Latest Post

Masih Punya Hutang Ramadhan, Bolehkah Puasa Sunnah?

Bagi orang Indonesia kebanyakan yang memang sudah terbiasa dengan puasa 6 hari bulan syawal, sering muncul pertanyaan apakah boleh melakukan puasa sunnah 6 hari syawal sedang masih punya hutang Ramadhan yang belu dibayar?

Memang dalam hal ini ulama 4 madzhab tidak pada satu suara; ada yang membolehkannya, ada juga yang membolehkannya namun makruh, dan ada juga yang melarangnya secara mutlak bahkan puasa sunnahnya tidak sah.

Boleh

Pendapat pertama yang mengatakan bahwa boleh-boleh saja berpuasa sunnah walapun masih punya hutang Ramadhan yang belum terbayar atau terganti. Ini adalah pendapatnya madzhab al-Hanafiyah dan al-Syafi'iiyah termasuk juga salah satu riwayat Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat ini didasarkan bahwa yang namanya qadha' Ramadhan itu hukumnya memang wajib, akan tetapi kewajiban qadha' Ramadhan itu sifatnya 'ala al-tarakhi [على التراخي] yang artinya boleh menunda. Kenapa boleh menunda?

Karena waktu qadha' ramadhan itu panjang, sejak masuk bulan syawal sampai berakhirnya bulan sya'ban di tahun selanjutnya. Artinya kewajiban qadha' Ramadhan itu bukan kewajiban yang sifatnya 'ala al-Faur [على الفور] (bersegera), akan tetapi boleh menunda karena waktunya panjang.

Ini juga –dalam ilmu ushul Fiqh- disebut dengan istilah wajib Muwassa' [واجب موسع], yaitu kewajiban yang waktunya panjang. Dalam syariah, wajib muwassa' ini adalah kewajiban yang boleh ditinggalkan denagn syarat ada azam untuk melakukannya di kemudian hari sampai batas akhir waktunya.
(Hasyiyah Ibn Abdin 1/117, Asna al-Mathalib 1/431, Tuhfatul-Muhtaj 3/457, al-Mughni 3/154-155)

Seperti shalat 5 waktu; shalat zuhur misalnya. Waktu mulai wajib shalat zuhur itu (kebiasaan di Indonesia) sekitar pukul 12.00 sampai 15.30. Nah inilah waktunya shalat zuhur yang cukup panjang, yaitu sekitar 3 jam setengah. Seorang muslim boleh meninggalkan shalat zuhur di jam 12.00, dan dia tidak berdosa dengan syarat dia harus berazam mengerjakannya di waktu selanjutnya, mungkin di pukul 13.00 atau seterusnya, yang penting masih dalam waktu wajibnya itu yaitu 12.00 – 15.30.

Begitu juga Qadha puasa Ramadhan, yang memang waktunya terbentang panjang dari mulai masuknya bulan syawal sampai berkahirnya bulan sya'ban. Artinya ada 11 bulan yang disiapkan Allah swt untuk membayar hutang-hutang Ramadhannya tersebut.

Makruh

Ini adalah pendapatnya Madzhab al-Malikiyah bahwa yang namanya berpuasa sunnah itu makruh hukumnya jika dilakukan oleh orang yang masih punya hutang Ramadhan.

Artinya measih tetap boleh melakukan, dan sah puasanya, hanya saja akan jauh lebih baik dan lebih berpahal baginya jika ia mengerjakan yang wajib dulu, yaitu qadha' Ramadhan, bukan malah puasa sunnah yang memang hukumnya tidak bisa menandingi yang wajib.

Kemakruhan tersebut ada karena memang ia menunda-nunda kewajiban yang memang sudah dibebankan kepadanya serta tidak menyegerakannya. Padahal sejatinya kewajiban itu harus disegerakan.
(Hasyiyah al-Dusuqi 1/518)

Haram dan Tidak Sah

Ini pendapat yang dipegang oleh madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu kesunahan puasa Syawal hanya berlaku bagi mereka yang sudah melakukan puasa Ramadhan secara sempurna. Jadi, mereka yang masih punya hutang kewajiban Ramadhan, tidak ada kesunahan puasa sunnah, justru itu menjadi keharaman.

Artinya orang yang berpuasa sunnah, baik itu syawal ataupun yang lainnya sedangkan ia masih punya hutang kewajiban Ramadhan, ia berdosa dan tidak sah puasa sunnahnya tersebut. Yang mesti dilakukan oleh mereka adalah menunaikan kewajibannya dahulu, yaitu membayar hutang puasa Ramadhannya.

Ini didasarkan kepada hadits:

مَنْ صَامَ تَطَوُّعًا، وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ، فَإِنَّهُ لَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ
"Siapa yang berpuasa sunnah sedangkan ia punya kewajiban Ramadhan yang belum ditunaikan, maka puasa terserbut tidak diterima sampai ia menunaikan kewajiban puasa ramadhannya" (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya)

Namun hadits ini sendiri berstatus Matruk, yaitu salah satu bagian dari hadits dhaif. Karena itu tidak bisa berargumen dengan hadits ini kareka kedhaif-annya. Dan ini (dhaifnya hadits) diakui oleh para ulama madzhab al-Hanabilah dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Ibnu Qudamah (al-Mughnu 3/154), dan juga Imam al-Buhuti (Kasyaful-Qina' 2/334).

Segerakan Yang Wajib

Namun dari perbedaan pendapat yang ada, semua ulama sejagad raya ini dari kalangan 4 madzhab tersebut sepakat bahwa menyegerakan yang wajib itu sangat dianjurkan, dan menunda-nunda kewajiban itu bukanlah sifat orang muslim yang baik.

Wallahu a'lam
 

Puasa Syawal Hukumnya Makruh?

Orang muslim Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan puasa sunnah 6 hari syawal setelah berlebaran. Sudah bukan menjadi sesuatu yang asing di telinga para muslim Indonesia tentang sunnahnya puasa 6 hari syawal.

Tapi, kalau nanti ada yang mengatakan bahwa puasa 6 hari syawal itu bukanlah sebuah kesunahan, dan malah hukumnya itu makruh, tidak perlu kaget dan tidak usah marah. Pendapat seperti itu bukan sesuatu yang baru, bukan juga pendapat yang baru lahir kemarin sore. Justru pendapat tersebut sudah ada sejak 13 abad tahun lalu.

Ya! Pendapat yang mengatakan bahwa puasa 6 hari syawal itu adalah sebuah ke-makruh-an adalah pendapat yang dipegang oleh madzhab Imam Malik di madinah. Yang jelas memang berbed dengan pendapat jumhur (al-Hanafiyah, al-Syafiiyah dan al-Hanabila) yang memang berpendapat bahwa puasa 6 hari syawal itu puasa sunnah.

Puasa Syawal Sunnah

Jumhur ulama, selain madzhab al-Malikiyah, menyandarkan pendapat mereka bahwa puasa 6 hari syawal itu dengan hadits yang diriwayatka oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya dari sahabat Abu Ayyub al-Anshariy, Nabi saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh" (HR Muslim, Kitab al-Shiyam, Bab Kesunahan puasa 6 hari syawal)

Dalam hadits sahabat Abu Ayyub al-Anshariy ini ada pahala yang dijanjikan oleh Allah swt kepada muslim tapi tanpa ada ancaman untuk mereka yang tidak mengerjakan. Artinya ini adalah anjuran, yang berarti sebuah kesunnahan. Dan bukan sebuah kewajiban karena tidak ada ancaman dalam meninggalkannya.

Puasa Syawal Makruh

Madzhab Imam Malik di Madinah bukan tidak tahu adanya hadits Abu Ayyub al-Anshariy ini, justru sang Imam paling tahu tentang hadits, toh beliau juga seorang ahli hadits (muhaddits) dan dikenal sebagai imam madzhab yang sangat kuat sekali dalam pengamalan hadits di setiap fatwa-fatwa beliau.

Akan tetapi yang perlu diketahui bahwa hadits Abu Ayyub al-Anshariy ini, walaupun shahih, hadits ini menyelisih 'Amal Ahl Madinah (Pekerjaan Penduduk Madinah), dan lebih dari itu, jalur periwayatannya adalah ahad (tunggal), yaitu diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingakatan sanadnya. Bukan hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh orang banyak dalam setiap tingkatan sanad. 

Imam Ibnu Abdil-Barr, ulama terkemuka madzhab al-Malikiyah mengatakan dalam kitabnya al-Istidzkar (3/379):

وَذَكَرَ مَالِكٌ فِي صِيَامِ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ أَنَّهُ لَمْ يَرَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ يَصُومُهَا، قَالَ وَلَمْ يَبْلُغْنِي ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ
"Imam Malik menyebutkan perihal puasa 6 hari syawal bahwa beliau tidak pernah melihat seseorang dari kalangan ahli fiqih dan ahli ilmu yang berpuasa 6 hari syawal, beliau (imam Malik) juga berkata: 'tidak satu pun riwayat yang sampai kepadaku tentang puasa syawal dari salah satu ulama salaf'."

Madzhab Imam Malik memang terkenal sekali sebagai madzhab yang menggunakan 'Amal Ahl Madinah sebagai sandaran hukum (mashdar al-Syari'ah). Ketika ada hadits ahad yang mana kandungannya itu bertentangan dengan pekerjaan penduduk Madinah, walaupun itu shahih, yang dimenangkan ialah pekerjaan penduduk madinah.

Kenapa Ahl Madinah?

Apa yang dilakukan dan dipraktekkan oleh Imam Malik dalam fatwa beliau terkait 'Amal Ahl Madinah bukan tanpa alasan. Hadits ahad yang shahih tidak langsung diamalkan jika itu memang bertentangan dengan pekerjaan penduduk Madinah. Berbeda dengan hadits mutawatir yang langsung diamalkan tanpa melirik pekerjaan penduduk Madinah.

Kenapa demikian?

Nabi saw, selain di Mekkah beliau membangun syariah juga di Madinah, bisa dikatakan bahwa Madinah adalah Mahall al-Tasyri' (tempat/kota pensyariatan) yang mana banyak syariat-syariat Islam diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad ketika beliau di Madinah.

Dan ketika syariat itu diturunkan, Nabi saw pasti menginformasikan kepada para sahabat, lalu dijalankan syariat itu oleh para sahabat. Sampai akhirnya Nabi saw meninggal syariat yang pernah diturunkan dan dijalankan tidak mungkin hilang. Terus dijalankan dan turun menurun kepada generasi-generasi selanjutnya setelah sahabat, yang akhirnya itu menjadi kebiasaan yang biasa dilakukan oleh penduduk Madinah. Artinya bahwa 'Amal Ahl Madinah itu diriwayatkan bukan hanya satu orang, akan tetapi diriwayatkan oleh seluruh penduduk negeri.

Dan ketika sampai pada masanya Imam Malik, beliau justru tidak melihat ada orang Alim dan juga para Ahli Fiqih di Madinah yang berpuasa 6 hari syawal setelah Ramadhan sebagaimana kutipan perkataan beliau di atas.

Jadi, kalau dibanding dengan hadits Abu Ayyub al-Anshariy yang hanya diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingkatan sanad, tentu jauh lebih kuat 'Amal Ahl Madinah yang diriwayatkan oleh penduduk satu negeri? Jadi wajar saja kalau memang Imam Malik lebih mengedepankan pekerjaan penduduk Madinah daripada hadits Ahad, melihat bahwa memang madinah dianugerahi sebagai tempat turunnya syariat.

Karena itu beliau (Imam Malik) juga mengatakan:
وَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَيَخَافُونَ بِدْعَتَهُ وَأَنْ يُلْحِقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ أَهْلُ الْجَهَالَةِ
"dan para ahli ilmu memakruh-kan itu (puasa 6 hari syawal), dan mengkhawatikan bahwa itu adalah sebuah bid'ah, dan (khawatir) kalau orang-orang awam mengganggap itu bagian dari Ramadhan (padahal bukan)". (al-Istidzkar 3/379)

Karena itu tidak dikerjakan oleh para ulama semasa hidup sang Imam, beliau khawatir bahwa itu adalah sebuah bidah yang terlarang, dan beliau juga sangat khawatir bahwa nantinya para orang awam menganggap itu bagian dari Ramadhan yang wajib dikerjakan, padahal tidak seperti itu. (al-Muntaqa' Syarhu al-Muwatho' 2/76, Mawahib al-Jalil 2/414)

Tapi sejatinya, kekhawatiran sang Imam saat ini sudah tidak bisa dijadikan alasan atas kemakruhan puasa syawal, toh tidak ada orang awam zaman sekarang yang meyakini bahwa puasa syawal itu adalah sebuah kewajiban yang merupakan bagian dari Ramadhan. Tidak ada.

Jadi …

Apapun itu, masalah ini masuk dalam lapangan  perbedaan pendapat yang masing-masing pihak tidak mungkin berpendapat dengan asal-asalan, pastilah pendapat mereka didukung oleh dalil dan argument yang sama kuatnya.

Jadi siapapun berhak untuk memilih pendapat mana yang mereka yakini selama ada dalil serta argument yang menjadi sandaran. Yang meyakini kesuanahannya, silahkan berusaha mewujudkan itu dengan berpuasa 6 hari syawal tanpa harus menyalahkan mereka yang meyakini kemakruhannya.

Begitu juga sebaliknya, mereka yang meyakini ini adalaha perkara yang makruh, mereka berhak atas itu. Tentu dengan tidak menyalahkan mereka yang berpuasa, dan tidak memicu serta memancing perdebatan yang tidak perlu.

Wallahu a'lam
 

Panitia Zakat Fithr, Dapat Jatah atau Tidak?

Sering jadi pertanyaan beberapa orang tentang status panitia zakat fitrah ini, apakah ia termasuk golongan penerima zakat fitrah itu sendiri atau tidak. karena yang masyhur terdengar itu adalah zakat fitrah hanya diperuntukkan untuk orang fakir miskin saja. Apakah demikian?

Kalau dilihat dari pekerjaannya tiap kali Ramadhan, panitia zakat musiman ini memang bukan hanya bekerja penerima pembayaran zakat, tapi mereka juga bekerja mendata dan menyalurkan zakat-zakat tersebut kepada orang fakir serta miskin di daerah tempat tinggalnya.

Jadi, status panitia zakat itu adalah sebagai Amil, walaupun sifatnya insidentil; hanya sebatas Ramadhan guna mengurusi zakat fitrah dan setelah Ramadhan panitia tersebut dibubarkan, intinya memang panitia ini adalah berstatus sebagai Amil zakat.

Pertanyaannya, apakah seorang Amil juga mnedapat jatah zakat fitrah? Bukankah zakat fitrah itu hanya diperuntukkan kepada orang miskin?

Memang dalam hal ini, ulama tidak pada satu suara; ada yang mengatakan bahwa amil juga berhak mendapatkan jatah zakat fitrah, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia tidak berhak mendapat jatah zakat fitrah.

1)   Amil Berhak Dapat Zakat Fitrah = Jumhur
2)   Amil Tidak Berhak Sama Sekali = al-Malikiyah dan Ibn Taimiyah

[1] Amil Berhak Dapat Jatah

Ini pandangan yang dipegang oleh jumhur ulama dari 4 madzhab fiqih selain madzhab al-Malikiyah. Madzhab al-Hanafiyah dan al-Syafi'iyyah serta al-Hanabilah mengemukakan bahwa masharif atau mustahiq zakat Fithr itu sama seperti zakat harta pada umumnya yang berjumlah 8 golongan itu.

Pendapat jumhur ini didasari karena memang zakat fitrah itu salah satu zakat. Ia tetaplah zakat, karena zakat maka kotak penyalurannya pun sama seperti kotak penyaluran zakat pada umumnya. Dengan Masharif zakat fitrah itu ada 8 golongan sebagaimana jelas termaktub dalam al-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمـسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالمـؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah : 60)

Artinya ketentuan masharif zakat fitrah itu sama seperti ketentuan zakat pada umumnya, dan Amil masuk dalam bagian penerima zakat.

Dalam kitab Radd al-Muhtar 'ala al-Durr al-Mukhtar (2/368) yang merupakan kitab fiqih muktamad madzhab al-Hanafiyah disebutkan:

(وَصَدَقَةُ الْفِطْرِ كَالزَّكَاةِ فِي الْمَصَارِفِ) وَفِي كُلِّ حَالٍ (إلَّا فِي) جَوَازِ (الدَّفْعِ إلَى الذِّمِّيِّ)
"zakat Fithr sama seperti zakat lain dalam hal masharifnya, dalam segala aspeknya. Kecuali dalam masalah boleh tidaknya seorang kafir dzimmy menerima zakat."  

Imam Ibnu Qudamah dari kalangan al-Hanabilah dalam kitabnya al-Mughni (3/98) menyebutkan:

وَيُعْطِي صَدَقَةَ الْفِطْرِ لِمَنْ يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ صَدَقَةَ الْأَمْوَالِ إنَّمَا كَانَتْ كَذَلِكَ؛ لِأَنَّ صَدَقَةَ الْفِطْرِ زَكَاةٌ، فَكَانَ مَصْرِفُهَا مَصْرِفَ سَائِرِ الزَّكَوَاتِ، وَلِأَنَّهَا صَدَقَةٌ، فَتَدْخُلُ فِي عُمُومِ قَوْله تَعَالَى: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} [التوبة: 60] الْآيَة.
"dan zakat fitrah itu diberikan kepada kelompok yang mana zakat harta boleh diberikan kepada mereka, dan memang begitu. Karena zakat fitrah adalah zakat juga. Maka masharifnya sama seperti masharif zakat yang lain. Dan ia termasuk sedekah (wajib) yang masuk dalam keumuman ayat 60 al-taubah."

**Madzhab al-Syafi'iyyah: Wajib ke Semua Kelompok

Justru madzhab al-Syafi'iyah mewajibkan zakat itu harus sampai kepada 8 kelompok yang disebutkan itu, bukan hanya satu atau dua kelompok saja. Imam al-Ramliy dalam kitabnya, Nihayah al-Muhtaj (6/164) menegaskan:

(يَجِبُ) (اسْتِيعَابُ الْأَصْنَافِ) الثَّمَانِيَةِ بِالزَّكَاةِ وَلَوْ زَكَاةَ الْفِطْرِ
"wajib hukumnya meratakan pembagian zakat ke semua 8 kelompok mustahiq itu, termasuk juga zakat fitrah".

Madzhab al-Syafi'iyah mewajibkan zakat itu harus sampai ke 8 kelompok penerima zakat, atau berapapun yang memang ada ketika itu. Kalau yang ada 7, maka kesemuanya harus dapat dan begitu juga kalau jumlah penerima yang ada hanya 3 atau 2 kelompok.

**Jumhur: Tidak Harus Merata

Sedangkan pendapat jumhur, walaupun ketika itu ada kedelapalan kelompok tapi tidak wajib harus mendapatkan semuanya. Artinya memang ada beberapa golongan yang diprioritaskan untuk menerima zakat dibanding kelompok yang lain.
(al-Hidayah 1/111, al-Mughni 2/498, Hasyiyah al-Dusuqi 1/498)

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW tatkala mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al-asy'ari ke negeri Yaman, dimana beliau hanya menetapkan harta zakat hanya untuk orang-orang yang faqir :

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فيِ فُقَرَائِهِمْ
Beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang faqir di antara mereka (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits, Nabi hanya memerintahkan zakat itu dialokasikan kepada kelompok Fakir, padahal kelopok penerima zakat ada 8. Begitu juga riwayat yang terdapat dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi bahwa Nabi saw memberikan zakatnya Bani Zuraiq kepada satu orang, yaitu Salamah bin Shokhr al-Bayadhi. (HR. Tirmidzi, Kitab Talaq, Bab al-Zihar, no. 2052)

Zakat sekian banyaknya hanya diberikan kepada Salamah al-Bayadhi yang hanya mewakili satu kelompok penerima. Itu artinya bahwa boleh memberikan zakat tidak mereta ke semua kelompok yang delapan itu, boleh salah satunya.

Kesimpulan dari pendapat Jumhur adalah memberikan jatah zakat fithr kepada Amil atau panitia itu dibolehkan karena memang Amil bagian dari 8 golongan penerima zakat. Hanya saja ada beberapa pihak yang mesti diprioritaskan pemberiannya.

[2] Madzhab al-Maliki dan Imam Ibnu Taimiyah

Berbeda dengan jumhur, madzhab Fiqih al-Maliki justru mengatakan dengan tegas bahwa zakat fithr itu hanya untuk fakir. Imam al-Dardir mengatakan:

)وَإِنَّمَا تُدْفَعُ لَحُرٍّ مُسْلِمٍ فَقِيرٍ) غَيْرِ هَاشِمِيٍّ فَتُدْفَعُ لِمَالِكِ نِصَابٍ لَا يَكْفِيهِ عَامَهُ فَأَوْلَى مَنْ لَا يَمْلِكُهُ لَا لِعَامِلٍ عَلَيْهَا وَمُؤَلَّفٍ قَلْبُهُ وَلَا فِي الرِّقَابِ وَلَا لِغَارِمٍ وَمُجَاهِدٍ وَغَرِيبٍ
"dan zakat fithr itu diberikan kepada orang yang fakir lagi merdeka. Bukan dari bani Hasyim. Jadi diberikan kepada orang yang punya harta mencapai nishab tapi tidak mencukupi kebutuhannya dalam setahu (kategori fakir menurut madzhab al-Malikiyah), apalagi ia yang tidak punya sama sekali. Dan zakat Fithr ini tidak diberikan kepada Amil, tidak juga kepada muallaf, tidak kepada budak, tidak kepada orang yang berhutang, tidak juga kepada mujahid atau juga musafir".
(Hasyiyah al-Dusuqi 'ala al-Syarh al-Kabir 1/508)

Dan pendapat ini kemudian diikuti oleh Imam Ibnu Taimiyah. Ini didasarkan pada hadits perintah zakat fithr itu sendiri yang kemudian Nabi saw mengatakan bahwa alokasinya itu kepada si miskin dan tidak menyebutkan golongan yang lain. (Majmu' al-Fatawa 25/73)

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
"Ibnu Abbas berkata: Nabi saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian diri muslim yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor. Serta sebagai makanan bagi orang miskin". (HR Abu Dauda dan Ibnu Majah)

[Kesimpulan]

Artinya memang apakah amil dapat jatah atau tidak dari zakat fitrah adalah perkara yang ulama tidak berada pada satu suara. Jumhur mengatakan ia berhak dapat jatah dari zakat fitrah itu karena memang zakat fitrah itu juga zakat yang ketentuan Masharif­-nya sudah paten yaitu 8 golongan, dan amil termasuk di dalamnya.

Sedangkan madzhab al-Malikiyah berpendapat berbeda, bahwa amil sama sekali tidak berhak dengan zakat fitrah itu. Karena memang zakat fitrah hanya diperuntukan kepada si miskin. Jadi amil itu bisa dapat jatah zakat Fithr kalau ia miskin.

Maka tinggal kita pilih, pendapat mana yang memang hati kita condong kepadanya tanpa harus menyalahkan saudara muslim lain yang memegang pendapat berbeda dengan kita. Tidak ada titik temu dalam perbedaan kecuali saling menghormati pilihan masing-masing.

Wallahu a'lam.
 

Zakat Fitrah, Ukuran Volume (Lt) atau Berat (Kg)?

Ulama sejagad raya ini sepakat bahwa kadar yang wajib dikeluarkan dari zakat al-Fithr atau zakat fitrah adalah satu sha', dan memang ini yang dicontohkan oleh Nabi saw. Dalam sebuah hadits disebutkan:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُول اللَّهِصَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ فَلاَ أَزَال أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ
"Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahuanhu berkata,"Kami mengeluarkan zakat fithr ketika dahulu Rasulullah bersama kami sebanyak satu shaa' tha'aam (hinthah), atau satu shaa' kurma, atau satu shaa' sya'ir, atau satu shaa' zabib, atau satu shaa' aqith. Dan aku terus mengeluarkan zakat fithr sedemikian itu selama hidupku"." (HR Muslim)

Dan satu sha' itu sama dengan 4 mud. Mud adalah takaran volume dengan menggunakan gaya konvensional pada zaman Nabi saw, yaitu dengan menggunakan kedua telapak tangan yang ditempelkan. Seperti menciduk air ketika ingin berwudhu.

Lalu kemudian timbul banyak pertanyaan, kalau dulu Nabi saw mengeluarkan zakat al-Fithr itu dengan satu sha' , lalu kenapa sekarang yang  masyhur itu ukuran timbangan (gram) dan juga liter? Bukan malah ukuran aslinya, yaitu satu sha'?

**Kenapa Berubah Takaran?

Alasan yang paling kuat adalah tersebarnya Islam ke daerah-daerah sayap jazirah ketika itu yang memang punya kebiasaan dan kultur yang berbeda dengan apa yang ada di jazirah pada masa Nabi saw hidup.

Termasuk juga kebiasaan mereka dalam takaran dan timbangan makanan pokok mereka. Sebagian lebih mengenal takaran volume dengan literan, sebagian lain memakai takaran berat (gram). Sedang takaran sha' atau mud´itu malah sudah ditinggalkan dan tidak terpakai lagi.

Faktor itulah yang akhirnya membuat para ulama serta fuqaha pada masa berijtihad dalam mengkonversi ukuran zakat al-Fitrh Nabi saw yang menggunakan sha' itu ke ukuran-ukuran yang memang dikenal akrab di telinga para penduduk guna memudahkan mereka dalam menjalankan kewajiban zakat al-Fithr ini.

Karena, kalau difatwakan dengan ukuran satu sha', mungkin penduduk sekitar kebingungan, berapa takaran satu sha' itu? Akhirnya agar syariah ini tetap berjalan lancer, dipakailah ukuran yang memang akrab dan banyak digunakan di tempat tersebut.

Mau tidak mau, karena memang ini hasil ijtihad para ulama yang disandarkan pada takaran khusus tiap negeri, perbedaan takaran antar negeri pun menjadi berbeda. Ini yang menjadi rumit, karena tiap negeri punya takarannya masing-masing dan itu berbeda dengna negeri lainnya.

Dalam kitabnya Radd al-Muhtar (2/77), Imam Ibnu Abdin menyebutkan perbedaan konversi satu sha' di tiap negeri tersebut. Beliau mengatakan bahwa satu sha' itu adalah 8 Rithl versi Iraq. Ini didasarkan bahwa satu sha' itu adalah 4 mud. Dan satu mud itu 2 Rithl sebagaimana bunyi hadits Anas bin Malik. Jadi 1 sha' itu adalah 8 Rithl.

Di madinah berbeda lagi, satu sha' itu bukan 8 Rithl, tapi 5 1/3 (lima+satupertiga) Rithl. Sedangkan di Syam menjadi lebih sedikit, yaitu satu sha' = 1 ½ (satu setengah) Rithl.

(Rithl adalah satuan berat. madzhab al-Hanafiyah mengatakan bahwa satu Rithl itu 130 Dirham) 
**Konversi Takaran Modern

Kita semua tahu bahwa takaran yang ada pada zaman dimana para ulama itu hidup kini berubah. Jadi takaran zaman para Imam, itu berbeda dengan takaran zaman sekarang. Akhirnya itu yang membuat ulama kontemporer saat ini juga kembali berijtihad mengkonversi satu sha' itu ke dalam takaran modern yang dikenal sekarang.

Dalam kitabnya, Fiqh Zakat, sheikh Yusuf al-Qaradhawi mencatat bahwa yang banyak dilakukan ulama pada masa ulama-ulama madzhab fiqh itu kebanyakan mengkonversi sha' ke dalam liter yang memang banyak digunakan ketika itu. Dan ini menjadi sulit di mana sekarang ini hampir semua makanan pokok tidak lagi diukur dengan ukuran itu.

Dan yang banyak menjadi rujukan konversi takaran perihal zakat ini ialah kitabnya Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dalam bab wihdat al-Makayil (unit takaran) jil. 1 hal. 142 menyebutkan bahwa satu sha' itu dalam konversi takaran modern adalah 2.176 kg. sedangkan dalam takaran volume liter, satu sha' menjadi 2,75 liter.

Dan ukuran ini yang sekarang banyak di pakai hampir di seluruh Negara Islam dalam penetapan ukuran wajib zakat al-Fithr, termasuk Indonesia yang menetapkan 2.5 Kg dalam takaran berat, dan 3 liter untuk takaran volume. Digenapkan dengan angka yang bulat seperti itu untuk memudahkan dalam penghitungannya.

Namun, sejak 2010 MUI Jawa Timur justru menambah takaran zakat al-Fithr yang awalnya 2.5 kg menjadi 3 kg sebagai jalan hati-hati.

**Mau Ikut Nabi

Mungkin ada yang kurang sreg dengan konversi ini dan banyaknya perbedaan. Maka –menurutnya- mungkin akan jauh lebih baik kita menggunakan cara konvensional yang senenarnya, yaitu menggunakan cara Nabi saw membayar zakat al-Fitrh itu sendiri.

Caranya; pertama dengan menggunakan alat yang bernama sha' itu yang dahulu dipakai ketika masa-masa sahabat. Atau yang kedua, yaitu dengan menggunakan tangan kosong, karena begitu Nabi melakukan. Yaitu dengan mengunakan raupan 2 telapak tangan (mud) sebanyak 4 kali.

Cara yang pertama mungkin sangat sulit, karena memang alat tersebut tidak ditemukan dan bahkan sudah tidak ada di pasaran. Tapi cara yang kedua itu mungkin, tentu dengan berbagai kendalanya. 

Imam al-Nawawi dalam kitabnya Raudhah al-Thalibin (2/301) menjelaskan, bahwa satu sha' adalah:

الصاع أربع حفنات بكفي رجل معتدل الكفين
"Satu sha' itu setara dengan empat kali hafanat (dua telapak tangan) seorang laki-laki dewasa yang berukuran sedang".  

Ini cara yang original sebagaimana yang dilakukan Nabi saw ketika masa hidupnya. Namun tidak bisa dipungkiri, pasti akan kembali ada perbedaan dalam hal ukuran tangan orang dewasa itu. Siapa yang menjadi patokan?

Kalau semua diserahkan begitu saja kepada khalayak, pastinya akan timbul perbedaan ukuran. Dan itu yang rawan perpecahan, akhirnya timbul kecemburuan sosial di kalangan si miskin. Satu orang miskin cemburu dengan miskin lain karena mendapat jatah beras lebih banyak, karena yang menakar berasnya adalah orang dewasa yang besar, sedangkan ia ditakar oleh orang dewasa yang agak lebih kecil sedikit badannya.

Jadi, zakat al-Fithr yang mestinya menjadi maslahat, malah berbalik menjadi sumbu kecemburuan sosial di antara si miskin. Ujung-ujungnya malah maqshad syariah dalam zakat tidak terlaksana.

-wallahu a'lam-
 

Orang Besar Hidup antara Pujian dan Cacian

Hampir tidak ada seorang pun yang tidak ada perbedaan persepsi dari orang-orang sekelilingnya, semua punya persepsi sendiri yang masing-masing berbeda dengan yang lainnya. Siapapun itu, pasti orang akan terpecah pada beberapa pandangan dalam menilai pribadinya. Yang satu katakan bahwa fulan itu baik, tapi tidak bagi yang lain, justru fulan itu orang jahat.

Bahkan Allah swt, manusia pun berbeda pandangan tentang-Nya; dimana Allah swt berada? Di arsy-kah atau dimana? Berbeda apakah Allah swt punya tangan dan kaki atau tidak? dan banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan dalam forum ini.

Musthafa Luthfi al-Manfaluthi (w. 1924 M), seorang sastrawan besar asal Mesir yang pernah kuliah di al-Azhar, punya makalah yang bagus sekali ketika membicarakan tentang seseorang yang dinilai dengan penilaian yang berbeda dari orang-orang sekelilingnya. Dalam kitabnya al-Majmu'ah al-Kamilah (hal. 253), Musthafa mengatakan:

"Kalau kalian melihat ada penyair, orang alim, orang terpandang atau juga dai atau siapapun yang punya kedudukan di kalangan kaumnya, dan orang-orang lain sekelilingnya terpecah dalam penilaian terhadapnya, kedudukan dan apa yang ia lakukan. Dan perbedaan pandangan itu terpecah dengan perpecahan yang sangat tajam, bahkan terlihat nyata jarak antara pembenci dan pecintanya.

Kelompok orang yang satu sangat jelas mencintainya sampai-sampai menaruhnya dalam jajaran malaikat dan kelompok yang lainnya sangat benci sekali sampai-sampai mereka menyemakannya dengan setan di derajat yang paling rendah. Maka ketahuilah bahwa ia adalah orang besar!

Sayyidina Ali r.a
Ada kelompok yang sangat mencintai sayyidina Ali r.a sampai-sampai ia keluar dari iman (kafir) karena cintanya yang berlebihan. Dan kelompok yang lain membencinya sebenci-bencinya sampai-sampai mereka pun menjadi kafir karena saking bencinya.

Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina Umar r.a
Ada kelompok yang menggelari sayyidina Abu Bakr dan Umar dengan gelar 'shaikhoi al-muslimin' karena cinta mereka kepada mereka berdua. Tapi ada kelompok lain yang justru menginkari status 'shuhbah' (sahabat) mereka berdua karena saking bencinya kepada Abu Bakr dan Umar.

Ibnu Arabiy
Muhyidin Ibnu Arabiy hidup di antara orang yang memujanya dan yang membencinya. Saking cintanya, para pemuja tersebut sampai-sampai menjulukinya sebagai 'Quthb al-Auliya''. Dan kelompok yang membencinya justru menjulukinya sebagai 'sheikh al-Mulhidin' (gurunya Atheism).

Ibnu Rusyd al-Qurthubi
Saking cintanya, para pemujanya memberinya gelar kehormatan 'Failasuf al-Islam' (Filosof Muslim). Tetapi para pembencinya justru melempari wajah Ibnu Rusyd dengan ludah kotor di depan masjid jami' di hadapan semua orang, karena saking bencinya.

Imam al-Ghazali
Orang-orang memberikan julukan kepada pengarang kitab Ihya Ulum al-Din dengan gelar 'Hujjatul-Islam' karena kecintaan mereka kepada Imam al-Ghazali. Akan tetapi ada kelompok yang justru merobek-robek kitab al-Ihya dan membuangnya berhamburan bersama angina dan debu karena sakign bencinya.

Al-Ma'arriy (penyair)
Abu al-'Ala al-Ma'arriy (penyair Arab) hidup di antara keridhoan manusia yang memujanya dan kemurkaan manusia yang sangat membencinya. Saking cintanya, mereka mau mencium alas kaki al-Ma'arriy sebagai penghormatan. Dan ia pun diseret-seret badannya ke jalan umum lalu dipukuli di depan orang banyak oleh mereka yang sangat murka kepadanya.

Socrates
Socrates mati dengan meminum racun di antara wajah-wajah yang bergembira dan senang atas kematiannya dan wajah-wajah yang sedih menangisi kepergiannya.

Al-Mutanabbiy (Penyair)
Banyak penulis-penulis lewat penanya yang mengabadikan kecintaan mereka kepada al-Mutanabbiy (penyair Arab) karena cinta dengan syair-syair karangan beliau lalu memujanya sebagai 'sayyid al-Syua'ara' (tuannya para penyair). Tapi di waktu yang sama ia pun mendapat gelar 'Akbarul-Mutakallifin' (Penyair kacangan yang syair-syairnya jelek dan kotor) dari para pembencinya semasa hidup.

Shakespear
Ada satu kelompok yang memuja-muja Shakespear (penyair Ingris) dan mengangkatnya sampai derajat bahwa ia adalah manusia yang sempurna karena saking cintanya, lalu mereka katakan: 'Shakespear adalah orang paling serdas sejagad raya'. Tapi ada juga kelompok yang justru menaruhnya di tempat yang paling hina dan rendah karena kebenciannya, lalu mereka katakan: 'Shakespear adalah pembohong ulung!'.

Napoleon I
Napoleon I diagung-agungkan oleh pecintanya dan menyamakannya setara dengan para Nabi. Tapi justru musuh-musuhnya menghina dan mencacinya sebagai orang bodoh yang tidak waras karena saking bencinya.

Mereka Orang-orang Besar
Dan begitu mereka, Lauthtser, Galileo, Neithca, Torestoi, juga merasakan hal sama. Mereka meminum racun dan madu dari gelas yang sama dalam hidupnya. Mereka dihina dan dipuja dalam waktu yang bersamaan semasa hidupnya sampai nafas terakhir dalam hidupnya. Menghirup di ujung hayatnya udara kebencian dan udara kecintaan dengan sekali nafas. Begitulah kehidupan orang-orang besar!"
 

Kenapa Para Sahabat Melakukan Dosa?

Satu yang harus diketahui bahwa Allah swt menjadikan para sahabar ridhwanullah 'alaihim tidak dalam keadaan yang makshum (terjaga dari kesalahan). Justru Allah swt menjadikan mereka semua manusia yang bisa bersalah sebagai teladan bagi umat setelahnya, serta memperlihatkan kepada kita contoh terbaik dari lingkungan generasi terbaik.

Kesalahan yang ada dan dilakukan oleh para sahabat ridhwanullah 'alaihim adalah bentuk kesempurnaan kebaikan yang Allah swt anugerahkan kepada mereka, dan bukan sebuah aib bagi mereka.

Bagaimana?

Seandainya Allah swt menjadikan para sahabat terjaga dari kesalahan, tidak ada dari mereka yang berbuat pelanggaran syariah, lalu dari mana kita belajar bagaimana caranya ber-muamalah dan berinteraksi dengan pelanggar syariah? Dengan pelaku maksiat?

Kita adalah umat yang bisa salah bahkan sering melakukan kesalahan dan pelanggaran syariah. Lalu Bagaimana kita menyikapi ketika terjadi pelanggaran syariah lingkungan kita kalau lingkungan generasi yang menjadi panutan; lingkungan sahabat tidak ada dari mereka yang berbuat salah?

Itu hikmah kenapa Allah swt tidak menjadikan para sahabat itu makshum, agar kita mengerti dan tahu bagaimana tuntunan yang baik menghadapi seorang pelaku maksiat dan dosa.

Kita sangat tahu dan sangat hapal beberapa riwayat tentang sahabat yang berzina, ada juga sahabat yang berhubungan suami istri di tengah hari Ramadhan, ada sahabat yang meminum khamr, ada juga dari mereka yang melakukan pelanggaran syariah lainnya.

Untuk apa? untuk kita tahu dan belajar bagaimana contoh terbaik dari generasi terbaik dan manusia terbaik untuk mensikapi saudara kita yang melakukan kesalahan.

Jangan Jadi Penolong Setan

Salah satu kisah yang dicontohkan oleh Nabi saw dalam mensikapi orang yang berbuat salah ialah kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dalam shahih al-Bukhari (Bab hudud, No. 6283) tentang salah seorang sahabat yang meminum khamr.

Setelah dicambuk oleh Nabi saw, sang peminum khamr pulang dan ketika melewati para sahabat yang menyaksikan pecambukan, beberapa sahabat mencacinya, menghardiknya dan menghinanya sebagai pendosa, dan melaknatnya, serta mendoakannya jauh dari rahmat Allah swt.

Mendengar hinaan yang diucapkan para sahabat itu, Rasul langsung menegurnya dan mengatakan:

لاَ تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ
"janganlah kalian jadi penolong setan atas saudaramu itu!"

Dalam riwayat yang lain (shahih al-bukhari, No. 6282) dalam pristiwa yang sama. Ketika mendengar cacian, hinaa dan laknat yang dilayangkan para sahabat lain kepada peminum khamr tersebut, Rasul saw mengatakan:

لَا تَلْعَنُوهُ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
"jangan kalian laknat dia!!! Demi Allah! Sungguh aku tidak mengetahuinya kecuali dia memang benar cinta Allah swt dan Rasul-Nya"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Baari (12/67) menjelaskan maksud "jangan jadi penolong setan!", beliau katakan:

"Setan ingin menggoda dan menghiasi manusia dengan kemaksiatan. Ketika sudah bermaksiat, maka akan timbul orang lain yang marah, karena marah ia akan mencacinya, menghinanya serta melaknatnya. Dan itulah tujuan setan, mendoakan keburukan. Jadi orang yang menghina pendosa itu seakan-akan telah mengimplemetasikan tujuan setan, karena itu disebut penolongnya. Dan ini jelas bahwa dilarang mendoakan keburukan bagi mereka para pelaku kesalahan."

Pelajaran

Dari peristiwa sahabat yang meminum khamr, kita bisa ambil pelajaran:
1] Kita belajar tentang bagaimana hukuman minum khamr dan penegakan hukuman bagi mereka yang melanggar hadd (hukum) dengan dicambuknya ia oleh Nabi saw.

2] Kita tahu bagaimana bersikap kepada pelaku dosa, yaitu tetap beramah dan santun. Tidak menghardiknya, melaknatknya dan juga tidak mendoakannya keburukan, tiak juga menjauhkannya dari rahmat Allah swt. sebagaimana larangan Nabi kepada para sahabat yang menghina. Justru kita harus mengajaknya kepada kebenaran dengan santun, karena ia berada di jalan yang salah mestinya diajarkan mana yang benar makin dijatuhkan dengan cacian dan hinaan yang justru malah membuat ia maki enggan bergaul dengan mereka yang 'katanya' rajin ibadah tapi malah mencacinya.

3] Allah swt pun menakdirkan ada sahabat lain yang menghina supaya kita tahu bagaimana caranya bersikap kepada mereka yang menghina pendosa untuk kita tidak menghina balik.

4] –ini yang terpenting- kita tidak diajarkan untuk buta akan kebaikan yang telah lakukan hanya karena ia berbuat kesalahan. Lihat bagaimana Nabi sawt justru memuja peminum khamr tersebut dengan mengatakan: "Ia adalah orang yang cinta Allah san Rasul-Nya!". dengan pujian itu ai jadi malu untuk berdosa lagi dan akhirnya terus makin membaik dan jadi orang shalih. Bukan dihina yang akhirnya malah terus jauh dari ketaatan kepada Allah swt.

Ia jelas-jelas peminum khamr, tapi Rasul saw tidak menutupi kebaikannya bahwa ia adalah orang yang cinta kepada Allah swt dan Nabi-Nya. sehingga ia merasa diterima dan termotivasi untuk terus beribadah dan menutupinya keburukannya dengan ketaatan yang banyak. Dan akhirnya ia benar-benar meninggalkan kebiasaan minum khamr-nya tersebut.  

Kita Juga [Pasti] Pendosa

Ini yang kita pelajari dari Rasul saw dan dari lingkungan generasi muslim terbaik; generasi sahabat bagaimana bersikap kepada mereka yang melakukan kesalahan dan dosa.

Jadi kesalahan yang ia lakukan itu bukan berarti legalitas untuk kita bisa menghina dan mencacinya serta menutup mata bahwa ia punya banyak kebaikan di balik kesalahan yang ia lakukan itu. Akhirnya kita tetap bisa berhusnu-dzon kepada sesama muslim dan terjaga dari su'u-dzon.

Dengan melihat kebaikan satu sama lain, itu yang membuat kita semakin cinta dengan yang lain. Karena adanya cinta ini, kita makin bisa dan mampu mengajak orang lain –walaupun pendosa- kepada jalan kebenaran. Karena tidak mungkin kita mengajak orang lain kepada Allah swt yang maha Cinta namun dengan jiwa yang murka. Bagaimana bisa murka mengajak kepada cinta?

Kita juga harus sadar bahwa kita adalah makhluk biasa yang pasti bersalah dan melakukan dosa. Bayangkan jika kita dala posisi pendosa itu, dihina, dicaci, dilaknat, apakah kita menginginkan itu semua? Ataukah kita ingin kesalahan kita dimaafkan? Begitu juga ia yang melakukan kesalahan. Tidak ada seorang pun yang cuka dicaci dan dihina, semua ingin dimengerti dan dipahami.

Jadi bersikap santun jauh akan lebih baik dan lebih melunakan hati yang keras dibanding dengan sikap kasar dan serampangan. Dan memang begitulah harusnya berdakwa, tetap menjaga kesantunan. Orang yang bersalah itu harus diajarkan bukan terus-terusan disalahkan.

Tetap Santun

Kisah menarik yang terkait masalah di atas ialah sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah (10/217) tentang pemuda yang mendatangi khalifah Harun al-Rasyid yang ketika itu sedang berthawaf di masjidil-haram dan memarahinya dengan suara yang keras.

Mungkin ada salah satu kebijakan khalifah Harun al-Rasyid yang merugikan dia beserta kaumnya atau ada kesalahan lain yang dilakukan oleh Harun al-Rasyid yang ketika itu memang menjabat sebagai Amirul-Mukminin.

Tapi dengan tenang Harun al-Rasyid menjawab luapan amarah pamuda tersebut setelah membuatnya tenang dan tidak marah lagi:

قَدْ بَعَثَ اللَّهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ إِلَى مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنِّي فَأَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا
"Allah swt telah mengutus orang yang jauh lebih baik dari anda untuk memberi peringatan kepada orang yang jauh lebih buruk dari saya. Dan Allah memerintahkan ornag tersebut untuk berkata ramah dan santun."

Maksud kata-kata khalifah tersebtu ialah bahwa Allah swt telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun dan mereka tentu jauh lebih baik dari anak muda itu, untuk memberi peringatan kepada Fir'aun yang mana jauh lebih buruk daripada Harun al-Rasyid. Dan Allah swt tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata yang santun.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaaha: 44)

-wallahu a'lam-
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger