kelompok saja. Karena memang dalam al-Qur'an "satu nyawa dibalas satu nyawa!", tidak dijelaskan bagaimana jika yang membunuh itu persekongkolan orang banyak.

Akhirnya Imam Ali r.a. memberi pendapat: "wahai Amirul-Mukminin, bagaiama kau melihat jika ada sekelompok orang yang mencuri unta, satu orang memegang kaki unta yang satu dan yang lainnya juga memgang bagian kaki yang lain, apakah mereka semua dipotong tangannya?" sayyidina Umar r.a. menjawab: "tentu!", Imam Ali r.a. pun meneruskan: "nah, begitu juga dalam hal ini!".

Itulah yang kemudian mendasari fatwa sayyidina Umar r.a. bahwa orang yang mebunuh beramai-ramai, semuanya diqishash.

Wallahu a'lam
 

Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!

Selama ini memang yang kita tahu bahwa shalat wajib dalam sehari semalam itu ada 5; Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Itu yang memang masyhur. Tapi jangan kaget nantinya jika ada yang mengatakan bahwa shalat wajib hanya satu. Ini yang dipegang kuat oleh madzhab Imam Abu Hanifah.

Dalam madzhab ini, shalat wajib yang ada dalam sehari semalam memang hanya satu; Shalat Witir. Pendapat ini berangkat dari hadits Nabi s.a.w. yang memang menunjukkan itu;

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا يَا أَهْل الْقُرْآنِ
"Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Maka kerjakanlah shalat witir wahai ahli Al-Quran." (HR. Bukhari Muslim)

الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا
"Witir itu kewajiban, siapa yang tidak melakukan shalat witir maka dia bukan bagian dari kami." (HR. Abu Daud)

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ وَهِيَ صَلاَةُ الْوِتْرِ فَصَلُّوهَا مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ
Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan sebuah shalat yang lebih baik bagi kalian dari unta yang merah. Shalat itu adalah shalat witir. Lakukanlah shalat witir itu di antara shalat Isya' dan shalat shubuh. (HR. Tirmizy)

Dari ketiga hadits dan hadits yang lainnya juga, madzhab Imam Abu Hanifah memasukkan shalat witir sebagai sebuah kewajiban. Karena memang teks hadits menunjukkan perintah, dan perintah buahnya adalah sebuah kewajiban selama ada dalil dan qarinah lain yang menurunkan level itu menjadi sebuah kesunahan.

Lalu shalat yang 5 waktu, apa hukumnya?

Sedangkan shalat yang 5 itu, bukan wajib hukumnya, akan tetapi itu adalah shalat Fardhu. Karena memang madzhab ini membedakan antara wajib dan fardhu, karena itu juga hukum taklif dalam madzhab Imam Ahl al-Iraq itu bukan Cuma 5 (Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, Mubah) sebagaimana Jumhur ulama, akan tetapi hukum taklif itu ada 7; Fardhu, Wajib, Sunnah, Makruh Karaha Tahrim, Makruh Karaha Tanzih, Haram.

Ini muncul karena perbedaan madzhab Imam Abu Hanifah dalam konsep istinbath dan melihat sifat teks syariah itu sendiri, baik al-Quran atau juga al-hadits. Madzhab Imam Abu Hanifah dalam ushul disebut dengan istilah madzhab al-Fuqaha', sedangkan madzhab Jumhur dalam ushul disebut dengan istilah madzhab al-Mutakallimin. Pembedaan nama madrasah ushul  ini jelas timbul karena perbedaan konsep keduanya dalam melihat teks syariah.

Sebagai tambahan informasi, secara global madzhab al-Fuqaha' tidak hanya memperhatikan dilalah (indikasi) dari sebuah teks syariah. Mereka juga sangat teliti dengan tsubut (sumber)-nya teks tersebut, apakah Tsubut-nya qath'iy (al-Quran dan Hadits Mutawatir), atau dzanniy (hadits Ahad)? Berbeda dengan madzhab al-Mutakallimun yang (dalam beberapa masalah) tidak memperhatikan tsubut-nya teks syariah tersebut; qath'iy atau dzanniy, mereka lebih memperhatikan dilalah-nya saja, apakah dilalah-nya Qath'iy atau dzanniy.

Fardhu dan Wajib, Apa Bedanya?

Imam al-Amidy (631 H) dalam kitabnya "al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam" (1/99) secara tegas mengatakan bahwa jumhur tidak membedakan antara wajib dan fardhu. Selama dilalah-nya jelas dan nyata menunjukkan kewajiban, itu adalah fardhu yang juga sebuah kewajiban.

Madzhab Imam Abu Hanifah mengatakan, justru Fardhu itu derajatnya lebih tinggi daripada wajib, dan tidak sama. Salah satu ulama masyhur madzhab ini; Imam Abdul Aziz al-Bukhariy (730 H) menjelaskan secara detil perbedaan antara Fardhu dan wajib ini dalam kitab ushul beliau; "Kasyf al-Asror, Syarhu Ushul al-Bazdawi" (2/303).


Beliau mengatakan bahwa dari segi bahasa dan syara', jelas nyata perbedaan antara fardhu dan wajib. Fardhu secara bahasa adalah al-Qath'u wa al-Taqdir, yaitu sesuatu yang pasti dan sudah ada ukuran atau takarannya. Karena itu ilmu waris disebut juga dengan istilah Faraidh, yang merupakan bentuk plural dari Faridhah yang berarti sesuatu yang sudah pasti dan sudah ada ukurannya.

Sedangkan wajib dalam bahasa punya arti berbeda dengan fardhu. Wajib secara bahasa berarti Luzum, yakni tuntutan yang harus dilakukan. Tapi bukan sesuatu yang terukur atau pasti.

Sedangkan secara syara', madzhab ini mendefinisikan fardhu sebagai hukum yang lahir dari teks syariah yang berisikan dilalah akan keharusan yang qath'iy (tidak multi tafsir), dan tsubut (sumber)-nya juga qath'iy (al-Qur'an dan hadits mutawatir). Akan tetapi, wajib itu hukum yang lahir dari teks syariah yang dilalah-nya qaht'iy, sedangkan tsubut-nya dzanniy.

Dengan demikian –beliau meneruskan- sesuatu yang fardhu adalah sesuatu yang harus diyakini kewajibannya dalam hati, dan harus dilakukan oleh badan. Artinya jika ada yang menginkari ke-fardhu-an sesuatu yang sudah dihukumi fardhu, ia telah kafir.

Sedangkan wajib, itu sesuatu yang harus dikerjakan denagn badan, namun tidak harus diyakini dalam diri. Artinya menginkari kewajiban bukanlah sesuatu yang membuat seorang muslim menjadi kafir.

Meninggalkan Yang Wajib

Al-Bukhariy kemudian melanjutkan di halaman selanjutnya, bahwa orang yang meninggalkan kewajiban dalam madzhab ini konsekuensinya dilihat dari bagaimana ia meninggalkan.

Pertama, jika ia meninggalkan yang wajib sambil meremehkan kewajiban tersebut, ia dihukumi sebagai orang yang sesat. Karena ia telah mengingkari teks syariah yang sifatnya dzanniy.

Kedua,  ia meninggalkan karena punya tafsiran lain dari kandungan teks syariah yang dzanniy itu, atau dalam istilah ushul disebut dengan ta'wil. Kalau seperti ini, ia tidak salah tidak juga fasiq, karena men-ta'wil (dengan kaidah ta'wil yang benar) adalah sesuatu yang dijalankan oleh ulama sejagad, baik yang salaf atau khalaf.

Ketiga, ia meninggalkan kewajiban tidak dengan model pertama dan tidak juga dengan model kedua, orang seperti ini dijuluki sebagai rajul su' (orang berdosa) yang berbuah kepada kefasiqan. Karena mengerjakan yang wajib adalah sebuah ketaatan dan mengingkarinya adalah sebuah maksiat.

Membuka Cakrawala

Sejatinya, dengan artikel ini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian membuka mata bahwa khazanah keilmuan syariah Islam yang telah diwariskan oleh para ulama-ulama kita sejak belasan abad yang lalu itu luas sekali, dan sangat disayangkan kalau terus memnerus menutup mata akan hal ini.

Karena itu, sebaiknya tidak mencukupkan diri dengan yang sedikit jika memang ingin mendalami, agar tidak menjadi jumud dan terlalu ekslusif sendiri, sehingga selalu ogah jika melihat adanya perbedaan. Itu kalau memang ingin yang lebih luas.

Akan tetapi, sejatinya memang cukup bagi kita ilmu syariah yang merupakan fardhu-fardhu saja, tidak perlu tahu detilnya bagaimana. Cukup tahu hukum ini A dan hukum itu B, tak peduli apa itu dzanniy, apa itu qath'iy, apa itu dilalah, tsubut, nash, dzahir, 'aam, khash, serta saudara-saudaranya. Cukup yang instan saja. Nah, kalau sudah merasa cukup dengan yang instan, maka cukup pula untuk tidak terlalu banyak berbicara syariah, hukum, jurisprudensi sana sini dengan pongah apalagi menyalahkan yang lain yang berbeda padahal hanya punya satu lembar catatan ilmu.

Mari sadar diri.

Wallahu a'lam 
 

Lapangan Dijadikan Tempat Shalat, Apakah Ada Tahiyatul Masjid?

Beberapa ahli agama yang saya temui membolehkan shalat tahiyatul-masjid di tempat yang dijadikan untuk shalat walaupun sifatnya temporer yang sejatinya bukan masjid. Artinya tahitaul-masjid tetap sunnah di situ. Seperti lapangan untuk shalat jumat atau Ied, atau juga gedung yang salah satu lantainya dijadikan tempat shalat jumat untuk para pegawai di kantor-kantor gedung tersebut.

Salah satu guru saya pun termasuk yang membolehkan itu, artinya tetap sunnah tahiyat walalupun itu bukan masjid. Mereka beralasan bahwa ketika itu dijadikan tempat shalat, maka hukum masjid pun berlaku. Di antara penguatnya adalah hadits Nabi s.a.w. yang menyatakan bahwa semua tanah adalah masjid yang bisa dijadikan tempat sujud.

قَالَ رَسُولَ اللهجُعِلَتْ الأَرْضُ كُلُّهَا ليِ وَلأِمَّتِي مَسْجِدًا وَطَهُورًا
Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda"Telah dijadikan tanah seluruhnya untukkku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. (HR. Al-Bukhari)

Jadi tidak mesti shalat tahiyatul masjid itu di masjid dalam arti sebuah bangunan yang dikhususkan untuk sebuah masjid. Dengan ini apapun tempatnya, selama itu dijadikan tempat shalat, maka ada kesunahan (kewajiban bagi yang berpendapat wajib) untuk shalat tahiyatul-masjid.

Sedangkan di sisi lain, saya –dengan keterbatasan referensi- belum menemukan ada ulama dari kalangan salaf (ulama 4 madzhab) yang mengatakan pendapat di atas, bahwa shalat tahiyatul masjid boleh di lapangan yang dijadikan masjid.

Masjid Punya Definisi dan Hukum Khusus

Karena itu saya –dengan segala kekurangan ilmu- lebih memilih pendapat konvensional bahwa yang namanya shalat tahiyatul masjid itu hanya sunnah (wajib) dilaksanakan di masjid yang memang tempat atau bangunan yang dikhususkan untuk masjid, merujuk kepada definisi masjid itu sendiri.

Dalam istilah fiqih, masjid punya definisi yang khusus, yang membedakannya dari bangunan-bangunan lain. Dan lebih jauh dari itu, masjid punya hukum yang tidak dimiliki oleh bangunan-bangunan lain.

Sheikh Muhammad 'Amim al-Barokati, dalam kitabnya "al-Ta'rifat al-Fiqhiyyah" (kamus definisi istilah-istilah fiqih), memberikan definisi masjid yang lengkap dan memberikan kejelasan batasan. Beliau mengatakan: (hal. 204)

الأْرْضُ الَّتِي جَعَلَهَا الْمَالِكُ مَسْجِدًا بِقَوْلِهِ : جَعَلْتُهُ مَسْجِدًا وَأَفْرَزَ طَرِيقَهُ وَأَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِيهِ
"Tanah (tempat) yang dijadikan oleh pemiliknya sebagai masjid, dengan ikrar : Aku jadikan tempat ini sebagai masjid, dimana jalannya disiapkan dan dikumandangkan adzan di dalamnya."

Ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Imam al-Thabari dalam kitab tafsirnya "al-Jami' Li Ahkam al-Qur'an" (2/78), bahwa masjid adalah "al-Buq'ah" atau spot, atau juga sebidang tanah yang kepemilikannya diserahkan kepada Allah s.w.t. (baca: diwakafkan) untuk digunakan sebagai temat shalat 5 waktu.

Jadi syarat masjid dari definisi di atas bisa dirumuskan; [1] diwakafkan, dan [2] didirikan shalat 5 waktu.    

Tahiyat = Penghormatan

Selain itu, shalat tahiyatul-masjid bukanlah asal shalat 2 rakaat yang tidak punya hikmah. Ulama mengatakan bahwa salah satu hikmah shalat tahiyatul-masjid adalah sebagai pernghormatan kepada masjid yang merupakan "Rumah Allah s.w.t." yang terikat dengan hukum-hukum syariah.

Di antara hukum-hukum yang terkait masjid;
1] Satu-satunya tempat yang sah untuk beri'tikaf,
2] Tempat Suci, laki-laki Junub dan wanita haidh terlarang masuk,
3] Haram dimasuki oleh orang kafir (madzhab Imam Malik),
4] Adanya ke-makruh-an bagi yang memakan makanan yang berbau menyengat untuk masuk masjid.

Selain ini masih banyak hukum terkait masjid yang sulit untuk disebutkan satu persatu. Artinya memang adanya kesunahan tahiyatul masjid itu memang bukan tanpa sebab dan hikmah. Artinya jika ada bangunan atau tanah yang tidak berhukum masjid, tidak disyariatkan di situ utnuk tahiyatul masjid.

Dan maksud hadits Nabi s.a.w. terkait tanah adalah "masjid", itu dalam artian bahwa tanah manapun bisa dijadikan tempat sujud bagi orang muslim untuk shalat. Jadi di manapun ia kedapatan waktu shalat, maka tanah yang menjadi tempat berdiri itu adalah tempat yang sah untuk shalat walaupun bukan masjid. Sebagaimana kelanjutan hadits tersebut.

Artinya tanah tersebut hanya bisa untuk shalat tapi ia tidak punya hurmah" [حرمة] sebagaimana masjid dalam arti masjid sebenarnya. Karena tidak adanya hurmah  dan hukum tersebut, tahiyat hanya bisa dilakukan di masjid dalam arti bangunan yang diwakafkan untuk shalat 5 waktu.

Tapi apapun itu, tetap saja masing-masing pihak harus saling menghormati terkait adanya perbedaan dalam boleh tidaknya shalat tahiyat di tanah yang bukan masjid.

Wallahu a'lam   
 

Hukum Banci Jadi Imam, Haruskah Diajarkan Kepada Anak-anak?

Kita dudukkan dulu masalahnya biar lebih jelas dan runut. Sejatinya kalau kita buka literasi-literasi fiqh lintas madzhab memang disebutkan nama "banci" ini akan tetapi tidak denagn redaksi tersebut. Dalam istilah fiqh, ia disebut dengan istilah "khutsa" [خنثى].

Nah, akan tetapi perlu diperjelas apakah banci itu sama dengan "khuntsa"? saya meyakini tidak sama. Sangat berbeda. Banci dalam artian umum yang banyak dikenal masyarakat adalah seseorang yang berjenis kelamin laki-laki akan tetapi bertindak seperti wanita. Dan bahkan sekilas ia lebih wanita daripada wanita asli pada umumnya; dari mulai gaya berjalan, berbicara hingga make up yang digunakan.

Kalau yang seperti ini jelas dilarang dalam agama, dan termasuk dosa besar karena adanya laknat yang diturunkan oleh Allah s.w.t. kepada makkhluk ini. dalam hadits disebutkan:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Dari Ibn Abbas r.a., : "Rasul s.a.w. melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan orang wanita yang menyerupai laki-laki". (HR. al-BUkhari)

Siapa itu "Khuntsa"?

Kalau dalam literasi fiqih, "khuntsa" bukanlah seperti itu maksudnya. "khuntsa" adalah orang yang mempunyai 2 alat kelamin yang aktif. Atau orang tidak punya kelamin dari 2 jenis yang ada, ia hanya punya lubang di bagian tubuhnya untuk kencing. Dalam kitab al-Hawi al-Kabir (8/168), karangan Imam al-Mawardi, beliau mengutip perkataan Imam al-Syafi'i:

الخنثى هو الذي له ذكر كالرجال، وفرج كالنساء، أو لا يكون له ذكر ولا فرج، ويكون له ثقب يبول منه
"khuntsa adalah orang yang punya penis seperti laki-laki dan juga 'farj' seperti wanita, atau ia yang tidak punya keduanya, dan hanya punya lubang air seni untuk kencing."   

Nah kemudian, "khuntsa"  ini pun terbagi lagi menjadi 2 jenis;
[1] Khuntsa non-Musykil,
[2] Khuntsa Musykil.

1] khuntsa Non-Musykil

Musykil [مشكل] sendiri dalam bahasa Arab berarti bermasalah, jadi khuntsa non-musykil adalah khuntsa yang tidak bermasalah. Disebut tidak bermasalah karena kelaminnya bisa jelas diketahui dengan cara melihat, mana yang aktif dan mana yang tidak aktif.

Kelaminnya ditentukan dengan alat kelaminnya yang aktif, atau bisa juga dengan gejala kejiwaan yang menentukan kelaminnya, seperti adanya haidh, jelas ini wanita. Intinya ada tanda yang nyata tentang kejelasan kelaminnya dan tanda itu berjalan normal. 

1] KHuntsa Musykil

Ini yang sulit, karena itu disebut musykil (bermasalah), karena tidak ada tanda yang nyata tentang kejelasan kelaminnya. Bisa jadi karena ia punya 2 kelamin yang sama-sama aktif, atau juga tidak punya keduanya akan tetapi hanya lubang kencing saja. Maka untuk menentukannya butuh penelitian yang mendalam, tentu dikerjakan oleh ahli bidang medis.

Dalam kitabnya "al-Mughni" (6/336), Imam Ibnu Qudamah meriwayatkan sebuh hadits bahwa Nabi s.a.w pernah didatangkan khuntsa dari kaum Anshar, dan untuk menentukan kelaminnya, beliau meminta untuk dilihat dari mana air seninya keluar pertama kali atau sebelum baligh, maka itulah jenis kelamin yang harus dihukumi.

Beliau juga menukil riwayat dari Imam Ali r.a. bahwa untuk menentukannya kalau 2 kelaminnya aktif atau tidak punya keduany, yaitu dengan dihitung jumlah tulang rusuknya. Karena rusuk wanita biasanya lebih banyak dari rusuk laki-laki.

Ulama lain juga demikian, untuk menentukannya yaitu terus dicari mana indikasi yang paling kuat dan paling banyak, dari mulai gejala-gejala tubuh seperti tumbuhnya bulu pada kemaluan, ketiak, jeni air mani, atau juga bentuk tubuh yang kalau wanita biasanya mempunya dada yang lebih besar dari laki-laki. Mana tanda yang paling banyak, ke laki-laki atau perempuan, di situlah ia dihukumi.    

Khuntsa Boleh Jadi Imam

Semua ulama sepakat dan tidak ada yang menyelisih, bahwa khuntsa boleh dan sah menjadi imam shalat, akan tetapi hanya untuk kaum wanita saja. Sedangkan untuk kaum laki dan sejenisnya (khuntsa), semua sepakat melarangnya.

Dibolehkan bagi kaum wanita dengan alasan ia diragukan ke-laki-laki-annya, kalau sudah diragukan, maka tidak bisa untuk laki-laki dan sejenisnya juga. Akan tetapi tetap sah untuk wanita, walaupun madzhab al-Malikiyah memakruhkannya.

Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhah al-Thalibin (7/29) mengatakan:

فَيُجْعَلُ مَعَ النِّسَاءِ رَجُلًا، وَمَعَ الرِّجَالِ امْرَأَةً
"(khuntsa) itu dijadikan laki-laki jika bersama wanita, dan dijadikan wanita jika bersama laki-laki."

Yang jadi perdebatan hanya masalah teknisnya saja, yaitu di mana Imam khuntsa ini berdiri? Di depan kah, layaknya seorang imam laki-laki? Atau bersama di tengah-tengah shaff layaknya Imam wanita? Jumhur ulama berpendapat ia berada di depan para Jemaah wanita tersebut, tidak bersama mereka di tengah-tengah.

Banci (Bencong) jadi Imam?

Nah, permasalahannya sekarang, apakah boleh banci jadi imam. Di atas sudah disinggung bahwa banci tidak sama dengan khuntsa. Maka kita kembalikan kepada pengertian banci itu sendiri, bahwa ia adalah laki-laki sejati yang berpenampilan dan berkepribadian seperti wanita.

Jadi, sejatinya ia adalah laki-laki, maka hukumnya adalah hukum laki-laki. Karena ia laki-laki, boleh jadi Imam bagi siapapun, selama memang ia mengerti hukum-hukum shalat dan bacaan rukun dalam shalatnya tidak keliru. loh tapi kan dia banci?

Ya. Dia banci, tapi sejatinya ia adalah laki-laki yang boleh jadi Imam selama ia paham ilmunya. Status ia banci, dan banci adalah dosa besar, itu membuatnya menjadi laki-laki yang fasiq. Dan laki-laki fasiq tidak terlarang menjadi Imam menurut jumhur ulama dari madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan al-Syafi'iyyah. Akan tetapi semua sepakat ke-makruh-an shalat di belakangnya.

Dan hanya Imam Ahmad bin Hanbal yang melarang seorang faiqh jadi Imam, baik kefasiqannya itu tersembunyi atau terang-terangan. Baik faisqnya itu dalam akidah atau perbuatan. (kasysyaf al-Qina' 1/474)

Ini didasarkan hadits riwayat Imam Ibnu Majah yang status shahihnya masih diperdebatkan.

لاَ تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلاً ، وَلاَ يَؤُمُّ أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا ، وَلاَ يَؤُمُّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا ، إِلاَّ أَنْ يَقْهَرَهُ بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ
"wanita tidak boleh jadi imam laki-laki, dan seorang Badui terlarang jadi Imam bagi kaum Muhajir, dan orang yang Fajir (fasiq) tidak bisa menjadi imam bagi kaum mukmin, kecuali jika ia dipaksa oleh penguasa dengan pedang dan cambuknya". (HR. Ibnu Majah)  




Buku Pelajaran Fiqh Kelas 2 M.I.

Sejatinya memang apa yang dituliskan dalam buku pelajaran Fiqih untuk kelas 2 madrasah Ibtida'iyyan ini tidak ada yang keliru dari segi hukum fiqihnya. Bahwa memang seorang 'banci' atau khuntsa, boleh jadi Imam. Walaupun tidak jelas, banci yang dimaksud itu banci dalam arti umum yang kebanyakan masyarakata awam mengerti atau dalam arti "khuntsa"? perlu diperjelas oleh pihak yang berkaitan.

Hanya saja, saya –pribadi- melihat ini ada misi negative yang dibawa dan ingin dicemarkan kepada anak-anak yang masih di bawah umur. Seakan ingin memberikan penjelasan bahwa yang namanya 'banci' itu adalah sifat yang normal dan biasa. Lebih jauh lagi bahwa ini upaya untuk menjadikan anak-anak sejak usia dini sudah permisif terhadap sebuah dosa (sifat kebanci-banci-an), dan menilainya sebagai hal yang wajar dan manusiawi serta tidak perlu dikritisi.

Dan ini juga –terkesan- menjadikan bahwa golongan ketiga ini –banci- adalah golongan yang sama dan layak bahkan harus untuk diterima di dalam tatanan masyarakat yang normal dan beragama –makanya dimasukin ke buku agama-.

Pada ujungnya nanti, anak-anak akan berfikir bahwa kebanci-bancian adalah sifat yang normal dan biasa. Maka tidak perlu aneh jika melihat teman ada yang seprti itu. Lebih parang lagi, pada akhirnya akan menyalahkan tuhan mereka yang salah cipta, kenapa wanita diciptakan di dalam tubuh pria. Nau'udzubillah.

Ajaran atau Penjerumusan Sejak Dini

Kalau dengan memasukkan materi tersebut bertujuan ingin mengajarkan hukum khuntsa kepada anak-anak kelas 2 M.I. ini, apa mereka tahu khuntsa itu apa? sedangkan otak mereka terus digiring kepada pehamanan banci.

Apa memang zaman sekarang yang banyak berkeliaran itu khuntsa dalam arti khuntsa yang sebenarnya? Atau memang laki-laki yang kebanci-banci-an?

Oke. Kalaupun jenis khuntsa itu ada dan banyak di Indonesia sehingga layak diajarkan? Apa layak dan beretika mengajarkan materi sensitive kepada anak-anak yang belum punya filter dalam otang mereka? apa sudah waktunya mereka mendapatkan materi itu?

Penulis dan penerbit perlu dikritisi!

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger