Latest Post

Syubhat = Haram, Benarkah?

Dalam beberapa kajian, saya sering kali ditanya perihal syubhat. Dan yang saya termukan banyak sekali yang menyamakan syubhat dengan haram. Artinya kalau ada perkara syubhat, berarti itu perkara haram. Orang yang melakukannya berdosa. Tapi nyatanya tidak sesimpel itu.  

Wajar saja memang kalau ada yang berpendapat seperti itu, karena memang ada potongan hadits Nabi saw yang menjelaskan itu:

ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام
"siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram" (HR Bukhori dan Muslim)

secara tekstual, potongan hadits ini punya makna bahwa yang Syubhat itu sama saja haram, dan yang melakukan Syubhat berarti melakukan yang haram, karena itu pasti berdosa, padahal bukan seperti itu juga maksud haditsnya. Kalau dibuka haditsnya secara lengkap akan ada makna lain.

إنَّ الْحَلالَ بيِّن، وإنَّ الْحَرَامَ بَيِّن. وبينهما أمور مُشْتَبهاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس، فَمَنِ اتَقى الشبهات استبرأ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام، كَالرَّاعي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ.
ألا وَإنً لِكلٌ مَلِكٍ حِمىً، ألا وإن حِمَى الله مَحَارِمُهِ. ألا وَإنَّ في الجسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحت صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُه ألا وَهِي القلب".
"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samara-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Barang siapa yang menghindari perkara samara-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati."

**Halal, Haram dan Syubhat**

Dalam hadits ini, secara jelas Nabi saw menerangkan bahwa suatu perkara itu ada 3 jenisnya; Halal, Haram dan Syubhat. Yang halal jelas karena memang berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perkara ini halal dan sulit dibantah kehalalalnnya, seperti makan, minum, berjalan, tidur dan sebagainya yang memang jelas kehalalannya.

Ada juga perkara yang haram karena memang jelas dalil keharamannya dan sulit sekali bahkan tidak bisa dibantah, seperti keharaman mencuri, berzina, riba, minum khomr dan sebagainya yang memang benar-benar jelas keharamannya.

Dan jenis ketiga yaitu Syubhat. Yaitu perkara yang memang masih dalam ranah ketidak jelasan antara halal atau haram. Tidak bisa dikatakan halal, karena berbau haram, namun tidak bisa juga disebut haram karena ketidakjelasan atau tidak ditemukan dalil pengharamannya.

Sampai sini jelas bahwa Syubhat bukanlah perkara haram. Kalau memang itu haram, lalu buat apa Nabi saw membaginya menjadi 3 jenis? Kenapa Nabi saw tidak langsung saja mengatakan bahwa "..Syubhat itu bagian dari haram..".

Dan pembagian Nabi saw atas perkara itu menunjukkan bahwa setiap bagian itu tidaklah sama dengan bagian yang lain. Pembagian itu mengindikasikan perbedaan masing-masing bagian.

**Syubhat itu Relatif**

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/27), beliau mengatakan bahwa perkara syubhat itu ialah perkara yang relatif. Bisa jadi Syubhat untuk seseorang dan bisa jadi jelas, tidak Syubhat bagi yang lain.

Dalam teks hadits juga disebutkan [لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس] "Sedangkan di antaranya ada perkara yang samar-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya…."

Teks hadits tersebut menurut Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa perkara syubhat itu untuk orang awam yang memang tidak mengetahui hukum agama. Sedangkan bagi ulama, perkara syubhat itu nyaris tidak ada, karena seorang ulama tahu bagaimana mengambil sebuah kesimpulan hukum pada sesuatu yang baru dengan Qiyas, Istishhab atau sumber hukum lainnya. Jadi perkara yang awalnya Syubhat menjadi tidak samar-samar lagi karena kedalaman ilmu agama yang beliau-beliau kuasai.

Ini berarti bahwa perkara Syubhat itu hanya perkara temporer yang bisa saja hilang. Seseorang ketika baru saja berhadapan dengan sebuah perkara yang samar-samar dan ia tidak tahu apa hukumnya, ini menjadi Syubhat.

Tapi ketika ia mulai belajar atau meminta petunjuk dari seorang ulama atas hukum perkara tersebut, yang awalnya samar-samar menjadi tidak rancu lagi dan hilang ke-syubhat-annya karena ia telah mengetahui hukumnya, entah itu jadi yang haram atau jadi yang halal. Jadi memang Syubhat itu tidak baku dan bisa hilang.

**Yang Melakukan Syubhat = Melakukan Keharaman?**

Sedangkan makna potongan hadits [وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام]"…siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram…"  ini mempunyai 2 kemungkinan (ihtimal) makna sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/29);

Makna pertama: ia melakukan yang Syubhat itu secara terus menerus karena menyepelekan dan meremehkan yang sampai akhirnya ia melakukan yang haram tanpa ia sadari karena terlalu meremehkan.

Atau bisa jadi artinya di Makna kedua ini, yaitu; ia terbiasa menggampangkan sesuatu yang Syuhbat. Kalau sudah terbiasa melakukan yang Syubhat, ia akan terus melakukan Syubha-Syubhat yang lain yang lebih besar lagi.

Dan sifatnya yang menggampangkan ini, membuat setan lebih mudah untuk menggodanya dan akhirnya ia juga akan terbiasa melakukan yang haram tanpa ada rasa bersalah dan malu. Karena sudah berani melakukan yang Syubhat, yang harampun menjadi biasa dan tidak risih lagi untuk melakukannya.

Jadi syubhatnya itu menjadi jembatan ia untuk menuju yang haram. Sebagaimana yang banyak dikatakan oleh para ahli hikmah, bahwa maksiat adalah jembatan kekufuran. Banyaknya maksiat bukan tidak mungkin bisa membuat ia menjadi kafir. Artinya entengnya berbuat maksiat, sampai ia tidak merasa risih untuk melakukan sesuatu yang nyatanya mengeluarkannya dari iman.

**Imam Shan'aniy di Subulusalam**

Imam Shon'aniy dalam kitabnya Subulus-Salam (4/171), menjelaskan makna potongan hadits ini juga. Beliau mengatakan bahwa orang yang melakukan Syubhat biasanya sangat dekat dengan keharaman. Ibaratnya Syubhat itu jembatan menuju perkara yang haram, sebagaimana yang dijelaskan dengan teks hadits selanjutnya.

"Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya."

Logikanya, kalau sesorang berani melakukan yang Syubhat, bukan tidak mungkin dan sangat mungkin sekali ia berani melakukan yang haram. Karena bagaimanapun setan terus saja menggoda manusia dan membuatnya meremehkan sesuatu yang haram sebagaimana ia meremehkan sesuatu yang Syubhat.

**Meninggalkan Syubhat Melembutkan Hati**

Sebenarnya perkara Syubhat ini lebih dekat ke perkara hati sebagai benteng iman dalam melakukan segala hal, seberapa berani kah diri ini melakukan sesuatu yang memang meragukan kehalalannya walaupun tidak ada dalil yang jelas atas keharamannya. Ujung-ujungnya melatih diri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak terlebih pada masalah syariah.

Di ujung hadits ini dijelaskan bagaimana kerasnya hati kita jika terus menerus berani melakukan perkara yang samar-samar hukumnya. Dengan terus menerus menahan diri bersikap Waro' dan tidak menenggelamkan diri ke dalam sesuatu yang masih sangat rancu, itu semakin memupuk kekuatan iman dalam diri.

Kita bukan tidak tahu bagaimana ulama-ulama salaf kita sangat takut sekali dengan perkara yang Syubhat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menolak untuk memakan daging selama beberapa tahun karena tahu kambing tetangganya hilang. Beliau khawatir kalau makan daging itu daging dari kambing tetangganya yang hilang.

Wallahu A'lam
 

Makan / Minum dari Piringnya Non-Muslim, Halalkah?

Ketika memberikan kajian tentang thaharah dan sub pembahasannya yang di dalamnya ada pembahasan najis, mau tidak mau pasti membahas tentang pembagian najis dan cara mensucikannya. Pembagian ini, oleh kebanyakan ulama (syafiyyah khususnya) dibagi menjadi 3 jenis; mukhaffafah (ringan), Mutawasithah (sedang), mughalladzoh (berat).

*Cara Mensucikan Benda Yang Terkena Najis*

Najis mukhaffafah, cara pensuciannya cukup dipercikkan saja airnya, atau diusap; karena memang begitu bunyi wahyunya. Dan perlu diingat bahwa perkara thaharah ini adalah perkara wahyu, bukan logika. Walaupun terlihat masih tersisa najisnya, kalau wahyunya bilang itu sudah suci, ya terhitung suci.

Najis mutawasithah, cara pensuciannya mesti dihilangkan sifat najis tersebut; baunya, warnanya, dan rasanya. Intinya benda atau anggota tubuh yang terkena najis tersebut sudha steril dari bekas najis tersebut.

Najis mughaladzoh, cara pensuciannya mesti dengan 7 kali bilasan air, dan salah satunya dengan tanah. Yaitu najis anjing dan babi (menurut al-Syafiiyah), atau air liurnya menurut madzhab Imam Malik. Jadi walaupun dengan satu bilasan sudah terlihat bersih, itu tidak bisa dikatakan sudah suci. Itu bisa dikategorikan suci kalau memang sudah memenuhi birokrasi pensucian najis besar; yaitu dengan 7 kali bilasan dan salah satunya dengan air.  

Artinya kalau ada bejana atau wadah apapun itu yang tersentuh atau terjilat anjing dan babi, atau juga bekas dipakai untuk menjadi wadah daging anjing serta babi, mensucikannya harus dengan 7 kali bilasan dan salah satu bilasannya dengan air.

*Makan/Minum dari Wadahnya Non-Muslim*

Kemudian timbul banyak pertanyaan (sebagaimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya dalam kajian-kajian), yaitu perihal memakan makanan di rumahorang non-muslim yang mengkonsumsi makanan yang terlarang dalam syariah-nya orang muslim, seperti babi dan anjing atau juga alcohol.

Di tengah masyarakat yang heterogen seperti ini, sudah bukan sesuatu yang tabu lagi bahwa kita (muslim) pasti ada saja kesempatan berkunjung ke rumah non-muslim. Seperti pesta pernikahan misalnya, atau juga urusan pekerjaan (bos mengundang makan di rumahnya) dan banyak lagi modelnya.

Nah, apakah boleh memakan makanan dari piring mereka, sedangkan kita ragu mungkin saja piring itu bekas gading babi atau anjing. Kalaupun sudah dicuci, pasti cara mencucinya tidak sesuai syariah; 7 kali bilasan + tanah. Itu berarti wadah tersebut masih najis, dan terkena makanan yang ada di atasnya menjadi najis pula. Pertanyaan ini selalu muncul.

*Keyakinan Vs Keragu-raguan*

Yang perlu diperhatikan dalam hukum syariah, sesuatu yang nyata dan jelas terlihat itu menjadi sesuatu yang meyakinkan. Dan sesuatu yang statusnya meyakinkan, tidak bisa dirubah hukumnya dengan sesuatu yang masih samar dan tidak jelas, apalagi belum terlihat dan tidak ada nyatanya.

Maka perlu dilihat, sajian yang kita makan itu, apakah halal atau tidak? kalau itu makanan yang memang hukumnya halal (bukan daging anjing, babi atau alcohol) dan bukan haram, tentu tidak masalah. itu poin pertama.

Kemudian yang kedua, wadah yang digunakan, apakah wadah itu halal, tidak kotor, Ada najisnya, atau memang bersih dan steril dari benda-benda najis seperti darah, Khamr, dan benda najis lainnya. Kalau steril, tentu menjadi tidak masalah.

Dari 2 poin si atas, makanan yang ada depan mata kita itu ternyata hukum halal; makanannya halal, wadahnya pun halal. Itu yang nyata terlihat dan meyakinkan statusnya.

Kemudia timbul keraguan; "wadah ini bekas dipakai makan daging anjing atau babi, dan dicuci dengan tidak sesuai tuntunan syariah muslim. Kalau begitu ini status najis, karena najis maka tidak halal dimakan."

Tapi sayangnya, paragraph di atas itu hanya timbul di hayalan saja. Itu praduga yang kebenaran tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dari pernyataan yang aslinya duga-duga itu muncul banyak ihtimal (spekulasi kemungkinan) yang bisa menjatuhkan duga-duga itu.

Si non-muslim itu tidak hanya punya piring satu, di dapurnya banyak piring yang mungkin saja piring bekas daging babi/anjing bukan yang ada di hadapan kita ini.

Atau bisa saja, piring yang dipakai itu ialah piring sewaan untuk memenuhi kebutuhan piring guna melayani tamu yang datang. artinya bahwa duga-duga itu tidak kuat, apalagi kalau si tuan rumah sudah mengatakan bahwa ia memisahkan wadah untuk daging anjing/babi dna untuk selainnya.

Apalagi kita di Indonesia, pengetahuan soal najisnya anjing babi itu bukan hanya diketahui oleh muslim saja, semua orang di Indonesia ini tahu sampai orang non-muslimnya. Mereka sudah terbiasa hidup di lingkuna mayoritas muslim, sehingga ketika menggelar acara yang mengundang muslim di dalamnya, mestilah mereka memperhatikan etika itu, dengan tidak mencampur adukan daging halal dan haram (versi syariah Islam).

Artinya duga-duga itu tidak bisa merubah hukum yang sudah nyata ada di depan mata, yaitu halal dan boleh, karena makanannya makanan halal, dan wadahnya pun bersih serta halal.

Kecuali jika si tuan rumah secara terang-terangan bahwa piring yang ada di hadapan kita itu adalah piring bekas santapan daging anjing dan babi. Maka statusnya pun menjadi haram untuk digunakan karena itu adalah najis. Itu kalau jelas ada pernyataan seperti itu.

So. Hukum haruslah didasarkan pada sesuatu jelas dan tidak mengandung ihtimal (kemungkinan-kemungkinan). Dan sesuatu yang meragukan, tidak bisa merubah status hukum yang sudah jelas dan meyakinkan.

Wallahu a'lam
 

Shalat Gerhana Bulan Tidak Dilakukan Ketika Matahari Masih Ada

Perlu diingat bahwa yang besok terjadi –sesuai prakiraan BMKG- adalah gerhana Bulan, bukan gerhana matahari. Jelas berbeda gerhana bulan dan matahari; Gerhana matahari adalah ketika sinar matahri hilang –baik separuh atau semuanya- karena terhalang oleh bulan yang berpoisisi antara matahari dan bumi. Sedang gerhana Bulan ialah hilangnya sinar bulan pada malam hari akibat terhalang oleh bayangan matahari yang disebabkan karena posisi bulan berada di balik bumi dan matahari.

Dalam fiqih pun penyebutan gerhana matahari dan gerhana bulan dibedakan; gerhana Matahari disebut dengan istilah "kusuf" [كسوف], sedangkan gerhana bulan disebut dengan istilah "Khusuf" [خسوف]; dengan huruf "kha'".

Secara teknis memang tidak dibedakan antara gerhana bulan dan matahari, artinya teknis pelaksanaanya sama saja. Akan tetapi yang membedakan keduanya ialah waktu pelaksaan. Ulama punya ketentuan, kapan shalat gerhana bulan atau matahari boleh dilakukan dan kapan tidak boleh.


Sesuai data yang dikeluarkan oleh BMKG (lihat gambar) di bmkg [dot] go [dot] id pada hari ini (7/10/2014), gerhana bulan sudah mulai sejak pukul 15.14 WIB, dan gerhana sebagian mulai di pukul 16.14 dan seterusnya (lihat gambar untuk detail-nya). artinya bahwa gerhana bulan esok hari sudah mulai sejak sore dan matahari masih ada jauh di atas ufuk, dengan kata lain belum terbenam dan bumi (Indonesia bagian barat) masih tersinari matahari ketika itu.

**2 Waktu Terlarang Shalat Gerhana Bulan**

Nah, walaupun sudah mulai gerhana bulan, muslim terlarang melakukan shalat selama masih ada matahari. Ini sebagaimana diterangkan dalam "mausu'ah Fiqhiyah Kuwait" (27/254), bahwa shalat gerhana tidak bisa dilakukan dalam 2 waktu;

[1] Ketika gerhana selesai total,
[2] ketika matahari (masih) terbit.

Pernyataan ini dikutip dari beberapa kitab fiqih, di antaranya; kitab "Raudhah al-Thalibin" (2/87) karya Imam al-Nawawi, kitab "Asna al-Mathalib" (1/287) karya Imam Zakariya al-Anshari, serta  dalam kitab al-Mughni (2/427) karya Imam Ibnu Qudamah.

**Lakulan Shalat Gerhana Bulan Setelah Terbenam Matahari**

Jadi, jika memang ingin melakukan shalat sunnah gerhana bulan, mesti menunggu sampai matahari terbenam, sehingga gerhana bulan itu benar terlihat dan terasa pengaruhnya. Toh gerhana bulan kali ini waktunya panjang, sampai sekitar pukul 20.35 WIB (lihat gambar).

Karena memang salah satu hikmah kenapa disunnahkan shalat gerhana itu sebagai pengharapan kepada Allah swt agar mengembelikan sinarnya, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (2/427):

إنَّمَا سُنَّتْ رَغْبَةً إلَى اللَّهِ فِي رَدِّهَا , فَإِذَا حَصَلَ ذَلِكَ حَصَلَ مَقْصُودُ الصَّلاةِ
"karena shalat gerhana disunnahkan sebagai pengharapan kepada Allah untuk mengembalikan cahayanya. Kalau cahayanya sudah ada, maka sudah tercapai tujuannya."

Dan gerhana bulan esok (8/10/14) itu terjadi sedang bumi masih tersinari matahari, dan sinar bulan tidak berpengaruh apa-apa, karena memang matahari masih ada.

Begitu juga pada gerhana matahari. Shalat sunnahnya juga tidak bisa dilakukan pada 2 waktu; (ini disebutkan di dalam kitab yang sama dan halaman yang sama sebagaimana disebutkan di atas)

[1] ketika gerhana selesai total,
[2] Ketika Matahari terbenam.

Ketika matahari sudah terbenam, walaupun statusnya gerhana, shalat gerhana matahari sudah tidak bisa lagi dilaksanakan, karena manfaat sinar matahari pun sudah tidak dirasakan lagi ketika ia sudah terbenam, jadi statusnya gerhana atau tidak, ketika sudah terbenam, sudah tidak bisa lagi dilaksanakan. (Nihayah al-Muhtaj 2/410).

Wallahu a'lam
 

Pelihara Anjing, Boleh Ngga?

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi ta'ala wa barakaatuh yaa ustadz,

Dulu, saat awal punya rumah. kami rawat untuk jadi penjaga rumah. Anjing itu sepertinya jenis kampung dan labrador retriever (jenis anjing pemburu). Dia kami tempatkan di dalam rumah dg tempat tersendiri sehingga tidak berkeliaran.

Saya mau tanya, bagaimana hukumnya kami membeli anjing tsb dan memeliharanya, yaa ustadz?? Krn sungguh kl kami harus membuatnya keluar dari tempat tinggal kami, pastilah dia sengsara. Kemampuan bertahan hidup beradaptasi anjing jauh lebih rendah drpd kucing. Sudah beberapa kali ia juga mencegah pencuri masuk dan jd alarm kebakaran dirumah tetangga.

Mohon jawaban dan penjelasannya yaa ustadz. Syukron


Alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh.

kalo ngomongin anjing di lingkungan muslim Indonesia memang agak cangung, mau membolehkan pasti ditentang. kalau kita katakan terlarang juga berarti namanya menyembunyikan ilmu, karena memang beberapa ulama membolehkan, walaupun posisinya minoritas.

Jadi hukum asal memelihara anjing itu -menurut jumhur ulama selain madzhab al-Maliki- terlarang alias tidak boleh kecuali dengan 3 syarat; untuk menjaga rumah, menjaga ladang, dan berburu. selain 3 tujuan ini, tidak diperkenankan.

Kalau Imam malik memandang berbeda, bahwa memelihara anjing kalau bukan untuk 3 tujuan di atas hukumnya tidak sampai haram, hanya makruh saja. akan tetapi semua ulama sejagad ini sepakat keharamannya menempatkan anjing di dalam rumah berkeliaran dan bergaul bahkan sampai tidur bareng, nonto tipi bareng dengan pemilik. Jadi bolehnya, dia ditempatkan di tempat yang sekiranya kita terjaga dari najis air liur nya.

Apalagi orang syafiiyah, bukan cuma air lirunya, bulunya pun najis. bahkan najis berat yang kudu dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah. selain itu juga karena memang ada hadits yang menceritakan bahwa Jibril menolak masuk rumah Nabi karena kedapatan ada anjing yang masuk entah dari mana. nah dari sini beberapa orang sangat strick sekali bahwa anjing tidak boleh masuk rumah.

Selain itu juga, -terkait pemeliharaan- karena memang ada beberapa hadits yang secara tegas dan eksplisit mengharamkan memelihara anjing denagn pengecuali beberapa kondisi yang telah disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتُقِصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطٌ .
Dari Abi Hurairah rahiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berjaga, berburu atau bertani, akan dikurangi pahalanya setiap hari satu qirath. (HR. Bukhari dan Muslim)

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW,bersabda"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan bertani, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Jumhur ulama mengharamkan kita memelihara anjing apabila diletakkan di dalam rumah, tanpa udzur yang syar'i. Dan para ulama menyebutkan bahwa hajat atau kebutuhan yang mendasarkan itu adalah untuk kepentingan ash-shaid (الصيد) atau berburu dan untuk kepentingan berjaga atau al-hirasah (الحراسة)

itu soal memeliharanya, dan masalah mas ------- sekeluarga sepertinya tidak termasuk dalam larangan karena memang anjing itu ditempatkan sebagai penjaga. hanya saja kandannya jangan sampe nyampur. Kalau memang bercampur dengan keluarga sebaiknya dipisahkan sampai jarak suci terlihat jelas. artinya area mana yang anjing itu bisa akses sehingg kita mesti hati2.

nah. kemudian soal jual beli itu tadi. jual beli anjing juga menjadi permasalahan. Kalau kita merujuka kepada klasik fiqih syafii, ya jelas sekali itu diharamkan. mutlak haram karena memang ada hadits yang mengharamkan "mahr" (harga) anjing itu.

berbeda dengan pandangan ImamMalik dan Imam Abu Hanifah (jujur, terkait muamalat, jual beli dan sejenisnya saya lebih prefer ke pendapat2nya Imam Abu Hanifah) itu boleh2 aja. kenapa dibolehkan? syarat jual beli itu kan barangnya bermanfaat, dan kemanfaatannya halal. dan ada beberapa manfaat yang dihasilkan anjing dan itu manfaat buat manusia; berjaga dan berburu. jadi jual beli anjign juga halal saja.

jadi memang dalam masalah jual beli, dilihat siapa pembeli dan apa motivasinya? kalau diharamkan secara mutlak tentu itu memberatkan beberapa pihak yang memang membutuhkan anjing seperti petugas keamanan atau memang orang2 seperti mas ------ yang butuh penjagaan.

saya kagum dengan apa yang disebutkan mas ------ tadi, iba dengan anjing. ya. apapun itu, anjing juga makhluk Allah yang kita diperinthakan untuk selalu menyebar sayang buat makhluk selama tidak menimbulkan mudharat.

dulu, Nabi pernah cerita bahwa ada orang yang diampuni dosanya karena melihat anjing yang kehausan lalu beliau mencari air utnuk anjing aitu. bukan cuma itu, ada wanita pezina yang masuk surga gara2 ngasi minum anjing yang kelaparan. jadi yaa bisa disimpulakn sendiri.

hewan najis -kalo kata org2 Indonesia anjing itu kan najis- bukan berarti harus dibasmi.

jadi tetap sayang binatang, hanya mesti jelas batas2 akses sehinggu hukum syariat seperti kenajisan dan kehalalan tetap terjaga.

-wallahu a'lam-
 

Kufu', Apakah Syarat Sah Nikah?

Dulu, ketika Islam belum masuk dan merambah ke dalam struktur tradisi bangsa Arab, mereka terkenal sebagai bangsa yang punya tatanan sosial yang buruk. Bahkan sangat buruk. Beberapa peristiwa sudah banyak direkam sejarah tentang semrawutnya –bahkan bisa dibilang kejam- tatanan sosial yang ada.

 Mereka membuat pemisah antara budak dan orang merdeka, mereka juga punya struktur suku terhormat untuk menbuat klasifikasi kelas suku, mana suku terhormat dan mana suku rendahan. Sehingga terjadi jurang pemisah yang sangat jauh sekali. Orang dengan suku terpandang bergaul dengan yang terpandang pula, sedang mereka yang berasal dari suku pinggiran, amat sangat tidak layak mereka duduk bersama orang-orang dari suku terhormat.

Lebih buruk lagi, mereka juga punya kebiasaan membunuh anak perempuan hidup-hidup; dengan alasan anak wanita tidak berguna. Mereka lebih bangga ketika melahirkan anak laki-laki dibanding melahirkan anak wanita yang akhirnya berujung ejekan serta tekanan sosial dari orang sekitar.

Namun, ketika Islam datang, semua diferensiasi suku serta status sosial itu sedikit demi sedikit dihapus. Nabi Muhammad datang dengan ajaran revolusi sosial yang tidak membedakan orang dari suku terhormat atau tidak. Islam tidak hanya menerima amal dari mereka keturunan raja, tapi justru Islam memutus jurang pemisah itu.

Salah satu buktinya bahwa Islam datang dengan konsep menghapus perbudakan. Langkah nyatanya, banyak beberapa syariat yang pelanggarnya –jika melanggar- disanksi membebaskan budak menjadi manusia yang merdeka. Ini bukti perhatian Islam yang sangat besar. Malah setiap Kafarat, pasti pilihan pertama itu adalah membebaskan budak.

Banyak hadits yang secara eksplisit menyindir bahwa tidak ada utamanya Arab dan non-Arab, atau suka A lebih mulia dari suku B. semuanya sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaan. Makin tinggi tanqwanya, ialah yang mulia di sisi Allah swt.

"sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa" (al-Hujurat: 13)

Kafaah, Antara Zohiriyah dan Jumhur

Lalu yang sering menjadi pertanyaan adalah, kenapa para ulama mensyaratkan adanya Kufu atau Kafa'ah (kesepadanan) dalam pernikahan? Bukankah itu justru membuat Islam kembali seperti Jahiliyah, yang membeda-bedakan orang dengan sisi keduaniaan?

Kafaah [كفاءة] atau kufu' [كفء] secara etimologi adalah persamaan atau bisa diartikan juga dengan makna sepadan. Maksudnya persamaan antara kedua pasangan dalam hal starta dan status. Menurut istilah ulama fiqih-pun tidak berbeda artinya dengan makna bahasa; yaitu "kesepadanan antara kedua pasangan sebagai bentuk pencegahan kecacatan dari beberapa aspek". [1]    

Kemudian, kalau pertanyaan apakah kafa'ah ini harus dan menjadi salah satu perhitungan atau syarat dalam menentukan pasangan atau tidak?

Jumhur ulama 4 madzhab (al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyah dan al-Hanabilah) mengatakan YA, kafaah adalah bagian dari syarat nikah. Berbeda dengan madzhab al-Zohiriyah yang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya syarat kalau menikah harus dengan yang kufu'.

Pendapat Ahl Dzohir ini benpandangan bahwa muslim itu semua sama, tidak ada yang membedakan, sebagaimana ayat di atas. Karena semua sama, maka siapapun boleh menikah dengan yang ia mau. Yang penting dia muslim.

Jadi, wanita "kurang ajar" sah nikahnya dengan pemuda baik, rajin shalat dan sopan. Begitu juga sebaliknya, laki-laki "mata belang" asalkan muslim, sah buat dia menikahi wanita shalehah yang menjaga auratnya dan terjaga pandangannnya. Karena memang yang menjadi patokan ialah muslim atau tidak. kalau muslim, maka tidak ada lagi birokrasi "kafaah" setelahnya.

Kenapa Harus Ada Kafaah?

Jumhur ulama tidak mengamini pendapatnya Imam Daud al-Zohiri itu dan melihat bahwa kafaah itu menjadi salah satu syarat dalam pernikahan. Karena memang ada beberapa dalil yang menunjukkan itu. Di antaranya:

"tiga Hal yang tidak boleh ditunda; Shalat kalau sudah datang waktunya, mayat -kalau sudah siap dikuburkan-, dan anak perawan kalau sudah ada yang kufu (Sepadan) dengannya".[2]

"janganlah kalian menikahkan wanita-wanita (anak-anak kalian) kecuali dengan yang sepadan (kufu) dengannya."[3]

"jika datang kepada kalian seseorang (untuk melamar anak-anak kalian) yang kau ridhai agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia …"[4]

Nabi saw dengan tegas memerintahkan para orang tua untuk "memeriksa" dan "meneliti" dulu agama serta akhlak orang yang berniat melamar anak perawannya. Itu bukti kalau memang harus ada kafaah dalam pernikahan. Kalau itu tidak ada, pasti Nabi juga tidak memerintahkan itu, pokoknya Islam, ya menikah. Tapi tidak seperti itu.

Selain hadits-hadits di atas, Dr. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan bahwa secara akal pun, yang namanya kufu itu sangat diterima. Karena sudah menjadi pengetahuan umum (semua orang tahu), bahwa yang kesamaan status, dan kesepadanan starata antara kedua pasangan pasutri itu menjadi salah satu faktor keharmonisan keluarga. Karena bagaimana pun kafaah itu punya pengaruh besar atas lancara tidaknya sebuah hubungan keluarga. Syariat ini menginginkan adanya maslahat dari hubungan pernikahan itu, maka kafaah sebagai factor yang mewujudkan itu menjadi perhitungan juga.[5]

Kafaah, Hak Wanita

Karena itu jumhur ulama mengatakan bahwa kafaah menjadi tuntutan pihak laki-laki, bukan pihak wanita; artinya laki-laki yang harus menyepadankan dirinya kepada wanita, bukan sebaliknya. Karena memang laki-laki tidak pernah mempermasalahkan status rendah istrinya, berbeda dengan wanita dan keluarga yang mempermasalahkan status pria kalau ia lebih rendah.[6]

Dr. Wahbah menambahkan bahwa yang namanya wanita terhormat sulit untuk hidup bersama laki-laki yang rendah derajat sosialnya. Berbeda dengan lelaki yang bisa hidup dengan wanita mana saja tanpa tahu rendah atau tinggi derajatnya. Disamping itu upaya ini adalah bentuk proteksi syariah guna menjaga kemulian wanita agar tidak terkotori dengan dipasangkan laki-laki tanpa kualifikasi yang jelas.

Aspek-Aspek Kafaah

Namun, ulama yang mensyaratkan kafaah ini juga berselisih pendapat tentang aspek-aspek apa saja yang menjadi perhitungan dalam konsep kafaah ini?

Madzhab Imam Malik hanya mensyaratkan aspek al-Diin saja dalam konsep kafaah-nya. al-Diin itu berarti agama, namun bukan asal Islam. Tapi yang dimaksud dalam madzhab ini ialah Islam yang berstatus Adil atau tidak fasiq. Fasiq –dalam pandangan ulama fiqih- ialah mereka yang melakukan dosa besar sekali, atau ditambahkan –dalam pendapat minoritas- mengerjakan dosa kecil tapi berkali-kali.

Artinya dalam madzhab ini, seorang wanita baik-baik, yang tertutup auratnya, rajin shalatnya, baik akhlaknya, mestinya mendapat laki-laki yang baik Islamnya, bisa dikatakan seorang Ustadz atau orang yang terkenal shalih. Atau minimal orang yang sama keshalihannya dengan si wanita, apapun profesinya yang penting Islamnya baik. Jadi, laki-laki "nakal" tidak boleh dipasangkan dengan santriwati yang shalehah dan terjaga.[7]

Madzhab al-Hanafiyah, al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah, selain aspek agama, mereka menambahkan beberapa aspek lainnya, yaitu:

1.   al-Diin [الدين] (agama)
2.   al-Hurriyah [الحرية] (bebas/budak)
3.   al-Nasab [النسب] (Keturunan)
4.   al-Hirfah [الحرفة] (Profesi/strata sosial)

al-Hurriyah [الحرية] (bebas/budak)

Aspek agama sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Malik, dan aspek hurriyah sudah tidak menjadi permasalahan karena memang perbudakan sudah tidak ada, setidaknya di negeri kita Indonesia, semua orangnya adalah orang merdeka.

al-Nasab [النسب] (Keturunan)

Sedangkan aspek nasab memang dalam struktur sosial Indonesia agak rancu, berbeda dengan bangsa Arab ketika yang punya struktur kehormatan, mana suku yang terhormat dan mana yang rendahan. Di Indonesia, tidak ada suku yang lebih baik dari suku lainnya karena memang semuanya dalam satu strata yang sama.

Suku Sunda tidak lebih baik dari Betawi, Batak tidak lebih buruk dari Jawa, semuanya sama, tidak ada yang saling mengungguli. Semua orang bangga dengan sukunya masing-masing, itu pasti. Tidak ada orang Betawi yang kemudian menyesal karena angan-angannya menjadi Sunda, dengan asumsi bahwa Sunda lebih baik. Tidak ada.

Lalu kalau ukuran itu tidak ada, bagaimana cara mengukur nasab ini? Imam Ghozali punya penjelasannya. Dikutip oleh Imam al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj, beliau (al-Ghazali) mengatakan bahwa kemuliaan nasab itu dilihat dari tiga hal[8]:

1.   Keturunan (nasab) yang sampai pada Nabi Muhammad saw; keluarga Nabi dan keturunan, itulah nasab nomor satu yang paling tinggi.
2.   Keturunan para ulama, itu strata kedua setelah keturunan Nabi saw; karena ulama adalah ahli waris para Nabi.
3.   Keturunan para orang shalih (ahli hikmah)

al-Hirfah [الحرفة] (Profesi/strata sosial)

Hirfah disebut juga dengan istilah lain, yaitu Shina'ah [صناعة] yang artinya sama, profesi. Artinya memang dalam tatanan sosial profesi menjadi instrument yang membentuk status sosial seseorang. Seorang pegawai Negeri tentu lebih terhormat dalam masyarakat dibanding petugas kemanan kompleks. Begitu juga juragan jauh lebih terpandang dibanding pedagang pasar biasa.

Jadi, dalam aspek ini, wanita yang berprofesi menengah mestinya dipinang oleh laki-laki yang berprofesi lebih tinggi, atau minimal sama. Bagaimana kalau mereka tidak berprofesi, maka profesi orang tuanya yang dilihat. Anak juragan mengambil posisi terhormat ayahnya dalam hal kafaah ini, yang datang pun mestinya anak pejabat atau minimal sama-sama anak juragan.

Salah satu aspek yang menjadi perhitungan juga adalah al-Yasar / al-Ghina' [اليسار / الغناء] (kekayaan), akan tetapi ini hanya milik madzhab al-hanafiyah saja. Tidak yang lain.[9]

Kafaah, Syarat Sah Nikah?

Lalu yang menjadi permasalahan, apakah jenis syarat dalam kafaah ini. apakah ia syarat sah nikah? Dimana pernikahan menjadi batal kalau tidak adanya kesepadanan antara kedua mempelai? Atau syarat apa?

Ulama yang mensyaratkan kafaah ternyata tidak mengkategorikan kafaah itu sebagai syarat sah nikah. Tapi kafaah ini masuk dalam kategori Syarat Luzum [شرط اللزوم]. Yaitu syarat yang membolehkan pihak wanita atau walinya mengajukan pembatalan nikah kalau memang pasangan pria ternyata tidak kufu dan si wanita tidak meridhai.[10]

Sama seperti cacat fisik atau aib badan yang mana aspek tersebut menjadi salah satu factor bolehnya pernikahan itu di-faskh jika memang salah satunya tidak meridhai adanya aib itu.

Jadi pernikahan yang tidak ada kafaah di dalamnya tetap dinyatakan sah, tidak batal. Hanya saja si wanita punya hak untuk mengajukannya ke hakim guna mem-faskh (membatalkan) akad nikahnya. Kalau memang ia tidak meridhai kekurangan yang ada pada pihak laki tersebut.

Kalau memang si wanita yang terhormat dan dari keluarga terpandang itu rela dan ridha dinikahi laki-laki yang lebih rendah derajatnya dari dia dan keluarga, ya pernikahan sah-sah saja. Dan alahkah bijaknya jika para wanita serta para wali wanita tidak memberatkan para calon pelamar anak-anak mereka.  

Wallahu a'lam


[1] Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, 9/216
[2] Hadits riwayat Imam Turmudzi dalam Sunan-nya, Kitab Nikah, bab "maa jaa' fi al-waqti al-awwal min al-fadhl, no. 156
[3] Hadits riwayat al-Daroquthniy, Kitab NIkah, Bab al-Mahr, no. 11. Hadits ini dinilai sebagai hadits matruk oleh para ulama hadits karena ada Mubasyir bin Ubaid yang dinilai cacat.
[4] Hadits riwayat Turmudzi, Kitab Nikah, Bab "idza jaa'a mantardhauna dinahu wa khuluqahu fazawwijuuh", no. 1004
[5] Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/220
[6] Raudhah al-Thalibin, 7/84, Kasysyaf al-Qina' 5/67
[7] Al-Fawakih al-Diwani, 2/9
[8] Mughni al-Muhtaj 4/276
[9] Bada'i al-Shana'i, 2/319
[10] Hasyiyah Ibn Abdin, 3/84, Raudhah al-Thalibin, 7/84, Kasysyaf al-Qina' 5/67
Ulama al-Hanafiyah punya penjelasan khusus bahwa kafaah ini bisa menjadi syarat sah nikah, yaitu ketika si wanita menikahkan sendiri dirinya –dalam madzhab ini wanita boleh menikah tanpa wali- namun tidak dengan yang sepadan. Atau bisa jadi ia dinikahkan oleh wali cabang (bukan ayah kandung) tapi ayah kandungnya tidak melihat si lelaki itu sebagai pasangan yang sepadan bagi anak wanita kandungnya. (al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu 9/222)
 

Ilmua Agama apa Ilmu Umum, Pilih Mana?

Assalamu'alaykum, ustadz. Saya mau bertanya tentang hadith yg menyebutkan bhwa Tidak boleh iri kecuali kepada dua jenis orang, yg satu org yg diberi harta dan membelanjakan di jalan yg benar dan org yg dbri ilmu dan mengamalkannya jg mngajarkannya.

Nah, ilmu di sini terbatas pada ilmu agama atau juga ilmu dunia (ilmu alam, teknik, sosial, ekonomi, dll)? Termasuk berkaitan dg ayat di surat Al-Mujadalah bahwa Allah meninggikan org beriman dan berilmu beberapa derajat. Ilmu di sini apakah terbatas hanya ilmu agama?

Mohon penjelasannya ustadz Jazakallahu khairan katsira


Alaikumsalam warohmatullah

dalam beberapa riwayat redaksi haditsnya berbeda, satu riwayat mengatakn al-quran dan harta. jadi mestinya iri kepada mereka yang bisa mambaca al-quran dan melantunkannya dengan indah, begitu juga iri kepada mereka yang diberikan harta melimpah sehingga banyak amalnya.

kalau al-quran, tentu akan (secara mafhum muwafaqah-nya) jauh lebih mulia yang mengamalkan isi al-quran tersebut. Nah, isi al-Quran tidak hanya saja berisi ilmu akhirat akan tetapi ilmu keduniaan pun banyak dijelaskan oleh Allah swt.

Riwayat lain mengatakan bukan al-quran tapi hikmah dan harta. hikmah = kebijakan dalam menyikapi masalah. bisa juga berarti ilmu, bisa juga berarti khsus ilmu agama. Maksudnya ini punya arti yang bersayap
dan tidak dijelaskan secara eksplisit oleh ulama tentang apakah itu khusus untuk ilmu agama atau bukan.

Imam al-Bukhari justru mengunggah hadits ini dalam bab "Fadhlu al-'Ilmi" (keutamaan ilmu) tanpa menyebutkan embel-embel syariah.

Imam Ibnu Bathal dalam syarahnya lil-Bukhari mengatakan kalau perkara kebaikan yang dilakukan itu perkara dunia, maka iri kepadanya menjadi mubah saja, akan tetapi jika kebaikannya itu bersifat ukhrawi maka iri kepadanya menjadi mustahabb (sunnah).

Terkait tafsir surat al-Mujadilah tersebut, saya -dgn kurangnya referensi- tidak menemukan ada mufassir yang menafsirkan ilmu di situ sebagai ilmu yang khusu masalah keagamaan. Semua sepakat bahwa Allah mengangkat derajatnya baik di dunia dan di akhirat bagi siapa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu. karena Ilmunya tersebut, Allah tinggikan derjatnya dibanding yang lain, dan ini sudah kita lihat di dunia. kebanyakan orang terhormat dan terpandang di antara kita iala orang yang berilmu, apapun ilmunya.

Kalau pertanyaan mana yang lebih afdhal, banyak yang mengatakn ilmu agama lebih afdhal. bagaimanapun ilmu agama yang menuntunt seorang muslim jauh lebih dekat dengan tuhan. Tapi tidak berarti ilmu keduniaan malah menjauhkan. justru malah bisa sebaliknya.

karena berapa banyak pekerjaan akhirat itu jadi tidak bernilai apa-apa karena niatnya, dan banyak pekerjaan dunia tapi berarti ukhrawi yang sangat tinggi karena niatnya.

maka niat menjadi penting dalam mencari ilmu. apapun ilmunya ketika motivasi utnuk mencari dan menuntut ilmu tersebut adalah ibadah kepada Allah, InsyaAllah akan Allah swt bimbinng ke koridor yang semakin mendekatkan dia kepada Allah. Pasti! itu janji-Nya.

Yang penting ialah seberapa pintar kita memanfaatkan ilmu ini untuk maslahat orang banyak. Bukan apa ilmunya.

-wallahu a'lam-
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger