Latest Post

Merayakan Tahun Baru Islam dan Lebaran Anak Yatim, Bolehkah?

Ini yang sejak dulu menjadi perdebatan, tentang perayaan tahun baru Hijriyah. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, perayaan semacam ini sudah biasa dan sudah menjadi program nasional. Ada yang mengisinya dengan semacam tabligh akbar, ada juga dengan pawai keliling kampung yang biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil sambil bawa obor sambil berpakaian layaknya kiyai. 

Kalau mereka ditanya kenapa melakukannya? Yang masyhur sekali dari jawaban-jawabannya ialah bahwa ini (yang mereka lakukan) adalah bentuk dari pengagungan syiar-syiar Allah swt. Kita tahu bahwa sayyidina Umar merumuskan tahun Hijriyah dari semangat hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah kaum muslim membaiat beliau shallallahu alaihi wasallam.

Jadi tahun baru Hijriyah ini bukan sekedar ganti kalender, tap justru ada semangat hijrah Nabi dan para sahabat yang terkandung di dalamnya. Dan itu semua adalah bagian dari syiar-syiar agama Allah swt.

Firman Allah swt:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu tumbuh ketaqwaan hati (seorang hamba)" (Q.S. al-Hajj 32)


Tentu kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kelompok muslim lain yang menginkari perayaan-perayaan semacam ini. Mereka melihat bahwa melakukan perayaan tersebut apapun bentuknya termasuk dari menga-ngada dalam syariah yang sejatinya syariah tidak mencontohkan itu.

Toh sejak kalender Hijriyah diresmikan, para sahabat yang merupakan generasi terbaik tidak pernah melakukan perayaan jika masuk awal tahun baru. Ada juga dari mereka yang mengatakan perayaan twrsebut adalah bid'ah yang jelas keharamannya. Apalagi dalam Islam itu hari raya itu hanya 2; Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak ada yang ketiganya, apalagi keempat dan seterusnya.

Mereka yang merayakan berkilah, bahwa mereka meyakini itu bukan hari raya tapi ini adalah momen yang mengandung syiar Allah swt yang sebagai seorang muslim hendaknya menghormati dan mengagungkannya.

Sebodoh apapun orang muslim, mereka semua meyakini bahwa yang namanya hari raya Islam adalah hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, 2 itu saja. Mereka tidak meyakini tahun baru Hijriyah itu sebagai hari raya, mereka hanya memperingati momen bersejarah ini, tidak sampai tertancap dalam diri dengan keyakinan bahwa itu adalah hari raya. Tidak ada.

Tapi apapun itu, perbedaan semacam ini sudah ada sejak lama, yang sekarang mesti dilakukan bukanlah memperuncing perbedaan itu semua yang sama sekali tidak ada manfaat dan hanya buang-buang energi. Yang mesti dilakukan sekarang ialah saling menghormati saja satu dan lainnya.

Bagi yang merayakan hendaknya mengsji perayaannya dengan sesuatu yang positif bukan hura-hura serta kemaksiatan. Kalaupun diisi dengan acara tabligh akbar, hendaknya penceramah membakar semangat audiens dengan sangat hijrahnya Nabi dan para sahabat bukan malah mengisi dengan hujatan dan provokasi kepada mereka yang tidak merayakan.

Yang melarang perayaan ini pula mestinya berbesar hati dan berlapang dada kalau ada yang merayakan. Jangan sampai ada hujatan dan hinaan serta julukan-julukan yang tidam semestinya keluar dari mulut seorang muslim. Saling menjaga keharmonisan tentu akan jauh lebih baik. Memperuncing perbedaan tidak akan membuat masalah itu selesai.

Lebaran Anak Yatim

Ini juga masalah klasik yang hampir setiap tahun pasti diperbincangkan. Ada yang menentang, dan tidak sedikit yang memang melestarikan tradisi ini.

Kalau Indonesia memang ramai budaya seperti ini, hampir setiap masjid serta majlis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai di dalamnya acara santunan anak yatim karena memang bulan muharram, tepatnya tanggal 10 adalah "lebarannya anak yatim."

Tradisi ini muncul karena memang banyak hadits-hadits yang dikenal oleh orang kebanyakan perihal fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram. Karena banyaknya yang menyantuni, seakan tanggal 10 muharram ini jadi bulan "untung"-nya anak yatim sehingga banyak orang menyebutnya "lebaran", mengingat makna lebaran adalah hari bersenang-senang. Begitu juga di tanggal ini, anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang sayang.

Diantara hadits-hadist tersebut ialah:
وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
"Siapa orang yang menyusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin)


Sayangnya memang hadits-hadits tentang keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram itu kesemuanya dalam status yang dhaif alias lemah atau tidak shahih. Sehingga ini yang menjadikan beberapa kelompok Islam lainnya mengharamkan praktek ini.

Bahkan mereka mengatakan itu adalah sebuah bid'ah, yaitu perkara yang mengada-ada dalam agama yang agama sendiri tidak memberikan tuntunan untuk itu. Bagi mereka, menyantuni anak yatim itu ibadah yang tidak boleh dikhususkan pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan sepanjang masa yang tak bisa diidentikan dengan waktu tertentu.

Tapi, mereka yang melakukan pun sejatinya tahu bahwa itu adalah hadits-hadits dhaif, dan mereka tetap melakukannya dengan alasan yang kita tidak bisa katakana itu argument yang ngasal.

Mereka mengatakan memang benar hadits itu dhaif, tapi apakah mengamalkan hadits dhaif itu mutlak diharamkan? Nyatanya ulama jumhur membolehkan mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat tentunya.

Imam al-Nawawi menyebutkan dalam kitabnya al-Azkar (hal. 8):
قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً
"para ulama dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqih mengatakan: boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a'mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama haditsnya tidak maudhu' (palsu)".

Toh walaupun itu hadits dhaif, tapi ada hadits lain yang menaunginya secara umum, yaitu hadits keutamaan menyantuni anak yatim secara umum tanpa mengkhsuskan hari. Artinya praktek santunan anak yatim di hari asyura dinaungi oleh hadits umum tersebut.

Dan ulama jumhur pun membolehkan mengamalkan hadits dhaif –selain yang disebutkan Imam Nawawi- selama memang ada hadits shahih yang menaunginya walaupun secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, yang dikutip oleh sheikh Shafiyurrahman al-Mubarakafuri dalam kitabnya Mir'atul-Mashabiih syarh Misykatil-Mashaabiih (1/396) tentang mengamalkan hadits dhaif.

Jangan Marahin Ibadahnya, Tapi Tambahin Ilmunya

Intinya ialah kedua belah pihak harus saling memahami, yang menolak melakukan tradisi ini paham bahwa mereka yang melakukan sejatinya tidak ngasal. Yang mengamalkan pun tidak perlu membenci yang menolak.

Menyantuni anak yatim itu pekerjaan mulia, kenapa harus ditentang? Kalau memang cara mengkhususkan harinya yang ditentang, maka "jangan marahin ibadahnya, tapi tambahin ilmunya". Tambahin ilmunya tentang hadits-hadits shahih yang mungkin mereka tidak tahu.

Wallahu a'lam
 

Sejarah Perumusan Kalender Hijriyah

Bisa dikatakan bahwa penanggalan Hijriyah yang banyak dikenal oleh kaum muslim itu adalah produk politik yang dikeluarkan semasa Sayyidina Umar menjabat khalifah. Dikatakan demikian karena memang motivasi terbentuknya penanggalan tersebut guna kelancaran system kenagaraan ketika itu.

Dalam kitabnya Fathul-Baari (7/268), Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan secara detail runutan kejadian lahirnya penanggalan hijriyah tersebut. Dan perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah itu bukanlah wahyu, tapi justru bangsa Arab sejak zaman jahiliyah pun sudah memakai nama-nama itu; seperti Sya'ban, Ramadhan, Syawal dan yang lainnya. Tentang nama-nama tersebut akan kita bahasa di sub bab berikutnya.

Jadi, orang-orang sebelum Nabi lahir pun sudah mengenal nama Rabi' al-Awwal dan juga Rabi' al-Tsani atau juga Rajab serta Dzul-Hijjah. Initinya bahwa nama-nama itu telah ada dan dipakai oleh orang Jahiliyah. Jadi bukan hanya khusus orang Islam saja.

Beliau (Imam Ibnu Hajar al-Asqalani) menceritakan bahwa setelah 2 tahun setengah menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijrah, sayyidina Umar mendapat kiriman surat dari ssalah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy'ari yang mengadu kalau beliau kebingungan; karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ada tanggalnya.

Dalam rak gubernur terdapat banyak surat yang membuat beliau (Abu Musa al-Asy'ari) bingung untuk menentukan surat mana yang baru dan mana surat yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah sudah using. Karena itu beliau menyarankan kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara gubernur-gubernurnya.

Mendapat aduan dan tersebut, akhirnya sayydina Umar memanggil semua staf dan orang penting-nya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah penanggalan agar tidak lagi ada yang kebingungan. Selain itu juga, penanggalan –pastinya- akan sangat membantu kinerja para staf dan gubernur serta masyarakat luas.

Kapan Memulai Tahun?

Setelah berdiskusi dan sepakat bahwa mereka harus memilik standarisasi penanggalan demi kemaslahatan, mereka berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan mereka?  

Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah; dimana Nabi lahir.  Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang mengusulkan di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul dimana wahyu pertama turun. Dan juga opsi di tahun hijrahnya Nabi ke Madinah.

Dari 4 opsi ini, akhirnya sayyidina Umar memutuskan untuk memuali tahun di tahun hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan Ali r.a. beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya, sayyidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi; selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu. Dan menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijriyah; karena yang menjadi acuan awalnya ialah Hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Padahal sejatinya orang-orang terdahulu menamakannya at-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan), dinamakan Qamar (bulan) karena hitungan harinya berdasarkan putaran bulan, dan itu yang dilakukan oleh para bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Apa Bulan Pertama di Tahun Hijriyah?

Setelah bersepakat bahwa awal tahun itu terhitung sejak tahun Nabi Hijrah, perdebatan kembali memanas tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan hijriyah ini?

Tentu saja ada yang menawarkan bulan Rabi' al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah karena bulan itu ialah bulan Hijrahnya Rasul. Akan tetapi sayyidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah.

Selain karena rekomendasi sayyidian Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi' al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) Hijrah terjadi sejak di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi, dan Baiat itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah, semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum muslim untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah. 

Nama-Nama Bulan Hijriyah Bukan Wahyu

Yang perlu diketahui bahwa memang nama-nama bulan pada kalender Hijriyah itu bukanlah wahyu yang turun kepada umat Islam. Justru nama-nama itu telah ada sebelumnya dan digunakan berabad-abad lamanya oleh bangsa Arab.

Mereka terbiasa menggunakan bulan sebagai media untuk menentukan waktu; karena itu penaggalan mereka disebut dengan al-Taqwim al-Qamari (kalender Bulan), karena memang basis perhitungannya bergantung pada bulan. Walaupun ada beberapa suku, khususnya di selatan Jazirah Arab (Yaman) yang menggunakan matahari sebagai media menentukan hari.

Kemudian, nama-nama bulan mereka memberi nama sesuai dengan keadaan alam atau keadaan sosiologi dan budaya yang mereka lakukan pada bulan-bulan tersebut. Nah, karena bangsa Arab juga punya kelas yang berbeda (suku), ini membuat mereka berbeda pula dalam kebiasaan dan adat dari setiap masing-masing suku. Karena itu juga, walaupun menggunakan perhitungan yang sama; memakai bulan, mereka berbeda-beda dalam memberikan nama bulannya.

Barulah ketika tahun 412 Masehi terjadi konvensi para petinggi-petinggi dari lintas suku dan kabilah bangsa Arab di Mekkah di masa Kilab bin Marrah (kakek Nabi Muhammad ke-6) untuk menentukan dan menyatukan nama-nama bulan agar terjadi kesamaan, serta memudahkan mereka dalam perdagangan.

Dari perkumpulan itu, muncul 12 nama bulan;

Muharram. [محرم] berarti yang terlarang. Disebut demikian karena memang pada bulan ini, bangsa Arab seluruhnya mengharamkan peperangan. Tidak ada tumpah darah pada bulan ini. ini merupakan hukum adat yang tak tertulis yang berlaku sejak lama.  

Shafar. shafar satu suku kata dengan kata Shifr [صفر] yang berarti kosong. Bulan ini dinamakan shofar atau shifr, karena pada bulan ini bangsa Arab mengosongkan rumah-rumah mereka yang beralih ke medan perang.

Rabi' al-Awwal. Sesuai namanya, Rabi' [ربيع] yang berarti musim semi, bulan ini dinamakan demikian karena memang itu yang terjadi.

Rabi' al-Tsani. Namanya mengikuti nama bulan sebelumnya karena musim gugur yang masih berlangsung. Tsani [ثاني] artinya yang kedua.

Jumada al-Ula. Dulu di masa Jahiliyah, namanya Jumada Khamsah. Jumada, asal katanya Jamid [جامد] yang berarti beku atau keras. Dikatakan demikian karena bulan ini adalah musim panas, yang karena saking panasnya, air bisa saja membeku, artinya kekeringan.

Jumada al-Tsaniyah / Jumada al-Akhirah. Namanya mengikuti bulan sebelumnya.

Rajab. Dalam tradisi Arab, bulan Rajab adalah termasuk bulan yang haram bagi mereka untuk melakukan peperangan. Artinya haram membunuh ketika itu. Dinamakan Rajab, karena memang salah satu makna rajab [رجب] dalam bahasa Arab ialah sesuatu yang mulia. Maksudnya mereka memuliakan dirinya dan orang lain dengan tidak membunuhnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Rajab berarti melepaskan mata pisau dari tombak sebagai symbol berhentinya perang.

Sya'ban. Asal katanya dari syi'b [شعب] yang berarti kelompok. Dinamakan begitu karena ketika masuk bulan sya'ban, orang-orang Arab kembali ke kelompok (suku) mereka masing, dan mereka berkelompok lagi untuk berperang setalh sebelumnya di bulan Rajab mereka hanya duduk di rumah masing-masing.

Ramadhan. Berasal dari kata Ramadh [رمض] yang maknanya ialah panas yang menyengat atau membakar. Dinamakan seperti itu karena memang matahari bulan ini jauh lebih menyengat dibanding bulan-bulan lain sehingga panas yang dihasilkan lebih tinggi dibanding yang lain.

Syawwal. Bangsa Arab mengenal jenis burung an-Nauq [نوق], yang kalau biasanya hamil di bulan ini dan mengangkat sayap serta ekornya sehingga terlihat kurus badannya burung tersebut. Mengangkat sayap atau ekor disebut dengan Syaala [شال] yang merupakan asal kata dari nama bulan syawal.

Dzul-Qa'dah. Asal katanya dari qa'ada [قعد] yang berarti duduk atau istirahat tidak beraktifitas. Dinamakan demikian karena memang bulan ini orang-orang Arab sedang duduk dan istirahat dari berperang guna menyambut bulan haji, yaitu dzul-hijjah yang mana bulan tersebut adalah bulan diharamkan perang.

Dzul-Hijjah. Sudah bisa dipahami dari katanya bahwa bulan ini adalah bulannya orang berhaji ke Mekkah. Dan memang sejak sebelum Islam datang, bang Arab sudah punya kebiasaan pergi haji dan melakukan thawaf di ka'bah.
 

Setan, Tidak Hanya Sekali Datang

Yang terpenting bagi setan setiap harinya ialah membuat orang muslim tidak melaksanakan ibadahnya kepada Allah swt. Initinya bagaimana si muslim itu tidak jadi beribadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Kalaupun ibadah terlaksana, ia selalu berusaha agar ibadah itu menjadi batal dan sia-sia.

Tidak tanggung-tanggung, setan dan bala tentaranya tidak hanya mengganggu manusia dari satu arah saja; dalam surat al-A'raf: 17, setan mendatangi manusia dan menggodanya untuk menggugurkan ibadahnya dari 4 penjuru arah; depan, belakang, kiri dan kanan.

Mereka terus saja menganggu tanpa henti, dan melewati semua fasenya. Dari mulai "ingin" ibadah, manusia sudah digoda untuk tidak melaksanakannya. Ketika "melaksanakannya" pun masih bisa diganggu. Bahkan ketika "sudah" melaksanakan ibadahnya itu, manusia tidak bebas dari gangguan setan.

Shalat contohnya, sejak "ingin" shalat, kita sudah digoda untuk menunda-nunda. Awalnya sih menunda dengan niatan akan melaksanakan nanti di tengah waktu atau di akhirnya, tapi nyatanya godaannya makin besar sehingga kita benar-benar meninggalkan shalat.

Mungkin ada yang berhasil menunaikan "keinginan"-nya unuk shalat akhirnya bisa "melaksanakan" shalat. Tapi setan tidak bisa diam saja melihat ada yang beribadah. Kalau dia sudah lulus di ujian "ingin ibadah", maka "ketika ibadah" disitu setan beraksi bagaimana ibadahnya ini hancur tak bermakna apa-apa serta tak bernilai.

Maka diganggulah kita dengan berbagai ingatan-ingatan yang merusak shalat, mulai dari memikirkan barang hilang, memikirkan barang yang tertinggal, pekerjaan, dagangan. Dan paling tidak membuat nyaman ialah setan membuat kita ragu-ragu tentang jumlah rakaat, serta juga keraguan "kentut apa ngga ya?". Buyar sudah nilai shalatnya.

Kalaupu lulus dari ujian tersebut, dan kita bisa melaksanakan ibadah shalat itu dengan baik, godaan "pasca" ibadah pun dimulai oleh para tentara iblis ini. "pra ibadah" sukses, "ketika ibadah" sukses, maka "pasca ibadah" ini setan tidak mungkin diam melihat hamba Allah sukses. Dan godaan "pasca" ini yang sangat berat.

Setelah ibadah, mulailah setan membisiki sang hamba untuk "memerkan" ibadahnya dan mendeklarasikan serta mengumumkannya. Untuk yang satu ini di zaman sekarang sangat mudah dengan banyaknya gadget di tangan masing-masing hamba.

"Media Sosial", yup inilah yang paling banyak dipakai oleh setan untuk membatalkan nilai-nilai ibadah sang Hamba dari ibadahnya. Dibisiki oleh setan untuk mempublish, membuat status, menshare tentang ibadah yang baru saja dilaksanakan dengan "bingkai setan" yang namanya berbagi motivasi dan mengajak kepada kebaikan yang disitu setan menyelinap dan meniupkan angina-angin riya', ujub, serta kesombongan bahwa ia lebih baik dari yang lain karena telah beribadah. Rusak sudah nilai ibadah.

Maka, setiap kali Allah swt menggambarkan  bagaimana semangatnya setan menggoda manusia, Allah memberikan solusi agar ibadah yang kita laksanakan menjadi steril dari godaan tentara iblis itu, yaitu "Ikhlas".

Kata Iblis: "sungguh aku akan ganggu manusia itu semua, kecuali mereka yang ikhlas!"

Wallahu a'lam
 

Syubhat = Haram, Benarkah?

Dalam beberapa kajian, saya sering kali ditanya perihal syubhat. Dan yang saya termukan banyak sekali yang menyamakan syubhat dengan haram. Artinya kalau ada perkara syubhat, berarti itu perkara haram. Orang yang melakukannya berdosa. Tapi nyatanya tidak sesimpel itu.  

Wajar saja memang kalau ada yang berpendapat seperti itu, karena memang ada potongan hadits Nabi saw yang menjelaskan itu:

ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام
"siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram" (HR Bukhori dan Muslim)

secara tekstual, potongan hadits ini punya makna bahwa yang Syubhat itu sama saja haram, dan yang melakukan Syubhat berarti melakukan yang haram, karena itu pasti berdosa, padahal bukan seperti itu juga maksud haditsnya. Kalau dibuka haditsnya secara lengkap akan ada makna lain.

إنَّ الْحَلالَ بيِّن، وإنَّ الْحَرَامَ بَيِّن. وبينهما أمور مُشْتَبهاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس، فَمَنِ اتَقى الشبهات استبرأ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام، كَالرَّاعي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ.
ألا وَإنً لِكلٌ مَلِكٍ حِمىً، ألا وإن حِمَى الله مَحَارِمُهِ. ألا وَإنَّ في الجسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحت صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُه ألا وَهِي القلب".
"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samara-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Barang siapa yang menghindari perkara samara-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati."

**Halal, Haram dan Syubhat**

Dalam hadits ini, secara jelas Nabi saw menerangkan bahwa suatu perkara itu ada 3 jenisnya; Halal, Haram dan Syubhat. Yang halal jelas karena memang berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perkara ini halal dan sulit dibantah kehalalalnnya, seperti makan, minum, berjalan, tidur dan sebagainya yang memang jelas kehalalannya.

Ada juga perkara yang haram karena memang jelas dalil keharamannya dan sulit sekali bahkan tidak bisa dibantah, seperti keharaman mencuri, berzina, riba, minum khomr dan sebagainya yang memang benar-benar jelas keharamannya.

Dan jenis ketiga yaitu Syubhat. Yaitu perkara yang memang masih dalam ranah ketidak jelasan antara halal atau haram. Tidak bisa dikatakan halal, karena berbau haram, namun tidak bisa juga disebut haram karena ketidakjelasan atau tidak ditemukan dalil pengharamannya.

Sampai sini jelas bahwa Syubhat bukanlah perkara haram. Kalau memang itu haram, lalu buat apa Nabi saw membaginya menjadi 3 jenis? Kenapa Nabi saw tidak langsung saja mengatakan bahwa "..Syubhat itu bagian dari haram..".

Dan pembagian Nabi saw atas perkara itu menunjukkan bahwa setiap bagian itu tidaklah sama dengan bagian yang lain. Pembagian itu mengindikasikan perbedaan masing-masing bagian.

**Syubhat itu Relatif**

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/27), beliau mengatakan bahwa perkara syubhat itu ialah perkara yang relatif. Bisa jadi Syubhat untuk seseorang dan bisa jadi jelas, tidak Syubhat bagi yang lain.

Dalam teks hadits juga disebutkan [لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس] "Sedangkan di antaranya ada perkara yang samar-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya…."

Teks hadits tersebut menurut Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa perkara syubhat itu untuk orang awam yang memang tidak mengetahui hukum agama. Sedangkan bagi ulama, perkara syubhat itu nyaris tidak ada, karena seorang ulama tahu bagaimana mengambil sebuah kesimpulan hukum pada sesuatu yang baru dengan Qiyas, Istishhab atau sumber hukum lainnya. Jadi perkara yang awalnya Syubhat menjadi tidak samar-samar lagi karena kedalaman ilmu agama yang beliau-beliau kuasai.

Ini berarti bahwa perkara Syubhat itu hanya perkara temporer yang bisa saja hilang. Seseorang ketika baru saja berhadapan dengan sebuah perkara yang samar-samar dan ia tidak tahu apa hukumnya, ini menjadi Syubhat.

Tapi ketika ia mulai belajar atau meminta petunjuk dari seorang ulama atas hukum perkara tersebut, yang awalnya samar-samar menjadi tidak rancu lagi dan hilang ke-syubhat-annya karena ia telah mengetahui hukumnya, entah itu jadi yang haram atau jadi yang halal. Jadi memang Syubhat itu tidak baku dan bisa hilang.

**Yang Melakukan Syubhat = Melakukan Keharaman?**

Sedangkan makna potongan hadits [وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام]"…siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram…"  ini mempunyai 2 kemungkinan (ihtimal) makna sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/29);

Makna pertama: ia melakukan yang Syubhat itu secara terus menerus karena menyepelekan dan meremehkan yang sampai akhirnya ia melakukan yang haram tanpa ia sadari karena terlalu meremehkan.

Atau bisa jadi artinya di Makna kedua ini, yaitu; ia terbiasa menggampangkan sesuatu yang Syuhbat. Kalau sudah terbiasa melakukan yang Syubhat, ia akan terus melakukan Syubha-Syubhat yang lain yang lebih besar lagi.

Dan sifatnya yang menggampangkan ini, membuat setan lebih mudah untuk menggodanya dan akhirnya ia juga akan terbiasa melakukan yang haram tanpa ada rasa bersalah dan malu. Karena sudah berani melakukan yang Syubhat, yang harampun menjadi biasa dan tidak risih lagi untuk melakukannya.

Jadi syubhatnya itu menjadi jembatan ia untuk menuju yang haram. Sebagaimana yang banyak dikatakan oleh para ahli hikmah, bahwa maksiat adalah jembatan kekufuran. Banyaknya maksiat bukan tidak mungkin bisa membuat ia menjadi kafir. Artinya entengnya berbuat maksiat, sampai ia tidak merasa risih untuk melakukan sesuatu yang nyatanya mengeluarkannya dari iman.

**Imam Shan'aniy di Subulusalam**

Imam Shon'aniy dalam kitabnya Subulus-Salam (4/171), menjelaskan makna potongan hadits ini juga. Beliau mengatakan bahwa orang yang melakukan Syubhat biasanya sangat dekat dengan keharaman. Ibaratnya Syubhat itu jembatan menuju perkara yang haram, sebagaimana yang dijelaskan dengan teks hadits selanjutnya.

"Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya."

Logikanya, kalau sesorang berani melakukan yang Syubhat, bukan tidak mungkin dan sangat mungkin sekali ia berani melakukan yang haram. Karena bagaimanapun setan terus saja menggoda manusia dan membuatnya meremehkan sesuatu yang haram sebagaimana ia meremehkan sesuatu yang Syubhat.

**Meninggalkan Syubhat Melembutkan Hati**

Sebenarnya perkara Syubhat ini lebih dekat ke perkara hati sebagai benteng iman dalam melakukan segala hal, seberapa berani kah diri ini melakukan sesuatu yang memang meragukan kehalalannya walaupun tidak ada dalil yang jelas atas keharamannya. Ujung-ujungnya melatih diri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak terlebih pada masalah syariah.

Di ujung hadits ini dijelaskan bagaimana kerasnya hati kita jika terus menerus berani melakukan perkara yang samar-samar hukumnya. Dengan terus menerus menahan diri bersikap Waro' dan tidak menenggelamkan diri ke dalam sesuatu yang masih sangat rancu, itu semakin memupuk kekuatan iman dalam diri.

Kita bukan tidak tahu bagaimana ulama-ulama salaf kita sangat takut sekali dengan perkara yang Syubhat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menolak untuk memakan daging selama beberapa tahun karena tahu kambing tetangganya hilang. Beliau khawatir kalau makan daging itu daging dari kambing tetangganya yang hilang.

Wallahu A'lam
 

Makan / Minum dari Piringnya Non-Muslim, Halalkah?

Ketika memberikan kajian tentang thaharah dan sub pembahasannya yang di dalamnya ada pembahasan najis, mau tidak mau pasti membahas tentang pembagian najis dan cara mensucikannya. Pembagian ini, oleh kebanyakan ulama (syafiyyah khususnya) dibagi menjadi 3 jenis; mukhaffafah (ringan), Mutawasithah (sedang), mughalladzoh (berat).

*Cara Mensucikan Benda Yang Terkena Najis*

Najis mukhaffafah, cara pensuciannya cukup dipercikkan saja airnya, atau diusap; karena memang begitu bunyi wahyunya. Dan perlu diingat bahwa perkara thaharah ini adalah perkara wahyu, bukan logika. Walaupun terlihat masih tersisa najisnya, kalau wahyunya bilang itu sudah suci, ya terhitung suci.

Najis mutawasithah, cara pensuciannya mesti dihilangkan sifat najis tersebut; baunya, warnanya, dan rasanya. Intinya benda atau anggota tubuh yang terkena najis tersebut sudha steril dari bekas najis tersebut.

Najis mughaladzoh, cara pensuciannya mesti dengan 7 kali bilasan air, dan salah satunya dengan tanah. Yaitu najis anjing dan babi (menurut al-Syafiiyah), atau air liurnya menurut madzhab Imam Malik. Jadi walaupun dengan satu bilasan sudah terlihat bersih, itu tidak bisa dikatakan sudah suci. Itu bisa dikategorikan suci kalau memang sudah memenuhi birokrasi pensucian najis besar; yaitu dengan 7 kali bilasan dan salah satunya dengan air.  

Artinya kalau ada bejana atau wadah apapun itu yang tersentuh atau terjilat anjing dan babi, atau juga bekas dipakai untuk menjadi wadah daging anjing serta babi, mensucikannya harus dengan 7 kali bilasan dan salah satu bilasannya dengan air.

*Makan/Minum dari Wadahnya Non-Muslim*

Kemudian timbul banyak pertanyaan (sebagaimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya dalam kajian-kajian), yaitu perihal memakan makanan di rumahorang non-muslim yang mengkonsumsi makanan yang terlarang dalam syariah-nya orang muslim, seperti babi dan anjing atau juga alcohol.

Di tengah masyarakat yang heterogen seperti ini, sudah bukan sesuatu yang tabu lagi bahwa kita (muslim) pasti ada saja kesempatan berkunjung ke rumah non-muslim. Seperti pesta pernikahan misalnya, atau juga urusan pekerjaan (bos mengundang makan di rumahnya) dan banyak lagi modelnya.

Nah, apakah boleh memakan makanan dari piring mereka, sedangkan kita ragu mungkin saja piring itu bekas gading babi atau anjing. Kalaupun sudah dicuci, pasti cara mencucinya tidak sesuai syariah; 7 kali bilasan + tanah. Itu berarti wadah tersebut masih najis, dan terkena makanan yang ada di atasnya menjadi najis pula. Pertanyaan ini selalu muncul.

*Keyakinan Vs Keragu-raguan*

Yang perlu diperhatikan dalam hukum syariah, sesuatu yang nyata dan jelas terlihat itu menjadi sesuatu yang meyakinkan. Dan sesuatu yang statusnya meyakinkan, tidak bisa dirubah hukumnya dengan sesuatu yang masih samar dan tidak jelas, apalagi belum terlihat dan tidak ada nyatanya.

Maka perlu dilihat, sajian yang kita makan itu, apakah halal atau tidak? kalau itu makanan yang memang hukumnya halal (bukan daging anjing, babi atau alcohol) dan bukan haram, tentu tidak masalah. itu poin pertama.

Kemudian yang kedua, wadah yang digunakan, apakah wadah itu halal, tidak kotor, Ada najisnya, atau memang bersih dan steril dari benda-benda najis seperti darah, Khamr, dan benda najis lainnya. Kalau steril, tentu menjadi tidak masalah.

Dari 2 poin si atas, makanan yang ada depan mata kita itu ternyata hukum halal; makanannya halal, wadahnya pun halal. Itu yang nyata terlihat dan meyakinkan statusnya.

Kemudia timbul keraguan; "wadah ini bekas dipakai makan daging anjing atau babi, dan dicuci dengan tidak sesuai tuntunan syariah muslim. Kalau begitu ini status najis, karena najis maka tidak halal dimakan."

Tapi sayangnya, paragraph di atas itu hanya timbul di hayalan saja. Itu praduga yang kebenaran tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dari pernyataan yang aslinya duga-duga itu muncul banyak ihtimal (spekulasi kemungkinan) yang bisa menjatuhkan duga-duga itu.

Si non-muslim itu tidak hanya punya piring satu, di dapurnya banyak piring yang mungkin saja piring bekas daging babi/anjing bukan yang ada di hadapan kita ini.

Atau bisa saja, piring yang dipakai itu ialah piring sewaan untuk memenuhi kebutuhan piring guna melayani tamu yang datang. artinya bahwa duga-duga itu tidak kuat, apalagi kalau si tuan rumah sudah mengatakan bahwa ia memisahkan wadah untuk daging anjing/babi dna untuk selainnya.

Apalagi kita di Indonesia, pengetahuan soal najisnya anjing babi itu bukan hanya diketahui oleh muslim saja, semua orang di Indonesia ini tahu sampai orang non-muslimnya. Mereka sudah terbiasa hidup di lingkuna mayoritas muslim, sehingga ketika menggelar acara yang mengundang muslim di dalamnya, mestilah mereka memperhatikan etika itu, dengan tidak mencampur adukan daging halal dan haram (versi syariah Islam).

Artinya duga-duga itu tidak bisa merubah hukum yang sudah nyata ada di depan mata, yaitu halal dan boleh, karena makanannya makanan halal, dan wadahnya pun bersih serta halal.

Kecuali jika si tuan rumah secara terang-terangan bahwa piring yang ada di hadapan kita itu adalah piring bekas santapan daging anjing dan babi. Maka statusnya pun menjadi haram untuk digunakan karena itu adalah najis. Itu kalau jelas ada pernyataan seperti itu.

So. Hukum haruslah didasarkan pada sesuatu jelas dan tidak mengandung ihtimal (kemungkinan-kemungkinan). Dan sesuatu yang meragukan, tidak bisa merubah status hukum yang sudah jelas dan meyakinkan.

Wallahu a'lam
 

Shalat Gerhana Bulan Tidak Dilakukan Ketika Matahari Masih Ada

Perlu diingat bahwa yang besok terjadi –sesuai prakiraan BMKG- adalah gerhana Bulan, bukan gerhana matahari. Jelas berbeda gerhana bulan dan matahari; Gerhana matahari adalah ketika sinar matahri hilang –baik separuh atau semuanya- karena terhalang oleh bulan yang berpoisisi antara matahari dan bumi. Sedang gerhana Bulan ialah hilangnya sinar bulan pada malam hari akibat terhalang oleh bayangan matahari yang disebabkan karena posisi bulan berada di balik bumi dan matahari.

Dalam fiqih pun penyebutan gerhana matahari dan gerhana bulan dibedakan; gerhana Matahari disebut dengan istilah "kusuf" [كسوف], sedangkan gerhana bulan disebut dengan istilah "Khusuf" [خسوف]; dengan huruf "kha'".

Secara teknis memang tidak dibedakan antara gerhana bulan dan matahari, artinya teknis pelaksanaanya sama saja. Akan tetapi yang membedakan keduanya ialah waktu pelaksaan. Ulama punya ketentuan, kapan shalat gerhana bulan atau matahari boleh dilakukan dan kapan tidak boleh.


Sesuai data yang dikeluarkan oleh BMKG (lihat gambar) di bmkg [dot] go [dot] id pada hari ini (7/10/2014), gerhana bulan sudah mulai sejak pukul 15.14 WIB, dan gerhana sebagian mulai di pukul 16.14 dan seterusnya (lihat gambar untuk detail-nya). artinya bahwa gerhana bulan esok hari sudah mulai sejak sore dan matahari masih ada jauh di atas ufuk, dengan kata lain belum terbenam dan bumi (Indonesia bagian barat) masih tersinari matahari ketika itu.

**2 Waktu Terlarang Shalat Gerhana Bulan**

Nah, walaupun sudah mulai gerhana bulan, muslim terlarang melakukan shalat selama masih ada matahari. Ini sebagaimana diterangkan dalam "mausu'ah Fiqhiyah Kuwait" (27/254), bahwa shalat gerhana tidak bisa dilakukan dalam 2 waktu;

[1] Ketika gerhana selesai total,
[2] ketika matahari (masih) terbit.

Pernyataan ini dikutip dari beberapa kitab fiqih, di antaranya; kitab "Raudhah al-Thalibin" (2/87) karya Imam al-Nawawi, kitab "Asna al-Mathalib" (1/287) karya Imam Zakariya al-Anshari, serta  dalam kitab al-Mughni (2/427) karya Imam Ibnu Qudamah.

**Lakulan Shalat Gerhana Bulan Setelah Terbenam Matahari**

Jadi, jika memang ingin melakukan shalat sunnah gerhana bulan, mesti menunggu sampai matahari terbenam, sehingga gerhana bulan itu benar terlihat dan terasa pengaruhnya. Toh gerhana bulan kali ini waktunya panjang, sampai sekitar pukul 20.35 WIB (lihat gambar).

Karena memang salah satu hikmah kenapa disunnahkan shalat gerhana itu sebagai pengharapan kepada Allah swt agar mengembelikan sinarnya, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (2/427):

إنَّمَا سُنَّتْ رَغْبَةً إلَى اللَّهِ فِي رَدِّهَا , فَإِذَا حَصَلَ ذَلِكَ حَصَلَ مَقْصُودُ الصَّلاةِ
"karena shalat gerhana disunnahkan sebagai pengharapan kepada Allah untuk mengembalikan cahayanya. Kalau cahayanya sudah ada, maka sudah tercapai tujuannya."

Dan gerhana bulan esok (8/10/14) itu terjadi sedang bumi masih tersinari matahari, dan sinar bulan tidak berpengaruh apa-apa, karena memang matahari masih ada.

Begitu juga pada gerhana matahari. Shalat sunnahnya juga tidak bisa dilakukan pada 2 waktu; (ini disebutkan di dalam kitab yang sama dan halaman yang sama sebagaimana disebutkan di atas)

[1] ketika gerhana selesai total,
[2] Ketika Matahari terbenam.

Ketika matahari sudah terbenam, walaupun statusnya gerhana, shalat gerhana matahari sudah tidak bisa lagi dilaksanakan, karena manfaat sinar matahari pun sudah tidak dirasakan lagi ketika ia sudah terbenam, jadi statusnya gerhana atau tidak, ketika sudah terbenam, sudah tidak bisa lagi dilaksanakan. (Nihayah al-Muhtaj 2/410).

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger