Latest Post

Professor Harfu Jarr

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal istilah Kata Depan, yaitu ke, dari, di, dalam, pada, atas, dan beberapa kata lainnya. Kata depan atau yang juga disebut dengan istilah preposisi ialah kata yang menunjukkan hubungan arah atau tempat antara bagian kalimat.

Kata depan termasuk dalam unsur pembentuk kalimat. Tanpa kata depan kadang–kadang (atau pasti) suatu rangkaian kata tidak dapat menjadi kalimat dan maknanya menjadi kabur. Contoh:

"Surabaya ayahnya bekerja sebuah perusahaan"
Menjadi jelas jika menggunakan kata depan:
"Di Surabaya ayahnya bekerja di sebuah perusahaan" .

Kata Preposisi = Harfu Jarr [حرف جر]

Dalam bahasa Arab pun ada kata-kata sejenis yang mempunyai manfaat dan fungsi yang sama, yaitu kata yang menunjukkan hubungan arah, tempat, permulaan dan seterusnya. Dan ketidakadaan kata tersebut, bisa berbuah rancunya kalimat yang ada itu. Dan sangat sulit untuk dipahami.

Jangankan tidak ada, keberadaannya pun terkadang membuat rancu makna jika itu ditempatkan di posisi yang salah. Maksudnya iala ada kata kerja yang memang tidak bisa dipahami maknanya kecuali jika ditambahkan dengan kata preposisi itu. Dan hanya kata itulah yang layak untuk disandingkan dengan kata kerja tersebut, akhirnya jika disandingkan dengan selain kata preposisi yang tepat, kata kerja itu pun bisa buyar maknanya.

Dalam kaidah bahasa Arab (Nahwu&Sharaf) kata-kata tersebut masuk dalam golongan harfu Jarr [حرف الجر]. Huruf-huruf jar dalam bahasa Arab itu banyak bentuknya, bahkan ada yang berbeda bentuk tapi punya arti sama (tentu penggunaannya yang berbeda) dan juga sebaliknya, satu kata bisa punya arti lebih dari satu. Di antara huruf-huruf jar tersebut ialah:

Li [لِــ] : untuk.
Bi [بِــ] : dengan.
Min [مِنْ] : dari.
Ilaa [إِلَى] : ke.
'ala [عَلَى] : atas, di atas.
Fi [فِيْ] : di, di dalam.

Sebenarnya, harfu jarr itu banyak, bukan hanya 6 yang disebutkan di atas, dalam kitabnya Audhoh Al-Masalik, Ibnu Hisyam (761 H) menjelaskan bahwa harf jar itu ada 20 huruf. Dan masing-masing huruf punya arti lebih dari satu, bahkan ada yang sampai 5 atau 8.

Harfu Jarr dan Fiqih

Penulis menyebutkan hanya 6 di atas itu karena memang yang banyak menjadi objek studi oleh para ulama fiqih dan ulama ushul itu 6 huruf tadi. Kenapa banyak menjadi objek pembahasan dalam ilmu fiqih dan ushul?

Karena sumber syariah ini ialah al-Quran dan juga Hadits Nabi saw, dan keduanya memakai bahasa Arab. Jadi banyak teks-teks syariah (hukum khususnya) yang di dalamnya terdapat huruf-huruf jarr tersebut dalam menujukkan hukum sebuah perkara.

Dan 6 huruf harr tersebutlah yang mempunyai porsi paling banyak dalam teks-teks hukum syariah. Dan itu adalah objek (maudhuu') studi bagi para ulama ushul dan juga fiqih yang memang bergelut di bidang hukum syariah.

Diakui atau tidak, banyak perbedaan pendapat dalam masalah hukum yang terjadi antara madzhab fiqih itu rupanya muncul akibat perbedaan mereka dalam memahami harf jarr yang menjadi penunjang makna teks syariah itu.

Lalu kenapa Professor Harf Jarr?

Ya. Banyak ilmuan (bisang syariah tentunya), yang akhirnya bisa menjadi Professor karena harfu Jarr ini. bagi para pelajar syariah, ini bukan kabar yang asing lagi. Banyak di kalangan akademisi, dan juga para ahli syariah yang akhirnya bisa mendapatkan gelar studi mereka berkat haf=rf jarr.

Itu mereka dapatkan setelah melakukan penelitian (studi/dirasah) tentang harf Jarr ini yang punya pengaruh besar dalam menentukan hukum sebuah perkara. Dari yang wajib, bisa menjadi sunnah, atau mubah atau malah bisa menjadi haram dan makruh.

Awalnya melakukan studi (dirasah) di jenjang strata satu (bachelor), merasa studinya kurang tajam, ia mulai lagi penelitian yang lebih dalam di jenjang magister. Masih kurang puas, lalu kemudian mulai lagi disertasi dengan tema sama yang lebih tajam untuk gelar doctoral. Sampai akhirnya ia mendapat gelar Professor karena penelitiannya terhadap harfu jarr itu.

Kalau kita berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan kampus-kampus syariah timur tengah misalnya, atau lebih mudahnya kita buka internet dan membuka laman perpustakaan online milik salah satu universitas Islam yang focus dalam syariah, kita pasti akan menemukan banyaknya lembar kerja, baik itu tesis atau disertasi atau juga journal yang hanya membahas harfu jarr serta pengaruhnya dalam hukum syariah.

Hanya membahas dan meneliti tentang huruf Ba' [ب] saja, seorang peneliti bisa membuat beratus-ratus halaman makalah guna mencapai kepada sebuah kesimpulan. Hebat bukan?!

Ketika Wudhu, Mengusap Sebagian/Seluruh Kepala?

Untuk lebih tergambar jelas, berikut beberapa contoh pengaruh harf jarr dalam perbedaan pendapat ulama fiqih tentang suatu hukum. Misalnya yang paling masyhur itu ialah hukum mengusap kepala dalam wudhu antara madzhab Al-Syafi'iyah dan madzhab Al-Hanabilah.

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
"dan usaplah (dengan/sebagian) kepala-kepala kalian…" (Al-Maidah: 6)

Madzhab Al-Syafi'iyah berpendpat bahwa harfu jarr yaitu kata bi [بِـ] sebelum kata Ru'us (kepala), itu adalah berarti li al-Tab'idh [للتبعيض] yaitu menunjukkan makna "sebagian". Karena memang salah satu dari sekian banyak makna bi itu ialah li al-tab'iidh. Jadi mengusap kepala dalam wudhu itu cukup sebagian saja, tidak perlu semua kepala, karena ada kata Bi di situ.

Karena kalau perintahnya hanya ingin mengusap kepala, tidak perlu harus ada tambahan bi. Ada tambahan harf jarr itu menunjukkan bahwa Allah swt ingin makna yang berbeda. Ini kata madzhab Al-syafiiyah.

Madzhab Al-Hanabilah mengatakan berbeda, bahwa bi di ayat itu adalah hanya sebagai huruf tambahan yang tidak mempunyai arti. Jadi kedudukannya di situ tidak memberika pengaruh, atau juga penambahan makna.

Menurut mereka, mengusap kepala dalam wudhu itu adalah semua bagian kepala bukan hanya sebagiannya saja, karena memang Nabi saw (dalam beberapa) melakukan itu. Jadi bi dalam ayat itu hanya tambahan, dan memang salah satu makna bi yang ada dalam Al-Quran itu ada yang tidak bermakns alias sebagai tambahan saja, termasuk dalam ayat ini.

Kapan Buka Puasa?

Ini juga sering menjadi masalah. semua ulama sepakat bahwa puasa itu dimulai sejak terbit fajar. Tapi kapan orang yang berpuasa itu dibolehkan berbuka? Ketika terbenam matahari kah? Atau menunggu sampai gelap malam? Sumbu permasalahannya ada di harfu jarr:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
"sempurnakanlah puasa sampai malam…" (Al-Baqarah: 187)

Nah harf jarr di sini, yaitu ilaa [الى], itu masih diperebutkan maknanya. Apakah ila itu menunjukkan bahwa apa yang setelanya itu, Al-Lail (malam) itu bagian dari puasa juga? Atau ila itu menjadi pemberhentian hukum, dan setelah ila itu tidak termasuk bagian dari hukum puasa.

Dalam bahasa ushul-nya:
هل "إلى" تدل على أن ما بعدها نهاية حكم ما قبلها أم عكسه؟
"Apakah "ilaa" itu menunjukkan bahwa itu pemberhentian hukum dan setelahnya tidak masuk atau sebaliknya?"  

Kalau itu pemberhentian hukum, maka jika sudah terbenam matahari yang merupakan awal malam, ya itu waktu yang sudah boleh berbuka. Tapi sebaliknya, jika setelah ila itu masih bagian dari yang sebelumnya ila, maka puasanya harus sampai malam.

Yang seperti ini perlu penelitian/studi/dirasah.

Pembagian Zakat

Yang lebih kontekstual dibicarakan juga ialah masalah 8 golongan zakat yang Allah swt sebutkan dalam surat Al-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] pengurus-pengurus zakat, [4] Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang berhutang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana"

Coba kita lihat ayatnya, banyak harf jarr yang digunakan bukan? Dan bentuknya berbeda-beda, padahal masalahnya sama, yaitu golongan-golongan yang menerima zakat.

Allah swt memberi zakat kepada golongan 1 – 3 (fakir, miskin, Amil) itu dengan menggunakan harf jarr "Lii" [لِـ] yang artinya "untuk". Tapi golongan selanjutnya Allah swt mengguankan harf jarr "fii" [في], yang berarti "di", atau "di dalam".

Dan lebih variatif lagi karena Allah swt mengulang kata fii lagi untuk golongan ke-7 dan ke-8, yaitu orang yang di jalan Allah dan musafir. Padahal fii sudah disebutkan, tapi kenapa diulang lagi?

Apakah huruf-huruf jarr yang Allah swt taruh pada ayat itu hanya sebagai hiasan? Atau adakah makna berbeda yang Allah swt inginkan dengan harf jarr yang berbeda-beda dan variatif itu?

Professor Harf Jarr Telah Menelitinya

Ini hanya sebagian kecil dari masalah-masalah fiqih yang sumbu permasalahannya ada pada harfu jarr. Dan Alhamdulillah dengan izin Allah swt dan karunia-Nya, para professor-professor harfu Jarr sudah banyak yang membahas itu semua dan memberikan kita manfaat.

Dan tentu dirasah atau studi yang dilakukan itu bukanlah pekerjaan sebentar, melainkan pekerjaan yang lama karena membutuhkan ketajaman naluri dan malakah fiqhiyah (kapasitas ilmu fiqih) serta lughowiyah (kapasitas ilmu bahasa) yang sangat tinggi.

Kita yang awam, baiknya menghormati dan menghargai karya ulama-ulama tersebut dengan tidak asal mengatakan bahwa "fulan dan fulan juga manusia yang bisa salah. Mereka manusia yang boleh ditinggalkan." padahal bahasa Arab-nya baru tahu "ana, anta akhi ukhti!"

Wallahu a'lam.  
 

Yang Baik Agamanya

Menikahlah dengan yang “baik agamanya”!


Kalimat ini selalu dan pasti sudah sering didengar oleh hampir seluruh muslim sejagad raya. Tapi yang menarik adalah kalimat “baik agamanya”-nya ini masih terlalu sempit atau disempitkan maknanya. Dan kadang juga salah arti.

Kebanyakan orang selalu menganggap bahwa yang “baik agamanya” itu adalah mereka yang paham agama, mengerti dalil-dalil syariah, pintar mengaji, selalu berpakaian koko (padahal koko dari CINA), pelajar difakultas syariah, aktif di kajian-kajian dan seterusnya.

Padahal tidak begitu juga. Kalau kita mau fair mengartikan dan memahami “baik agamanya” itu, kita bisa bilang bahwa tukang bangunan, kuli panggul di pasar itu juga “baik agamanya”, bahkan jauh lebih baik dari mereka yang setiap hari berbicara dalil syariah.

Karena agama ini bukan hanya masjid dan pengajian. Agama ini kehidupan! Yang “baik agamanya” itu adalah mereka yang bisa mengemplementasikan ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. Agama bukan hanya dipakainya di masjid atau pengajian.

Agama memerintahkan kita untuk menebarkan manfaat sebanyak-banyak dalam kehidupan ini kepada manusia yang lain tanpa memandang suku, bahkan agama sekalipun. Maka orang yang dengan keilmuannya (walaupun bukan ilmu syariah), ia memberikan manfaat dan kebaikan kepada lingkungan sekitar, itu dia adalah orang yang baik agamanya.

Sesuai bidang kelimuannya. Dokter menebar manfaat dengan memberikan pemahaman kesehatan yang baik, mengobati dan seterusnya. Arsitek juga demikian, memberikan manfaat sesuai ilmu yang telah Allah swt anugerahkan kepadanya. Ekonomi kah, biologi kah, kimia kah, informatika kah, teknisi mesin alat berat juga sangat mungkin dan memang layak disebut sebagai yang “baik agamanya”.

Walaupun ia tidak mengerti syariah secara detail. Mereka hanya tahu sholat wajib yang 5, puasa ramadhan, zakat kalau punya, pergi haji kalau mampu, itu saja. Tapi dengan sekuat tenaga mereka memberikan manfaat dan kebaikan kepada umat dengan keilmuan yang telah Allah swt anugerahkan kepada mereka. Walaupun bukan ilmu agama!

Agama telah memerintahkan untuk umatnya berbuat baik, ramah, sopan, menghormati yang besar dan mengayomi yang kecil serta menghargai sesame. Maka siapapun dia –tanpa terkecuali- sudah berlaku seperti tuntunan agama, itu dia yang baik agamanya. Walalupun dia tidak ikut ormas Islam manapun!!!!

Jadi yang “baik agamanya” itu bukan yang paling banyak hapal dalil, bukan yang paling jago bicara soal syariah, bukan juga yang paling sering pakai baju koko, bukan juga yang paling lama dzikirnya di masjid. Tapi mereka yang paling pandai menerapkan substansi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti seorang ustadz!!!

Sekarang yang jadi pertanyaan, dengan ilmu yang telah Allah swt berikan kepada kita –ekonomi, biologi,  kimia, fisika, astronomi-, sudah kah kita memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat ini, sebagai tanggung jawab kepada Allah swt yang telah menanugerahkannya kepada kita?

Atau malah kita meninggalkan ilmu itu semua dan beralih jadi jago dalil karena menganggap ilmu-ilmu umum tersebut yang besar manfaatnya tidak membuat kita masuk surga?

Lalu kata siapa, ilmu umum tidak bisa membuat kita selamat akhirat?   
 

Sudah Talak di Rumah, Talak Lagi di Pengadilan. Bagaimana Hukumnya?

Di Indonesia ini, dalam masalah perkawinan, ada hukum positif yang berlaku dan itu menjadi buku ‘suci’ yang digunakan oleh seluruh hakim agama di setiap pengadilan agama di Indonesia, yaitu KHI (Kompilasi Hukum Islam).

Jadi, apa yang ada di KHI itu berlaku dan dijalankan di setiap keputusan Hakim yang dibuat di pengadilan agama atas perkara-perkara yang masuk ke meja hakim. termasuk urusan perceraian dan pernikahan.

Karena pernikahan kita butuh legalisasi Negara agar dapat perlindungan, maka kita harus melaporkan ke KUA yang mana ia adalah subunit pelayana dari pengadilan agama. Karena ini pengadian agama, maka hukum yang dipakai itu ialah KHI.

Cerai Harus di Depan Hakim Pengadilan

Dalam KHI, pada buku pernikahan dijelaskan di pasal 117, bahwa talak itu adalah ikrar suami untuk pemutusan pernikahan yang dilakukan di depan sidang pengadilan agama. Jadi, catatan perceraian itu baru di sah kan ketika si suami mengatakan itu di depan hakim pengadilan.

Sebenarnya tidak ada masalah serius di sini. Menjadi serius ketika si suami sudah melakukan talak di bawah tangan (talak yang tidak melalui pengadilan agama). Apakah sah talak di bawah tangan?

Jelas sah, secara agama. Tapi tidak terdaftar di pengadilan agama, hanya itu saja masalah. Secara administrative yang tercatat di pengadilan. Si suami itu masih beristri, dan istri tersebut bukan dalam masa iddah menurut hitungan pengadilan. Tapi sejatinya ia sedang menjalani iddah karena talak yang telah di jatuhkan oleh suaminya secara lisan tanpa pengadilan itu.

Nah, masalah seriusnya ada ketika si suami sudah melakukan talak di bawah tangan di rumah atau di mana pun itu. Tapi untuk tercatat di pengadilan kalau ia telah menceraikan istrinya, ia harus melakukan ikrar di depan pengadilan. Artinya ia harus mentalak lagi istrinya.

Jadi, kalau ia talak lagi istrinya di pengdilan, berate itu terhitung sebagai talak ke-2, bukan ke-1. Walhasil masa iddahnya si istripun bertambah lama, karena diperpanjang dengan talak ke-2 di pengadilan itu.

Sepertinya dua pihak mendapat kerugian. Suami yang niatnya hanya mentalak 1, tapi karena harus ikrar di pengadilan, talaknya menjadi 2. Istripun demikian, masa iddahnya bertambah lama karena harus iddah lagi dengan talak yang ke-2 itu.

Solusi Kalau Sudah Talak di Bawah Tangan

Maka, kalau sudah talak di bawah tangan dan kemudian harus melakukan ikrar talak lagi di depan pengadilan, agar tercatat. Supaya ikrar talak di pengadilan tidak terhitung sebagai talak ke-2, tidak perlu lagi lah melakukan ikrar talak. Cukup dengan “cerita ikrar talak”. Bagaimana?

Melakukan ikrar talak dengan gaya bercerita. Ya bercerita “bahwa saya kemarin, hari sekian bulan sekian tahun sekian telah mentalak istri saya”. Karena bercerita maka itu tidak terhitung sebagai talak. Tapi cerita.

Dan pada surat ikrar pun tidak hari kejadian talak tidak disebutkan hari ini (hari di depan pengadilan) akan tetapi dikosongkan dan diisi sesuai waktu talak itu pernah diucapkan dan bukan di pengadilan. Dengan ini semua aman.

Dan memang sejatinya, pengadilan itu bukan tempat untuk men-sah-kan talak itu sendiri. Talak telah sah tanpa pengadilan. Hanya saja pengadilan dibutuhkan sebagai penguat status hukum si pastrti yang bercerai itu.

Pengadilan = Maslahat

Sebenarnya sejak penbentukannya, dan sejak perumusan KHI tahun 85 itu, memang pasal-pasal yang dibuat dalam KHI dari hukum perkawinan, perwarisan dan perwakafan itu disusun demi adanya kemaslahatan.

Salah satunya ialah soal perceraian depan pengadilan ini. Disebutkan bahwa talak yang sah (disahkan Negara) itu adanya jika dilakukan depan hakim di pengadilan, itu (mungkin) supaya para suami yang mentalak istrinya punya waktu untuk berfikir ulang dan tidak buru-buru mentalak.

Karena ketika ingin mentalak, permohonan yang diajukan itu tidak langsung di-sah-kan oleh pengadilan. Justru ada jeda beberapa hari dan pengadilan memanggil mereka berdua (pasutri) dalam rangka memediasi permasalahan yang dihadapi. Mungkin saja denagn mediasi tersebut, kedua belah pihak melunak dan bisa mengurungkan niat mereka untuk saling bercerai. Mungkin saja!

Intinya, pengadilan hanya bertugas sebatas pencatatan sipil dan sah atau tidaknya talak tidak bergantung kepada pengadilan. Karena dalam rukun dan syarat sah talak itu tidak disebutkan adanya sultan (hakim).

Wallahu a’lam
 

Talak Dengan Redaksi Yang Berbeda-beda

Salah satu rukun talak itu adalah shighoh [صيغة], yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan redaksi. Jadi suami yang ingin mentalak istrinya tidak sah dan belum jatuh talaknya sampai ada redaksi talak yang diucapkan.

Itu artinya, talak tidak cukup dengan niat, tapi harus ada redaksi/kata talak yang disebutkan sehingga talak itu benar-benar terpenuhi rukun dan syaratnya. jadi, niat saja tidak cukup, harus ada redaksi yang diucapkan.

Ulama membagi redaksi talak ini menjadi 2 jenis;
[1] shighoh Shorih [صيغة صريحة], redaksi yang jelas
[2] Shighoh kinayah [صيغة كناية], Redaksi Kiasan/sindiran

Dari 2 jenis redaksi ini, ulama juga berbeda pendapat mana yang disebut dengan redaksi jelas, dan mana yang redaksi kiasan atau sindiran. Dibagi 2 jenis seperti ini, karena memang msing-masing redaksi mempunyai konsekuesi hukum yang berbeda.

Dalam kitabnya Bidayah Al-Mujtahid (hal. 425), Imam Ibnu Rusyd menjelaskan perbedaan pandangan tentang redaksi talak ini:

[1] Madzhzb Al-hanafiyah dan Al-Malikiyah: 

Dalam madzhab ini, redaksi talak yang jelas itu hanya satu, yaitu kata: Talak [طلاق]. Dikatakan jelas karena memang kata Talak itu sendiri tidak mengandung makan lain selain talak/cerai itu sendiri.

Selain kata "Talak", dalam kedua madzhab ini masuk ke dalam redaksi kinayah (kiasan/sindiran), yang jelas hukumnya berbeda. Contoh redaksi talak yang kiasan atau sindiran itu misalnya [الحقي بأهلك] (Pulang saja ke keluargamu!), atau redaksi apapun yang mengandung makna cerai.

[2] Madzhab Al-Syafi'iyyah

Madzhab ini punya pandangan berbeda dengan 2 madzhab pendahulunya. Mereka mengatakan bahwa redaksi talak yang jelas (sharih) itu ada 3, yaitu
[1] Talak [طلاق] (cerai/talak)
[2] Sirah [سراح] (melepaskan)
[3] Firoq [فراق] (berpisah)

Al-Syafiiyah memasukkan 3 kata ini menurut ke dalam kelompok redaksi talak yang jelas/sharih, karena dalam Al-Quran, 3 kalimat inilah yang dipakai oleh Allah swt untuk menunjukkan makna cerai atau talak.

1} Pada ayat 231 Al-Baqarah [وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ ] "dan jika kalian menceraikan istri-istri kalian…".
2} Pada ayat 49 Al-Ahzab: [وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا] "dan lepaskanlah istri-istri kalian dengan baik".
3} Pada ayat 2 Al-Thalaq: [فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ] "maka pertahankanlah mereka dengan baik atau pisahkanlah mereka dengan baik".

Nah, 3 kalimat ini adalah redaksi talak yang sharih (jelas), maka redaksi-redaksi lain yang mengandung makna cerai atau talak, itu masuk dalam golongan redaksi sifatnya sindiran atau kiasan yang tentu punya hukum berbeda.

Redaksi Yang Jelas (Sharih)

Untuk redaksi yang sharih, semua ulama sepakat bahwa jika redaksi itu terucap dari seorang suami kepada istrinya yang sah, maka saat itu juga sang istri telah terceraikan atau telah tertalak dan mulai masa iddahnya.

Dan ulama tidak membedakan apakah ia bercanda atau tidak, apakah sedang marah atau tidak, apakah niat talak atau tidak. apapun keadaannya, jika yang terucap itu adalah redaksi yang sharih (menurut masing-masing madzhab), maka telah jatuh talaknya.

Karena redaksi yang diucapkan tidak mengandung makan selain makna cerai atau talak. Maka itu haruslah hati-hati bagi para suami dalam mengucapkan kalimat talak di depan istri.

Dikecualikan: 

Ini dikecualikan dalam madzhab Al-Malikiyah jika memang dalam keadaan tertentu yang terlihat jelas bahwa yang dimaksud itu bukanlah talak, seperti suami yang sedang mengajarkan istrinya redaksi talak. Misalnya ada istri yang bertanya kepada suaminya tentang apa itu redaksi talak yang sharih? Kemudian si suami menjawab denagn redaksi yang sharih di depan istrinya.

Ini tidak jatuh talaknya karena dia dalam keadaan yang meragukan apakah berniat talak atau tidak dengan bukti yang nyata. Dalam bahasa Al-Malikiyah, mereka menyebutnya [موضع التهمة] Maudhi'u Al-Tuhmah.   

Tapi hanya milik madzhab Al-Malikiyah saja yang memang mensyaratkan niat dalam talak. Berbeda dengan madzhab lainnya, seperti Al-Syafiiyah dan Al-Hanafiyah serta Al-Hanabilah yang tidak mensyaratkan "niat" untuk redaksi talak yang sharih/jelas.

Jadi, menurut jumhur (selain Al-malikiyah), kapan redaksi itu terucap, sejak itu juga jatuh talak tanpa melihat apakah ia berniat atau tidak.

Redaksi Kiasan/Sindiran (Kinayah)

Berbeda dengan redaksi sharih, redaksi kinayah atau yang lebih sering kita sebut dengan istilah redaksi kiasan adalah segala macam redaksi yang mengandung arti telak atau cerai. Dan itu banyak contohnya seperti yang dicontohkan di atas. Simpelnya, redaksi kinayah itu yang selain redaksi sharih yang disebutkan di atas.

Nah, utuk redaksi kinayah ini, redaksi saja tidak cukup untuk talak itu jatuh. Jadi diucapkannya redaksi kinayah tidak berarti talak itu jatuh dan sah. Perlu ada yang namanya "NIAT". Ya niat adalah syarat mutlak untuk sebuah redaksi kinayah jika ia diucapkan.

Si suami yang mengucapkan redaksi kinayah tersebut, berniat menceraikan istrinya atau tidak? kalau dengan redaksi kinayah itu ia berniat cerai, maka telah sah cerainya dan istrinya memulai masa iddahnya. Kalau ia tidak berniat cerai, mungkin karena kesal atau marah, ya tidak terjadi apa-apa.

Talak Dengan Bahasa Indonesia

Nah, kalau bahasa Indonesia, bagaimana pembagian redaksi sharih dan redaksi kinayahnya. Sebenarnya yang menjadi kesepakatan oleh ulama dalam urusan redaksi talak sharih itu terletak pada redaksi itu sendiri yang didefinisikan sebagai "redaksi atau kalimat yang mempunyai makna hanya satu yaitu cerai atau talak". Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rusyd pada bab ini (Shighoh Thalaq, hal. 422).

Karena itu, yang disepakati oleh seluruh ulama sebagai redaksi sharih ialah kata Talak itu sendiri. Karena kata talak dalam bahasa Arab [طلاق] itu tidak punya arti selain cerai. Maka mereka sepakat untuk kalimat itu.

Sedangkan 2 kata lain yang disebutkan oleh Al-Syafiiyah; Firoq (pisah) dan Sirah (lepas), itu dalam bahasa Arab punya multi makna yang bukan hanya cerai. Karena itu Al-Malikiyah dan Al-Hanafiyah tidak memasukan itu ke dalam redaksi sharih, tapi memasukkannya kedalam redaksi kinayah.

Dari sini, bisa kita petakan bahwa yang dimaksud redaksi sharih/jelas ialah kata atau kalimat (redaksi) yang tidak mempunyai arti ganda, ia hanya punya arti cerai saja. Dalam Bahasa Indonesia, redaksi sharih/jelas itu berarti hanya ada 2 kata, yaitu:
[1] Talak, dan
[2] Cerai.

Jadi 2 kata ini yang dalam bahasa Indonesia digolongkan sebagai kalimat jelas/sharih yang menunjukkan cerai. Sedangkan kata pisah, melepaskan, itu punya arti banyak dan bukan hanya cerai. Karena punya arti ganda, maka ia masuk ke dalam redaksi kinayah/kiasan. Dan contoh redaksi kinayah dalam bahasa Indonesia itu banyak:
"pulang saja ke rumah orang tuamu!"
"Aku ngga mau liat kamu lagi!"
"kita pisah", dan sejenisnya. Intinya yang bukan "Talak" dan "Cerai"

Untuk yang seperti ini, masuk ke dalam golongan redaksi kinayah atau kiasan yang membutuhkan niat si pengucap untuk menentukan apakah itu bermakna cerai atai tidak.

Wallahu a'lam  

 

Jama' Sholat Tanpa Udzur, Boleh kah?

Ulama 4 madzhab sepakat bahwa menjama' sholat terlarang kecuali karena sebab-sebab yang memang mebolehkan jama' seperti; safar, pun safar tidak asal boleh jama' melainkan jika memang syarat-syarat safar itu terpenuhi.

Bolehnya jama':

Madzhab hanafi:
-      hanya ketika di Arafah dan Muzdalifah

Jumhur:
-      Safar
-      Haji
-      Sakit (Hanbali)
-      Hujan (masih diperdebatkan)
-      Kebutuhan mendesak (Ibnu Sirin, Madzhab Al-Zohiri, Asyhab dari kalangan Malikiyah, dan juga Ibnu Al-Mundzir dari kalangan syafi'iyyah) dengan syarat, tidak terulang-ulang.

Jama' Tanpa Udzur

Terkait sholat jama' yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yang mana jama' itu dilakukan tanpa sebab, memang ada riwayat yang menyebutkan itu, dan riwayatnya shahih dari Imam Muslim:

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

"Nabi saw menjama' sholat zuhur dan ashar juga mnejama; sholat maghrib dan isya di madinah tanpa ada sebab 'takut' dan juga tanpa sebab hujan" (HR muslim)

Dari hadits ini para ulama 4 madzhab tetap dalam pendirian, bahwa tidak ada jama' kecuali ada udzur syar'I. jadi tidak ada istilahnya jama' tanpa sebab. Dan ini dijelaskan secara gamblang oleh Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah Al-Mujtahid wa Niahayah Al-Muqtashid pada Bab Sholat Jama'.

Hadits Ibnu Abbas Bukan Jama' Melainkan Jama' Shuri

Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah, secara jelas menerangkan bahwa ulama 4 madzhab melarang manjama' sholat tanpa uzdur. Terkait hadits Ibnu Abbas tersebut, jumhur ulama mengatakan bahwa selain takwil hujan dan orang sakit yang telah disebutkan di atas, bahwa jama' yang dimaksud dalam hadits Ibnu Abbas itu ialah jama' shuri, bukan jama' sesungguhnya.

Yaitu dengan mengakhirkan sholat zuhur di penghujung waktu dan menyegerakan ashar di awal waktu, sehingga seakan-akan seperti menajama' padahal tidak. semua sholat dikerjakan tepat pada waktunya, hanya zuhur diakhirkan dan ashar disegerakan, itu saja!

Terlebih lagi bahwa memang telah ada kesepakatan bahwa tidak boleh menjama' dua sholat tanpa sebab dalam keadaan hadir (bukan musafir), dengan pengecualian. (Bidayah Al-Mujtahid 1/182)

Makin jelas bahwa itu adalam jama' shuri dengan penjelasan yang diterangkan oleh Imam Al-Syaukani dalam kitabnya Nailul Awthor (3/258) , beliau mengatakan:

وَمِمَّا يَدُلّ عَلَى تَعْيِين حَمْل حَدِيثِ الْبَابِ عَلَى الْجَمْع الصُّورِيّ مَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ بِلَفْظِ: «صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا، أَخَّرَ الظُّهْر وَعَجَّلَ الْعَصْر، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ» فَهَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَاوِي حَدِيثِ الْبَابِ قَدْ صَرَّحَ بِأَنَّ مَا رَوَاهُ مِنْ الْجَمْع الْمَذْكُور هُوَ الْجَمْع الصُّورِيّ.

"dan salah satu yang menguatkan bahwa jama' yang dimaksud dalam hadits Ibnu Abbas itu adalah jama' Shuri, itu apa yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan: 'aku sholat bersama Nabi saw zuhur dan ashar bersamaan (jama'), juga maghrib dan isya bersamaan (jama'), Beliau mengakhirkan zuhur dan menyegerakan ashar, dan mengakhirkan maghrib serta menyegerakan isya'

Dan ini adalah riwayat Ibnu Abbas yang merupakan perawi hadits bab ini (jama' tanpa udzur), beliau telah mnejelaskan bahwa apa yang diriwayatkannya itu (jama' tanpa udzur) adalah jama' shuri"

Makin diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori:

قَال ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَا رَأَيْت النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلاَةً لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا إِلاَّ صَلاَتَيْنِ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ أَيْ بِمُزْدَلِفَةَ

"Aku tidak pernah melihat Nabi saw sholat bukan pada waktunya kecuali 2 sholat, belau menjama' sholat maghrib dan isya di jama' atau di muzdalifah" (HR BUkhori)

Wallahu a'lam
 

Janji Hibah Tapi Tidak Diserahkan, Bagaimana?

Beberapa yang sering diributkan dalam masalah waris ialah adanya seseorang, baik dari ahli waris atau bukan mengaku bahwa si mayit (Pewaris) pernah menghibahkan sejumlah harta ketika masih hidup, akan tetapi belum diserahkan.

Seperti orang yang berjanji akan memberikan (hibah) sesuatu pada orang lain, namun ucapannya tidak langsung disusul dengan pemberian. Jadi si A mengatakan kepada si B: "nih, hape ane buat ente aja!", atau juga dengan redaksi: "laptop ane buat ente, nanti ambil ya di rumah!".

Di sini sering jadi sumbu permasalahan, apalagi ketika si pemberi (wahib) belum sempat menyerahkan, tapi terlanjur dijemput ajal dahulu. Maka yang jadi masalah, status harta yang dijanjikan diberi itu, apakah itu tetap milik si mayit, atau itu sudah jadi milik orang yang dijanjikan diberi (Mauhub Lahu).

Kalau itu tetap milik mayit, maka itu jadi harta peninggalan (tarikah) yang harus dibagikan kepada ahli waris. Tapi kalau hanya dengan janji itu, barang tersebut jadi milik si orang yang diberi itu, maka itu jadi milik si orang yang dijanjikan diberi, dan harus dikeluarkan dari harta yang dibagikan kepada ahli waris. Karena waris haruslah harta murni si pewaris. Tidak tercampur!

Lalu bagaimana jika terjadi masalah ini?

Maka kita kembalikan ke hukum hibah itu sendiri. perlu diketahui bahwa rukun hibah itu ada 3:
[1] Al-'Aqidan (2 pelaku akad); Pemberi dan Penerima
[2] Al-Mauhub (barang yang dihibahkan)
[3] Shighoh Al-Hibah (redaksi Hibah); Ijab dan Qabul.

Dari ketiga rukun ini, masing-masing mempunyai syarat khusus (walaupun ulama tetap berbeda pendapat dalam syarat masing-masing rukun). Artinya rukun-rukun ini belum cukup sampai setiap rukun itu memenuhi syaratnya masing-masing.

Nah, yang erat hubungannya dengan pembahasan yang kita angkat kali ini ialah pembahasan tentang status barang tersebut, yaitu barang yang sudah dijanjikan akan diberi namun belum diserah-tangan-kan oleh si pemberi kepada si penerima.

Dalam hal ini ulama mulai mengkrucutkan pertanyaan menjadi; apakah syarat barang hibah itu, barang yang dijanjikan itu harus langsung diserah-tangan-kan? Mereka menyebutnya dengan istilah Al-Qabdh [القبض].

Atau hanya dengan janji saja, tanpa diberikan secara fisik serah terima tangan pun barang tersebut sudah menjadi milik si mauhub, karena sudah dikatakan dan sudah diterima oleh si orang yang dijanjikan itu (Ijab Qabul)?

Harus dengan Qabdh (serah terima barang)

Jumhur madzhab fiqih, Bahwa hibah itu berlaku dan sah ketika barang yang dijanjikan diberi itu harus sudah serah terima tangan (qabdh) oleh si penerima. (Al-Inshaf 1/147, Tuhfatul-Muhtaj 6/307)

Kalau Cuma akad ijab qabul, yaitu janji akan memberi kemudian di-iya-kan oleh si penerima, itu tidak bisa dikatakan hibah yang sah, dan barang belum bisa berpindah kepemilikan.

Dalil mereka adalah Ijma' Sahabat Nabi saw, bahwa mereka tidak mengenal adanya hibah kecuali memang jika harta yang dihibahkan itu sudah diserah-tangan-kan oleh si pemberi hibah kepada yang menerima (Qabdh).

Ini makin diperkuat dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Al-hakim dalam Al-Mustadrak­-nya, bahwa Nabi saw pernah mengatakan kepada Ummu Salamah:

"Aku menghadiahkan jubbah (penutub badan) kepada raja Najasyi, akan tetapi, belum sampai pemberianku, ia telah meninggalkan, lalu itu dikembalikan, maka jubbah itu untuk mu" (HR Al-Hakim)

Hadits ini memberikan penjelasan bahwa jika barang itu tidak diserah-tangan-kan oleh pemberi kepada si penerima, artinya penerima tidak mendapatkan itu, maka itu dikembalikan ke Nabi dan Nabi membaginya kepada Ummu Salamh. Kalau seandainya hanya dengan janji memberi itu barang menjadi milik orang yang dijanjikan, pastilah jubbah itu tidak akan kembali kepada Nabi, akan tetapi menjadi milik anak keturuna Najasyi.

Dalil Aqli

Mereka juga memakai qiyas dalam hal ini, yaitu; semua sepakat bahwa hibah itu adalah akad tabarru' (sukarela). Kalau hanya dengan janji (akad ijab qabul) barang hibah itu menjadi milik si penerima. Maka itu berarti si penerima di kemudian hari boleh menuntut si pemberi jika barang yang dijanjikan tak kunjung diterima.

Ini membingungkan dan aneh menurut para ahli fiqih, bagaimana bisa ada tuntutan dalam akad sukarela. Namanya saja sukarela (tabarru') ya tidak mungkin sesuatu yang sukarela dituntut.

Zaman Sekarang

Zaman sekarang mungkin agak sulit menggambarkan ini semua, karena banyak barang zaman sekarang yang sulit dipindah-tangan-kan dengan sebentar. Jadi bagaiaman jika ada seseorang ingin menghibahkan akan tetapi barang tersebut sulit untuk dipindah-tangan-kan?

Ulama juga mengatakan bahwa salah sayarat lainnya dalam barang mauhub (pemberian) ialah Mahuzan [محوزا], yang kalau dikonversi dalam bahasa Indonesia mungkin diistilahkan dengan "dikuasai". Jadi walaupun ia belum diberikan (qabdh), tapi barang tersebut sudah bisa dikuasi. Bagaimana?

Misalnya seperti rumah, barangnya memang tidak bisa dipindahkan, akan tetapi surat-suratnya sudha ada di tangan si penerima yang telah diserahkan oleh si pemberi. Atau juga seperti kendaraan, baik besar atau kecil.

Akta Notaris

Nah, ini juga penting. Bahwa akta notaris menjadi penting dalam hal ini agar menghindari perpecahan yang sekiranya akan terjadi nanti selepas pemberi meninggal dunia. Jika sudah dibuktikan bahwa si fulan telah memberika kepada si fulan denan bukti surat yang kuat dan punya kekuatan hukum, maka ini jauh lebih baik. Bahkan ada beberapa ulama yang mewajibkan itu demia terjadinya maslahat antara masing-masing pihak.

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger