Latest Post

Redaksi Niat Puasa, Memang Ada?

"Amal manusia itu tergantung kepada niatnya, dan manusia akan mendapat apa yang ia niatkan". Hadits ini disepakati kesahihannya bahwa benar-benar bersambung kepada Nabi s.a.w., dan dari hadits ini juga ulama menyimpulkan banyak hal. Ulama mengatakan dari hadits ini, Nabi s.a.w. memposisikan niat sebagai instrument penting dalam setiap amal orang muslim. Niat bukan hanya pelengkap lisan, atau juga dekorasi bibir, tapi punya posisinya yang sangat menentukan;

Secara automatically orang berfikir bahwa untuk mendapatkan pahala, pekerjaan itu juga harus diniatkan sebagai ibadah, dan kalau mau dapat pahala zuhur, maka berniat untuk shalat zuhur; karena seseorang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Dalam bahasa " ushul-Fiqh"-nya, ulama menyebut dengan istilah dalalat-Tanbih atau dalalat-al-Iqtidha'. Secara sederhana maksud istilah itu bahwa otak akan berfikir kepada itu secara otomatis.

Nah, dari hadits ini juga kemudian ulama menjelaskan bahwa niat itu punya 2 fungsi (wadzifah); pertama; "Membedakan antara ibadah dan kebiasaan", kedua; "Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain". Ini yang dijelaskan secara rinci oleh imam al-Suyuthi dalam al-Asybah wa An-Nadzoir, pada bab Qaidah "al-Umuru bi-Maqashidiha".

Fungsi pertama: Membedakan antara ibadah dan kebiasaan.

Kita punya kebiasaan yang teknisnya mirip sekali dengan ibadah yang memang sudah disyariatkan agama ini. Maka agar pekerjaan itu tidak dinilai sebagai kebiasaan semata yang tidak ada nilai pahalanya, niatkan itu sebagai ibadah. Contohnya; "Ngadem" di masjid, itu kebiasaan banyak orang, siapapun melakukannya, dari mulai mahasiswa yang mau ngaji, sampai supir taksi, juga jomblo yang tak henti memikirkan calon pujahaan hati. Tapi "ngadem" di masjid tidak berarti apa-apa kalau tidak diniatkan diawal untuk beri'tikaf di masjid.

Begitu juga, mandi pagi di hari Jumat. Itu kebiasaan semua orang. Tapi kalau tidak diniatkan sebagai ibadah sunnah mandi Jum'at, ya bersihnya dapat, bau badan hilang, juga dapat kesegaran, tapi sayang pahala tak mampu diraih karena niat yang terlewati. Atau juga sikat gigi setelah bangun tidur. Itu kebiasaan, tapi di lain sisi itu juga kesunahan yang dianjurkan oleh Nabi s.a.w., mengerjakannya bisa dapat pahala, jika sejak awal diniatkan untuk beribadah mengikuti sunnah Nabi s.a.w.

Fungsi kedua; Membedakan antara ibadah dengan ibadah yang lain yang punya teknis mirip.

Misalnya seseorang masuk masjid di subuh hari; ia shalat 2 rakaat, kemudian shalat lagi 2 rakaat, dan selanjutnya 2 rakaat lagi. 2 rakaat pertama sebagai tahiyatul masjid, 2 rakaat kedua sebagai qabliyah subuh dan 2 rakaat terakhir sebagai shalat subuh. Semua sama, lalu apa yang membedakan dan akhirnya pahala masing-masing ibadah tercapai serta gugur kewajibannya? Niat yang menjadi pembeda.

Ini yang kemudian ulama menyepakati adanya "Ta'yin" (spesifik i.e tertentu) dalam niat ibadah. Karena wajar sekali jika ada redaksi niat "ushalli fardha ..... dst". Ini ada untuk memenuhi syarat Ta'yin tersebut. Ushalli (saya niat shalat) Fardha, disebutkan karena memang shalat ada yang fardh ada juga yang sunnah. Ushalli fardha Zuhri, jenis shalat disebutkan karena memang shalat fardhu itu ada 5 jenisnya, maka ditentukan fardhu yang mana? Setelahnya ada "arba'ah rokaatin", untuk membedakan antara zuhur yang 2 rokaat, bagi musafir, dan yang sempurna bagi muslim. Setelah itu juga ditentukan, Imaman atau Ma'muman; syarat berjamaah itu si makmum harus berniat jadi makmum. Setelah Ada'an atau Qadha'an; apakah shalat itu di waktunya atau di luar waktunya? Harus juga ditentukan.

Kita tidak berbicara apakah harus dilafadzkan atau tidak? Itu sudah selesai saya bahasa sekian tahun lalu. Aslinya niat itu di hati, tapi jika sulit hati meniatkan, maka bantu dengan mulut. Dan ulama 4 madzhab sunnj muktamad tidak ada yang menyalahkan pelafadzan niat, memakruhkan iya. Tapi tidak menyalahkan apalagi sampai membidahkan. Tapi tetap, niat itu di hati. Dan ulama mengajarkan kita tentang niat ibadah yang mana harus Ta'yin. Maka itu ulama mengajarkan ini.

Nah. Begitu juga tentunya dalam redaksi niat puasa, khususnya Ramadhan dalam hal ini. Harus Ta'yin juga, di sampingnya memang syarat niat puasa Ramadhan bukan hanya Ta'yin, tapi juga ada 3 syarat lain;

"Jazm" (yakin),
"Tabyit" (dilakukan malam harinya), dan
"Tajdid" (re-new i.e terbaharui setiap hari).

Nawaitu shauma ghodin (Saya niat puasa untuk esok), 'an Adai Fardh (guna menjalankan kewajiban) jelas ini untuk membedakan antara puasa wajib dan sunnah. Ramadhan disebutkan karena puasa wajib bukan hanya Ramadhan, ada 3 lainnya; Qadha' Ramadhan, Puasa Nadzar, juga Puasa Kafarat, itu semua wajib, maka harus tentukan puasa wajib mana yang ingin dilakukan. Hadzihi al-Sanah (tahun ini) juga membedakan antara Ramadhan dari tahun ke tahun.

Redaksi niat puasa di atas yang saya jelaskan dan itu banyak dilakukan oleh orang-orang itu bukan kewajiban. Bukan. Sama sekali bukan. Tidak harus berniat seperti itu dengan redaksi yang begitu. Dengan redaksi dan bahasa apapun silahkan, tapi tetap ada keharusan Ta'yin (spesifik). Dengan bahasa apapun boleh saja. Ulama-ulama syafiiyah yang menuliskan redaksi itu pun tidak mewajibkan. Hanya saja mereka punya kewajiban mengajarkan, bahwa niat itu harus Ta'yin (spesifik), bentuk Ta'yin yang bagaimana, dan apa yang harus di-Ta'yin? Nah itu jawaban yang dijelaskan oleh ulama.

Mudah-mudahan penjelasan di atas bisa menjadi upaya untuk meminimalisir perdebatan yang mungkin terjadi karena masalah niat ini. Agar Ramadhan makin khusyu', perbanyak ilmu agar tidak mudah berseteru, jangan gampang menyalahkan padahal kebenaran yang ada pada kita juga belum tentu.

Wallahu a'lam.
 

Apa Yang Harus Dicontoh dari Nabi s.a.w.? ( #MaulidulRasul Bag. 3 )

Nabi s.a.w. pribadi yang komplit layak dicontoh, dan Nabi s.a.w. yang manusia, tentunya bisa untuk kita contoh (lihat postingan hari sebelumnya). Lalu apa yang harus kita contoh dari Nabi s.a.w di zaman kekinian?

 

Pertama dan yang paling utama, tentu ibadahnya. Karena memang orang yang paling taqwa dan paling dekat kepada Allah s.w.t. dari kalangan manusia ya Nabi Muhammad s.a.w., tidak ada lagi! Jadi tidak ada lagi contoh paling nyata untuk menjadikan diri dekat kepada Allah s.w.t. kecuali ya mengikuti Nabi kita ini.

 

Kalau ada orang yang bersih hatinya, itu Nabi. Kalau ada yang paling ikhlas niatnya, pasti Nabi. Kalau ada orang yang sudah diampuni dosanya, itu juga Nabi. Kalau ada orang yang sudah dipastikan masuk surga, itu pasti Nabi s.a.w., walalu demikian Nabi s.a.w. dalam sehari tidak pernah beristighfar (meminta ampun) kepada Allah s.w.t. kurang dari 70 kali. Dalam riwayat lain, tidak pernah kurang dari 100 kali.

 

Dosanya sudah diampuni, dipastikan masuk surga, dicintai khaliq, beliau yang memimpin para ahli surga, dan beliau yang membuka pintu surga. Tapi walau demikian, beliau kalau shalat malam, kakinya sampai bengkak. Padahal sudah pasti diampuni dan masuk surga, kok masih segitunya ibadah!?

 

Nabi s.a.w. ingin mengajarkan kita untuk tidak bergantung kepada siapapun, tapi hanya kepada Allah s.w.t.. Nabi juga ingin bilang kepada kita bahwa "Kita perlu Allah!". Siapapun kita, apapun kedudukan kita, sebesar apapun pangkat kita, sebanyak apa kebaikan yang sudah kita perbuat, seberapa banyak kekayaan kita, kita tetap butuh Allah s.w.t. Jangan gantungkan nasib, dan kehidupan ini kecuali hanya kepada Allah s.w.t.

 

Nabi pasti masuk surga, tapi kalau ibadah, total dan optimal. Kita bagaimana?

 

Karenanya, dalam shahih al-bukhari dari sahabat Jabir bin Abdullah, beliau –dengan kalimat perintah- menginstruksikan kepada kita untuk shalat 2 rokaat jika memang ada hajat yang diminta atau kegelisahan yang menimpa. Walaupun secara kebiasaan, kita punya segala sesuatu untuk menangani itu.

 

Karena semuanya tidak mungkin tidak, pasti semua dibawah kontrol Allah s.w.t. maka sebagai orang yang mengaku cinta dan patuh kepada Nabi s.a.w., siapa yang kita minta ketika punya hajat? Ketika ditimpa kegalauan, siapa yang kita ingat? Dan ketika mendapat rezeki, siapa yang kita angkat?

 

Haruskah Konsisten Pada Satu Madzhab?

Apakah harus berpegang pada satu mazhab? Ataukah boleh berpegang dengan banyak mazhab?
 Sekarang ini, kita sering dibingungkan dengan adanya perbedaan beberapa mazhab yang memang sudah eksis sedari dulu. Bahkan ada beberapa kasus kekerasan yg disebabkan oleh perbedaan mazhab tersebut. Apakah perbedaan mazhab sangatlah penting dalam melakukan ibadah? Sedangkan Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkan kita untuk berpegang kepada satu pendapat saja dari pendapat yang telah diberikan ulama. Bahkan para shahabat Rasulullah SAW dahulu pun tidak pernah diperintahkan oleh beliau untuk merujuk kepada pendapat salah satu dari sahabat bila mereka mendapatkan masalah agama.

Apakah dalam menjalankan syariat agama Islam kita harus menganut satu mazhab tertentu dengan konsisten? Bagaimana contoh pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari -hari?
Jawaban

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Perlu diperhatikan bahwa yang namanya madzhab itu ada sama sekali bukan untuk membuat kaum muslim kebingungan atau apapun itu namanya, yang seakan-akan bahwa madzhab itu adalah momok menakutkan dan pihak yang paling layak disalahkan terkait banyaknya perbedaan. Justru sebaliknya, adanya madzhab itu sebagai bentuk perhatian ulama yang memang para ahli ilmu syariah terkait kekhawatiran akan adanya penyelewangan dan pemahaman keliru bahkan sesat akan teks-teks syariah, baik itu al-Quran atau juga hadits. Hadirnya mereka itu memberikan jalur atau metode serta peta yang pasti dan tidak menyesatkan dalam hal memahami apa yang ada dalam teks-teks syariah tersebut; karena memang teks-teks syariah yang ada tidak mungkin bisa dipahami secara tektual saja, dan tidak hanya dengan terjemah letterleg saja.

Sayangnya, banyak pihak yang tumpul nalar serta pendek logika menganggap bahwa keberadaan madzhab itu tidak perlu dan merepotka serta membingungkan. Akhirnya mereka berani mencoba-coba menafsiri apa yang ada dalam al-Quran serta hadits dengan nalarnya yang terbatas dan pendek, tanpa perlu merujuk kepada ulama yang otoritatif dalam hal ini. akhirnya yang terjadi adalah penyelewangan serta penyesatan pemahan atas teks syariah tersebut. Dan anehnya mereka menisbatkan pendapat-pendapat keliru mereka kepada al-Quran dan hadits, seakan ingin mengatakan bahwa merekalah yang benar dan orang lain yang berbeda pendapat serta imam-imam madzhab lain itu salah. Hanya mereka yang paling mengerti al-Quran dan hadits, sedangkan selainnya nol dalam hal memahami al-Quran dan hadits. Kelompok seperti ini yang membuat atmosfer keislam menjadi kacau, lantaran ulama-ulama muktamad serta sumber ilmu syariah dikerdilkan oleh kebodohannya.

Perbedaan itu Ada!

Nah terkait adanya perbedaan bahkan banyaknya perbedaan yang ada dalam syariah ini, harus dipahami bahwa perbedaan itu ada karena memang teks-teks syariah baik itu al-Quran atau hadits memberi peluang untuk itu. Perbedaan yang ada bukan diada-adakan, atau dibuat-buat, tapi memang karena itu ada, nyata dan bukan rekayasa. Tidak perlu jauh-jauh, coba kita bukan al-Qur'an. Di ayat pertama kitab suci ini, kita sudah dapati perbedaan itu; "bismillah itu bagian dari al-fatihah atau bukan?". "Kalau iya, kenapa dalam banyak riwayat Nabi s.a.w. tidak membacanya? Dan kalau tidak, nyatanya banyak sahabat Nabi s.a.w. yang membaca itu ketika shalat. Dan itu tertulis sebagai ayat dalam mushaf-mushaf kita."

Dari sini, kita harus tahu, bahwa dalam teks-teks syariah itu ada istilah qath'iy dan dzanniy. Qath'iy adalah teks yang tidak mungkin di dalamnya ada perbedaan; karena memang teks tersebut tidak punya arti bersayap dan dilalah-nya pasti. Sedangkan dzanniy adalah teks syariah yang masih mengundang tanda tanya, dan juga perlu intrepertasi lebih dalam untuk memahaminya. Bisa jadi karena memang ada ayat atau hadits yang mempunyai kandungan makna berbeda padahal masih dalam satu masalah, atau bisa jadi teks tersebut bersayap, punya arti lebih dari satu makna. Nah di teks-teks dzanniy inilah para ulama fiqih bekerja, meneliti, menganalisa, lalu lahirnya madzhab-madzhab yang ada seperti sekarang ini. dan apa yang sudah mereka kerjakan bukanlah pekerjaan asal jadi, melainkan pekerjaan berat penuh tanggung jawab, bahkan sampai akhirat dengan metode yang tidak asal main-main. Maka dari sini, urgensi madzhab sepertinya sedikit sudah terlihat. Seandainya tanpa madzhab tersebut, bagaimana kita memahami teks-teks dzanniy tesebut?

Haruskan Bermadzhab?

Lalu kalau pertanyaan apakah kita harus mengikut madzhab dalam menjalankan syariat ini? jawabannya bisa haram alias tidak boleh dan terlarang, tapi bisa jadi wajib alias harus, tidak bisa tidak.

Dalam kitabnya, Raudhoh Al-Nadzir wa Junnah Al-Munadzir, di bab Taqlid, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620H) menyebutkan Ijma' (Konsensus) para sahabat bahwa seorang awam wajib taqlid (mengikuti) mujtahid atau madzhab. Sama sekali tidak diwajibkan seorang awam untuk mengetahui dalil, cukup bagi seorang awam untuk mengetahui hukum suatu masalah, dan menjalankan ibadah sesuai hukum yang ia ketahui walau tidak tahu dalil. Dan cukup baginya fatwa ulama yang ia ikuti, atau guru yang ia belajar kepadanya.

Sedangkan seorang mujtahid, yang memang mampu menganalisa serta menggali hukum langsung dari al-Qur'an dan hadits, ia diharamkan mengikuti sipapun itu. Yang dia harus lakukan adalahberijtihad; karena memang ia adalah ahli dalam hal itu.

Nah, tinggal di lihat dengan penuh kesadaran diri, kita masuk dalam kategori yang mana; awam kan atau mujtahid kan kita? Apakah bisa kita memahami teks-teks syariah yang ada tanpa melirik sedikitpun kepada pemaparan dan penjelasan ulama terdahulu? Seberapa baik kemampuan bahasa arab kita? Seberapa paham kita tentang maqasihd syariah? Kalau jauh dari itu semua, maka segera sadari, kita adalah awam yang hanya bisa mengikuti ulama madzhab agar selamat dalam beragama dan tidak keliru memahami al-Qur'an serta hadits Nabi s.a.w. yang suci. Karena memang pada dasarnya, mengikuti ulama-ulama madzhab tersebut itu sama juga mengikuti al-Qur'an dan hadits Nabi s.a.w.; karena memang mereka tidak mendatangkan hukum-hukum ysriah dari otak dan nafsu mereka, akan tetapi itu semua dari al-Qur'an dan hadist Nabi s.a.w..

Konsisten Satu Madzhab?

Pertanyaan lanjutannya, apakah harus konsisten dalam satu madzhab? Ini juga masalah yang memang menjadi bahan diskusi para ulama sejak dulu. Setidaknya ada 3 pendapat ulama dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu;

Pertama, pendapat konservatif dari kelompok ulama yang mewajibkan umat Islam untuk bermadzhb satu dan tidak boleh berpindah. Kedua, pendapat kebanyakan ulama yang membolehkan dan membebaskan umat untuk memilih madzhab mana saja yang ia suka dan boleh berpindah-pindah. Ketiga, pendapat yang lebih rinci; yakni jika seorang dalam hal shalat memakai pendapat madzhab al-Syafi'i, misalnya. Maka wajib ia konsisten dalam hal tersebut; artinya dalam shalat tidak boleh mengambil pendapat lain selain al-Syafi'iyyah. Sedangkan masalah selain shalat, boleh dengan madzhab lain.

Ketiga pendapat di atas punya nilai positif dan juga yang pastinya tidak lepas dari kekurangan di beberapa sisi. Pendapat pertama ini adalah pendapat beberapa ulama di masa-masa terbentuknya madzhab-madzhab fiqih yang ada. Bahwa bagi mereka yang tidak sampai pada derajat mujtahid, wajib baginya mengikuti madzhab, tidak boleh tidak. Pendapat ini berguna agar syariah dan agama ini tidak terkotori dan terkontaminasi oleh tangan dan mulut-mulut orang jahil yang punya kemampuan minim dalam hal syariah yang coba memahami teks syariah secara tekstual tanpa merujuk kepada ulama. Serta menghindari orang muslim dari berbuat dalam syariah ini sesuai nafsu dan kesukaannya saja. Serta menutup pintu untuk lahirnya fatwa-fatwa nyeleneh dari pihak-pihak yang tidak otoritatif.

Sisi negatifnya, pendapat ini mengekang orang sehingga tidak ada pilihan lain, padahal dalam kondisi-kondisi tertentu, seorang muslim bisa saja tidak bisa mengikuti pendapat madfzhab yang diikuti karena sebab dan udzur yang mengharuskannya beralih ke pendapat lain. Terlebih lagi bahwa mengikuti satu madzhab saja, tidak punya landasan argumen kuat dari teks syariah.

Pendapat kedua ini lebih moderat dan sepertinya memudahkan. Karena memang agama ini mewajibkan kita untuk mengikuti ahli ilmu; "bertanyalah kepada ahli ilmu" (al-nahl: 34) tapi dalam perintah-Nya tidak ada pengkhususan kepada ahli ilmu manapun. Jadi selama memang ia adalah seorang mujtahid, layak untuk diikuti, dan tidak harus selalu satu, bisa dan boleh seorang muslim beralih ke ahli ijtihad yang lain. Negatifnya, pendapat ini dikhawatirkan membuka pintu fatwa prematur yang dihasilkan oleh orang-orang yang tidak mampu. Karena sudah terbiasa pindah sana sini, ia beranggapan bahwa seperti tidak ada masalah kalau ia melahirkan pendapat baru, padahal dirinya bukan orang yang layak. Sedangkan pendapat ketiga ini sejatinya sama seperti pendapat pertama, hanya saja ada perkembangannya. Dan sisi kelemahan dari pendapat ini, sama seperti kelemahan pendapat pertama.

Bagi penulis, sebaiknya seorang muslim itu dalam beribadah, segala amalnya itu punya sandaran argumen yang kuat dan bukan mengada-ngada. Karenanya, tidak dibenarkan seorang muslim beribadah dan mengamalkan ajaran agama tanpa mendapat bimbingan seorang ahli agama yang bisa menjadi akses baginya menuju para mujtahid-mujtahid yang ada. Dengan bahasa yang lebih dekat "berguru kepada guru", bukan kepada buku, apalagi laman internet yang sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dengan bahasa lain madzhab awam itu madzhab gurunya. Jadi apapun yang diajarkan gurunya, itulah madzhab yang ia harus ikuti. Jangan sekali-kali mencoba untuk menafsirkan dan meneliti ayat serta hadits sendirian yang akhirnya justru menghinakan al-Qur'an itu sendiri bukan memuliakan, karena ditafsiri serampangan dengan nalar yang dangkal dan metode asal-asalan.

Wallahu a'lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
Ahmad Zarkasih, Lc.
 

Kenapa Allah s.w.t. Menjadikan Nabi s.a.w. Sebagai Contoh untuk Manusia? ( #MaulidulRasul Bag. 2 )

Selain karena Nabi Muhammad s.a.w. itu manusia, salah satu hikmah kenapa Nabi s.a.w. dijadikan contoh oleh Allah s.w.t. untuk manusia; karena memang Nabi s.a.w. adalah pribadi yang komplit dan multi. Personal yang dilihat dari segala aspek hebat, bukan hanya satu aspek. Siapapun kita, apapun beackground pendidikan serta profesi kita, semua ada dalam sosok Nabi Muhammad s.a.w..

Kalau kita adalah seorang guru, Nabi s.a.w. juga seorang pengajar. Bukankah beliau yang mengatakan itu sendiri, dalam sunan Ibn Majah dikatakan: "Innama Bu'itstu Mu'alliman"; Aku memang diutus untuk mengajar. Nabi s.a.w. diutus oleh Allah s.w.t. salah satu tugasnya memang mengajar Nabi s.a.w.

Sepanjang sejarah, Nabi s.a.w. tercatat sebagai pengajar dunia paling sukses. Beliau yang selama 23 tahun berhasil mereformasi bangsa biadab menjadi bang yang beradab. Beliau yang berhasil mereformasi bangsa bar-bar nan radikal menjadi bangsa yang penuh damai. Beliau juga yang merombak umat yang terpecah belah, menjadi umat yang bersatu. Beliau juga yang membebaskan mental bangsa yang membeda-bedakan antara hitam, putih, merdeka dan budak, menjadi bangsa yang adil tanpa diskriminasi.

Kalau kita adalah seorang tentara, Nabi s.a.w. juga memimpin perang. Beliau juga yang meracik strategi perang, dan hapir semua berujung kepada kemenangan. Luhurnya budi beliau, tidak menjadikan tawanan bagai binatang. Dan sama sekali kemenangan yang dihasilkan, tidak menjadikan beliau murka dan benci kepada lawan. Mereka tetap didakwahi dan dimanusiakan.

Kalau kita adalah seorang pengusaha, Nabi s.a.w. juga bergadang. Bahkan sejak umur 9 tahun, Nabi s.a.w. sudah melakukan ekpedisi dagang sampai ke negeri Syam (Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah). Artinya sejak kecil Nabi s.a.w. sudah menjadi pengusaha kelas Internasional. Dan sejak itu pula beliau s.a.w. mendapat gelar al-Amin dari seklilingnya. Muhammad lah pedagang yang jujur, memberitahu kepada pembeli berapa modal yang digunakan dan berapa nilai keuntungan yang ia ambil. Sampai akhirnya pengusaha Khadijad binti Khuwailid mengangkatnya sebagai profesional yang menjalankan bisnis lalu mempersuntingnya.

Kalau kita adalah pejabat atau politisi, Nabi s.a.w. juga memimpin negara. Beliau s.a.w. diplomat ulung yang bahkan sejak sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau yang berhasil mendiplomasi antar suku untuk tidak saling bertengkar. Kita pasti ingat cerita tentang rekonstruksi ka'bah yang membuat semua suku ingin mnejadi pihak yang memindahkan batu mulia "Hajar Aswad".

Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu masih berusia 35 tahun memberikan solusi dengan menggelar sebuah sorban lalu meletakkan batu mulia di atasnya, kemudian para kepala suku yang bersitegang memegang setiap sisi surban. Akhirnya semua menjadi pihak yang memindahkan batu mulia tersebut. Masalah selesai, aman, damai, ketegangan menghilang dan tanpa ada darah yang ditumpahkan.  

Beliau s.a.w. jugalah yang dengan kebijakan dan hikmahnya mempersaudarakan antara kaum Anshar di madinah dengan kaum muhajirin dari Mekah, padahal sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Kalau kita adalah orang tua, Nabi s.a.w. punya anak dan istri juga. Beliau pemimpin negara yang tahu bagaimana membangun romantisme dalam keluarga. Beliau juga yang mengajari kita bagaimana menjadi orang tua dan tetap bisa bermain bersama anak, cucu dan keluarga tanpa merepotkan kewibawaan seorang pemimpin negara.

Kalau kita seorang da'i, Nabi s.a.w. juga berdakwah. Beliau s.a.w. yang membuat semua orang yang didakwahi menyebut-nyebut namanya bahkan ribuan tahun setelah beliau wafat. Siapa yang dakwahnya bisa sesukses dakwah beliau?

Tanpa cacian, makian, hinaan, kebencian serta kebohongan, beliau s.a.w. menjadikan manusia berbondong-bondong masuk Islam (Afwajaa). Beliau mengajari para utusannya untuk berdakwah mulai dari hal dasar, tanpa menyusahkan dan menakuti-nakuti, tapi beri kabar gembira. Beliau juga yang marah ketika tahu ada salah seorang sahabat yang menyusahkan jemaah shalat karena terlalu lama membaca surat dalam shalat.

Ini pribadi yang komplik, multi, dari segala aspek hebat. Di masjid hebat, di pasar hebat, di rumah pun hebat, di medan perang hebat. Beliau benar-benar merepresentasikan "Uswah Hasanah". Apapun profesi kita, rugi kalau tidak mengikuti beliau s.a.w.

-allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad-
 

Kenapa Allah s.w.t. Menjadikan Nabi s.a.w. Sebagai Contoh untuk Manusia? ( #MaulidulRasul Bag. 1 )

Apa Hikmah Nabi Muhammad s.a.w. dijadikan contoh oleh Allah s.w.t untuk sekalian manusia?

Kalau ada orang yang memelihara ayam, lalu ayamnya dilatih untuk bisa berkicau seperti burung kenari, orang sekitarnya pasti akan bilang kalau ia orang gila. Pun kalau ada orang yang punya kucing, lalu diperintah agar bisa mengaung seperti singa, berarti orang itu tidak waras. Sama juga gilanya, jika ada instruktur gajah mengajari gajah bagaimana caranya memanjat pohon sepintar monyet.

Itu dia kenapa Allah s.w.t. menjadikan Nabi s.a.w. manusia; agar bisa diikuti oleh manusia! Manusia, ya memang mengikuti manusia. Bukan malaikat, bukan juga dewa. Ini sejalan dengan firman Allah s.w.t. dalam surat al-Isra ayat 95; "kalau saja di bumi itu yang hidup adalah malaikat, niscaya Allah turunkan satu malaikat sebagai Rasul bagi mereka".

 Maksudnya, agar mudah mengikuti siapa yang memang harus diikuti. Artinya memang tidak ada celah lagi bagi mereka yang menolak mengikuti Nabi s.a.w.; karena Nabi s.a.w. sama manusianya.

 Walau demikian, Nabi s.a.w. manusia yang tidak seperti manusia lainnya. Ulama menyebutnya dengan istilah "Basyarun Laa kal-Basyar", manusia memang tapi tidak seperti manusia biasa. Beliau s.a.w. punya keistimewaan yang mana itu menjadi ciri juga sebagai mu'jizat yang membuktikan kenabiannya.

Contohnya; dalam riwayat Imam Muslim dan juga al-Bukhari bahwa Nabi s.a.w. memang tidur, akan tetapi tidur hanya matanya saja. Hatinya tetap terjaga berdzikir. Berbeda dengan manusia biasa yang tidurnya total dan optimal dengan makna yang sebenarnya.

Nabi s.a.w. dalam banyak riwayat termasuk riwayat Imam Muslim, keringatnya itu wangi. Dan memang dijadikan wewangian bagi para sahabat yang lain. Bahkan –masih dalam riwayat Imam Muslim- salah seorang sahabat juga bertabarruk (mengambil berkah) dari air cucian baju Nabi s.a.w. sebagai penawar penyakit. Beliau s.a.w. juga pernah mengobati salah seorang sahabatnya dengan air bekas wudhunya, lalu diusapkan ke kepala sahabat yang sakit tersebut.

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi, disebutkan bahwa Nabi s.a.w. itu cahaya, karenanya tidak pernah sahabat siapapun itu yang melihat bayangan Nabi s.a.w., baik siang yang terpantul sinar mtahari. Atau juga malam karena pantulan sinar bulan. Tidak ada. Nabi s.a.w. tidak punya bayangan, karena memang beliau adalah cahaya itu sendiri.

Nabi s.a.w memang manusia, tapi bukan seperti manusia biasa. Sama seperti batu yang jadi mata cincin, sama-sama batu dengan batu koral juga batu bata, tapi batu cincin punya kualitas.

Pada intinya, Nabi s.a.w. –dengan segala kelebihannya- adalah manusia, dan kita diperintah untuk mengikuti manusia, bukan malaikat. Nabi s.a.w. bernafsu, sama seperti kita. Nabi s.a.w. bisa senang, begitu juga marah, sama seperti kita. Artinya kita bisa mengikuti Nabi s.a.w..

Karenanya, sejak diutus, Nabi s.a.w. selalu mengajari kita untuk menjadi manusia dalam segala hal, termasuk dalam ibadah. Pasti kita ingat, dalam shahih al-Bukhari diceritakan tentang 3 orang yang ber-tabattul, datang kepada Nabi s.a.w. lalu yang pertama mengatakan: "Rasul! Saya sepanjang malam, shalat dan beribadah tidak pernah tidur." Yang kedua juga mengatakan: "Rasul! Saya puasa sepanjang masa, tidak pernah berbuka!". Yan ketiga juga bilang: "Rasul! Saya membujang dan tidak akan pernah menikah!".

Mendengar itu Rasul s.a.w. menjawab: "aku adalah orang yang paling takwa, tapi aku juga tidur kalau malam, tidak melulu shalat. Aku juga puasa, tapi juga berbuka. Tidak setiap hari puasa. Aku juga menikah. Dan siapa yang menolak sunnahku, ia bukan dari golongan ku.!".

Bersambung .... 
 

Qabliyah Jumat, Emang Ada?

Perkara qabliyah jumat ini sejak lama sudah ada perselisihan pendapatnya, yakni antara jumhur ulama dengan madzhab imam Ahmad bin Hanbal. Jumhur merujuk kepada beberapa teks yang menginformasikan itu, bahwa Nabi s.a.w. dan sahabat melakukan qabliyah. Imam Ahmad memahami itu berbeda, apa yang dikerjakan bukan qabliyah jumat, akan tetapi itu adalah shalat sunnah zawal.

Selain berbeda dalam memahami teks yang ada, jumhur dan madzhab al-hanabilah juga berbeda dalam memahami jumat itu sendiri. Bagi jumhur, jumat itu pengganti zuhur dengan bukti bahwa jika orang tertinggal jumat, entah itu sakit, tertidur atau karena memang ia orang yang bukan wajib jumatan, mereka wajib shalat zuhur.

Terlebih lagi bahwa waktu jumat pun waktunya sama seperti zuhur, yakni ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat (zawal). Maka hukum yang ada pada zuhur, berlaku juga (walau tidak semua) untuk jumatan. Salah satunya ialah adanya qabliyah itu sendiri.

Imam Ahmad melihat berbeda, jumat bukan zuhur. Zuhur tidak disyaratkan berjamaah, dan jumat ada syarat berjamaah yang tidak boleh tidak. Diperkuat lagi bahwa waktu jumat itu bukan waktu zuhur, tapi waktu zuhur itu mulainya waktu dhuha. Dan banyak teks syariah yang menunjukkan itu. 

Pandangan ini juga berimbas pada hukum-hukum lainnya, seperti bolehnya menjama (jama' taqdim) jumat dengan ashar dalam pandangan jumhur. Akan tetapi tidak ada kebolehan menjama' jumat dengan ashar dalam pandangan al-Hanabilah. Tidak ada alasan menjamak jumat dengan ashar.

Kesimpulannya memang masalah qabliyah jumat ini masalah yang sejak awalnya sudah tidak disepakati. Mau ditarik ke kanan atau ke kiri sama saja, tidak ada yang keluar sebagai pemenang. Maka santai saja dalam menyikapi ini. tidak perlu ada yang saling menyalahkan apalagi sampai menghina.

Kita lihat, diantara 4 imam madzhab lainnya, beliau hidup di masa yang terakhir. Beliau hidup, Imam Abu Hanifah sudah wafat, Imam Malik juga sudah dikubur, dan Imam Syafi'i juga sudah lebih banyak pengikutnya. Artinya Imam Ahmad hidup di masa di mana pendapat bahwa adanya qabliyah jumat itu sudah establish dan diketahui secara umum oleh masyarakat. Tapi tidak pernah ada kata dari Imam Ahmad bahwa shalat qabliyah jumat itu bid'ah yang terlarang dilaksanakan dan yang mengerjakannya mendapatkan dosa. Tidak ada. Kita tidak pernah temukan itu.

Dan ulama-ulama dari kalangan jumhur pun begitu ramah. Kita tidak mendapati mereka dalam kitab-kitab mulia mereka menyalahkan Imam Ahmad dan ulama Hanabilah karena tidak memasukkan qabliyah jumat sebagai sunnah jumat. Tidak ada. Tak sekalipun kita dapati mereka menghina dan menyalahkan satu sama lainnya.

Maka, yang qabliyah ya monggo. Yang tidak suka itu juga tidak masalah. Agama ini membolehkan adanya perbedaan, tapi agama ini tidak merestui adanya permusuhan dan kebencian. –wallahu a'lam-
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger