Latest Post

Istihalah (Perubahan Wujud dan Sifat) Merubah Status Hukum Benda atau Tidak (Najis/Suci)?

Dalam syariah, sesuatu yang asalnya suci lalu kemudian terkena najis, cara mensucikannya cukup dibersihkan sampai najis yang menempel itu hilang tidak berbekas. Cara menghilangkan itu pun banyak macamnya, bisa dengan disiram air, atau dikeringkan di bawa sinar matahari, atau juga bisa dikerik dan sebagainya. Intinya najis itu hilang.

Itu sesuatu yang memang awalnya suci dan bersih kemudian terkena najis, berbeda dengan sesuatu yang memang aslinya najis. Dia bukan barang suci yang tertempel najis, akan tetapi memang aslinya bendi itu najis, seperti khamr (bagi jumhur ulama 4 madzhab yang memang mengkategorikan Khamr sebagai najis), kulit bangkai hewan, kotoran manusia dan binatang dan lainnya. Apakah bisa disucikan? Tentu bisa.

Untuk mensucikan sesuatu yang aslinya najis, ada 2 caranya;
[1] Disamak,
[2] Istihalah (Perubahan wujud)

[1] Samak

Samak adalah cara untuk mensucikan kulit bangkai hewan. Selain untuk merubah status kulit bangkai tersebut dari najis menjadi suci, samak juga berfungsi untuk menghilangkan bau yang ada pada kulit bangkai dan juga menjadi tahan lama serta bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu, seperti membuat sepatu atau juga jaket.

Lalu bagaimana dengan kulit anjing dan babi, apakah ia juga bisa jadi suci dengan disamak? Ini sudah kami bahasa di sini ( http://goo.gl/1IW4BM ) silahkan merujuk.

[2] Istihalah

Istihalah adalah sebutan dalam bahasa yang berarti perubahan. Dalam beberapa kitab, ulama-ulama fiqih mendefinisikan istihalah dengan makna perubahan wujud suatu benda dari satu bentuk dengan sifatnya kepada bentuk lain dan dengan sifat yang berubah juga.

Seperti anggur yang awalnya benda suci, kemudian berubah (dirubah) menjadi khamr, maka menjadi najis. Atau juga air mani yang dalam madzhab jumhur (selain madzhab Imam Syafi'i) itu dihukumi sebagai najis namun statusnya berubah menjadi suci ketika menjadi janin orokk. Atau juga makanan yang kita makan, kemudian masuk ke mulut dan dihancurkan oleh lambung kemudian keluar, baik lewat mulut (muntah) atau lewat dubur (BAB), maka status makanan tersebut yang awalnya suci menjadi najis karena sudah tidak disebut lagi sebagai makanan. Sifat dan wujudnya berubah.

Istihalah (Tidak) Merubah Status Hukum Benda

Tapi sayangnya, dalam masalah istihalah ini, ulama madzhab-madzhab fiqih tidak pada satu suara. Artinya mereka tidak sepakat bahwa istihalah bisa merrubah suatu hukum benda dari najis ke suci atau sebaliknya. Beberapa kalangan dari mereka tetap memperhatikan asal bendanya, kalau asalnya najis ya tetap saja najis walau telah berubah wujud dan sifat benda tersebut.

Pendapat Pertama: istihalah merubah hukum status benda.

Artinya, denagn itihalah suatu benda yang najis bisa jadi suci, dan benda yang suci bisa jadi najis. Ini adalah pendapat madzhab Imam Abu Hanifah serta madzhab al-Malikiyah. Dan diikuti oleh madzhab al-Zohiriyah juga Imam Ibnu Taimiyah (al-Bahru ar-Raiq: 1/329, asy-Syarh al-Kabir ma'a Hasyiah ad-Dasuqi: 1/51)
 
Argument yang digunakan kelompok ini di antaranya;

Pertama: Allah swt telah menghukumi terhadap sesuatu dengan sebuah hukum (najis/suci) yang Allah sebutkan namanya di dalam al-Qur'an, jika nama dan hakikat sesuatu itu sudah tidak ada, maka hukumnya pun tidak ada juga. Sebagaimana garam bukanlah lagi tulang atau daging, tanah dan abu bukanlah lagi kotoran dan bangkai, khomr bukanlah cuka, manusia bukanlah darah dan seterusnya. (al-Muhalla: 1/128)

Kedua: Permasalahan ini mirip dengan khomr yang berubah sendiri menjadi cuka, maka cuka tersebut dihukumi suci menurut kesepakatan ulama, dan benda-benda lainnya hukumnya seperti itu juga. Selain itu, bisa diqiyaskan juga dengan kulit bangkai yang disamak, maka dia akan menjadi suci. Kalau pada benda-benda ini status hukumnya berubah, lalu kenapa tidak pada yang lain?

Pendapat inilah yang direkomendasi oleh an-Nadwah at-Tibbiyah al-Fiqhiyah ke-8 yang diselenggarakan oleh Organisasi Islam Untuk Ilmu-ilmu Kedokteran di Kuwait pada tanggal 22-24 / 12/ 1415 H, bertepatan dengan tanggal  22-24/5 1995 M. Disebutkan di dalamnya bahwa: "al-Istihalah adalah perubahan satu benda ke benda lain yang berbeda sifatnya, dan merubah status benda najis menjadi suci,  dan merubah yang haram menjadi mubah secara syar'I. Oleh karena itu, diputuskan bahwa gelatin yang merupakan hasil perubahan tulang hewan najis dan kulitnya adalah suci dan boleh dimakan. Begitu juga, sabun hasil perubahan dari lemak babi atau bangkai hewan menjadi suci dengan al-istihalah dan boleh dipakai. Keju yang dibuat dari bangkai binatang yang halal dagingnya, hukumnya menjadi suci dan boleh dimakan.  Adapun salep, cream, dan lipstick yang mengandung lemak babi adalah najis, tidak boleh dipakai kecuali jika terbukti bahwa lemak tersebut sudah berubah menjadi benda lain."

Rekomendasi tersebut dikuatkan dengan keputusan an-Nadwah al-Fiqhiyah yang ke -14 yang diselenggarakan oleh Majma' al- Fiqh al-Islami India di kota Haidar Abad pada tanggal 20-22/6/2004. Walaupun begitu, dikarenakan para pakar masih berbeda pendapat tentang gelatin ini, maka an-Nadwah menganjurkan untuk tidak menggunakan benda-benda yang terbuat dari tulang dan kulit binatang yang diharamkan.

Pendapat Kedua : Al-istahalah tidak bisa merubah sesuatu yang asalnya najis menjadi suci.

Artinya memang sesuatu yang awalnya najis tidak bisa berubah status najisnya dengna istihalah, najis tetap menjadi najis walauupun telah berubah sifat dan wujudnya. Ini adalah pendapat resmi madzhab Imam al-Syafi'i dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad serta pendapat Imam Ya'qub Abu Yusuf dari kalangan al-hanafiyah.

Asy-Syairazi berkata: "Barang najis tidak bisa menjadi suci dengan proses al-istihalah, kecuali kulit bangkai jika disamak dan khomr …..jika kotoran dan pupuk  terbakar dan berubah menjadi abu, tidaklah menjadi suci." (al-Muhadzab : 1/10)

Ibnu Qudamah berkata: "Dhahir (yang tampak –ed) dari al-Madzhab (yaitu madzhab Imam Ahmad) menyatakan bahwa barang najis tidak bisa menjadi suci begitu saja dengan cara al-istihalah. Kecuali, khamr yang berubah sendiri menjadi cuka. Adapun yang lainnya hukumnya tetap najis, seperti benda-benda najis yang terbakar dan menjadi abu, begitu juga babi jika jatuh di tempat pembuatan garam kemudian menjadi garam, dan asap yang berasal dari bahan bakar najis, dan uap beterbangan yang berasal dari air najis, jika berubah menjadi embun pada suatu benda kemudian menetes, maka hukumnya tetap najis. (al- Mughni : 1/ 97)

Kelompok ini hanya melegalkan 2 benda najis yang jadi suci karena berubah (istihalah), yakni;
1.   Kulit bangkai yang disamak (selain kulit najing dan babi)
2.   khamr (najis) yang berubah menjadi cuka (suci), dengan syarat perubahannya secara sendiri tidak ada campur tangan manusia di dalam perubahannya. Kalau ada campur tangan manusia, seperti dicampur cairan atau sejenisnya sehingga berubah menjadi cuka, ia tetap najis.

Akan tetapi madzhab Imam al-Syafi'i punya satu lagi, yaitu darah rusa yang berubah menjadi misik; sejenis minyak wangi.

Argumen

Salah satu yang menjadi argument pendapat ini adalah hadits Anas bin Malik yang direkam oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang khamr yang dijadikan cuka (maksudnya dengan dicampur sesuatu agar cepat menjadi cuka), kemudian Nabi menjawab: "Tidak Boleh!".

Maksudnya adalah khamr itu pasti akan menjadi cuka jika dibiarkan, hanya saja proses pembiaran itu memakan waktu 2 – 3 hari. Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi bagaimana kalau khamr itu dicampur dengan bahan lain sehingga perubahannya menjadi cuka menjadi lebih cepat, jadi tidak perlu nunggu lama. Tapi Nabi saw melarangnya.

Berarti proses membuat khamr jadi cuka adalah terlarang, dan sesuatu yang terlarang tidak memberikan perubahan status hukum itu sendiri. Seperti daging hewan yang halal kalau mati secara disembelih, akan tetapi kalau matinya bukan disembelih berarti statusnya bangkai dan najis, haram dimakan. Padahal hewan yang disembelih dengan yang tidak disembelih itu sama-sama mati statusnya.

[1] Berubah Sendirinya

Nabi membolehkan jika khamr itu berubah dengan sendirinya namun tidak jika ada campur tangan manusia. Artinya mempercepat perubahannya itu diharamkan. Sama seperti seorang anak yang membunuh ayahnya agar cepat dapat warisan, tentu diharamkan dan ia pun diharamkan pula mendapat warisan. Aslinya ia dapat dan memang ahli waris, tapi karena dipercepat bukan pada waktunya, statusnya menjadi haram.

Ini juga sama pada benda-benda lainnya, kalau berubahnya itu sendiri, itu yang menjadi suci. Tapi kalau berubahnya melalui proses tangan manusia, itu tidak bisa membuat statusnya menjadi suci seperti perumpamaan yang ada di atas. Aslinya memang berubah, hanya karena perubahannya itu tidak alami, itu tidak menjadi suci. (Kifayah al-Akhyar 1/74)

[2] Berubah Menjadi Sesuatu Yang Shalah (Baik)

Selain berubah sendiri, istihalah yang merubah status hukum itu jika perubahannya mengarah kepada sesuatu yang baik, seperti darah yang berubah dan bercampur jadi susu juga daging.

Imam Syarwani mengatakan; "apa yang berubah (istihalah) menjadi sesuatu yang baik seperti susu dari makanan, atau seperti sesuatu yang hidup, atau juga seperti telur, itu hukumnya suci." (Hasyiah Syarwani 'ala Tuhfah al-Muhtaj 1/288)
   
Pendapat inilah yang diambil oleh Lembaga Fatwa di Saudi Arabia yang memutuskan haramnya penggunaan gelatin yang terbuat dari binatang yang haram seperti babi atau dari anggota tubuhnya seperti kulit dan tulangnya. Pendapat yang serupa juga diambil oleh al- Majma' al- Fiqh li Rabitah al-'alam al-Islami pada pertemuan yang ke -15 yang diselenggarakan di Mekkah al-Mukaramah pada tanggal 11/7/ 1419.

Wallahu a'lam
 

Kaos Kaki, Apakah Termasuk Khuff?

Kaos kaki yang ada dan banyak dipakai oleh orang-orang zaman sekarang ini adalah kaos kaki yang tidak memenuhi syarat khuf menurut jumhur Ulama (Al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah); itu disebabkan karena memang bahannya yang sangat tipis sehingga bisa membuat lekukan kaki dan bahkan ada yang sampai menampakkan warna kulit, artinya transparan.

Sebelumnya mesti diketahui dulu definis ulama tentang khuff itu. Ulama mendefinisikan,, khuf adalah;

الساتر للكعبين فأكثر من جلد ونحوه
"sepatu atau segala jenis alas kaki yang bisa menutupi tapak kaki hingga kedua mata kaki baik terbuat dari kulit maupun benda-benda lainnya."

Ini yang diutarakan oleh dr. wahbah al-Zuhaili dengan mengacu pada definisi masing-masing madzhab yang berujung pada kesepakatan definisi seperti yang disebutkan.

Terkait hukumnya, bahwa orang yang memakai khuf, ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), tidak perlu membuka khufnya, akan tetapi ketika ia cukup mengusap khuf-nya tersebut dengan tangannya yang sudah dibasahi sebagaimana ia mengusap kepalanya. Tentu dengan syarat bahwa ia sebelum memakai khuf tersebut, ia dalam keadaan suci dari hadats.

Masa waktunya ialah 1 hari 1 malam untuk muqim, dan 3 hari 3 malam untuk musafir. Artinya ketika ia memakai khuf akan tetapi masanya sudah selesai, maka ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), ia harus membuka khuf tersebut dengan bersuci layaknya biasa dengan normal lagi.

Kembali ke masalah kaos kaki. Apakah itu khuf?

Sebagaimana disebutkan, bahwa kaos kaki zaman sekarang tidak termasuk dalam kategori khuf yang dibolehkan untuk diusap saja ketika orang ingin bersuci, karena tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh jumhur ulama, yakni madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan al-Syafi'iyyah.

Al-Hanafiyah; Bisa untuk Perjalanan Jauh

Madzhab ini mensyaratkan khuff haruslah sesuatu yang bisa dipakai untuk berjalan jauh. Sejatinya ini adalah syarat yang dipakai oleh jumhur ulama, hanya saja jarak perjalanannya berbeda-beda. Dalam madzhab Imam Abu Hanifah, syarat khuff itu harus bisa dipakai untuk berjalan, minimal jarak 1 farsakh yang kalau dikonversi menjadi 5565 meter.

Dan memang benar, tidak ada kaos kaki zaman sekarang yang bisa kuat untuk dipakai berjalan sejauh itu. Kalau dipaksakan, pastinya akan rusak, bolong dan hancur. Jadi kaos kaki bukanlah khuff yang boleh diusap. (radd al-Muhtar 1/269)

Al-Malikiyah; Harus Terbuat dari Kulit

Dalam madzhab ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Dusuqi dalam Hasyiyah­-nya (Hasyiyah al-Dusuqi 'ala al-Syarh al-Kabir 1/141), bahwa yang namanya khuff itu harusnya terbuat dari kulit. Tidak bisa dikatakan khuff kalau tidak terbuat dari kulit (asalkan bukan najis). Karena khuff yang ada pada zaman Nabi itu khuff yang terbuat dari kulit, jadi segala hukum yang terkait dengan khuff itu mengacu kepada khuff yang memang dikenal ketika itu, yaitu yang terbuat dari kulit, tidak yang lain.

Jadi secara otomatis, kaos kaki zaman sekarang tidak bbisa dikatakan sebagai khuff, karena tidak ada kaos kaki yang terbuat dari kulit saat ini, hanya daro bahan-bahan halus.

Al-Syafi'iyyah; Tidak Rembes Air

Khuff yang disyaratkan oleh madzhab ini adalah terbuat dari bahan yang tidak tembus air. Dan ini otomatis menjadi syarat juga yang dikemukakan oleh madzhab al-Malikiyah, karena harus kulit. Dalam salah satu kitab muktamad madzhab ini disebutkan;

"Tidak sah jika khuff itu terbuat dari sesuatu yang bisa tembus air walaupun bahannya kuat dan bisa untuk berjalan jauh; karena yang demikian itu tidak sesuai dengan apa yang disebut khuf dalam hadits-hadits Nabi saw" (Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj 1/252)

Jadi kalau mengacu kepada ini semua, tentu kaos kaki zaman sekarang tidaklah tergolong khuff yang boleh diusap saja ketika bersuci atau berwudhu untuk mengangkat hadats kecil; karena syarat-syarat khuff tidak terpenuhi di kaos kaki ini.

Al-Hanabilah; Kaos Kaki = Khuff (dengan syarat)

Akan tetapi, dalam madzhab al-hanabilah, kaos kaki tergolong dalam khuff yang boleh diusap, dengan syarat;

  1. Menutup hingga mata kaki (bagian wajib wudhu)
  2. Tidak transparan, tebal dan tidak ada bagian kulit yang terlihat
  3. Menempel ketat di kaki dan tidak kendor atau turun sehingga terbuka mata kaki
  4. Asalkan bisa buat berjalan (tidak ada jarak minimal, yang penting bisa)

Ini yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni (1/215), bahwa Imam Ahmad membolehkan mengusap kaos kaki walupun bukan terbuat dari kulit, yang penting tetap menempel di kaki dan tidak kendor atau tidak jatuh ketika dibuat berjalan dan menutupi bagian wajib wudhu. Malah beliau menguatkan, bahwa mengusap kaos kaki itu sudah dilakukan oleh sekurang-kurang 7 atau 8 sahabat masyhur. Artinya ini bukan perkejaan yang mengada-ngada, tapi memang pernah dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw.

Konklusinya;
Kaos kaki yang banyak dipakai sekarang bisa dikategorikan sebagai khuff dan boleh mengusapnya asalkan tidak transparan menurut madzhab al-Hanabilah, akan tetapi tidak untuk madzhab yang lain.

Wallahu a'lam
 

Tidak Tahu tapi Sok Tahu, Yang Tahu tapi Belagu

Masalahnya belakangan ini –saya melihat- menjadi sangat rumit, padahal sejatinya masalah itu adalah masalah yang biasa dan ringan saja. Dalam masalah syariah tentunya, atau lebih tepatnya masalah yang masih dalam perdebatan ulama. Artinya ulama belum sepakat atau memang tidaak sepakat tentang hukum perkara tersebut.

Menjadi rumit karena yang "tidak tahu" justru menjadi paling vocal dan banyak "omong", dan yang "mengerti" pun bersikap sombong. Maksudnya begini, ada masalah yang kata madzhab A hukumnya A, tapi madzhab B punya fatwa B, berbeda dengan madzhab A, dan madzhab C lain lagi fatwanya. Jadi 3 suara di sini.

Orang Yang Tidak Tahu, Tapi Sok Tahu

Orang yang hanya tahu satu pendapat, termasuk orang yang "tidak tahu", adanya perbedaan ini, ia hanya tahu hukum perkara tersebut A –misalnya- karena ia belajar dengan guru yang mengajarkan madzhab A. anehnya, ia hanya tahu satu itu saja tapi ia sangat vocal dan banyak "omong"-nya dan sok tahu. ketika melihat ada yang berbeda, langsung dibantah, dibicarakan sana sini dengan pengetahuan yang minim yang ia milik.

Padahal mestinya sebagai orang yang tidak tahu, yang harus dilakukan pertama kali itu bertanya, "benarkah ada amalan/ibadah seperti itu?". Bukan malah menyalahkan, dan terus-terussan membicarakan orang tersebut. Akhirnya karena sering dibicarakan, menular kepada orang "tidak tahu" lainnya yang punya sifat sama; sama-sama vocal, banyak omong, dan tidak mengerti perbedaan pendapat. Walhasil masalah yang sederhana itu terkesan menjadi sangat rumit sekali.

Orang Yang Tahu, Tapi Belagu

Yang orang "pintar"-nya pun sombong karena pengetahuannya itu. Dia sangat tahu adanya perbedaan yang ada, bukan hanya tahu, bahkan ia hafal dalil dan argument masing-masing madzhab dalam perkara tersebut. Dan karena memang orang yang "mengerti", ia bisa mengambil keputusan, mana pendapat yang menurutnya lebih dekat kepada kebenaran. Tapinya belagu.

Belagu-nya, ia mengikuti pendapat madzjhab B –misalnya- dari 3 pendapat itu, dan ini tidak ada masalah. Tapi –masalahnya- dia malah mengerjakan amalan yang diperdebatkan itu di depan khalayak yang sudah sangat terbiasa dengan pendapat madzhab A. seakan ingin menunjukkan ia tidak mainstream di tengah masyarakat yang belum siap melihat perbedaan.

Mau tidak mau, pastinya ini akan menimbulkan gesekan dengan khalayak yang sudah terbiasa dengan satu pendapat tersebut, apalagi di dalamnya ada orang yang "tidak tahu" yang vocal dan banyak "omong" itu. Walhasil yang dikerjakan oleh si orang "mengerti" itu malah jadi fitnah dan pembiacaraan negative bagi sekitarnya. Karena bagaimanapun, apa yang dikerjakan itu pasti mengundang orang untuk membicarakannya. Sudah maklum, yang berbeda pasti menjadi objek perhatian.

Mengikuti satu pendapat madzhab, walaupun berbeda dengan kebanyakan orang atau masyarakat sekit tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah. Akan tetapi mestinya perlu dilihat juga tingkat kesiapan public terhadap perbedaan itu. Jangan sampai akhirnya malah membuat fitnah bagi sekitar dengan mendeklarasikan perbedaan dalam perkara yang orang setempat sudah terbiasa dan sudah paten dengan pendapat madzhab yang satu.

Keluar dari Perbedaan Itu Utama

Mungkin ia lupa atau tidak tahu bahwa ada kaidah fiqih yang sangat mengambarkan sekali bagaimana ulama fiqih itu benar-benar peduli akan terwujudnya persatuan umat walaupun dalam bingkai perbedaan pendapat.
الخروج من الخلاف أولى وأفضل
"Keluar dari perbedaan adalah lebih utama dan lebih baik"[2]

Ini dijelaskan oleh Imam Taajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazoir. Ketika membahas ini dalam kitabnya, beliau seperti menasihati bahwa perbedaan dalam masalah fiqih itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka kita lah yang harusnya cerdas dalam menyikapi itu.

Dengan tidak menimbulkan sesuatu yang akhirnya malah melahirkan silang pendapat tajam di depan khalayak, yang padahal perkara itu bukanlah perkara yang sampai pada pada level Ijma', itu masalah yang terbukan ijtihad di dalamnya.

Dengan tidak juga menonjolkan itu depan khlayak yang punya pendapat berbeda, dan tetap hidup seirama dengan mereka. Toh tidak ada yang salah mengikuti alur khalayak dalam masalah fiqih, kenapa harus memaksakan satu pendapat yang akhirnya malah jadi boomerang lalu merobohkan persatuan yang sudah ada.

Dan perkara menghindari fitnah serta perpecahan dalam perbedaan pendapat ini sudah diajarkan jauh-jauh hari oleh ulama terdahulu, bahkan para sahabat. berikut beberapa contohnya;

Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna 4 rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula [مخالفة الأولى] (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas'ud ditanya: "kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat 4 rokaat?". Ibn Mas'ud menjawab: [الخلاف شر] "berbeda itu buruk!".[ Fathul-Baari 2/564]

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas'ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri.

Imam Malik bin Anas

Tentu juga kita tahu cerita tentang Imam Malik yang ditawari oleh Khalifah Al-Manshur untuk menjadikan bukunya "Al-Muwatho'" sebagai kitab Negara yang menjadi pegangan hukum bagi rakyatnya. Namun Imam malik menolak langusng tawaran itu:

يا أمير المؤمنين  لا تفعل هذا فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل ، وسمعوا أحاديث ، ورووا  روايات ، وأخذ كل قوم بما سبق إليهم ،
"wahai Amirul-mikminin, jangan lakukan itu! Orang-orang sudah terbiasa dengan pendapat-pendapat yang mereka dengar sebelumnya, mereka telah mendengar hadits-hadits, mereka juga telah melihat periwayatan, dan setiap kaum telah melakukan ibadah sesuai pendapat yang mereka ambil sebelumnya" [Hujjatullah Al-Balighoh 1/307]

Imam Malik tidak memaksakan itu karena khawatir nantinya akan terjadi perpecahan kalau nantinya penduduk dipaksa untuk mengikuti Imam Malik sedangkan mereka telah beribadah sesuai pendapat ulama yang mereka ikuti sebelumnya.

Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i

Kita juga tahu secara detail bagaiman Imam Syafi'i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah.

Padahal Imam Syafi'i-lah pelopor qunut subuh dan mnejadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu. [Adab Al-Ikhtilaf fi Al-Islam 117]

Masing-Masing Sadar Diri

Jadi, yang tidak tahu, mestinya sadar diri kalau memang hanya tahu satu hadits jangan berlagak seperti ahli hadits. Kalau hanya tahu satu pendapat, tahan diri untuk tidak berkomentar ketika melihat ada yang berbeda sebelum bertanya.

Yang akhirnya malah membicarakan keburukan orang, padahal yang namanya muslim tidak diperkenankan berbicara kecuali yang baik. Kalau tidak bisa bicara baik, maka diam saja. Begitu perintah Nabi saw.

Jangan akhirnya malah berbicara sesuatu yang tidak dipahami. Firman Allah swt; "Dan janganlah kau bicarakan sesuatu yang kau tidak ketahui ilmunya" (QS. Al-Isra' 36)

Yang paham dan tahu adanya perbedaan pendapat pun sejogjanya bersikap bijak dalam mengamalkan pendapatnya itu. Dan lebih cerdas melihat kondisi khalayak, apakah siap atau tidak.

Karena orang yang "mengerti" itu bukan hanya paham apa yang dikerjakan, tapi ia juga harus paham kapan harus mengerjakan pekerjaannya itu.

Wallahu a'lam
 

Merayakan Tahun Baru Islam dan Lebaran Anak Yatim, Bolehkah?

Ini yang sejak dulu menjadi perdebatan, tentang perayaan tahun baru Hijriyah. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, perayaan semacam ini sudah biasa dan sudah menjadi program nasional. Ada yang mengisinya dengan semacam tabligh akbar, ada juga dengan pawai keliling kampung yang biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil sambil bawa obor sambil berpakaian layaknya kiyai. 

Kalau mereka ditanya kenapa melakukannya? Yang masyhur sekali dari jawaban-jawabannya ialah bahwa ini (yang mereka lakukan) adalah bentuk dari pengagungan syiar-syiar Allah swt. Kita tahu bahwa sayyidina Umar merumuskan tahun Hijriyah dari semangat hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah kaum muslim membaiat beliau shallallahu alaihi wasallam.

Jadi tahun baru Hijriyah ini bukan sekedar ganti kalender, tap justru ada semangat hijrah Nabi dan para sahabat yang terkandung di dalamnya. Dan itu semua adalah bagian dari syiar-syiar agama Allah swt.

Firman Allah swt:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu tumbuh ketaqwaan hati (seorang hamba)" (Q.S. al-Hajj 32)


Tentu kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kelompok muslim lain yang menginkari perayaan-perayaan semacam ini. Mereka melihat bahwa melakukan perayaan tersebut apapun bentuknya termasuk dari menga-ngada dalam syariah yang sejatinya syariah tidak mencontohkan itu.

Toh sejak kalender Hijriyah diresmikan, para sahabat yang merupakan generasi terbaik tidak pernah melakukan perayaan jika masuk awal tahun baru. Ada juga dari mereka yang mengatakan perayaan twrsebut adalah bid'ah yang jelas keharamannya. Apalagi dalam Islam itu hari raya itu hanya 2; Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak ada yang ketiganya, apalagi keempat dan seterusnya.

Mereka yang merayakan berkilah, bahwa mereka meyakini itu bukan hari raya tapi ini adalah momen yang mengandung syiar Allah swt yang sebagai seorang muslim hendaknya menghormati dan mengagungkannya.

Sebodoh apapun orang muslim, mereka semua meyakini bahwa yang namanya hari raya Islam adalah hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, 2 itu saja. Mereka tidak meyakini tahun baru Hijriyah itu sebagai hari raya, mereka hanya memperingati momen bersejarah ini, tidak sampai tertancap dalam diri dengan keyakinan bahwa itu adalah hari raya. Tidak ada.

Tapi apapun itu, perbedaan semacam ini sudah ada sejak lama, yang sekarang mesti dilakukan bukanlah memperuncing perbedaan itu semua yang sama sekali tidak ada manfaat dan hanya buang-buang energi. Yang mesti dilakukan sekarang ialah saling menghormati saja satu dan lainnya.

Bagi yang merayakan hendaknya mengsji perayaannya dengan sesuatu yang positif bukan hura-hura serta kemaksiatan. Kalaupun diisi dengan acara tabligh akbar, hendaknya penceramah membakar semangat audiens dengan sangat hijrahnya Nabi dan para sahabat bukan malah mengisi dengan hujatan dan provokasi kepada mereka yang tidak merayakan.

Yang melarang perayaan ini pula mestinya berbesar hati dan berlapang dada kalau ada yang merayakan. Jangan sampai ada hujatan dan hinaan serta julukan-julukan yang tidam semestinya keluar dari mulut seorang muslim. Saling menjaga keharmonisan tentu akan jauh lebih baik. Memperuncing perbedaan tidak akan membuat masalah itu selesai.

Lebaran Anak Yatim

Ini juga masalah klasik yang hampir setiap tahun pasti diperbincangkan. Ada yang menentang, dan tidak sedikit yang memang melestarikan tradisi ini.

Kalau Indonesia memang ramai budaya seperti ini, hampir setiap masjid serta majlis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai di dalamnya acara santunan anak yatim karena memang bulan muharram, tepatnya tanggal 10 adalah "lebarannya anak yatim."

Tradisi ini muncul karena memang banyak hadits-hadits yang dikenal oleh orang kebanyakan perihal fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram. Karena banyaknya yang menyantuni, seakan tanggal 10 muharram ini jadi bulan "untung"-nya anak yatim sehingga banyak orang menyebutnya "lebaran", mengingat makna lebaran adalah hari bersenang-senang. Begitu juga di tanggal ini, anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang sayang.

Diantara hadits-hadist tersebut ialah:
وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
"Siapa orang yang menyusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin)


Sayangnya memang hadits-hadits tentang keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram itu kesemuanya dalam status yang dhaif alias lemah atau tidak shahih. Sehingga ini yang menjadikan beberapa kelompok Islam lainnya mengharamkan praktek ini.

Bahkan mereka mengatakan itu adalah sebuah bid'ah, yaitu perkara yang mengada-ada dalam agama yang agama sendiri tidak memberikan tuntunan untuk itu. Bagi mereka, menyantuni anak yatim itu ibadah yang tidak boleh dikhususkan pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan sepanjang masa yang tak bisa diidentikan dengan waktu tertentu.

Tapi, mereka yang melakukan pun sejatinya tahu bahwa itu adalah hadits-hadits dhaif, dan mereka tetap melakukannya dengan alasan yang kita tidak bisa katakana itu argument yang ngasal.

Mereka mengatakan memang benar hadits itu dhaif, tapi apakah mengamalkan hadits dhaif itu mutlak diharamkan? Nyatanya ulama jumhur membolehkan mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat tentunya.

Imam al-Nawawi menyebutkan dalam kitabnya al-Azkar (hal. 8):
قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً
"para ulama dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqih mengatakan: boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a'mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama haditsnya tidak maudhu' (palsu)".

Toh walaupun itu hadits dhaif, tapi ada hadits lain yang menaunginya secara umum, yaitu hadits keutamaan menyantuni anak yatim secara umum tanpa mengkhsuskan hari. Artinya praktek santunan anak yatim di hari asyura dinaungi oleh hadits umum tersebut.

Dan ulama jumhur pun membolehkan mengamalkan hadits dhaif –selain yang disebutkan Imam Nawawi- selama memang ada hadits shahih yang menaunginya walaupun secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, yang dikutip oleh sheikh Shafiyurrahman al-Mubarakafuri dalam kitabnya Mir'atul-Mashabiih syarh Misykatil-Mashaabiih (1/396) tentang mengamalkan hadits dhaif.

Jangan Marahin Ibadahnya, Tapi Tambahin Ilmunya

Intinya ialah kedua belah pihak harus saling memahami, yang menolak melakukan tradisi ini paham bahwa mereka yang melakukan sejatinya tidak ngasal. Yang mengamalkan pun tidak perlu membenci yang menolak.

Menyantuni anak yatim itu pekerjaan mulia, kenapa harus ditentang? Kalau memang cara mengkhususkan harinya yang ditentang, maka "jangan marahin ibadahnya, tapi tambahin ilmunya". Tambahin ilmunya tentang hadits-hadits shahih yang mungkin mereka tidak tahu.

Wallahu a'lam
 

Sejarah Perumusan Kalender Hijriyah

Bisa dikatakan bahwa penanggalan Hijriyah yang banyak dikenal oleh kaum muslim itu adalah produk politik yang dikeluarkan semasa Sayyidina Umar menjabat khalifah. Dikatakan demikian karena memang motivasi terbentuknya penanggalan tersebut guna kelancaran system kenagaraan ketika itu.

Dalam kitabnya Fathul-Baari (7/268), Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan secara detail runutan kejadian lahirnya penanggalan hijriyah tersebut. Dan perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah itu bukanlah wahyu, tapi justru bangsa Arab sejak zaman jahiliyah pun sudah memakai nama-nama itu; seperti Sya'ban, Ramadhan, Syawal dan yang lainnya. Tentang nama-nama tersebut akan kita bahasa di sub bab berikutnya.

Jadi, orang-orang sebelum Nabi lahir pun sudah mengenal nama Rabi' al-Awwal dan juga Rabi' al-Tsani atau juga Rajab serta Dzul-Hijjah. Initinya bahwa nama-nama itu telah ada dan dipakai oleh orang Jahiliyah. Jadi bukan hanya khusus orang Islam saja.

Beliau (Imam Ibnu Hajar al-Asqalani) menceritakan bahwa setelah 2 tahun setengah menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijrah, sayyidina Umar mendapat kiriman surat dari ssalah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy'ari yang mengadu kalau beliau kebingungan; karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ada tanggalnya.

Dalam rak gubernur terdapat banyak surat yang membuat beliau (Abu Musa al-Asy'ari) bingung untuk menentukan surat mana yang baru dan mana surat yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah sudah using. Karena itu beliau menyarankan kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara gubernur-gubernurnya.

Mendapat aduan dan tersebut, akhirnya sayydina Umar memanggil semua staf dan orang penting-nya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah penanggalan agar tidak lagi ada yang kebingungan. Selain itu juga, penanggalan –pastinya- akan sangat membantu kinerja para staf dan gubernur serta masyarakat luas.

Kapan Memulai Tahun?

Setelah berdiskusi dan sepakat bahwa mereka harus memilik standarisasi penanggalan demi kemaslahatan, mereka berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan mereka?  

Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah; dimana Nabi lahir.  Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang mengusulkan di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul dimana wahyu pertama turun. Dan juga opsi di tahun hijrahnya Nabi ke Madinah.

Dari 4 opsi ini, akhirnya sayyidina Umar memutuskan untuk memuali tahun di tahun hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan Ali r.a. beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya, sayyidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi; selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu. Dan menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijriyah; karena yang menjadi acuan awalnya ialah Hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Padahal sejatinya orang-orang terdahulu menamakannya at-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan), dinamakan Qamar (bulan) karena hitungan harinya berdasarkan putaran bulan, dan itu yang dilakukan oleh para bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Apa Bulan Pertama di Tahun Hijriyah?

Setelah bersepakat bahwa awal tahun itu terhitung sejak tahun Nabi Hijrah, perdebatan kembali memanas tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan hijriyah ini?

Tentu saja ada yang menawarkan bulan Rabi' al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah karena bulan itu ialah bulan Hijrahnya Rasul. Akan tetapi sayyidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah.

Selain karena rekomendasi sayyidian Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi' al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) Hijrah terjadi sejak di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi, dan Baiat itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah, semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum muslim untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah. 

Nama-Nama Bulan Hijriyah Bukan Wahyu

Yang perlu diketahui bahwa memang nama-nama bulan pada kalender Hijriyah itu bukanlah wahyu yang turun kepada umat Islam. Justru nama-nama itu telah ada sebelumnya dan digunakan berabad-abad lamanya oleh bangsa Arab.

Mereka terbiasa menggunakan bulan sebagai media untuk menentukan waktu; karena itu penaggalan mereka disebut dengan al-Taqwim al-Qamari (kalender Bulan), karena memang basis perhitungannya bergantung pada bulan. Walaupun ada beberapa suku, khususnya di selatan Jazirah Arab (Yaman) yang menggunakan matahari sebagai media menentukan hari.

Kemudian, nama-nama bulan mereka memberi nama sesuai dengan keadaan alam atau keadaan sosiologi dan budaya yang mereka lakukan pada bulan-bulan tersebut. Nah, karena bangsa Arab juga punya kelas yang berbeda (suku), ini membuat mereka berbeda pula dalam kebiasaan dan adat dari setiap masing-masing suku. Karena itu juga, walaupun menggunakan perhitungan yang sama; memakai bulan, mereka berbeda-beda dalam memberikan nama bulannya.

Barulah ketika tahun 412 Masehi terjadi konvensi para petinggi-petinggi dari lintas suku dan kabilah bangsa Arab di Mekkah di masa Kilab bin Marrah (kakek Nabi Muhammad ke-6) untuk menentukan dan menyatukan nama-nama bulan agar terjadi kesamaan, serta memudahkan mereka dalam perdagangan.

Dari perkumpulan itu, muncul 12 nama bulan;

Muharram. [محرم] berarti yang terlarang. Disebut demikian karena memang pada bulan ini, bangsa Arab seluruhnya mengharamkan peperangan. Tidak ada tumpah darah pada bulan ini. ini merupakan hukum adat yang tak tertulis yang berlaku sejak lama.  

Shafar. shafar satu suku kata dengan kata Shifr [صفر] yang berarti kosong. Bulan ini dinamakan shofar atau shifr, karena pada bulan ini bangsa Arab mengosongkan rumah-rumah mereka yang beralih ke medan perang.

Rabi' al-Awwal. Sesuai namanya, Rabi' [ربيع] yang berarti musim semi, bulan ini dinamakan demikian karena memang itu yang terjadi.

Rabi' al-Tsani. Namanya mengikuti nama bulan sebelumnya karena musim gugur yang masih berlangsung. Tsani [ثاني] artinya yang kedua.

Jumada al-Ula. Dulu di masa Jahiliyah, namanya Jumada Khamsah. Jumada, asal katanya Jamid [جامد] yang berarti beku atau keras. Dikatakan demikian karena bulan ini adalah musim panas, yang karena saking panasnya, air bisa saja membeku, artinya kekeringan.

Jumada al-Tsaniyah / Jumada al-Akhirah. Namanya mengikuti bulan sebelumnya.

Rajab. Dalam tradisi Arab, bulan Rajab adalah termasuk bulan yang haram bagi mereka untuk melakukan peperangan. Artinya haram membunuh ketika itu. Dinamakan Rajab, karena memang salah satu makna rajab [رجب] dalam bahasa Arab ialah sesuatu yang mulia. Maksudnya mereka memuliakan dirinya dan orang lain dengan tidak membunuhnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Rajab berarti melepaskan mata pisau dari tombak sebagai symbol berhentinya perang.

Sya'ban. Asal katanya dari syi'b [شعب] yang berarti kelompok. Dinamakan begitu karena ketika masuk bulan sya'ban, orang-orang Arab kembali ke kelompok (suku) mereka masing, dan mereka berkelompok lagi untuk berperang setalh sebelumnya di bulan Rajab mereka hanya duduk di rumah masing-masing.

Ramadhan. Berasal dari kata Ramadh [رمض] yang maknanya ialah panas yang menyengat atau membakar. Dinamakan seperti itu karena memang matahari bulan ini jauh lebih menyengat dibanding bulan-bulan lain sehingga panas yang dihasilkan lebih tinggi dibanding yang lain.

Syawwal. Bangsa Arab mengenal jenis burung an-Nauq [نوق], yang kalau biasanya hamil di bulan ini dan mengangkat sayap serta ekornya sehingga terlihat kurus badannya burung tersebut. Mengangkat sayap atau ekor disebut dengan Syaala [شال] yang merupakan asal kata dari nama bulan syawal.

Dzul-Qa'dah. Asal katanya dari qa'ada [قعد] yang berarti duduk atau istirahat tidak beraktifitas. Dinamakan demikian karena memang bulan ini orang-orang Arab sedang duduk dan istirahat dari berperang guna menyambut bulan haji, yaitu dzul-hijjah yang mana bulan tersebut adalah bulan diharamkan perang.

Dzul-Hijjah. Sudah bisa dipahami dari katanya bahwa bulan ini adalah bulannya orang berhaji ke Mekkah. Dan memang sejak sebelum Islam datang, bang Arab sudah punya kebiasaan pergi haji dan melakukan thawaf di ka'bah.
 

Setan, Tidak Hanya Sekali Datang

Yang terpenting bagi setan setiap harinya ialah membuat orang muslim tidak melaksanakan ibadahnya kepada Allah swt. Initinya bagaimana si muslim itu tidak jadi beribadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Kalaupun ibadah terlaksana, ia selalu berusaha agar ibadah itu menjadi batal dan sia-sia.

Tidak tanggung-tanggung, setan dan bala tentaranya tidak hanya mengganggu manusia dari satu arah saja; dalam surat al-A'raf: 17, setan mendatangi manusia dan menggodanya untuk menggugurkan ibadahnya dari 4 penjuru arah; depan, belakang, kiri dan kanan.

Mereka terus saja menganggu tanpa henti, dan melewati semua fasenya. Dari mulai "ingin" ibadah, manusia sudah digoda untuk tidak melaksanakannya. Ketika "melaksanakannya" pun masih bisa diganggu. Bahkan ketika "sudah" melaksanakan ibadahnya itu, manusia tidak bebas dari gangguan setan.

Shalat contohnya, sejak "ingin" shalat, kita sudah digoda untuk menunda-nunda. Awalnya sih menunda dengan niatan akan melaksanakan nanti di tengah waktu atau di akhirnya, tapi nyatanya godaannya makin besar sehingga kita benar-benar meninggalkan shalat.

Mungkin ada yang berhasil menunaikan "keinginan"-nya unuk shalat akhirnya bisa "melaksanakan" shalat. Tapi setan tidak bisa diam saja melihat ada yang beribadah. Kalau dia sudah lulus di ujian "ingin ibadah", maka "ketika ibadah" disitu setan beraksi bagaimana ibadahnya ini hancur tak bermakna apa-apa serta tak bernilai.

Maka diganggulah kita dengan berbagai ingatan-ingatan yang merusak shalat, mulai dari memikirkan barang hilang, memikirkan barang yang tertinggal, pekerjaan, dagangan. Dan paling tidak membuat nyaman ialah setan membuat kita ragu-ragu tentang jumlah rakaat, serta juga keraguan "kentut apa ngga ya?". Buyar sudah nilai shalatnya.

Kalaupu lulus dari ujian tersebut, dan kita bisa melaksanakan ibadah shalat itu dengan baik, godaan "pasca" ibadah pun dimulai oleh para tentara iblis ini. "pra ibadah" sukses, "ketika ibadah" sukses, maka "pasca ibadah" ini setan tidak mungkin diam melihat hamba Allah sukses. Dan godaan "pasca" ini yang sangat berat.

Setelah ibadah, mulailah setan membisiki sang hamba untuk "memerkan" ibadahnya dan mendeklarasikan serta mengumumkannya. Untuk yang satu ini di zaman sekarang sangat mudah dengan banyaknya gadget di tangan masing-masing hamba.

"Media Sosial", yup inilah yang paling banyak dipakai oleh setan untuk membatalkan nilai-nilai ibadah sang Hamba dari ibadahnya. Dibisiki oleh setan untuk mempublish, membuat status, menshare tentang ibadah yang baru saja dilaksanakan dengan "bingkai setan" yang namanya berbagi motivasi dan mengajak kepada kebaikan yang disitu setan menyelinap dan meniupkan angina-angin riya', ujub, serta kesombongan bahwa ia lebih baik dari yang lain karena telah beribadah. Rusak sudah nilai ibadah.

Maka, setiap kali Allah swt menggambarkan  bagaimana semangatnya setan menggoda manusia, Allah memberikan solusi agar ibadah yang kita laksanakan menjadi steril dari godaan tentara iblis itu, yaitu "Ikhlas".

Kata Iblis: "sungguh aku akan ganggu manusia itu semua, kecuali mereka yang ikhlas!"

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger