Latest Post

Kaos Kaki, Apakah Termasuk Khuff?

Kaos kaki yang ada dan banyak dipakai oleh orang-orang zaman sekarang ini adalah kaos kaki yang tidak memenuhi syarat khuf menurut jumhur Ulama (Al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah); itu disebabkan karena memang bahannya yang sangat tipis sehingga bisa membuat lekukan kaki dan bahkan ada yang sampai menampakkan warna kulit, artinya transparan.

Sebelumnya mesti diketahui dulu definis ulama tentang khuff itu. Ulama mendefinisikan,, khuf adalah;

الساتر للكعبين فأكثر من جلد ونحوه
"sepatu atau segala jenis alas kaki yang bisa menutupi tapak kaki hingga kedua mata kaki baik terbuat dari kulit maupun benda-benda lainnya."

Ini yang diutarakan oleh dr. wahbah al-Zuhaili dengan mengacu pada definisi masing-masing madzhab yang berujung pada kesepakatan definisi seperti yang disebutkan.

Terkait hukumnya, bahwa orang yang memakai khuf, ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), tidak perlu membuka khufnya, akan tetapi ketika ia cukup mengusap khuf-nya tersebut dengan tangannya yang sudah dibasahi sebagaimana ia mengusap kepalanya. Tentu dengan syarat bahwa ia sebelum memakai khuf tersebut, ia dalam keadaan suci dari hadats.

Masa waktunya ialah 1 hari 1 malam untuk muqim, dan 3 hari 3 malam untuk musafir. Artinya ketika ia memakai khuf akan tetapi masanya sudah selesai, maka ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), ia harus membuka khuf tersebut dengan bersuci layaknya biasa dengan normal lagi.

Kembali ke masalah kaos kaki. Apakah itu khuf?

Sebagaimana disebutkan, bahwa kaos kaki zaman sekarang tidak termasuk dalam kategori khuf yang dibolehkan untuk diusap saja ketika orang ingin bersuci, karena tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh jumhur ulama, yakni madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan al-Syafi'iyyah.

Al-Hanafiyah; Bisa untuk Perjalanan Jauh

Madzhab ini mensyaratkan khuff haruslah sesuatu yang bisa dipakai untuk berjalan jauh. Sejatinya ini adalah syarat yang dipakai oleh jumhur ulama, hanya saja jarak perjalanannya berbeda-beda. Dalam madzhab Imam Abu Hanifah, syarat khuff itu harus bisa dipakai untuk berjalan, minimal jarak 1 farsakh yang kalau dikonversi menjadi 5565 meter.

Dan memang benar, tidak ada kaos kaki zaman sekarang yang bisa kuat untuk dipakai berjalan sejauh itu. Kalau dipaksakan, pastinya akan rusak, bolong dan hancur. Jadi kaos kaki bukanlah khuff yang boleh diusap. (radd al-Muhtar 1/269)

Al-Malikiyah; Harus Terbuat dari Kulit

Dalam madzhab ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Dusuqi dalam Hasyiyah­-nya (Hasyiyah al-Dusuqi 'ala al-Syarh al-Kabir 1/141), bahwa yang namanya khuff itu harusnya terbuat dari kulit. Tidak bisa dikatakan khuff kalau tidak terbuat dari kulit (asalkan bukan najis). Karena khuff yang ada pada zaman Nabi itu khuff yang terbuat dari kulit, jadi segala hukum yang terkait dengan khuff itu mengacu kepada khuff yang memang dikenal ketika itu, yaitu yang terbuat dari kulit, tidak yang lain.

Jadi secara otomatis, kaos kaki zaman sekarang tidak bbisa dikatakan sebagai khuff, karena tidak ada kaos kaki yang terbuat dari kulit saat ini, hanya daro bahan-bahan halus.

Al-Syafi'iyyah; Tidak Rembes Air

Khuff yang disyaratkan oleh madzhab ini adalah terbuat dari bahan yang tidak tembus air. Dan ini otomatis menjadi syarat juga yang dikemukakan oleh madzhab al-Malikiyah, karena harus kulit. Dalam salah satu kitab muktamad madzhab ini disebutkan;

"Tidak sah jika khuff itu terbuat dari sesuatu yang bisa tembus air walaupun bahannya kuat dan bisa untuk berjalan jauh; karena yang demikian itu tidak sesuai dengan apa yang disebut khuf dalam hadits-hadits Nabi saw" (Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj 1/252)

Jadi kalau mengacu kepada ini semua, tentu kaos kaki zaman sekarang tidaklah tergolong khuff yang boleh diusap saja ketika bersuci atau berwudhu untuk mengangkat hadats kecil; karena syarat-syarat khuff tidak terpenuhi di kaos kaki ini.

Al-Hanabilah; Kaos Kaki = Khuff (dengan syarat)

Akan tetapi, dalam madzhab al-hanabilah, kaos kaki tergolong dalam khuff yang boleh diusap, dengan syarat;

  1. Menutup hingga mata kaki (bagian wajib wudhu)
  2. Tidak transparan, tebal dan tidak ada bagian kulit yang terlihat
  3. Menempel ketat di kaki dan tidak kendor atau turun sehingga terbuka mata kaki
  4. Asalkan bisa buat berjalan (tidak ada jarak minimal, yang penting bisa)

Ini yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni (1/215), bahwa Imam Ahmad membolehkan mengusap kaos kaki walupun bukan terbuat dari kulit, yang penting tetap menempel di kaki dan tidak kendor atau tidak jatuh ketika dibuat berjalan dan menutupi bagian wajib wudhu. Malah beliau menguatkan, bahwa mengusap kaos kaki itu sudah dilakukan oleh sekurang-kurang 7 atau 8 sahabat masyhur. Artinya ini bukan perkejaan yang mengada-ngada, tapi memang pernah dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw.

Konklusinya;
Kaos kaki yang banyak dipakai sekarang bisa dikategorikan sebagai khuff dan boleh mengusapnya asalkan tidak transparan menurut madzhab al-Hanabilah, akan tetapi tidak untuk madzhab yang lain.

Wallahu a'lam
 

Tidak Tahu tapi Sok Tahu, Yang Tahu tapi Belagu

Masalahnya belakangan ini –saya melihat- menjadi sangat rumit, padahal sejatinya masalah itu adalah masalah yang biasa dan ringan saja. Dalam masalah syariah tentunya, atau lebih tepatnya masalah yang masih dalam perdebatan ulama. Artinya ulama belum sepakat atau memang tidaak sepakat tentang hukum perkara tersebut.

Menjadi rumit karena yang "tidak tahu" justru menjadi paling vocal dan banyak "omong", dan yang "mengerti" pun bersikap sombong. Maksudnya begini, ada masalah yang kata madzhab A hukumnya A, tapi madzhab B punya fatwa B, berbeda dengan madzhab A, dan madzhab C lain lagi fatwanya. Jadi 3 suara di sini.

Orang Yang Tidak Tahu, Tapi Sok Tahu

Orang yang hanya tahu satu pendapat, termasuk orang yang "tidak tahu", adanya perbedaan ini, ia hanya tahu hukum perkara tersebut A –misalnya- karena ia belajar dengan guru yang mengajarkan madzhab A. anehnya, ia hanya tahu satu itu saja tapi ia sangat vocal dan banyak "omong"-nya dan sok tahu. ketika melihat ada yang berbeda, langsung dibantah, dibicarakan sana sini dengan pengetahuan yang minim yang ia milik.

Padahal mestinya sebagai orang yang tidak tahu, yang harus dilakukan pertama kali itu bertanya, "benarkah ada amalan/ibadah seperti itu?". Bukan malah menyalahkan, dan terus-terussan membicarakan orang tersebut. Akhirnya karena sering dibicarakan, menular kepada orang "tidak tahu" lainnya yang punya sifat sama; sama-sama vocal, banyak omong, dan tidak mengerti perbedaan pendapat. Walhasil masalah yang sederhana itu terkesan menjadi sangat rumit sekali.

Orang Yang Tahu, Tapi Belagu

Yang orang "pintar"-nya pun sombong karena pengetahuannya itu. Dia sangat tahu adanya perbedaan yang ada, bukan hanya tahu, bahkan ia hafal dalil dan argument masing-masing madzhab dalam perkara tersebut. Dan karena memang orang yang "mengerti", ia bisa mengambil keputusan, mana pendapat yang menurutnya lebih dekat kepada kebenaran. Tapinya belagu.

Belagu-nya, ia mengikuti pendapat madzjhab B –misalnya- dari 3 pendapat itu, dan ini tidak ada masalah. Tapi –masalahnya- dia malah mengerjakan amalan yang diperdebatkan itu di depan khalayak yang sudah sangat terbiasa dengan pendapat madzhab A. seakan ingin menunjukkan ia tidak mainstream di tengah masyarakat yang belum siap melihat perbedaan.

Mau tidak mau, pastinya ini akan menimbulkan gesekan dengan khalayak yang sudah terbiasa dengan satu pendapat tersebut, apalagi di dalamnya ada orang yang "tidak tahu" yang vocal dan banyak "omong" itu. Walhasil yang dikerjakan oleh si orang "mengerti" itu malah jadi fitnah dan pembiacaraan negative bagi sekitarnya. Karena bagaimanapun, apa yang dikerjakan itu pasti mengundang orang untuk membicarakannya. Sudah maklum, yang berbeda pasti menjadi objek perhatian.

Mengikuti satu pendapat madzhab, walaupun berbeda dengan kebanyakan orang atau masyarakat sekit tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah. Akan tetapi mestinya perlu dilihat juga tingkat kesiapan public terhadap perbedaan itu. Jangan sampai akhirnya malah membuat fitnah bagi sekitar dengan mendeklarasikan perbedaan dalam perkara yang orang setempat sudah terbiasa dan sudah paten dengan pendapat madzhab yang satu.

Keluar dari Perbedaan Itu Utama

Mungkin ia lupa atau tidak tahu bahwa ada kaidah fiqih yang sangat mengambarkan sekali bagaimana ulama fiqih itu benar-benar peduli akan terwujudnya persatuan umat walaupun dalam bingkai perbedaan pendapat.
الخروج من الخلاف أولى وأفضل
"Keluar dari perbedaan adalah lebih utama dan lebih baik"[2]

Ini dijelaskan oleh Imam Taajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazoir. Ketika membahas ini dalam kitabnya, beliau seperti menasihati bahwa perbedaan dalam masalah fiqih itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka kita lah yang harusnya cerdas dalam menyikapi itu.

Dengan tidak menimbulkan sesuatu yang akhirnya malah melahirkan silang pendapat tajam di depan khalayak, yang padahal perkara itu bukanlah perkara yang sampai pada pada level Ijma', itu masalah yang terbukan ijtihad di dalamnya.

Dengan tidak juga menonjolkan itu depan khlayak yang punya pendapat berbeda, dan tetap hidup seirama dengan mereka. Toh tidak ada yang salah mengikuti alur khalayak dalam masalah fiqih, kenapa harus memaksakan satu pendapat yang akhirnya malah jadi boomerang lalu merobohkan persatuan yang sudah ada.

Dan perkara menghindari fitnah serta perpecahan dalam perbedaan pendapat ini sudah diajarkan jauh-jauh hari oleh ulama terdahulu, bahkan para sahabat. berikut beberapa contohnya;

Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna 4 rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula [مخالفة الأولى] (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas'ud ditanya: "kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat 4 rokaat?". Ibn Mas'ud menjawab: [الخلاف شر] "berbeda itu buruk!".[ Fathul-Baari 2/564]

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas'ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri.

Imam Malik bin Anas

Tentu juga kita tahu cerita tentang Imam Malik yang ditawari oleh Khalifah Al-Manshur untuk menjadikan bukunya "Al-Muwatho'" sebagai kitab Negara yang menjadi pegangan hukum bagi rakyatnya. Namun Imam malik menolak langusng tawaran itu:

يا أمير المؤمنين  لا تفعل هذا فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل ، وسمعوا أحاديث ، ورووا  روايات ، وأخذ كل قوم بما سبق إليهم ،
"wahai Amirul-mikminin, jangan lakukan itu! Orang-orang sudah terbiasa dengan pendapat-pendapat yang mereka dengar sebelumnya, mereka telah mendengar hadits-hadits, mereka juga telah melihat periwayatan, dan setiap kaum telah melakukan ibadah sesuai pendapat yang mereka ambil sebelumnya" [Hujjatullah Al-Balighoh 1/307]

Imam Malik tidak memaksakan itu karena khawatir nantinya akan terjadi perpecahan kalau nantinya penduduk dipaksa untuk mengikuti Imam Malik sedangkan mereka telah beribadah sesuai pendapat ulama yang mereka ikuti sebelumnya.

Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i

Kita juga tahu secara detail bagaiman Imam Syafi'i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah.

Padahal Imam Syafi'i-lah pelopor qunut subuh dan mnejadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu. [Adab Al-Ikhtilaf fi Al-Islam 117]

Masing-Masing Sadar Diri

Jadi, yang tidak tahu, mestinya sadar diri kalau memang hanya tahu satu hadits jangan berlagak seperti ahli hadits. Kalau hanya tahu satu pendapat, tahan diri untuk tidak berkomentar ketika melihat ada yang berbeda sebelum bertanya.

Yang akhirnya malah membicarakan keburukan orang, padahal yang namanya muslim tidak diperkenankan berbicara kecuali yang baik. Kalau tidak bisa bicara baik, maka diam saja. Begitu perintah Nabi saw.

Jangan akhirnya malah berbicara sesuatu yang tidak dipahami. Firman Allah swt; "Dan janganlah kau bicarakan sesuatu yang kau tidak ketahui ilmunya" (QS. Al-Isra' 36)

Yang paham dan tahu adanya perbedaan pendapat pun sejogjanya bersikap bijak dalam mengamalkan pendapatnya itu. Dan lebih cerdas melihat kondisi khalayak, apakah siap atau tidak.

Karena orang yang "mengerti" itu bukan hanya paham apa yang dikerjakan, tapi ia juga harus paham kapan harus mengerjakan pekerjaannya itu.

Wallahu a'lam
 

Merayakan Tahun Baru Islam dan Lebaran Anak Yatim, Bolehkah?

Ini yang sejak dulu menjadi perdebatan, tentang perayaan tahun baru Hijriyah. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, perayaan semacam ini sudah biasa dan sudah menjadi program nasional. Ada yang mengisinya dengan semacam tabligh akbar, ada juga dengan pawai keliling kampung yang biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil sambil bawa obor sambil berpakaian layaknya kiyai. 

Kalau mereka ditanya kenapa melakukannya? Yang masyhur sekali dari jawaban-jawabannya ialah bahwa ini (yang mereka lakukan) adalah bentuk dari pengagungan syiar-syiar Allah swt. Kita tahu bahwa sayyidina Umar merumuskan tahun Hijriyah dari semangat hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah kaum muslim membaiat beliau shallallahu alaihi wasallam.

Jadi tahun baru Hijriyah ini bukan sekedar ganti kalender, tap justru ada semangat hijrah Nabi dan para sahabat yang terkandung di dalamnya. Dan itu semua adalah bagian dari syiar-syiar agama Allah swt.

Firman Allah swt:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu tumbuh ketaqwaan hati (seorang hamba)" (Q.S. al-Hajj 32)


Tentu kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kelompok muslim lain yang menginkari perayaan-perayaan semacam ini. Mereka melihat bahwa melakukan perayaan tersebut apapun bentuknya termasuk dari menga-ngada dalam syariah yang sejatinya syariah tidak mencontohkan itu.

Toh sejak kalender Hijriyah diresmikan, para sahabat yang merupakan generasi terbaik tidak pernah melakukan perayaan jika masuk awal tahun baru. Ada juga dari mereka yang mengatakan perayaan twrsebut adalah bid'ah yang jelas keharamannya. Apalagi dalam Islam itu hari raya itu hanya 2; Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak ada yang ketiganya, apalagi keempat dan seterusnya.

Mereka yang merayakan berkilah, bahwa mereka meyakini itu bukan hari raya tapi ini adalah momen yang mengandung syiar Allah swt yang sebagai seorang muslim hendaknya menghormati dan mengagungkannya.

Sebodoh apapun orang muslim, mereka semua meyakini bahwa yang namanya hari raya Islam adalah hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, 2 itu saja. Mereka tidak meyakini tahun baru Hijriyah itu sebagai hari raya, mereka hanya memperingati momen bersejarah ini, tidak sampai tertancap dalam diri dengan keyakinan bahwa itu adalah hari raya. Tidak ada.

Tapi apapun itu, perbedaan semacam ini sudah ada sejak lama, yang sekarang mesti dilakukan bukanlah memperuncing perbedaan itu semua yang sama sekali tidak ada manfaat dan hanya buang-buang energi. Yang mesti dilakukan sekarang ialah saling menghormati saja satu dan lainnya.

Bagi yang merayakan hendaknya mengsji perayaannya dengan sesuatu yang positif bukan hura-hura serta kemaksiatan. Kalaupun diisi dengan acara tabligh akbar, hendaknya penceramah membakar semangat audiens dengan sangat hijrahnya Nabi dan para sahabat bukan malah mengisi dengan hujatan dan provokasi kepada mereka yang tidak merayakan.

Yang melarang perayaan ini pula mestinya berbesar hati dan berlapang dada kalau ada yang merayakan. Jangan sampai ada hujatan dan hinaan serta julukan-julukan yang tidam semestinya keluar dari mulut seorang muslim. Saling menjaga keharmonisan tentu akan jauh lebih baik. Memperuncing perbedaan tidak akan membuat masalah itu selesai.

Lebaran Anak Yatim

Ini juga masalah klasik yang hampir setiap tahun pasti diperbincangkan. Ada yang menentang, dan tidak sedikit yang memang melestarikan tradisi ini.

Kalau Indonesia memang ramai budaya seperti ini, hampir setiap masjid serta majlis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai di dalamnya acara santunan anak yatim karena memang bulan muharram, tepatnya tanggal 10 adalah "lebarannya anak yatim."

Tradisi ini muncul karena memang banyak hadits-hadits yang dikenal oleh orang kebanyakan perihal fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram. Karena banyaknya yang menyantuni, seakan tanggal 10 muharram ini jadi bulan "untung"-nya anak yatim sehingga banyak orang menyebutnya "lebaran", mengingat makna lebaran adalah hari bersenang-senang. Begitu juga di tanggal ini, anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang sayang.

Diantara hadits-hadist tersebut ialah:
وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
"Siapa orang yang menyusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin)


Sayangnya memang hadits-hadits tentang keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram itu kesemuanya dalam status yang dhaif alias lemah atau tidak shahih. Sehingga ini yang menjadikan beberapa kelompok Islam lainnya mengharamkan praktek ini.

Bahkan mereka mengatakan itu adalah sebuah bid'ah, yaitu perkara yang mengada-ada dalam agama yang agama sendiri tidak memberikan tuntunan untuk itu. Bagi mereka, menyantuni anak yatim itu ibadah yang tidak boleh dikhususkan pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan sepanjang masa yang tak bisa diidentikan dengan waktu tertentu.

Tapi, mereka yang melakukan pun sejatinya tahu bahwa itu adalah hadits-hadits dhaif, dan mereka tetap melakukannya dengan alasan yang kita tidak bisa katakana itu argument yang ngasal.

Mereka mengatakan memang benar hadits itu dhaif, tapi apakah mengamalkan hadits dhaif itu mutlak diharamkan? Nyatanya ulama jumhur membolehkan mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat tentunya.

Imam al-Nawawi menyebutkan dalam kitabnya al-Azkar (hal. 8):
قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً
"para ulama dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqih mengatakan: boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a'mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama haditsnya tidak maudhu' (palsu)".

Toh walaupun itu hadits dhaif, tapi ada hadits lain yang menaunginya secara umum, yaitu hadits keutamaan menyantuni anak yatim secara umum tanpa mengkhsuskan hari. Artinya praktek santunan anak yatim di hari asyura dinaungi oleh hadits umum tersebut.

Dan ulama jumhur pun membolehkan mengamalkan hadits dhaif –selain yang disebutkan Imam Nawawi- selama memang ada hadits shahih yang menaunginya walaupun secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, yang dikutip oleh sheikh Shafiyurrahman al-Mubarakafuri dalam kitabnya Mir'atul-Mashabiih syarh Misykatil-Mashaabiih (1/396) tentang mengamalkan hadits dhaif.

Jangan Marahin Ibadahnya, Tapi Tambahin Ilmunya

Intinya ialah kedua belah pihak harus saling memahami, yang menolak melakukan tradisi ini paham bahwa mereka yang melakukan sejatinya tidak ngasal. Yang mengamalkan pun tidak perlu membenci yang menolak.

Menyantuni anak yatim itu pekerjaan mulia, kenapa harus ditentang? Kalau memang cara mengkhususkan harinya yang ditentang, maka "jangan marahin ibadahnya, tapi tambahin ilmunya". Tambahin ilmunya tentang hadits-hadits shahih yang mungkin mereka tidak tahu.

Wallahu a'lam
 

Sejarah Perumusan Kalender Hijriyah

Bisa dikatakan bahwa penanggalan Hijriyah yang banyak dikenal oleh kaum muslim itu adalah produk politik yang dikeluarkan semasa Sayyidina Umar menjabat khalifah. Dikatakan demikian karena memang motivasi terbentuknya penanggalan tersebut guna kelancaran system kenagaraan ketika itu.

Dalam kitabnya Fathul-Baari (7/268), Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan secara detail runutan kejadian lahirnya penanggalan hijriyah tersebut. Dan perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah itu bukanlah wahyu, tapi justru bangsa Arab sejak zaman jahiliyah pun sudah memakai nama-nama itu; seperti Sya'ban, Ramadhan, Syawal dan yang lainnya. Tentang nama-nama tersebut akan kita bahasa di sub bab berikutnya.

Jadi, orang-orang sebelum Nabi lahir pun sudah mengenal nama Rabi' al-Awwal dan juga Rabi' al-Tsani atau juga Rajab serta Dzul-Hijjah. Initinya bahwa nama-nama itu telah ada dan dipakai oleh orang Jahiliyah. Jadi bukan hanya khusus orang Islam saja.

Beliau (Imam Ibnu Hajar al-Asqalani) menceritakan bahwa setelah 2 tahun setengah menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijrah, sayyidina Umar mendapat kiriman surat dari ssalah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy'ari yang mengadu kalau beliau kebingungan; karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ada tanggalnya.

Dalam rak gubernur terdapat banyak surat yang membuat beliau (Abu Musa al-Asy'ari) bingung untuk menentukan surat mana yang baru dan mana surat yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah sudah using. Karena itu beliau menyarankan kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara gubernur-gubernurnya.

Mendapat aduan dan tersebut, akhirnya sayydina Umar memanggil semua staf dan orang penting-nya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah penanggalan agar tidak lagi ada yang kebingungan. Selain itu juga, penanggalan –pastinya- akan sangat membantu kinerja para staf dan gubernur serta masyarakat luas.

Kapan Memulai Tahun?

Setelah berdiskusi dan sepakat bahwa mereka harus memilik standarisasi penanggalan demi kemaslahatan, mereka berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan mereka?  

Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah; dimana Nabi lahir.  Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang mengusulkan di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul dimana wahyu pertama turun. Dan juga opsi di tahun hijrahnya Nabi ke Madinah.

Dari 4 opsi ini, akhirnya sayyidina Umar memutuskan untuk memuali tahun di tahun hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan Ali r.a. beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya, sayyidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi; selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu. Dan menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijriyah; karena yang menjadi acuan awalnya ialah Hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Padahal sejatinya orang-orang terdahulu menamakannya at-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan), dinamakan Qamar (bulan) karena hitungan harinya berdasarkan putaran bulan, dan itu yang dilakukan oleh para bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Apa Bulan Pertama di Tahun Hijriyah?

Setelah bersepakat bahwa awal tahun itu terhitung sejak tahun Nabi Hijrah, perdebatan kembali memanas tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan hijriyah ini?

Tentu saja ada yang menawarkan bulan Rabi' al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah karena bulan itu ialah bulan Hijrahnya Rasul. Akan tetapi sayyidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah.

Selain karena rekomendasi sayyidian Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi' al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) Hijrah terjadi sejak di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi, dan Baiat itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah, semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum muslim untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah. 

Nama-Nama Bulan Hijriyah Bukan Wahyu

Yang perlu diketahui bahwa memang nama-nama bulan pada kalender Hijriyah itu bukanlah wahyu yang turun kepada umat Islam. Justru nama-nama itu telah ada sebelumnya dan digunakan berabad-abad lamanya oleh bangsa Arab.

Mereka terbiasa menggunakan bulan sebagai media untuk menentukan waktu; karena itu penaggalan mereka disebut dengan al-Taqwim al-Qamari (kalender Bulan), karena memang basis perhitungannya bergantung pada bulan. Walaupun ada beberapa suku, khususnya di selatan Jazirah Arab (Yaman) yang menggunakan matahari sebagai media menentukan hari.

Kemudian, nama-nama bulan mereka memberi nama sesuai dengan keadaan alam atau keadaan sosiologi dan budaya yang mereka lakukan pada bulan-bulan tersebut. Nah, karena bangsa Arab juga punya kelas yang berbeda (suku), ini membuat mereka berbeda pula dalam kebiasaan dan adat dari setiap masing-masing suku. Karena itu juga, walaupun menggunakan perhitungan yang sama; memakai bulan, mereka berbeda-beda dalam memberikan nama bulannya.

Barulah ketika tahun 412 Masehi terjadi konvensi para petinggi-petinggi dari lintas suku dan kabilah bangsa Arab di Mekkah di masa Kilab bin Marrah (kakek Nabi Muhammad ke-6) untuk menentukan dan menyatukan nama-nama bulan agar terjadi kesamaan, serta memudahkan mereka dalam perdagangan.

Dari perkumpulan itu, muncul 12 nama bulan;

Muharram. [محرم] berarti yang terlarang. Disebut demikian karena memang pada bulan ini, bangsa Arab seluruhnya mengharamkan peperangan. Tidak ada tumpah darah pada bulan ini. ini merupakan hukum adat yang tak tertulis yang berlaku sejak lama.  

Shafar. shafar satu suku kata dengan kata Shifr [صفر] yang berarti kosong. Bulan ini dinamakan shofar atau shifr, karena pada bulan ini bangsa Arab mengosongkan rumah-rumah mereka yang beralih ke medan perang.

Rabi' al-Awwal. Sesuai namanya, Rabi' [ربيع] yang berarti musim semi, bulan ini dinamakan demikian karena memang itu yang terjadi.

Rabi' al-Tsani. Namanya mengikuti nama bulan sebelumnya karena musim gugur yang masih berlangsung. Tsani [ثاني] artinya yang kedua.

Jumada al-Ula. Dulu di masa Jahiliyah, namanya Jumada Khamsah. Jumada, asal katanya Jamid [جامد] yang berarti beku atau keras. Dikatakan demikian karena bulan ini adalah musim panas, yang karena saking panasnya, air bisa saja membeku, artinya kekeringan.

Jumada al-Tsaniyah / Jumada al-Akhirah. Namanya mengikuti bulan sebelumnya.

Rajab. Dalam tradisi Arab, bulan Rajab adalah termasuk bulan yang haram bagi mereka untuk melakukan peperangan. Artinya haram membunuh ketika itu. Dinamakan Rajab, karena memang salah satu makna rajab [رجب] dalam bahasa Arab ialah sesuatu yang mulia. Maksudnya mereka memuliakan dirinya dan orang lain dengan tidak membunuhnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Rajab berarti melepaskan mata pisau dari tombak sebagai symbol berhentinya perang.

Sya'ban. Asal katanya dari syi'b [شعب] yang berarti kelompok. Dinamakan begitu karena ketika masuk bulan sya'ban, orang-orang Arab kembali ke kelompok (suku) mereka masing, dan mereka berkelompok lagi untuk berperang setalh sebelumnya di bulan Rajab mereka hanya duduk di rumah masing-masing.

Ramadhan. Berasal dari kata Ramadh [رمض] yang maknanya ialah panas yang menyengat atau membakar. Dinamakan seperti itu karena memang matahari bulan ini jauh lebih menyengat dibanding bulan-bulan lain sehingga panas yang dihasilkan lebih tinggi dibanding yang lain.

Syawwal. Bangsa Arab mengenal jenis burung an-Nauq [نوق], yang kalau biasanya hamil di bulan ini dan mengangkat sayap serta ekornya sehingga terlihat kurus badannya burung tersebut. Mengangkat sayap atau ekor disebut dengan Syaala [شال] yang merupakan asal kata dari nama bulan syawal.

Dzul-Qa'dah. Asal katanya dari qa'ada [قعد] yang berarti duduk atau istirahat tidak beraktifitas. Dinamakan demikian karena memang bulan ini orang-orang Arab sedang duduk dan istirahat dari berperang guna menyambut bulan haji, yaitu dzul-hijjah yang mana bulan tersebut adalah bulan diharamkan perang.

Dzul-Hijjah. Sudah bisa dipahami dari katanya bahwa bulan ini adalah bulannya orang berhaji ke Mekkah. Dan memang sejak sebelum Islam datang, bang Arab sudah punya kebiasaan pergi haji dan melakukan thawaf di ka'bah.
 

Setan, Tidak Hanya Sekali Datang

Yang terpenting bagi setan setiap harinya ialah membuat orang muslim tidak melaksanakan ibadahnya kepada Allah swt. Initinya bagaimana si muslim itu tidak jadi beribadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Kalaupun ibadah terlaksana, ia selalu berusaha agar ibadah itu menjadi batal dan sia-sia.

Tidak tanggung-tanggung, setan dan bala tentaranya tidak hanya mengganggu manusia dari satu arah saja; dalam surat al-A'raf: 17, setan mendatangi manusia dan menggodanya untuk menggugurkan ibadahnya dari 4 penjuru arah; depan, belakang, kiri dan kanan.

Mereka terus saja menganggu tanpa henti, dan melewati semua fasenya. Dari mulai "ingin" ibadah, manusia sudah digoda untuk tidak melaksanakannya. Ketika "melaksanakannya" pun masih bisa diganggu. Bahkan ketika "sudah" melaksanakan ibadahnya itu, manusia tidak bebas dari gangguan setan.

Shalat contohnya, sejak "ingin" shalat, kita sudah digoda untuk menunda-nunda. Awalnya sih menunda dengan niatan akan melaksanakan nanti di tengah waktu atau di akhirnya, tapi nyatanya godaannya makin besar sehingga kita benar-benar meninggalkan shalat.

Mungkin ada yang berhasil menunaikan "keinginan"-nya unuk shalat akhirnya bisa "melaksanakan" shalat. Tapi setan tidak bisa diam saja melihat ada yang beribadah. Kalau dia sudah lulus di ujian "ingin ibadah", maka "ketika ibadah" disitu setan beraksi bagaimana ibadahnya ini hancur tak bermakna apa-apa serta tak bernilai.

Maka diganggulah kita dengan berbagai ingatan-ingatan yang merusak shalat, mulai dari memikirkan barang hilang, memikirkan barang yang tertinggal, pekerjaan, dagangan. Dan paling tidak membuat nyaman ialah setan membuat kita ragu-ragu tentang jumlah rakaat, serta juga keraguan "kentut apa ngga ya?". Buyar sudah nilai shalatnya.

Kalaupu lulus dari ujian tersebut, dan kita bisa melaksanakan ibadah shalat itu dengan baik, godaan "pasca" ibadah pun dimulai oleh para tentara iblis ini. "pra ibadah" sukses, "ketika ibadah" sukses, maka "pasca ibadah" ini setan tidak mungkin diam melihat hamba Allah sukses. Dan godaan "pasca" ini yang sangat berat.

Setelah ibadah, mulailah setan membisiki sang hamba untuk "memerkan" ibadahnya dan mendeklarasikan serta mengumumkannya. Untuk yang satu ini di zaman sekarang sangat mudah dengan banyaknya gadget di tangan masing-masing hamba.

"Media Sosial", yup inilah yang paling banyak dipakai oleh setan untuk membatalkan nilai-nilai ibadah sang Hamba dari ibadahnya. Dibisiki oleh setan untuk mempublish, membuat status, menshare tentang ibadah yang baru saja dilaksanakan dengan "bingkai setan" yang namanya berbagi motivasi dan mengajak kepada kebaikan yang disitu setan menyelinap dan meniupkan angina-angin riya', ujub, serta kesombongan bahwa ia lebih baik dari yang lain karena telah beribadah. Rusak sudah nilai ibadah.

Maka, setiap kali Allah swt menggambarkan  bagaimana semangatnya setan menggoda manusia, Allah memberikan solusi agar ibadah yang kita laksanakan menjadi steril dari godaan tentara iblis itu, yaitu "Ikhlas".

Kata Iblis: "sungguh aku akan ganggu manusia itu semua, kecuali mereka yang ikhlas!"

Wallahu a'lam
 

Syubhat = Haram, Benarkah?

Dalam beberapa kajian, saya sering kali ditanya perihal syubhat. Dan yang saya termukan banyak sekali yang menyamakan syubhat dengan haram. Artinya kalau ada perkara syubhat, berarti itu perkara haram. Orang yang melakukannya berdosa. Tapi nyatanya tidak sesimpel itu.  

Wajar saja memang kalau ada yang berpendapat seperti itu, karena memang ada potongan hadits Nabi saw yang menjelaskan itu:

ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام
"siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram" (HR Bukhori dan Muslim)

secara tekstual, potongan hadits ini punya makna bahwa yang Syubhat itu sama saja haram, dan yang melakukan Syubhat berarti melakukan yang haram, karena itu pasti berdosa, padahal bukan seperti itu juga maksud haditsnya. Kalau dibuka haditsnya secara lengkap akan ada makna lain.

إنَّ الْحَلالَ بيِّن، وإنَّ الْحَرَامَ بَيِّن. وبينهما أمور مُشْتَبهاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس، فَمَنِ اتَقى الشبهات استبرأ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام، كَالرَّاعي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ.
ألا وَإنً لِكلٌ مَلِكٍ حِمىً، ألا وإن حِمَى الله مَحَارِمُهِ. ألا وَإنَّ في الجسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحت صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُه ألا وَهِي القلب".
"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samara-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Barang siapa yang menghindari perkara samara-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati."

**Halal, Haram dan Syubhat**

Dalam hadits ini, secara jelas Nabi saw menerangkan bahwa suatu perkara itu ada 3 jenisnya; Halal, Haram dan Syubhat. Yang halal jelas karena memang berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perkara ini halal dan sulit dibantah kehalalalnnya, seperti makan, minum, berjalan, tidur dan sebagainya yang memang jelas kehalalannya.

Ada juga perkara yang haram karena memang jelas dalil keharamannya dan sulit sekali bahkan tidak bisa dibantah, seperti keharaman mencuri, berzina, riba, minum khomr dan sebagainya yang memang benar-benar jelas keharamannya.

Dan jenis ketiga yaitu Syubhat. Yaitu perkara yang memang masih dalam ranah ketidak jelasan antara halal atau haram. Tidak bisa dikatakan halal, karena berbau haram, namun tidak bisa juga disebut haram karena ketidakjelasan atau tidak ditemukan dalil pengharamannya.

Sampai sini jelas bahwa Syubhat bukanlah perkara haram. Kalau memang itu haram, lalu buat apa Nabi saw membaginya menjadi 3 jenis? Kenapa Nabi saw tidak langsung saja mengatakan bahwa "..Syubhat itu bagian dari haram..".

Dan pembagian Nabi saw atas perkara itu menunjukkan bahwa setiap bagian itu tidaklah sama dengan bagian yang lain. Pembagian itu mengindikasikan perbedaan masing-masing bagian.

**Syubhat itu Relatif**

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/27), beliau mengatakan bahwa perkara syubhat itu ialah perkara yang relatif. Bisa jadi Syubhat untuk seseorang dan bisa jadi jelas, tidak Syubhat bagi yang lain.

Dalam teks hadits juga disebutkan [لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس] "Sedangkan di antaranya ada perkara yang samar-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya…."

Teks hadits tersebut menurut Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa perkara syubhat itu untuk orang awam yang memang tidak mengetahui hukum agama. Sedangkan bagi ulama, perkara syubhat itu nyaris tidak ada, karena seorang ulama tahu bagaimana mengambil sebuah kesimpulan hukum pada sesuatu yang baru dengan Qiyas, Istishhab atau sumber hukum lainnya. Jadi perkara yang awalnya Syubhat menjadi tidak samar-samar lagi karena kedalaman ilmu agama yang beliau-beliau kuasai.

Ini berarti bahwa perkara Syubhat itu hanya perkara temporer yang bisa saja hilang. Seseorang ketika baru saja berhadapan dengan sebuah perkara yang samar-samar dan ia tidak tahu apa hukumnya, ini menjadi Syubhat.

Tapi ketika ia mulai belajar atau meminta petunjuk dari seorang ulama atas hukum perkara tersebut, yang awalnya samar-samar menjadi tidak rancu lagi dan hilang ke-syubhat-annya karena ia telah mengetahui hukumnya, entah itu jadi yang haram atau jadi yang halal. Jadi memang Syubhat itu tidak baku dan bisa hilang.

**Yang Melakukan Syubhat = Melakukan Keharaman?**

Sedangkan makna potongan hadits [وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام]"…siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram…"  ini mempunyai 2 kemungkinan (ihtimal) makna sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim (11/29);

Makna pertama: ia melakukan yang Syubhat itu secara terus menerus karena menyepelekan dan meremehkan yang sampai akhirnya ia melakukan yang haram tanpa ia sadari karena terlalu meremehkan.

Atau bisa jadi artinya di Makna kedua ini, yaitu; ia terbiasa menggampangkan sesuatu yang Syuhbat. Kalau sudah terbiasa melakukan yang Syubhat, ia akan terus melakukan Syubha-Syubhat yang lain yang lebih besar lagi.

Dan sifatnya yang menggampangkan ini, membuat setan lebih mudah untuk menggodanya dan akhirnya ia juga akan terbiasa melakukan yang haram tanpa ada rasa bersalah dan malu. Karena sudah berani melakukan yang Syubhat, yang harampun menjadi biasa dan tidak risih lagi untuk melakukannya.

Jadi syubhatnya itu menjadi jembatan ia untuk menuju yang haram. Sebagaimana yang banyak dikatakan oleh para ahli hikmah, bahwa maksiat adalah jembatan kekufuran. Banyaknya maksiat bukan tidak mungkin bisa membuat ia menjadi kafir. Artinya entengnya berbuat maksiat, sampai ia tidak merasa risih untuk melakukan sesuatu yang nyatanya mengeluarkannya dari iman.

**Imam Shan'aniy di Subulusalam**

Imam Shon'aniy dalam kitabnya Subulus-Salam (4/171), menjelaskan makna potongan hadits ini juga. Beliau mengatakan bahwa orang yang melakukan Syubhat biasanya sangat dekat dengan keharaman. Ibaratnya Syubhat itu jembatan menuju perkara yang haram, sebagaimana yang dijelaskan dengan teks hadits selanjutnya.

"Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya."

Logikanya, kalau sesorang berani melakukan yang Syubhat, bukan tidak mungkin dan sangat mungkin sekali ia berani melakukan yang haram. Karena bagaimanapun setan terus saja menggoda manusia dan membuatnya meremehkan sesuatu yang haram sebagaimana ia meremehkan sesuatu yang Syubhat.

**Meninggalkan Syubhat Melembutkan Hati**

Sebenarnya perkara Syubhat ini lebih dekat ke perkara hati sebagai benteng iman dalam melakukan segala hal, seberapa berani kah diri ini melakukan sesuatu yang memang meragukan kehalalannya walaupun tidak ada dalil yang jelas atas keharamannya. Ujung-ujungnya melatih diri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak terlebih pada masalah syariah.

Di ujung hadits ini dijelaskan bagaimana kerasnya hati kita jika terus menerus berani melakukan perkara yang samar-samar hukumnya. Dengan terus menerus menahan diri bersikap Waro' dan tidak menenggelamkan diri ke dalam sesuatu yang masih sangat rancu, itu semakin memupuk kekuatan iman dalam diri.

Kita bukan tidak tahu bagaimana ulama-ulama salaf kita sangat takut sekali dengan perkara yang Syubhat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menolak untuk memakan daging selama beberapa tahun karena tahu kambing tetangganya hilang. Beliau khawatir kalau makan daging itu daging dari kambing tetangganya yang hilang.

Wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger